Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
"Aku tidak mencari Devin, Bi! aku di minta istrinya untuk menemani sarapan," Sahut Luis melenggang masuk.
"Kenapa aku merasa Den Luis menaruh perasaan, ya sama Non Lulu! aku harus pantau mereka. Pantas saja Tuan besar menyuruh aku gantikan ART yang akan bekerja di sini, ternyata karena ini, ya alasannya!" Batin Bi Asih.
Baru saja Bi Asih menutup pintu, seorang kurir kembali menekan bel apartemen majikannya itu. Setelah dibukakan pintu, Bi Asih segera menerima pesanan makanan yang di pesan Lulu setelah menelepon Luis tadi.
"Terimakasih, kalau begitu saya permisi, Bu!" Ucap Kurir setelah menyerahkan pesanan.
"Sama-sama," Sahut Bi Asih seraya bergegas kembali ke dapur untuk menyajikan makanan pesanan Lulu.
"Wah, makanannya sudah datang ya, Bi? ayo sini, aku bantu hidangkan juga, ya!" Seru Lulu antusias.
"Kenapa makanannya banyak sekali, kita kan hanya makan berdua?" Ucap Luis.
"Siapa bilang kita akan makan berdua, aku sudah menghubungi dua sahabatku untuk bergabung juga, kamu tidak keberatan, kan?" Sahut Lulu yang membuat Bi Asih menahan tawa saat melihat raut kecewa di wajah Luis.
"Hm... up to you," Gumam Luis.
Setelah makanan terhidang di atas meja makan, ponsel Lulu terlihat berdering, menandakan ada sebuah panggilan masuk pada ponsel tersebut.
"Aku angkat teleponnya dulu, ya!" Ucap Lulu beranjak dari kursi meja makan.
📞 "Lu, kita udah ada di depan pintu, kamu buruan buka ya!" Tutur Karina si penelepon.
📞 "Ok-ok, aku ini lagi mau buka pintunya, ko!" Sahut Lulu seraya membuka pintu untuk kedua sahabatnya.
Ceklek...
"Kalian udah lama nunggu, ya? kenapa gak langsung tekan bel aja, sih?" Ucap Lulu.
"Kita takut ganggu suami kamu, Lu!" Tutur Loli sedikit berbisik.
"Kalian gak perlu takut, suami aku udah berangkat kerja ko dari tadi, ayo masuk!" Seru Lulu menggiring kedua sahabatnya menuju meja makan.
"Rin, itu siapa ya? wajahnya gak kalah tampan dari suaminya, Lulu!" Bisik Loli setelah melihat Luis yang duduk menghadap kedatangan mereka.
"Mana aku tau, Lol! udah yuk kita duduk dulu aja!" Sahut Karina.
Keempatnya sudah duduk saling berhadapan. Sebelum mereka menyantap makanan yang terhidang, Lulu sempat memperkenalkan kedua sahabatnya pada Luis.
"Rin, Lol! ini Luis, dia sahabatnya, Dev!" Tutur Lulu.
"H...hai, senang berkenalan dengan anda Tuan!" Ucap Loli mengulurkan tangan.
"Hai juga, kalian panggil langsung namaku saja, rasanya aku begitu tua jika di panggil Tuan oleh kalian yang cantik-cantik, ini!" Gombal Luis yang semakin membuat pipi Loli memerah.
"Rin, si Loli kenapa, sih? dia gak kesambet hantu pohon asem, kan?" Bisik Lulu yang duduk di sampingnya.
"Sepertinya dia naksir sama Kak Luis, Lu! lihat saja tingkah overnya itu!" Sahut Karin balas berbisik. Lulu pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan setuju dengan pendapat Karina.
"Karena kita sudah berkumpul, sebaiknya kita sarapan sekarang, ya! aku benar-benar sudah sangat lapar, nih! selamat makan semuanya!" Ucap Lulu seraya membalikkan piring miliknya dan mengisinya dengan makanan yang akan dia lahap sebagai sarapan.
"Wah, makanannya banyak sekali, Lu! kamu sengaja pesan buat kita, ya?" Tutur Karin seraya memilih makan yang paling dia suka.
"Tentu, kalian kan sahabat-sahabat aku yang terbaik, jadi aku harus menyuguhkan yang terbaik juga, dong!ayo makan! nanti makanannya keburu dingin, lagi!" Seru Lulu seraya melahap makannya.
Ke empatnya makan dengan lahap seraya di iringi candaan dan tawa. Awalnya Luis sedikit kesal karena dia tak bisa menghabiskan waktu berdua dengan Lulu. Namun, setelah dia melihat kebahagiaan Lulu yang tengah bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya, Luis akhirnya ikut bahagia dan tak mementingkan egonya lagi.
"Ha... kenyang banget, aku ambil obat di kamar dulu, ya!" Ucap Lulu seraya beranjak.
"Obat? kamu sakit, ya Lu? kenapa gak bilang sama kita?" Sahut Loli yang di angguki Karina.
"Aku cuma kecapean, ko! kalian gak perlu khawatir, ok!" Tutur Lulu bergegas masuk ke kamar Devin.
"Kenapa dia masuk ke kamar Devin? apa semalam mereka tidur bersama, ya? memang tidak ada salahnya, sih! toh, mereka berdua adalah suami istri, tapi pernikahan mereka, kan cuma sebatas kompromi! Kenapa hatiku tidak rela melihat kenyataan ini? apa karena aku sangat menyukai Lulu, ya?" Batin Luis menatap nanar kepergian Lulu ke kamar sahabatnya.
"Kak Luis, Kakak sahabatnya Kak Devin, ya?" Tanya Loli menyadarkan Luis dari lamunannya.
"I...iya, kenapa?" Sahut Luis.
"Ah, tidak apa-apa, Kak! aku cuma ingin memastikan saja!" Ucap Loli tersipu malu.
"Astaga, ternyata Loli benar-benar jatuh hati pada Kak Luis!" Batin Karina.
Setelah mendapatkan obat yang di carinya, Lulu kembali bergabung dengan teman-temannya dan meneguk obat miliknya.
"Lu, kamu udah selesai, kan buat tugas penelitian film horor itu?" Tanya Karina.
"Astaga, aku hampir lupa, Rin! tadinya aku mau pulang ke rumah pagi ini, tapi karena dari kemarin aku sakit, aku jadi tidak fokus dan melupakan tugasnya!" Sahut Lulu.
"Ya sudah, sebaiknya kita sekarang ke bioskop aja, kita buat dari yang termudah di lakukan dulu aja, kita semua kan tidak ada yang takut menonton film horor, jadi kamu bisa menilai reaksi kita saat menonton, nanti!" Tutur Karina.
"Kamu benar, Rin! ya sudah, kalau begitu kalian tunggu aku bersiap dulu ya! kalau kalian bosan, kalian nyalakan televisinya saja, atau kalian juga bisa memainkan PlayStation yang ada di bawah laci televisi itu." Tunjuk Lulu pada benda yang dia maksud.
"It's ok, Lu! kamu gak perlu khawatirkan kita, kamu bersiap saja sekarang!" Sahut Karina.
"Baiklah, kalian tunggu sebentar, ya!" Ucap Lulu kembali masuk ke dalam kamar Devin.
Setelah segar dan berganti pakaian, Lulu kembali menghampiri sahabat-sahabatnya dan mengajaknya bergegas pergi. Tiba di sebuah Mall besar, Lulu dan kedua sahabat serta Luis tentunya. Karena pria tampan itu membujuk Lulu untuk ikut menonton bersama. Mereka memesan tiket dan berburu kursi bioskop seperti yang tercantum di atas tiket masuk mereka masing-masing.
"Yey, aku dapat kursi di sebelah, Kak Luis! Kak, Ayo kita duduk!" Ucap Loli manja seraya bergelayut di lengan Luis. Membuat pria itu mendengus kesal karena tak bisa mendekati Lulu yang terhalang Loli.
Tak lama, sepasang muda mudi memasuki ruangan yang sama seperti keempat mahluk Tuhan tadi. Keduanya terlihat mesra dengan gelayutan tangan si wanita pada lengan si prianya. Setelah di perhatikan, keduanya duduk tepat di barisan kedua di depan Lulu.
"Sepertinya itu, Dev! tapi kenapa dia malah nonton di sini? bukannya dia seharusnya kerja di kantor, ya?" Batin Lulu yang menyadari jika pasangan yang baru masuk tadi adalah suaminya dengan wanita yang dia kenal sebagai kekasihnya, Devin.
"Sebaiknya aku pura-pura tak melihatnya, saja!" Batin Lulu bermonolog.
"Lu, bukannya itu suami kamu, ya? dia sama siapa? Ya Tuhan, bukannya itu model cantik Thalita yang sedang terkenal itu, ya?" Tutur Karin yang sama-sama menyadari keberadaan Devin dan Thalita.
"Stttt! jangan berisik, Rin! biarkan saja mereka berdua, aku ingin fokus menonton filmnya!" Sahut Lulu beralasan.
Setelah lampu bioskop di matikan, itu tandanya film akan segera di putar. Banyak dari pengunjung lainnya yang sudah mempersiapkan mental mereka untuk melihat film yang sedang di minati banyak pecinta film horor tersebut, termasuk Thalita. Model cantik tersebut sudah memasang posisi nyaman di samping lengan Devin yang dia pakai sebagai sandaran kepalanya.
"Dev, kamu tidak takut, kan menonton film horor? aku sudah sangat lama ingin menonton film ini bersama kamu, sayang!" Tutur Thalita seraya bergelayut manja di lengan Devin, tak ayal tangan lentik itu sedikit jahil berselancar di dada bidang Devin, membuat sang empunya dada berotot itu sedikit kegelian.
"Tha, jangan seperti ini! banyak orang yang melihat nanti!" Tegur Devin, namun wanita yang selalu di poles make up tebal itu tak menggubris perkataan Devin. Dia malah semakin asik mengusap dada serta pusar Devin dengan lembut.
"Ya Tuhan, aku harus menghentikan Thalita! kalau tidak aku tidak menjamin bisa menahan has*rat ku lagi!" Batin Devin, secepat mungkin Devin memutar otaknya untuk segera menemuka ide yang akan melepaskannya dari tangan Thalita yang bergerilya.
"Th...Tha, aku tiba-tiba kebelet! aku ke toilet sebentar, ya!" Pamit Devin seraya langsung beranjak berdiri membuat tangan model cantik itu terhempas begitu saja.
"Sialan! berani-beraninya dia menghindari ku! tunggu saja, Vin! cepat atau lambat, aku pasti akan memiliki kamu seutuhnya!" Batin Thalita.
Bertepatan dengan Devin yang pergi ke toilet, ternyata Loli juga sama-sama menyambangi toilet karena tak tahan membuang hajat. Alhasil, kesempatan itu tak di sia-siakan Luis untuk berpindah tempat duduk di samping Lulu.
"Kenapa kamu pindah ke kursi Loli? dia bisa marah, nanti!" Ucap Lulu mengingatkan.
"Tidak akan, aku bisa menjelaskannya setelah dia kembali nanti!" Sahut Luis duduk tenang di samping Lulu.
Film yang di putar semakin menegangkan, bahkan adegan-adegan seram dan menakutkan pun sudah sering bermunculan sebagai penambah kesan seru bagi pecinta film horor. Lulu sempat memejamkan kedua matanya pada bagian-bagian adegan seram tertentu dan hal itu benar-benar dimanfaatkan oleh Luis untuk menarik kepala Lulu agar berlindung di dada bidangnya.
"Bersandar, lah! kamu bisa bersembunyi di sini sesukamu!" Ucap Luis seraya menyandarkan paksa kepala Lulu di dada bidangnya.
"Brengsek!" Gumam seseorang yang baru saja kembali dari toilet.
.
.
.
.
.
Penasaran kah??? kira-kira siapa hayo seseorang nya??? yang tau jawabannya ketik di kolom komentar yuk!!! jangan lupa juga beri like, gift dan votenya ya... See you next bab... 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.