Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
Bumi sama sekali tidak gentar menatap kelima preman berbadan tegap bawaan Rendra yang terkenal sebagai penguasa tempat hiburan malam di pusat kota tersebut. Sebaliknya, ia justru merasa jauh lebih percaya diri. Karena di sela-sela kesibukannya menganalisis grafik saham beberapa hari terakhir, Bumi diam-diam telah mempelajari berbagai variasi teknik bela diri praktis tingkat lanjut yang ia baca melalui artikel dan video online. Otak supernya telah menyerap semua gerakan itu dengan sempurna. Bumi sangat tahu, jika ia ingin menjadi penolong bagi orang-orang kecil dan melindungi orang-orang yang disayanginya, ia harus menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kekuatannya tidak boleh mandek di level pasar saja.
Tanpa memedulikan tatapan mengintimidasi dari kelima preman kota itu, Bumi melangkah santai melintasi mereka begitu saja. Tujuannya hanya satu, Alya.
"Heh! Mau ke mana lu, Bocah?!" bentak salah satu preman yang merasa diabaikan.
Bumi mengacuhkan gertakan itu. Ia langsung mendekati Alya yang bertubuh gemetar di sudut pilar, lalu dengan satu sentakan tangan yang cepat dan bertenaga, Bumi mendorong tubuh Rendra yang menghalangi jalan hingga anak juragan itu terhuyung mundur beberapa langkah.
"Mbak Alya, geser ke samping Dika sekarang ya. Aman, ada saya di sini," kata Bumi lembut sembari menepuk pelan bahu Alya.
Alya mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca. "I-iya, Mas Bumi. Kamu hati-hati ya, mereka bukan orang sembarangan."
Rendra yang tidak terima dadanya didorong hingga hampir terjungkal langsung berteriak histeris kepada para pengawalnya. "Woy! Lu semua ngapain malah bengong?! Hajar itu bocah sialan! Jangan kasih ampun!"
Kelima preman kota yang sejak tadi merasa dicuekin dan diremehkan oleh anak muda berpenampilan sederhana itu langsung naik pitam. Harga diri mereka sebagai penguasa bar dan diskotik kota serasa diinjak-injak.
"Bocah belagu! Berani-beraninya lu nyuekin kita!" teriak pemimpin preman kota itu.
Secara serentak, kelima orang itu langsung bergerak maju mengeroyok Bumi dari arah belakang dengan kombinasi jotosan mentah dan tendangan yang mengincar titik vital. Namun, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan manusia berindra super. Telinga dan kulit Bumi yang sangat sensitif dapat mengetahui arah datangnya serangan serta desingan angin dari belakang dengan sangat presisi, bahkan tanpa perlu menolehkan kepalanya.
Wusss!
Bumi sedikit merunduk, membiarkan dua kepalan tinju besar melintas kosong di atas kepalanya. Melihat situasi yang mulai kacau, Barong yang berdiri di dekat motor langsung bersiap mengambil ancang-ancang untuk maju.
"Bos Bumi! Biar gua bantu ringankan bebannya, Bos!" teriak Barong sambil mengepalkan tangannya.
"Gak usah, Bang Barong! Tetap di tempat lu!" sahut Bumi dengan suara lantang seraya memutar tubuhnya menghindar. "Lu cukup jagain Alya dan Dika dari si Rendra. Jangan biarkan anak manja itu kabur atau macam-macam lagi. Biar kelima orang ini gua yang urus sendiri!"
"T-tapi, Bos... mereka ini—" Kalimat Barong terputus saat melihat Bumi sudah mulai melancarkan gerakan balasan yang sangat cepat di tengah kepungan. "Baik, Bos! Siap dilaksanakan!"
Hingga akhirnya, terjadilah perkelahian sengit lima lawan satu di area parkiran belakang kampus yang cukup luas tersebut. Debu-debu tipis mulai beterbangan. Namun, apa yang dikhawatirkan Barong sama sekali tidak menjadi kenyataan. Kelima preman kota yang terkenal tangguh itu justru terlihat seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan di hadapan Bumi.
Tuk! Tuk!
"Ugh! Tangan gua... tangan gua mendadak kaku!" seru salah satu preman bertato di lehernya setelah dada kirinya diketuk oleh dua jari Bumi.
Bumi bergerak meliuk-liuk dengan ritme yang sangat santai, mengalir, namun mematikan. Hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi Bumi untuk menyelesaikan perkelahian tersebut. Satu per satu, kelima preman kota itu langsung terkapar di atas aspal jalanan kampus secara bergantian. Tubuh mereka mendadak lemas, gemetar, dan kehilangan seluruh dayanya setelah terkena totokan jalur saraf yang dulu juga dipakai Bumi untuk melumpuhkan Barong di lapangan pasar.
Bumi sengaja memilih teknik ini lagi karena ia tidak mau mematahkan tangan dan kaki mereka seperti anak buah Barong dulu. Menurut Bumi, mengurus patah tulang orang di lingkungan kampus akan terasa sangat ribet dan bisa memicu kedatangan pihak kepolisian dengan cepat.
"Aduh... ampun, Dek... ini ilmu apa... seluruh badan gua rasanya kaku kayak disengat listrik," erang pemimpin preman kota itu sambil menelungkup di aspal, napasnya tersengal-sengal tanpa daya.
Bumi berdiri tegak di tengah-tengah kelima pria kekar yang kini sudah tidak berdaya sama sekali di atas tanah. Ia merapikan sedikit kerah kemejanya yang agak berantakan, lalu menatap mereka dari atas dengan pandangan yang dingin. Kelima preman kota itu langsung takluk dan menyerah secara langsung tanpa syarat.
"Kami menyerah, Dek... tolong lepasin totokannya. Sakit banget ini, ampun," rintih preman lainnya dengan wajah pucat pasi.
Bumi tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya dengan santai. "Gua gak mau ngebebasin totokan lu semua sekarang. Lu gak usah cemas, setelah satu jam nanti, efek totokan saraf itu bakal hilang dengan sendirinya kok dari tubuh lu."
"S-satu jam, Bos? Tolonglah, Bos... lemas banget ini," mohon pemimpin preman itu dengan sisa tenaganya.
"Iya, satu jam. Tapi selama satu jam ke depan ini, lu semua bakal ngerasain tubuh lu tersiksa, kaku, dan kesemutan luar biasa kalau lu nekat coba-coba bergerak atau berdiri," ancam Bumi dengan nada rendah yang sangat intimidatif. Bumi melangkah selangkah ke depan, menatap mereka satu per satu dengan tajam. "Ini peringatan pertama dan terakhir dari gua buat kelompok lu di kota. Jangan pernah lagi lu semua berani datang ke kampus ini buat ganggu Alya, Dika, atau teman-teman gua yang lain. Kalau di antara lu semua atau kelompok kota lu masih ada yang merasa penasaran dan gak terima sama kekalahan hari ini... silakan cari gua langsung di pasar induk. Gua bakal tunggu dengan senang hati."
Kelima preman itu hanya bisa mengangguk-angguk pasrah di atas aspal, benar-benar tidak berdaya menahan siksaan kaku di sekujur otot mereka.
Sambil menatap kelima penguasa tempat hiburan malam yang tak berdaya itu, di dalam pikiran Bumi mulai tumbuh sebuah rencana baru yang jauh lebih besar dan visioner.
"Kelompok preman kota ini punya pengaruh besar di bar dan diskotik," batin Bumi sambil menganalisis situasi. "Kalau gua cuma menguasai pasar induk, pengaruh gua buat melindungi orang-orang susah bakal terbatas banget. Gua mulai berencana untuk mengalahkan ketua besar mereka sekalian, dan gua ingin menguasai seluruh wilayah kota ini. Kalau kota ini sudah ada di bawah kendali gua, langkah gua buat menyebarkan kebaikan, membuka lapangan kerja yang legal, dan menjaga keamanan bakal jauh lebih mudah dan luas nantinya."
Barong yang sejak tadi menonton jalannya pertarungan dengan mulut melongo, berjalan mendekati Bumi dengan wajah yang dipenuhi rasa khawatir yang amat sangat besar.
"B-bos Bumi... lu seriusan mau nantang ketua mereka di kota?" tanya Barong dengan suara agak berbisik, matanya melirik kelima preman di aspal. "Ketua mereka di pusat kota itu namanya gila banget, Bos. Koneksinya ke pejabat sama aparat atas kuat banget. Gua khawatir kalau kita nekat masuk ke wilayah kota, urusannya bukan cuma berantem fisik lagi, tapi bisa masalah hukum dan politik pasar, Bos."
Bumi menoleh ke arah Barong, lalu menepuk pundak mantan kepala preman pasar itu dengan senyuman yang penuh keyakinan dan ketenangan. "Lu tenang aja, Bang Barong. Gak usah khawatir berlebihan. Percaya sama gua, semua langkah yang gua ambil hari ini sampai kedepannya... semuanya sudah masuk dan terhitung ke dalam rencana matang gua."
Melihat ekspresi wajah Bumi yang begitu tenang dan penuh perhitungan magis, Barong akhirnya hanya bisa menelan ludah dan mengangguk patuh. Rasa hormatnya kepada sang bos baru kini naik ke level yang jauh lebih tinggi.
Sementara itu, Rendra yang sejak tadi berdiri di dekat mobilnya menyaksikan seluruh adegan di mana lima preman kota andalannya tumbang dalam hitungan menit tanpa bisa menyentuh Bumi, langsung gemetar hebat. Seluruh keberaniannya lenyap tak berbekas, menyisakan rasa trauma yang semakin mendalam.
"S-sialan... itu anak bener-bener monster!" umpat Rendra dengan wajah pucat pasi seperti kain kafan.
Begitu melihat Bumi mulai memalingkan pandangan tajam ke arahnya, Rendra tidak berpikir dua kali lagi. Ia langsung berbalik badan, membuka pintu mobil mewahnya dengan terburu-buru hingga kuncinya sempat terjatuh, lalu menyalakan mesin dan langsung kabur tancap gas meninggalkan area parkiran kampus dengan kecepatan penuh, membiarkan kelima orang kota bawaannya terkapar begitu saja di atas jalanan.
Dika yang melihat hal itu langsung bersorak gembira. "Hahaha! Lihat itu, Mas Bumi! Si Rendra kabur lagi kayak tikus kejebak got! Pengecut bener itu anak juragan!"
Alya berjalan mendekati Bumi, matanya memancarkan rasa lega dan kebahagiaan yang sangat mendalam setelah terlepas dari ancaman Rendra. "Terima kasih banyak ya, Mas Bumi. Kamu selalu datang tepat waktu buat selamatin aku."
"Sama-sama, Mbak Alya. Selama ada saya, gak bakal ada yang bisa nyakitin Mbak di kota ini," jawab Bumi tulus sambil tersenyum hangat, mengabaikan erangan lima preman di belakang mereka yang masih harus menikmati satu jam siksaan kaku di atas aspal kampus.