SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
Bab 12: Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
Keheningan hanya bertahan sesaat.
Raungan Penjaga Segel kembali mengguncang taman, mematahkan momen ketika semua mata tertuju pada Letnan Maya Adiprana.
Retakan-retakan cahaya menjalar di sepanjang Formasi Langit Tujuh Bintang. Pilar-pilar emas yang diciptakan pria tua berjubah sederhana mulai bergetar hebat di bawah hantaman kedua lengan raksasa makhluk bersisik itu.
BOOM!
Satu pilar cahaya pecah menjadi ribuan serpihan.
Pria tua itu mengerutkan dahi.
"Lebih cepat dari perkiraanku..."
Ia menghentakkan tongkat kayunya sekali lagi. Rune-rune emas baru muncul, menambal bagian formasi yang hancur.
Namun semua orang yang memahami formasi tahu keadaan itu hanya bersifat sementara.
Makhluk itu semakin kuat setiap detik.
Ethan tidak menjawab ucapan Maya.
Tatapannya bergantian antara wanita berseragam hitam itu, pria tua berjubah sederhana, sosok berkabut bermata emas, dan pria bertopeng dari Organisasi Gerhana.
Empat pihak.
Empat tujuan berbeda.
Di tengah kekacauan itu, siapa pun yang langsung percaya kepada satu pihak akan menjadi bidak.
"Itu terlalu berbahaya."
Pengalaman lima abad mengajarkannya bahwa perang terbesar sering kali dimulai bukan oleh musuh, melainkan oleh sekutu yang salah dipilih.
Maya memperhatikan sorot mata Ethan.
Ia memahami keraguan itu.
"Kalau aku berada di posisimu, aku juga tidak akan langsung percaya."
Nada suaranya tetap tenang.
"Tapi sekarang kita punya musuh yang sama."
Ethan menjawab singkat.
"Belum tentu."
Jawaban itu membuat beberapa anggota Divisi Naga saling berpandangan.
Seorang pria kekar di belakang Maya mendengus.
"Dia terlalu mencurigakan."
"Letnan, izinkan aku menangkapnya."
Maya mengangkat tangan.
"Tidak."
"Tugas utama kita adalah menstabilkan Segel Pertama."
"Bukan mencari musuh baru."
Di sisi lain taman, pria bertopeng Organisasi Gerhana perlahan mundur.
Ia menatap kedatangan Divisi Naga tanpa sedikit pun rasa panik.
Sebaliknya...
Ia seperti sedang menghitung.
"Empat belas anggota."
"Dua kultivator Alam Pengumpulan Qi."
"Satu pengguna Dao."
"Lalu..."
Tatapannya berhenti pada Ethan.
"...variabel yang tidak tercatat."
Ia menyentuh sebuah cincin hitam di jari telunjuknya.
Kilatan cahaya gelap muncul sesaat.
Sosok berkabut bermata emas segera memahami isyarat itu.
"Kau ingin mundur?"
"Kita sudah mendapat cukup informasi."
Pria bertopeng menjawab melalui transmisi jiwa.
"Artefak kedua telah bangkit."
"Itu lebih penting daripada mempertahankan posisi."
Sosok berkabut tidak langsung setuju.
Tatapan emasnya masih tertuju pada Ethan.
"Aku ingin membawanya."
"Bukan sekarang."
"Kita belum siap menghadapi orang tua itu."
Ia melirik pria berjubah sederhana.
Untuk pertama kalinya sejak muncul, pria bertopeng memperlihatkan sedikit rasa hormat.
Sementara itu, Penjaga Segel kembali mengaum.
Lambang mata di dadanya mulai bersinar merah.
Pria tua berjubah sederhana langsung menyadari perubahan itu.
"Waspada!"
"Itu akan melepaskan Inti Segel!"
Belum selesai ia berbicara...
Makhluk itu menghantam dadanya sendiri.
DUAARR!
Gelombang merah menyebar ke segala arah.
Rune-rune emas di langit hancur hampir separuhnya.
Pria tua itu terpental beberapa meter sambil memuntahkan darah.
Tongkat kayunya nyaris terlepas.
Master Raka membelalak.
"Itu..."
"Dia melukai dirinya sendiri?"
"Tidak."
Ethan menggeleng pelan.
"Ia sedang membuka pembatas."
Tatapan semua orang langsung tertuju pada Ethan.
Ia melanjutkan dengan tenang.
"Segel itu bukan hanya menahan sesuatu."
"Tapi juga membatasi kekuatannya."
"Kalau pembatasnya dihancurkan..."
"...dia akan menjadi lebih kuat."
Pria tua berjubah sederhana tersenyum pahit.
"Analisis yang tepat."
"Tapi terlambat."
Retakan pada lambang mata semakin besar.
Aura Penjaga Segel melonjak drastis.
Tekanan yang semula setara Alam Pengumpulan Qi kini meningkat hingga membuat bahkan Master Raka sulit bernapas.
Namun Ethan justru memperhatikan sesuatu yang lain.
Energi merah itu...
Tidak stabil.
Setiap kali aura makhluk tersebut meningkat, rantai cahaya di sekitar lambang mata ikut berkedip.
"Itu kelemahannya."
Ia langsung mengambil keputusan.
Melawan tubuh raksasa itu tidak ada gunanya.
Yang harus dihancurkan adalah sumber energinya.
Masalahnya...
Jarak menuju dada makhluk itu hampir lima meter dari tanah.
Dalam kondisi normal mustahil ia mencapainya.
Maya ternyata memiliki pemikiran serupa.
"Regu Tiga!"
"Alihkan perhatiannya!"
Enam anggota Divisi Naga langsung bergerak.
Mereka menembakkan tombak-tombak cahaya dari senjata rune di tangan mereka.
Ledakan demi ledakan menghantam tubuh Penjaga Segel.
Percikan api memenuhi udara.
Namun hanya meninggalkan goresan dangkal.
Makhluk itu mengayunkan lengannya.
Gelombang angin menghancurkan dua kendaraan lapis baja sekaligus.
Untung seluruh anggota berhasil menghindar.
"Terlalu keras..." gumam Maya.
Ethan memanfaatkan kekacauan itu.
Ia berlari menuju reruntuhan patung di sisi taman.
Dengan satu lompatan ia naik ke bahu patung yang masih berdiri setengah.
Tatapannya menghitung lintasan.
Tinggi.
Jarak.
Kecepatan.
Sudut jatuh.
Semuanya tersusun dalam pikirannya dalam hitungan napas.
Pria tua berjubah sederhana yang melihat gerakan itu langsung memahami niat Ethan.
"Berani."
"Tapi masuk akal."
Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat tongkatnya.
Angin keemasan berputar di bawah kaki Ethan.
Bukan untuk menyerang.
Melainkan mendorong.
Ethan sempat melirik sekilas.
Pria tua itu hanya mengangguk kecil.
Tidak ada kata-kata.
Namun Ethan mengerti.
Itu bukan bantuan tanpa alasan.
Melainkan kerja sama sementara.
"Pergilah."
Begitu angin mendorong tubuhnya...
Ethan melompat.
Tubuhnya melesat jauh lebih tinggi daripada kemampuan normal Alam Pemurnian Tubuh.
Seluruh taman menahan napas.
Ia tepat mengarah ke dada Penjaga Segel.
Makhluk itu menyadarinya.
Satu telapak tangan raksasa langsung menyapu udara.
Terlambat.
Ethan sudah mengubah arah tubuhnya di udara.
Pengalaman bertarung selama lima abad membuat setiap gerakannya efisien.
Begitu tiba di depan dada makhluk itu...
Ia menghunus pecahan bilah hitam yang selama ini disimpannya.
Bukan senjata hebat.
Namun cukup tajam.
Ia mengalirkan seluruh Qi yang tersisa ke ujung bilah.
"Tidak perlu menghancurkan."
"Cukup menggeser."
CRAAK!
Bilah itu menusuk celah kecil di antara rantai cahaya.
Bukan ke inti.
Melainkan ke rune penyeimbang.
Seluruh lambang mata bergetar hebat.
Penjaga Segel meraung kesakitan.
Tubuh raksasanya mundur tiga langkah.
Ledakan energi liar keluar dari dadanya.
Namun Ethan ikut menerima akibatnya.
Gelombang energi menghantam tubuhnya.
Tulang rusuknya terasa retak.
Darah memenuhi mulutnya.
Tubuhnya terpental belasan meter.
Sebelum menghantam tanah...
Seseorang menangkapnya.
Maya.
Wanita itu menahan tubuh Ethan agar tidak membentur batu.
"Kau gila."
Nada suaranya datar.
"Tapi berhasil."
Ethan berdiri kembali meski napasnya mulai berat.
"Aku belum berhasil."
Tatapannya tetap menuju Penjaga Segel.
Benar saja.
Lambang mata itu memang retak.
Namun belum hancur.
Sebaliknya...
Retakan tersebut justru memancarkan cahaya putih.
Bukan merah.
Pria tua berjubah sederhana membelalak.
"Itu bukan inti iblis..."
"Itu segel kedua!"
Sosok berkabut bermata emas tiba-tiba berteriak untuk pertama kalinya.
"Hentikan dia!"
Suara itu penuh kepanikan.
Pria bertopeng Organisasi Gerhana langsung bergerak secepat kilat menuju Penjaga Segel.
Namun pria tua berjubah sederhana menghadangnya.
Tongkat dan pedang hitam bertabrakan.
DENTANG!
Gelombang Qi menyapu seluruh taman.
Untuk pertama kalinya kedua kultivator kuat itu saling berhadapan secara langsung.
Pria bertopeng menyipitkan mata.
"Sudah puluhan tahun..."
"...kau masih belum mati juga, Tetua Han."
Pria tua tersenyum tipis.
"Dan kau..."
"...masih menjadi anjing Organisasi Gerhana."
Tatapan pria bertopeng langsung berubah dingin.
Di tengah kekacauan itu...
Retakan putih pada dada Penjaga Segel semakin melebar.
Sebuah benda perlahan muncul dari dalamnya.
Bukan inti monster.
Melainkan...
Sebuah lempengan batu giok putih seukuran telapak tangan.
Permukaannya dipenuhi tulisan kuno.
Begitu melihatnya...
Mata Ethan menyipit.
Tulisan itu...
Menggunakan aksara yang hanya dipakai pada zaman awal dunia kultivasi.
Sebelum siapa pun sempat bergerak...
Lempengan batu itu tiba-tiba memancarkan cahaya yang menyelimuti Ethan seorang diri.
Sebuah suara kuno bergema langsung di dalam jiwanya.
"Pewaris terdeteksi..."
"Membuka Ujian Simpul Ketiga..."
Detik berikutnya, ruang di sekitar Ethan terdistorsi.
Tubuhnya menghilang dari hadapan semua orang.
Meninggalkan taman yang masih dilanda pertempuran—dan hanya satu pertanyaan yang memenuhi benak setiap orang:
Ke mana sebenarnya Ethan Mahendra telah dibawa?