Kisah ini sekuel dari ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Andra tumbuh bersama keluarga angkatnya yang tidak lain adalah sahabat dari mendiang bundanya. Andra juga memiliki seorang adik perempuan yang sangat manja bernama Lala.
Walaupun sering ditinggal tugas oleh ayah kandungnya, Andra tidak pernah kehilangan kasih sayang keluarga lengkap. Bersama orang tua angkatnya Andra dididik dengan kedisiplinan dari Andi sang papa angkat serta dari mama Rani, Andra didik dengan kejujuran serta berpikiran terbuka.
Andra besar dengan impian tinggi menjadi pengusaha dan berhasil mewujudkan impiannya setelah mewujudkan kuliah S2 di Singapura.
Akan tetapi huubungannya dengan sang adik tiba-tiba harus renggang karena status mereka tidak sedarah.
Bagaimana kisah Andra selanjutnya???
Happy Reading...🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat...
Sudah seminggu Andra menemani Lala terapi, dan sudah jadi kebiasaan jika sebelum ke rumah sakit, Andra akan membawa Lala ke kuburan Roni. Semangat Lala berangsur membaik walaupun masih tertatih saat berjalan.
Tidak ada lagi pembicaraan tentang kepindahan ataupun pernikahan. Andra sudah tidak memikirkan lagi rencananya. Apalagi jika mengingat ucapan ayahnya di telpon malam kemaren saat dirinya menceritakan keinginannya membawa Lala ke Singapura dan menikahinya.
"Kamu tidak bisa menikahinya, wanita yang meninggal suaminya harus melewati masa iddah baru bisa menikah kembali." Ucapan ayahnya seolah meruntuhkan semua harapan dan rencana yang akan dibangun dengan adiknya di tempat yang baru.
"Jangan kamu menikahinya hanya karena kasihan ataupun sekedar untuk menemaninya terapi, tampa kamu sadari itu akan sangat menyakiti adikmu jika dia tau niatmu menikahinya. Menikahlah jika kalian memang berniat untuk membina rumah tangga yang jelas dan terarah, bukan dengan alasan yang tidak masuk akal." Wejangan demi wejangan terus terngiang di pendengaran Andra.
"Dek, mulai minggu depan kamu terapi ditemani sama mama dan papa ya? Kakak harus kembali ke Singaparu, kakak gak tau kapan bisa kembali kemari, karena kerjaan disana sudah mulai menyita waktu kakak. Nanti kalo kakak sempat, kita bisa vidio call ya." Ucap Andra saat mereka dalam perjalan pulang ke rumah.
Lala masih diam seperti biasa, pemeriksaan pita suara yang dilakukan dokter tidak berbuah hasil karena Lala yang memilih diam. Andra sudah mengatakan pada dokter jika dia pernah mendengar adiknya memanggil nama suaminya saat pertama kali ke kuburan suaminya.
Dari penjelasan Andra, dokter menyimpulkan jika Lala memang bisa berbicara, tidak ada saraf yang menyebabkan dia tidak bisa berbicara, hanya dia yang tidak memiliki keinginan untuk berbicara kembali.
Dokter juga minta keluarga untuk bersabar dan tetap memberi semangat, memancing emosinya juga perlu agar dia merespon. Hal itu juga yang sedang Andra lakukan saat ini. Sebenarnya dia masih mendapat cuti sampai minggu depan, tapi dia sengaja mengatakan begitu untuk melihat seberapa jauh Lala bergantung kepadanya.
Lala hanya meneteskan air mata, sampai kerumah juga masih seperti itu, saat Andra ingin menurunkan Lala dari mobil, secara refleks Lala memeluk kakaknya dengan air mata yang terus mengalir sampai terasa oleh Andra karena bajunya basah oleh air mata adiknya.
Andra tersenyum senang melihat adiknya meresponnya. "Kakak." Hanya itu yang keluar dari mulutnya, kata yang terdengar lirih tapi cukup menjadi pertanda bahwa adiknya menginginkannya saar ini.
"Sudah, jangan nangis lagi, baju kakak basah, nangisnya dilanjut nanti di dalam, biar kakak sediain baskom buat nampung air mata sama ingus kamu." Andra meledek adiknya dengan posisi masih memeluk, bahkan Andra bisa merasakan jika tangan kecil tersebut sedang memukul punggungnya.
"Masuk yok, pegel nih pinggang." Ucap Andra kembali. Pelukan itu secara perlahan lepas, masih menatap adiknya dengan posisi menunduk seperti tadi.
Cup...
Andra mencium pipi adiknya sesaat, "Jangan nangis lagi, jelek! Kakak mau bawa kamu ke Singapura, tapi kalo kamu belum bicara kakak gak bisa bawa, karena syarat untuk ikut kakak harus bisa bicara, gimana, mau ikut kakak? " Andra menatap kedua mata adiknya, mencoba menunggu jawaban dari mulut adiknya yang sudah lama dia rindukan.
Tidak ada jawaban, hanya ada tatapan penuh harap dari sang adik. "Syarat dari kakak cuma itu, kakak kasih waktu kamu 5 hari kedepan dan selama 5 hari itu juga kakak tidak akan kemari." Ucap Andra kemudian berdiri dan menurunkan Lala secara perlahan. Andra merangkul pinggang adiknya yang berjalan tertatih-tatih menuju rumah.
Pemandangan tersebut tidak luput dari pantauan sepasang suami istri yang dari tadi memperhatikan secara diam-diam. Rani dan Andi saling menatap saat kedua anaknya sudah masuk ke rumah. Ada rasa yang sulit diartikan, ada keinginan yang sulit diucapkan oleh keduanya.
Andi tau makna tatapan sang istri, tetapu dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Andi hanya bisa memeluk erat sang istri dengan harapan bisa saling menguatkan.
"Sudah pulang, mau makan atau istirahat?" Tanya Rani pada putrinya. "Makan dong Ma, kitakan lapar, habis olahraga." Jawab Andra yang baru datang dari dapur dengan sebuah nampan berisi sepiring nasi, dan segelas air putih."
"Biar mama aja Kak, kamu makan dulu gih!"
"Biar Andra aja, Ma, karena besok Andra udah gak bisa nemenin adek lagi, Andra harus balik ke Singapura." Ucap Andra sambil menyuapkan nasi ke mulut adiknya.
"Kok cepat banget Kak? Katanya dapat cuti sebulan." Andra mengedipkan sebelah matanya ke arah sang Mama sebagai kode dengan sedikit senyuman. "Mana ada Ma, cuti sampe sebulan, bisa bangkrut perusahaan kalo karyawannya cuti sebulan." Kekeh Andra.
"Ya sudah, Mama siapkan air buat adek mandi ya!" Andra hanya mengangguk saat mamanya beranjak ke kamar.
"Ingat ya, waktunya cuma 5 hari dimulai besok, kalo dalam 5 hari adek gak bisa penuhi syaratnya, kakak gak janji untuk kembali, kemungkinan juga kakak akan dipindahkan ke perusahaan cabang di negara lain, mungkin lebih jauh lagi, jadi ingat hanya 5 hari!" Andra semakin menekan adiknya, air mata Lala juga kembali turun.
Baru tiga suapan, Lala sudah menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Kenyang?" Hanya diangguki oleh adiknya, akhirnya sisa nasi tersebut berakhir dalam perut Andra. Lala menatap kakaknya dengan beribu kata yang ingin diucapkan, Andra seakan tidak peduli dengan tatapan adiknya, dia memilih menikmati suapan demi suapan sisa nasi kedalam mulutnya.
Rani membantu putrinya mandi dan berganti pakaian. Walaupun tertatih, tapi Rani sangat senang karena putrinya sudah banyak kemajuan. "Berarti mulai hari senin adek pergi terapinya sama mama dan papa ya, padahal mama senang sekali kakak kamu mau nemenin, tapi sayang pekerjaannya jauh, coba dekat pasti dia bakal selalu nemenin kamu."
Lala sedikit meremas handuk yang masih melekat dibadannya, perasaannya berkecamuk, dia ingin menjerit pada kakaknya agar jangan pergi tapi mulutnya seakan susah digerakkan. Lidahnya seakan kaku, suaranya seakan berat untuk keluar, hanya air mata yang selalu mewakili perasaannya.
Sementara di meja makan, Andra kembali menyantap makan siangnya dengan berbagai lauk kesukaannya. Selama Andra tinggal bersama mereka, Rani selalu memasak makanan yang anaknya suka. "Lapar apa doyan?" Ucap Andi yang baru keluar dari kamarnya.
"Hehehe...lapar Pa, lagian ini makanan kesukaan aku, Mama paling bisa memang manjain putranya yang paling ganteng." Seloroh Andra.
"Pelan-pelan, gak akan ada yang rebut makanan kamu lagi, sekarang kita kasih juga belum tentu dia mau." Ucap Andi kembali.
"Sabar Pa, akan ada waktunya adek kembali seperti dulu, pelan-pelan aja, dia udah mau jalan aja sudah syukur banget."
"Andra sekalian ijin ya, mau pulang ke rumah ayah?" Pinta Andra yang sudah menyelesaikan makannya.
"Iya, hati-hati, tunggu mama kamu dulu, biar dia rantangin lauknya!"
"Siap komandan." Ucap Andra sesaat kemudian berjalan menuju kamar adiknya.
Tok...tok...tok...
"Kakak masuk ya?"
Ceklek...
"Ma, adek udah selesai mandi?"
"Udah, nih langsung istirahat, kayaknya capek banget."
"Andra mau ijin pulang kerumah ayah ya?" Bisik Andra ditelinga mamanya.
"Andra ijin mau balik ke Singapura, kalo ada apa-apa kabari Andra."
"Iya, kamu hati-hati ya, kalo gitu mama keluar dulu." Saat Rani keluar, Andra mendekat ke arah adiknya yang tampak terlelap.
"Sayang, kakak pamit ya! 5 hari kedepan kamu bisa telpon kakak jika kamu masih mau kakak disamping kamu, kakak tunggu!"
Cup..
Sebuah ciuman mendarat di kening adiknya. Ciuman yang berbeda menurut Andra, ciuman sayang yang susah diartikan oleh dirinya sendiri.
Begitu juga dengan Lala, dia yang belum tertidur dapat merasakan ciuman kedua setelah ciuman dimobil tadi rasanya berbeda. Andra memang bukan tipe kakak laki-laki yang sering menciumnya. Selama ini Lala yang sering mencium kakaknya.
"Kenapa rasanya seperti ini." Batin Lala.