NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Hinaan Menjadi Bumerang

Matahari pagi belum sepenuhnya naik ke ufuk timur, namun ketenangan di rumah Pak Santo sudah terusik. Suara mesin mobil mewah yang menderu keras di depan rumah petak mereka yang sempit memecah keheningan jalanan kampung. Suara pintu mobil dibanting dengan kasar disusul langkah sepatu hak tinggi yang mengetuk-ngetuk tanah berbatu, menciptakan irama yang angkuh dan mengintimidasi.

Anjani, yang baru saja hendak menyeduh teh untuk ibunya, membeku. Ia tahu siapa pemilik langkah kaki itu.

Belum sempat Anjani melangkah ke pintu depan, pintu kayu tua rumah mereka didorong dengan kasar. Bu Anne berdiri di sana, mengenakan setelan desainer yang mencolok, kacamata hitam besar bertengger di hidungnya, dan ekspresi wajah yang seolah sedang mencium bau busuk yang sangat menyengat. Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap berjas hitam berdiri seperti pengawal pribadi, membuat suasana ruang tamu yang kecil itu terasa sesak dan mencekam.

Bu Purwati yang sedang melipat kain di dekat jendela tersentak kaget hingga hampir terjatuh. "A-astaga... siapa kalian?"

Pak Santo yang sedang memperbaiki rak sepatu di sudut ruangan segera berdiri, menatap para tamu tak diundang itu dengan tatapan waspada namun bermartabat. "Siapa Anda? Dan apa maksudnya masuk ke rumah orang tanpa permisi seperti ini?"

Bu Anne melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang penuh dengan kebencian dan penghinaan. Ia menatap sekeliling ruangan dengan tatapan yang merendahkan. "Jadi ini sarang kalian? Pantas saja menantu saya—maksud saya, mantan menantu saya—tidak pernah berkelas. Tempat ini lebih mirip gudang penyimpanan barang bekas daripada rumah tinggal. Bau pengapnya saja sudah membuat kepalaku pusing!"

Anjani melangkah maju, tubuhnya menegang namun tatapannya tajam menatap mertuanya. "Apa maumu, Bu Anne? Setelah apa yang kalian lakukan padaku, apa lagi yang belum cukup?"

Bu Anne mendengus sinis. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tas tangannya yang berharga puluhan juta rupiah. Dengan gerakan yang penuh kebencian, ia melemparkan amplop itu tepat ke arah wajah Anjani. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan ke lantai, mendarat di depan kaki Anjani.

****

"Itu surat gugatan cerai," ucap Bu Anne dengan suara cempreng yang menusuk telinga. "Malik sudah menandatanganinya. Dia sudah muak hidup dengan wanita yang tidak punya kelas sepertimu. Baca itu! Dia menuntut hak atas seluruh aset yang selama ini dia biayai. Kau tidak akan mendapatkan satu sen pun dari harta keluarga Wiratama. Anggap saja selama lima tahun ini kau sudah cukup beruntung bisa menumpang hidup di istana kami."

Anjani memungut salah satu lembar kertas itu. Tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mulai membakar dadanya. Di sana tertulis poin-poin yang tidak masuk akal; Anjani dituduh sebagai istri yang tidak berbakti, mandul, dan bahkan ada tuduhan palsu mengenai penggelapan uang perusahaan. Malik benar-benar ingin menghancurkannya secara total.

Pak Santo, yang melihat putrinya diperlakukan seperti sampah, maju ke depan. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena harga dirinya sebagai seorang ayah yang diinjak-injak. "Anda keterlaluan, Bu. Kami memang miskin, kami memang tidak punya apa-apa secara materi, tapi kami punya harga diri! Apa Anda pikir Anda bisa membeli kebahagiaan anak saya dengan harta? Dan apa Anda pikir Anda bisa memperlakukan anak saya seperti budak hanya karena Anda kaya?"

****

Bu Anne tertawa melengking, sebuah tawa yang merendahkan. Ia berjalan mendekati Pak Santo, menunjuk wajah pria tua itu dengan jari yang dipenuhi perhiasan. "Harga diri? Bicara tentang harga diri? Pak Tua, harga diri itu untuk orang-orang yang bisa hidup layak! Kalian ini apa? Hanya parasit yang menempel pada pohon besar bernama keluarga Wiratama. Jangan sok suci di depanku! Kalian seharusnya bersyukur putri kalian bisa mencicipi kehidupan mewah berkat Malik. Tanpa Malik, putri kalian mungkin masih sibuk mencari uang untuk bayar sewa kontrakan kumuh ini!"

Bu Purwati terisak di sudut ruangan, tangannya gemetar memegang dadanya yang sesak. "Tolong... tolong hentikan. Kami tidak pernah meminta harta anak Anda. Kami hanya ingin Anjani bahagia. Kenapa Anda begitu jahat?"

"Diam kau, wanita kampung!" teriak Bu Anne, membuat suara cemprengnya bergema di ruangan sempit itu. "Aku sudah cukup sabar selama lima tahun menahan diri melihat Anjani yang kampungan itu ada di silsilah keluargaku. Sekarang, dengan surat itu, dia bukan lagi siapa-siapa. Dia adalah sejarah yang akan segera kami hapus. Dan kau, Anjani, dengar baik-baik: jangan berani-berani mencoba menuntut hak gono-gini atau mengancam Malik. Jika kau berani melangkah ke pengadilan dengan klaim macam-macam, aku punya seribu cara untuk membuatmu membusuk di penjara!"

Anjani menatap mata mertuanya. Ia tidak lagi melihat sosok ibu mertua yang ia takuti dulu. Ia hanya melihat seorang wanita tua yang kehilangan akal sehat karena kesombongannya sendiri.

"Ibu," suara Anjani terdengar tenang, justru jauh lebih mengintimidasi daripada teriakan Bu Anne. "Ibu pikir dengan semua kekuasaan ini, Ibu sudah menang? Ibu mungkin bisa membuat Malik menandatangani surat cerai, dan Ibu mungkin bisa membuatku tidak mendapatkan apa pun dari harta yang dia miliki. Tapi Ibu lupa satu hal."

****

Anjani berdiri tegak, merapikan rambutnya. "Ibu tidak bisa membeli kebenaran. Dan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan Wiratama selama lima tahun terakhir, tentang siapa yang sebenarnya mengelola semua pembukuan itu, ada di tangan saya. Saya mungkin miskin, tapi saya tidak bodoh. Saya menyimpan semua cadangan data yang selama ini kalian anggap tidak penting."

Wajah Bu Anne sedikit pucat, meski ia segera menutupinya dengan seringai angkuh. "Gertak sambal! Kau pikir aku takut dengan ancaman kosongmu?"

"Kita lihat saja nanti," jawab Anjani dingin. "Silakan keluar dari rumah orang tua saya sekarang. Sebelum saya memanggil polisi untuk melaporkan tindakan pengancaman dan pencemaran nama baik yang baru saja Anda lakukan di sini. Saya memiliki rekaman percakapan kita sejak Anda menginjakkan kaki di pintu rumah ini."

Bu Anne terbelalak. Ia menatap ponsel Anjani yang tergeletak di meja, yang lampu indikatornya menunjukkan sedang merekam. Wajahnya yang tebal dengan makeup tampak menegang. Ia tahu bahwa jika rekaman ini tersebar ke publik atau rekan bisnis Malik, reputasi keluarga Wiratama bisa hancur berantakan.

"Kau... kau berani?!" desis Bu Anne.

"Keluar!" suara Pak Santo membentak dengan penuh wibawa. Meskipun ia hanyalah pria sederhana, keberaniannya saat ini membuat pengawal Bu Anne pun tampak ragu untuk bertindak.

Bu Anne mendengus kasar, memutar tubuhnya dengan angkuh. "Ini belum berakhir, Anjani. Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan dengan keangkuhanmu itu!"

Setelah rombongan itu pergi, suasana kembali sunyi. Pak Santo jatuh terduduk di kursinya, napasnya tersengal. Bu Purwati segera memeluk putrinya sambil menangis. Anjani tidak menangis. Ia memandang surat gugatan cerai di tangannya dengan tatapan yang tajam.

Ia telah memenangkan pertempuran kecil hari ini, tapi ia tahu, perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Malik bukan hanya sekadar suami yang berselingkuh; ia adalah lawan yang akan melakukan apa saja untuk melindungi kedudukannya.

"Jani," suara Pak Santo terdengar serak. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa benar kamu memiliki bukti-bukti itu?"

Anjani menatap orang tuanya dengan tekad yang membaja. "Ya, Pak. Selama lima tahun, Malik selalu menyuruhku mengurus semua dokumen rahasianya agar dia bisa bersenang-senang dengan Dara. Dia tidak tahu bahwa aku selalu membuat salinan setiap kali aku menandatangani sesuatu atas nama perusahaan. Dia pikir aku hanya istri penurut yang bodoh."

Anjani meremas kertas cerai itu hingga lecek. "Mereka ingin aku pergi dengan tangan kosong dan kehancuran? Baiklah. Kalau mereka menginginkan perang, maka mereka akan mendapatkan perang yang akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya."

1
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!