"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNTUHNYA SEBUAH HARAPAN
Alunan musik klasik yang lembut mengalun dari sudut private room di salah satu restoran bintang lima di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Restoran bergaya modern-kontemporer itu menawarkan privasi tingkat tinggi bagi para pengusaha kelas atas yang ingin melakukan transaksi bisnis bernilai miliaran rupiah. Namun, bagi Arga Dirgantara, atmosfer mewah di sekelilingnya sama sekali tidak bisa meredakan badai yang perlahan-lahan mulai berkumpul di dalam kepalanya.
Pertemuan siang itu dengan klien utama Dirgantara Group berjalan dengan sangat lancar. Arga, yang mengenakan setelan jas formal berwarna hitam dengan kemeja putih bersih di dalamnya, baru saja membubuhkan tanda tangan di atas berkas kerja sama proyek pembangunan resor di Bali.
"Kerja sama yang luar biasa, Pak Arga. Saya harap proyek ini berjalan sesuai rencana," ucap sang klien, seorang pria paruh baya keturunan Jerman-Indonesia, sambil menjabat tangan Arga dengan erat.
"Terima kasih, Pak. Tim kami akan segera mengirimkan laporan berkala mulai minggu depan," jawab Arga dengan senyum formal dan suara baritonnya yang mantap.
Setelah berbasa-basi selama beberapa menit, sang klien pamit terlebih dahulu bersama asistennya. Arga mengembuskan napas panjang, merapikan dokumen di atas meja kayu mahoni, lalu melangkah keluar dari private room menuju lobi utama restoran. Ia berniat untuk segera kembali ke kantor. Setelah penolakannya terhadap Queen di toilet mall tempo hari, Arga bener-bener mencoba memfokuskan seluruh energinya pada pekerjaan dan usahanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Keysha. Ia ingin memercayai bahwa istrinya itu benar-benar berniat berubah, demi anak yang ada di dalam kandungan wanita itu.
Namun, harapan yang baru saja ia pupuk itu hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Saat melintasi area bar restoran yang agak remang-remang di dekat pintu keluar, sudut mata elang Arga menangkap siluet yang teramat ia kenali. Di salah satu sofa sudut yang tersembunyi di balik dekorasi tanaman hias, duduk seorang wanita dengan gaun rajut pastel yang sama persis dengan yang dipakai istrinya tempo hari. Keysha.
Langkah kaki Arga langsung membeku di lantai marmer. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang menyakitkan.
Keysha tidak sendirian. Di sebelahnya, duduk seorang pria berambut agak gondrong dengan gaya perlente—pria yang sama yang fotonya pernah ditemukan Arga di dalam folder rahasia laptop istrinya. Kekasih gelap Keysha.
Arga mematung, menatap pemandangan di depannya dengan mata yang perlahan-lahan memerah karena amarah. Di sana, di tempat umum yang mewah itu, Keysha sedang tertawa manja, membiarkan jemari pria selingkuhannya itu mengusap pipinya lembut. Detik berikutnya, pria itu mengecup bibir Keysha dengan mesra, dan Keysha sama sekali tidak menolak, melainkan justru membalasnya dengan pelukan erat di leher pria itu.
Deg!
Dada Arga terasa seperti dihantam oleh palu besar hingga sesak. Rasa dikhianati yang teramat dalam kembali membakar seluruh urat sarafnya. Semua ucapan manis Keysha di kamar tidur malam itu, semua air mata palsunya yang memohon ampun, dan semua gaun lingerie seksi merah yang dipakainya untuk menarik perhatian Arga... semuanya ternyata hanyalah sandiwara murahan. Wanita itu tidak pernah berubah. Keysha tetaplah wanita manipulatif yang memperlakukan pernikahan mereka seperti sebuah lelucon.
Kemarahan yang memuncak menutupi seluruh akal sehat Arga Dirgantara. Tembok es yang selama ini membungkus emosinya pecah seketika, digantikan oleh api dendam yang membara.
Beruntung, meeting bisnisnya sudah selesai sepenuhnya. Dengan langkah lebar yang memancarkan aura membunuh yang teramat pekat, Arga berjalan mendekati meja tersebut. Suara langkah sepatunya yang menghentak keras di atas lantai marmer membuat beberapa pelayan restoran menoleh dengan ngeri.
Brak!
Arga menggebrak meja kaca di depan Keysha hingga gelas-gelas di atasnya berdenting keras.
Keysha dan kekasih gelapnya tersentak kaget. Wajah Keysha yang tadinya bersemu merah karena kemesraan mendadak berubah menjadi seputih kertas saat mendongak dan mendapati suaminya sudah berdiri di sana dengan napas yang memburu ngos-ngosan dan mata elang yang menatapnya tajam bak predator siap menerkam.
"M-Mas Arga?!" pekik Keysha dengan suara bergetar ketakutan.
Pria selingkuhannya mencoba berdiri untuk membela, "Heh, lo siapa berani—"
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, Arga sudah mencengkeram kerah kemeja pria itu dengan tangan kirinya, lalu mendorongnya kembali ke sofa hingga terjerembab. Mata Arga berkilat penuh ancaman yang membuat pria itu langsung ciut dan tidak berani bergerak lagi.
Tanpa membuang kata-kata, tangan kanan Arga yang kokoh langsung mencengkeram pergelangan tangan Keysha dengan cengkeraman yang sangat kuat, namun ia masih menahan diri agar tidak menyakiti area perut wanita itu.
"Ikut saya pulang!" desis Arga dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan penuh dengan tekanan amarah yang mematikan.
"Mas! Lepasin! Sakit, Mas! Malu dilihat orang!" jerit Keysha mencoba melepaskan diri saat Arga mulai menyeret tubuhnya keluar dari restoran dengan kasar. Arga tidak memedulikan pandangan syok dari para pengunjung dan pelayan restoran. Fokusnya hanya satu: membawa wanita pengkhianat ini pulang dan menyelesaikan semuanya.
Perjalanan pulang menuju mansion keluarga Dirgantara dipenuhi oleh keheningan yang mencekam. Arga mengemudikan mobil sedannya dengan kecepatan di luar batas wajar, menyalip kendaraan lain dengan liar di sepanjang jalan tol, mengabaikan tangisan dan protes Keysha di kursi sebelah.
Begitu mobil berhenti dengan hentakan keras di depan lobi mansion, Arga langsung keluar, memutari mobil, dan kembali menarik lengan Keysha untuk masuk ke dalam rumah.
Suasana mansion siang itu sebenarnya cukup sepi, namun begitu mereka menginjakkan kaki di ruang tengah lantai satu, benteng pertahanan Arga benar-benar runtuh seutuhnya. Rasa kecewa, marah, dan harga diri sebagai seorang suami yang diinjak-injak membuat dadanya terasa meledak.
"APA YANG KAMU LAKUKAN DI RESTORAN TADI, KEYSHA?!"
Suara bariton Arga menggelegar dengan sangat dahsyat, menggema di setiap sudut ruangan mansion yang berplafon tinggi tersebut. Suaranya begitu keras dan penuh dengan nada kemarahan yang mengerikan, hingga mampu membuat pot kaca di dekat meja konsol bergetar tipis.
Keysha tersentak mundur, menangis histeris dengan tubuh yang bergetar hebat. "Mas... maafin aku, Mas! Itu gak seperti yang kamu lihat! Kami cuma—"
"CUMA APA?! CUMA BERMESRAAN DI DEPAN UMUM SAAT KAMU MASIH MENJADI ISTRI SAH SAYA?!" potong Arga, suaranya naik beberapa oktav, memotong ucapan Keysha dengan kejam. Arga melangkah maju, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya hingga buku jarinya memutih dan bergetar hebat.
Arga sangat ingin memukul sesuatu, ingin menghancurkan apa saja di depannya untuk melampiaskan rasa sakit di dadanya. Namun, setiap kali matanya menatap perut Keysha yang sedikit membuncit, Arga memaksa tangannya untuk tetap diam di sisi tubuhnya. Ia masih memiliki nurani sebagai seorang pria sejati. Bagaimanapun juga, wanita di depannya ini sedang hamil, dan Arga menolak menggunakan tindakan fisik yang bisa membahayakan janin tersebut, terlepas dari fakta apakah anak itu adalah darah dagingnya atau bukan.
"Saya sudah mencoba melupakan masa lalumu! Saya sudah menolak semua godaan di luar sana demi mempertahankan pernikahan ini! Tapi apa yang saya dapat, Keysha?!" teriak Arga lagi, napasnya ngos-ngosan hebat dengan dada yang naik turun dengan cepat. Wajah tegasnya mengeras rapat karena menahan air mata kekecewaan yang enggan ia jatuhkan. "Kamu bener-bener wanita berhati busuk yang tidak tahu cara berterima kasih!"
Pertikaian yang teramat hebat itu tentu saja tidak berlangsung rahasia. Suara Arga yang menggelegar bak petir di siang bolong itu langsung memancing penghuni rumah lainnya.
Dari arah tangga lantai dua, Ayah dan Ibu Arga berlari turun dengan wajah yang dipenuhi rasa panik dan terkejut yang luar biasa. Tak ketinggalan, Alya yang baru saja keluar dari kamarnya ikut berlari menyusul di belakang orang tuanya dengan mata yang melebar syok mendengar kakaknya yang biasanya tenang dan kaku bisa mengamuk sehebat ini.
"Arga! Ada apa ini?! Kenapa kamu berteriak-teriak pada istrimu yang sedang hamil?!" tegur sang Ibu dengan suara panik, langsung berlari memeluk Keysha yang sudah terduduk lemas di lantai sambil menangis tersedu-sedu.
Sang Ayah berdiri di depan Arga, menatap putranya dengan pandangan menuntut penjelasan. "Arga, kendalikan emosimu! Selesaikan masalah dengan kepala dingin, jangan seperti orang kesurupan!"
Arga menatap kedua orang tuanya dengan tawa hambar yang sangat sinis sebuah tawa yang sarat akan rasa frustrasi yang mendalam. Ia melirik sekilas ke arah Keysha yang kini sedang bersembunyi di balik ketiak ibunya, memoles kembali wajah korbannya dengan air mata palsu.
"Tanya pada menantu kesayangan Ibu dan Ayah ini, apa yang sudah dia lakukan di belakang saya," ucap Arga, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin, datar, namun bergetar menahan amarah yang teramat pekat. "Saya sudah muak dengan semua sandiwara di rumah ini."
Arga membalikkan tubuhnya dengan kaku, mengabaikan panggilan ibunya yang terus berteriak memanggil namanya. Ia melangkah lebar menuju arah pintu keluar utama. Di ruang tengah, langkahnya sempat berpapasan langsung dengan Alya yang berdiri mematung dengan wajah pucat.
Alya menatap kakaknya dengan pandangan ngeri sekaligus cemas, namun Arga bersikap acuh tak acuh. Ia melewati adik kandungnya begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, memancarkan aura dingin yang mampu membekukan siapa saja yang mendekat.
Arga keluar dari mansion, membanting pintu utama dengan sangat keras. Pria berusia 30 tahun itu langsung masuk ke dalam mobil sedannya, menyalakan mesin dengan raungan yang keras, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil mewah itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai menggelap di sore hari. Pikiran Arga benar-benar kosong, hatinya mati rasa, dan hanya ada satu tempat tujuan di dalam otaknya untuk melarikan diri dari seluruh kenyataan pahit ini: Illusion Club. Tempat di mana ia bisa menenggelamkan seluruh rasa sakitnya ke dalam botol-botol alkohol hangat... dan tempat di mana ia tahu, bayangan seorang mahasiswi cegil bernama Queen mungkin sedang menunggunya untuk menghancurkan sisa-sisa dinding esnya seutuhnya.