NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa

Sabtu malam di kawasan pesisir Jakarta Utara selalu menyisakan atmosfer yang pekat. Bau asin air laut berpadu dengan aroma solar dari kapal-kapal kayu pinisi yang berjejer rapat di sepanjang dermaga tua Sunda Kelapa. Penerangan di area ini sangat minim; hanya ada beberapa lampu merkuri tua berkabut kuning yang sinarnya nyaris tenggelam oleh kegelapan malam.

​Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Sebuah SUV hitam dengan kaca film yang sangat gelap merayap pelan memasuki area dermaga lama, lalu berhenti di balik bayangan tumpukan kontainer karatan.

​Di dalam mobil, ketegangan terasa begitu nyata hingga suara deru mesin yang halus pun terdengar seperti detak bom waktu. Kinanti duduk di kursi pengemudi, tangannya menggenggam erat lingkar setir. Di sebelahnya, Arkananta duduk tegak, mengenakan jaket bomber hitam tebal yang menyembunyikan pakaian kasualnya. Di pangkuan Arkan, sebuah laptop militer yang terhubung dengan jaringan satelit privat menampilkan peta taktis dermaga secara real-time.

​"Semua sensor kelembapan di sekitar dermaga sudah saya sinkronisasikan ke jam tangan Bapak," kata Kinanti, suaranya rendah namun penuh fokus. Ia menunjuk ke arah jam tangan digital khusus di pergelangan tangan Arkan. "Saat ini kelembapan udara berada di angka tujuh puluh delapan persen. Masih aman. Namun, radar cuaca mendeteksi adanya pergerakan awan rendah dari arah Teluk Jakarta. Jika angka di jam Bapak menyentuh sembilan puluh persen, itu artinya rintik hujan pertama akan turun dalam waktu kurang dari tiga menit. Bapak harus segera mundur."

​Arkan melirik jam tangannya, lalu menatap Kinanti. Di bawah temaram lampu dasbor, mata hijau zamrudnya berkilat tajam. "Tim sekuriti internal kita sudah menyebar di radius dua ratus meter dalam penyamaran. Mereka tidak akan bergerak kecuali saya memberikan kode darurat."

​Arkan meraih sebuah alat komunikasi mikro nirkabel (earpiece), memasangnya ke dalam telinga kanan, lalu memberikan satu lagi kepada Kinanti. "Tetap di dalam mobil dengan mesin menyala, Kinanti. Begitu situasi memburuk, jangan tunggu saya. Langsung bawa mobil ini keluar dari area pelabuhan."

​Kinanti menahan napas sejenak, lalu menatap bosnya dengan pandangan menuntut. "Bapak tahu saya tidak akan pernah melakukan itu. Saya akan menunggu Bapak di sini, apa pun yang terjadi."

​Arkan menatap gadis itu selama beberapa detik. Ada riak emosi yang hangat di balik mata dinginnya, sebuah pengakuan tak terucap atas kesetiaan tanpa syarat yang dimiliki Kinanti. Tanpa berkata-kata lagi, Arkan membuka pintu mobil dan menyelinap keluar ke dalam kepekatan malam dermaga.

​Langkah kaki Arkan terdengar konstan di atas permukaan semen dermaga yang retak-retak. Angin laut bertiup kencang, menerbangkan ujung rambutnya dan membawa hawa dingin yang lembap. Ia berjalan menuju ujung dermaga, tempat di mana sebuah lampu jalan tua yang berkedip-kedip menjadi satu-satunya sumber cahaya.

​Tepat di bawah lampu tersebut, sesosok bayangan pria paruh baya bertubuh tegap tampak berdiri membelakanginya, menatap riak air laut yang hitam. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna cokelat tua dan memegang sebuah tongkat jalan berkepala perak.

​"Tepat waktu, seperti biasa, Arkananta," suara pria itu berat, serak, dan membawa intonasi yang sangat familier di telinga Arkan.

​Saat pria itu berbalik, cahaya merkuri kuning menyinari wajahnya yang dipenuhi kerutan tegas. Jantung Arkan berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena syok yang luar biasa.

​"Om Baskoro..." desis Arkan, suaranya tertahan di tenggorokan. "Anda... Anda masih hidup?"

​Baskoro Mahardika. Kakak kandung dari ayah Arkan, pria yang dinyatakan hilang dan tewas dalam kecelakaan helikopter di pedalaman Kalimantan sepuluh tahun lalu. Dialah pria yang seharusnya mewarisi takhta utama Mahardika Group sebelum takdir memilih ayah Arkan, dan kemudian jatuh ke tangan Arkan sendiri.

​Baskoro terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang terdengar hampa. "Kematian adalah sandiwara yang sangat mudah dibeli jika kamu memiliki cukup emas, Keponakanku. Sepuluh tahun aku mengasingkan diri, mengamati bagaimana bocah ingusan sepertimu menikmati puncak kejayaan yang seharusanya menjadi milikku."

​"Jadi semua ini karena takhta perusahaan?" Arkan melangkah maju satu kali, matanya mengunci pandangan pamannya. "Anda yang memberikan informasi tentang pemicu kutukan saya kepada Rangga? Anda yang memanfaatkannya?"

​"Rangga itu bodoh dan tidak sabaran. Dia terlalu dangkal untuk memahami keagungan Serat Jayaning Mahardika," Baskoro mengangkat tongkat peraknya, menunjuk tepat ke dada Arkan. "Dia mengira wujud kucingmu adalah penyakit atau sihir hitam biasa. Dia tidak tahu bahwa itu adalah bagian dari Sumpah Darah 1845. Sumpah yang mengunci garis keturunan utama agar tetap berada di bawah kendali spiritual takdir. Jika garis keturunan utama cacat atau tidak mampu memimpin, maka hak waris spiritual dan seluruh kekayaan Mahardika akan beralih ke garis keturunan sekunder... garis keturunanku."

​Di dalam SUV hitam, Kinanti yang mendengarkan seluruh percakapan melalui alat komunikasi nirkabel langsung membuka berkas silsilah keluarga di laptopnya dengan panik. "Pak Arkan, dengar saya. Berdasarkan hukum adat keluarga Mahardika yang tercatat di dokumen legal 1950, jika pewaris utama mengalami inkapasitas fisik atau mental yang permanen dan rahasia kutukan ini bocor ke publik, faksi sekunder berhak melakukan pengambilalihan paksa (hostile takeover) secara sah demi hukum!"

​Arkan mendengar peringatan Kinanti di telinganya, namun ia tetap menjaga ekspresinya tetap tenang di depan Baskoro. "Anda tidak punya bukti, Om Baskoro. Rangga sudah hancur, dan rahasia saya tetap aman di dalam lingkaran terdalam saya."

​"Aman?" Baskoro tersenyum licik. Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api perak, lalu menyalakannya. "Bagaimana jika malam ini, di dermaga ini, seluruh media massa melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana CEO Mahardika Group yang agung berubah menjadi seekor hewan tak berdaya di bawah guyuran hujan?"

​BIIIP! BIIIP! BIIIP!

​Jam tangan Arkan mendadak bergetar hebat. Layar digitalnya berkedip merah memunculkan angka: 91%.

​Arkan mendongak ke langit. Gumpalan awan hitam pekat entah sejak kapan sudah berada tepat di atas kepala mereka, berputar-putar seperti pusaran pusaka yang siap memuntahkan isinya. Satu rintik air dingin pertama jatuh tepat mengenai pipi kiri Arkan.

​"Sial," umpat Arkan dalam hati.

​"Kamu merasakan kelembapannya, bukan?" Baskoro tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak menyemprotmu dengan air seperti yang dilakukan Rangga, Arkan. Aku memanggil badai laut yang sesungguhnya! Saya sudah membayar pawang hujan hitam untuk menggeser awan badai dari teluk tepat ke titik koordinat ini!"

​Dari balik kegelapan tumpukan kontainer, tiba-tiba muncul belasan pria berpakaian hitam yang memegang kamera dengan lensa telefoto panjang, lengkap dengan lampu kilat (flash) yang siap menyala. Di belakang mereka, beberapa orang tampak membawa perangkat siaran langsung (live streaming).

​"Pak Arkan! Mundur sekarang! Itu jebakan media!" teriak Kinanti dari dalam mobil. Tanpa membuang waktu, Kinanti langsung memindahkan tuas gigi SUV-nya, menginjak pedal gas dalam-dalam, dan memacu mobil besar itu menerobos area dermaga, mengarah langsung ke titik lampu jalan tempat Arkan berada.

​Rintik hujan mulai turun semakin rapat. Tubuh Arkan mulai gemetar. Getaran sihir keemasan yang menyakitkan mulai meletup-letup di ujung jemarinya. Pandangannya mengabur saat kakinya perlahan mulai kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh manusianya.

​"Selamat tinggal pada karier korporatmu, Arkananta!" seru Baskoro penuh kemenangan saat para jurnalis bayaran itu mulai berlari maju, mengarahkan kamera mereka ke arah Arkan yang sudah berlutut di tanah, menahan transformasi paksa di bawah guyuran hujan yang semakin deras.

​CIYYYYEEETTT!

​SUV hitam milik Kinanti meluncur drastis, melakukan manuver drift tajam yang memblokir pandangan para fotografer tepat sebelum lampu kilat mereka sempat mengabadikan wajah Arkan. Pintu penumpang depan terbuka lebar dari dalam.

​"Pak Arkan! Lompat!" teriak Kinanti.

​Namun, Arkan sudah tidak bisa melompat sebagai manusia. Dalam kilatan cahaya keemasan yang benderang di bawah siraman hujan, jas dan jaket bomber-nya mengempis ke lantai dermaga. Seekor kucing oranye gembul muncul dari balik tumpukan baju, tubuhnya basah kuyup dan gemetar hebat karena kedinginan.

​Baskoro yang melihat hal itu langsung berteriak pada anak buahnya, "Foto kucing itu! Foto baju yang kosong itu! Itu buktinya!"

​Sebelum kamera pertama sempat menangkap gambar, sebuah bayangan blus biru dongker berkelebat cepat di bawah guyuran hujan. Kinanti telah melompat keluar dari mobil. Tanpa memedulikan tubuhnya sendiri yang langsung basah kuyup, ia menjatuhkan dirinya ke atas semen dermaga, menggunakan seluruh tubuh dan blusnya sebagai perisai manusia untuk mendekap dan menyembunyikan Arkan di dalam dadanya.

​CEKREK! CEKREK! CEKREK!

​Ratusan lampu kilat kamera menyala serentak, namun satu-satunya hal yang berhasil mereka rekam adalah foto Direktur Operasional Mahardika yang baru, Kinanti Amalia, yang sedang berlutut memeluk sebuah bundelan pakaian hitam di bawah hujan deras. Wujud kucing Arkan sepenuhnya terlindung di dalam dekapan hangat tubuh Kinanti.

​Dengan gerakan cepat dan sisa adrenalin yang membakar tubuhnya, Kinanti merangkak kembali ke dalam kursi pengemudi sambil mendekap erat Arkan yang terus mengeong lemah kesakitan. Ia membanting pintu mobil hingga tertutup rapat, menguncinya, lalu menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.

​SUV hitam itu melesat bak peluru, menabrak barikade motor anak buah Baskoro dan membelah kegelapan dermaga Sunda Kelapa, meninggalkan Baskoro yang meraung murka di belakang karena rencananya yang sempurna digagalkan oleh keberanian seorang sekretaris.

​Di dalam kabin mobil yang bergerak kencang, hujan masih menghantam kaca dengan brutal. Kinanti menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya mendekap erat tubuh kucing Arkan yang basah dan menggigil hebat di pangkuannya. Air mata Kinanti akhirnya menetes, bercampur dengan sisa air hujan di wajahnya.

​"Saya di sini, Pak... Kita aman... Saya tidak akan membiarkan mereka mengambil apa pun dari Bapak," bisik Kinanti di antara isak tangalnya, mengusap bulu jingga Arkan yang kini mendengkur sangat lemah, berjuang melawan rasa dingin yang menusuk jiwanya. Pertempuran demi takhta Mahardika kini telah resmi dimulai, dan taruhannya bukan lagi sekadar jabatan, melainkan eksistensi hidup mereka berdua.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!