~NOVEL KE 7~
Ini adalah kisah tentang Sundari. kehidupan harmonis nya bersama sang suami, Atmaja, mulai diuji ketika sang suami di PHK dari tempat kerja nya.
Atmaja yang penyayang mulai berubah perangai jadi seorang yang pemarah.
Ditambah Atmaja pun mulai gemar berjudi. Sehingga hutang nya kepada rentenir pun perlahan menumpuk dan kian menumpuk.
Percekcokan pun mulai sering terjadi dalam keluarga kecil tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? mampu kah Sundari bertahan? Terlebih ia memiliki Yuna dan juga calon bayi dalam perut nya.
***
kembali tersebar soundtrack karya mel dlm novel ke 7 ini.
1. "Mama" by Mel di eps. 6
2. "Tidurlah, Nak!" by Mel di eps. 16
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati
"Kang Mas!" Pekik Sundari dengan hati yang remuk berantakan.
Saat ini Sundari baru saja menerobos masuk ke dalam rumah Pak Broto. Karena sebelum nya dua orang lelaki mencoba menahan nya untuk tidak masuk ke dalam rumah.
Mempercayai firasat yang ia rasakan, Sundari tetap merangsek masuk, hanya untuk melihat pemandangan sang suami yang sedang memadu kasih dengan wanita lain. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Hera, adik dari Pak Broto, pemilik rumah ini.
Sundari mengenal baik Hera. Karena ia pernah mengobrol singkat dengan wanita itu. Wanita yang selalu menghiasi wajah nya dengan dandanan sedemikian rupa warna-warni nya.
Dalam perbincangan singkat Sundari dengan Hera dulu, ia tak terlalu menyukai gaya bicara Hera yang tampak angkuh dan vulgar.
Kini, Sundari melihat dengan mata kepala nya sendiri saat Hera duduk manja di atas pangkuan Atmaja. Sementara itu sebelum ia memekik kaget, Sundari pun sempat melihat tangan sang suami yang meraba ke dalam kaos bagian depan yang dikenakan oleh Hera saat ini.
"Kang Mas!" Pekik Sundari kembali berulang.
Amarah itu seketika muntab menguasai wanita itu. Hati nya merasakan pedih yang tak terkira manakala ia melihat sendiri bagaimana sang kumbang hati yang begitu dipercayai nya selama ini, ternyata telah menduakan diri nya.
Tega nian Atmaja yang telah merusak kepercayaan yang telah dibangun oleh Sundari selama masa pernikahan kedua nya. Dua belas tahun mereka bersama. Dan kepercayaan itu dirusak oleh Atmaja dengan begitu saja!
Sundari langsung merangsek maju untuk melampiaskan amarah nya. Diraih nya rambut si wanita ular yang sudah menjadi bisa mematikan dalam hubungan nya bersama Atmaja.
"Dasar pela cur! pelakor! Murahan!" Teriakan Sundari terdengar nyaring di malam yang tak terlalu ramai itu.
Hera pun mengaduh kesakitan. Terlebih ketika cengkeraman tangan Sundari di rambut nya berhasil menarik paksa Hera hingga terjatuh dari atas pangkuan Atmaja ke lantai yang dingin.
"Aduh! Mas! Tolongin!" Pekik Hera meminta tolong.
Atmaja yang sempat terdiam terpaku menyaksikan keliaran Sundari yang tiba-tiba itu pun bergegas memisahkan kedua wanita yang sedang asik bergulat saat ini.
Lelaki itu masih dibuat terkejut karena Sundari nya ternyata seorang petarung yang tangguh. Ini bisa dilihat dari posisi Sundari yang selalu berhasil mengunci tubuh Hera di bawah tindi han nya.
Beberapa kali Sundari menampar, mencakar, memukul, serta menarik rambut Hera dengan seluruh tenaga yang dimiliki. Sehingga Atmaja pun sampai kesulitan untuk memisahkan Hera dari sang istri.
"Sudah, Ndar! Audah! Jangan ribut lagi! Malu!" Teriak Atmaja saat mengingatkan Sundari.
Perhatian Sundari pun seketika beralih ke Atmaja. Ditudingkan nya jari telunjuk milik nya ke dada sang suami. Dan ia pun memuntabkan setiap kata yang menjadi suara hati nya saat ini.
"Malu?! Mas berani bilang malu, sekarang?! Terus kemarin rasa malu itu ke mana aja, Mas?! Ngumpet kah di ketiak mu?! Mas ingatin Adek tentang malu, tapi Mas sendiri gak punya malu dengan perbuatan bejad mu itu, Mas!" Tuding Sundari yang mengamuk bak sapi gila.
Atmaja merasa malu dengan teriakan Sundari. Juga malu karena kini mereka menjadi perhatian mata orang-orang yang ada di sekitar rumah Pak Broto.
Dengan mengeratkan gigi, Atmaja pun langsung menarik paksa tangan Sundari tanpa berkata apa-apa lagi.
"Aww! Sakit! Mas! Ndari belum selesai ngomong!" Jerit Sundari dengan wajah yang masih memerah karena amarah.
"Diam! Kita lanjutkan di rumah saja!" Ujar Atmaja tak kalah marah.
Pasangan suami istri itu pun kembali pulang ke rumah mereka. Dan sepanjang jalan, kedua nya menajdi perhatian para tetangga yang mereka temui.
Ini terjadi karena melihat gelagat kedua nya yang tampak tak akur. Dengan wajah kedua nya yang sama-sama masih terlihat merah padam karena amarah.
Salah satu di antara tetangga yang ikut menyaksikan gelagat tak harmonis dari Sundari dan Atmaja adalah Lita. Sang Gosiper di kampung itu.
Belum apa-apa, Lita sudah langsung menarik seseorang yang ada di samping nya dan menggosipi pasangan yang sedang berseteru itu.
"Tuh kan! Kata saya juga apa, kan? Ini pasti ketahuan nih belang nya si Atmaja! Palingan bentar lagi juga dua nya cer out!" Seru Lita berapi-api.
"Cer out? Apaan tuh, Lit?" Tanya wanita yang diajak bergosip oleh Lita.
"Cerai! Cerai maksud nya!" Jawab Lita dengan mata yang berbinar senang.
Dalam hati nya, Lita sudah kesenangan karena ia kini memiliki bahan gosip yang baru dan juga hot.
Lita terlupa, kalau dua malaikat di kanan dan kiri nya masih setia menyertai setiap niat dan laku wanita tersebut. Kedua malaikat itu mencatat setiap niat dan perbuatan Lita saat ini dan juga nanti. Sehingga kelak, Lita akan menyadari kalau perbuatan bergosip yang dilakukan nya itu akan merugikan diri nya sendiri.
Karena bila seseorang yang digosipi tak merasa ridha atas ucapan orang lain tentang nya, maka bila ia membalas nya dengan kesabaran, orang tersebut bisa mendapatkan ganjaran yang menguntungkan bagi nya di akhirat kelak.
Di mana setiap dosa yang ia miliki akan berpindah ke orang yang telah menggosipi nya.
Jadi, bukan kah bergosip itu suatu perbuatan yang sangat merugi?
Sekalipun yang dikatakan itu memang sebuah kebenaran, tapi tetap saja. Itu adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri.
***
Kembali ke Atmaja yang kini menghempaskan tubuh ringkih Sundari ke sofa yang ada di ruang tengah.
Brak!
"Mas! Kang Mas kok jadi kasar gini sih? Salah Adek apa, Mas, sama Kang Mas?! Kurang nya Ndari apa, Mas? Tega hati, Kang Mas mengkhianati kepercayaan Ndari! Kamu tega, Mas! Tega!" Jerit Sundari dengan wajah yang telah bersimbah air mata.
"DIAM! Berisik kamu, Ndar! Kamu sudah bikin Mas malu di depan tetangga dan teman-teman Mas!" Cecar Atmaja dengan emosi penuh.
"Hah?? Hahaha! Kang Mas malu? MALU?!! yang benar saja! Lalu dengan main serong di belakang Ndari, apa itu gak bikin malu diri sendiri nama nya, Mas?! Itu tuh yang nama nya malu! Malu sama umur, Mas! Malu sama tetangga! Malu juga sama Yun.."
PLAKK!!
"Arhh!" Sundari kembali terhempas ke atas sofa usai pipi nya ditampar dengan begitu kencang nya oleh tangan Atmaja.
Jejak jemari Atmaja di pipi Sundari pun seketika membekas. Dengan warna kemerahan yang kontras dengan kulit kuning langsat dari wanita tersebut.
"Mas!" Pekik Sundari, kehilangan suara untuk berkata-kata lagi.
Pipi nya terasa perih. Namun tak lebih perih dibanding dengan luka hati nya saat ini.
Berjuta kata dan rasa ingin disampaikan oleh Sundari terhadap suami nya itu. Betapa ia merasa terasing dengan Atmaja yang sekarang. Betapa ia tak lagi mengenali suami nya yang dulu selalu bersikap romantis terhadap nya.
Kini, jejak perih di pipi itu menjadi pengingat nyata bagi Sundari, bahwasanya sang suami yang begitu dicintai nya itu kini telah jauh berubah.
Ya. Atmaja telah berubah entah sejak kapan. Sehingga Sundari bahkan tak lagi mengenali kepribadian hangat nya yang dulu.
Hati wanita itu pun seketika menjadi runyam, karena ulah sang pemintal cinta yang dulu menjadi teman merajut cinta bersama dengan nya.
Dan Sundari akhirnya merasakan patah hati nya yang pertama.
***
perkedel jagung tapi
semangat menulis 🤗
ma'af baru mampir 😟
semangat, q ksih kmbang sepatu 🌺 y