Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
happy reading guys
------------------------------
BAB 9: Bram yang Mengemis Ampunan
Gedung pencakar langit Syailendra Group berdiri megah di pusat distrik bisnis Jakarta, memancarkan kemewahan yang mengintimidasi siapa saja yang memandangnya.
Di lantai paling atas, di dalam kantor penthouse pribadi milik Nicholas Syailendra, suasana terasa begitu sunyi dan tenang.
Elena Vance berdiri anggun di dekat jendela kaca raksasa, menatap pemandangan kota metropolitan di bawah kakinya.
Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen laporan harian mengenai pergerakan pasar saham.
Hanya dalam waktu dua puluh empat jam sejak konferensi pers kemarin, saham Bram Corp telah hancur total hingga menyentuh dasar jurang kebangkrutan.
"Tuan Besar, pria itu sudah menunggu di lobi VIP selama tiga jam,"
Yan—asisten pribadi Nicholas—melangkah masuk ke dalam ruangan dan memberikan laporan dengan kepala tertunduk hormat.
Nicholas Syailendra yang sedang duduk di kursi kebesarannya melirik ke arah Elena.
Tatapan mata elangnya melunak, dipenuhi rasa posesif yang mendalam.
"Kamu ingin menemuinya sekarang, Elena? Atau kamu mau aku menyuruh pengawal untuk melemparnya keluar ke jalanan?"
Elena berbalik, menyunggingkan sebuah senyuman miring yang terlihat sangat dingin namun menawan di wajah cantiknya.
"Tidak perlu, Nicholas. Biarkan dia masuk. Aku sudah menantikan momen ini selama satu bulan penuh."
Nicholas mengangguk pelan pada Yan, memberikan isyarat agar pria di bawah sana diizinkan naik.
Cklek.
Beberapa menit kemudian, pintu ganda ruang kerja ditarik terbuka.
Sosok Bramantara melangkah masuk dengan tubuh yang gemetar samar.
Pria yang dulunya selalu tampil angkuh dan berwibawa dengan setelan jas mahalnya, kini tampak sangat mengenaskan.
Wajahnya kuyu, kantung matanya menghitam karena tidak tidur semalaman, dan pakaiannya tampak kusut berantakan.
Pihak kepolisian baru saja melepaskannya dengan jaminan pagi ini, namun seluruh dunianya sudah runtuh.
Begitu mata Bram mengunci sosok Elena yang berdiri anggun di dekat meja kerja Nicholas, lututnya mendadak lemas.
Tanpa memedulikan sisa harga dirinya sebagai seorang CEO, Bram melangkah tergesa-gesa lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai.
Bruk!
Bramantara berlutut di atas lantai marmer, tepat di hadapan ujung sepatu hak tinggi milik Elena.
"Adeline... maafkan aku... aku mohon maafkan aku!"
raung Bram dengan suara serak yang bergetar hebat.
Air mata penyesalan mulai mengalir deras membasahi wajahnya yang kuyu.
"Aku benar-benar buta malam itu! Aku bodoh karena lebih memercayai wanita iblis seperti Siska daripada kamu! Tolong... aku mohon cabut laporan polisi itu, Adeline!"
Elena tidak bergerak mundur sejengkal pun.
Ia berdiri tegap, menatap pria yang sedang bersujud di kakinya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak yang luar biasa mendalam.
Rasa iba yang dulu selalu ada di dalam diri Adeline kini telah mati total bersama janinnya di malam badai itu.
"Tuan Bramantara,"
Elena berdesis, suaranya terdengar sangat datar dan tak tersentuh.
"Saya sudah pernah mengatakannya berulang kali di malam pameran itu. Nama saya adalah Elena Vance. Berhenti memanggil saya dengan nama wanita mati yang sudah Anda bunuh dengan tangan Anda sendiri."
"Nggak! Kamu Adeline-ku! Aku tahu kamu masih hidup!"
Bram merangkak maju, mencoba mencengkeram ujung gaun putih yang dikenakan Elena dengan putus asa.
"Aku tahu aku salah! Aku terhasut oleh foto-foto palsu yang dibuat Siska! Kalau saja aku tahu Siska meracunimu... aku tidak akan pernah mengusirmu malam itu, Adeline!
Tolong ingat masa-masa pernikahan kita dulu... kita pernah saling mencintai!"
Plak!
Elena menyentakkan kakinya dengan kasar, membuat tangan Bram terhempas menghantam lantai marmer yang keras.
Kilat kemarahan yang membara seketika meledak di sepasang mata indah Elena.
"Saling mencintai?!"
bentak Elena, suaranya meninggi, bergaung kejam di dalam ruangan luas itu.
"Mencintai seperti apa yang kamu maksud, Bram?! Apakah cinta yang kamu maksud adalah mencampakkan istri sahmu yang sedang hamil ke atas aspal jalanan di tengah hujan badai?! Apakah cinta adalah membiarkan anak kandungmu sendiri mati kelaparan di dalam kandungan karena kebodohanmu?!"
Bram tersedak oleh tangisnya sendiri, dadanya naik turun dengan sesak saat rasa bersalah yang teramat sangat menusuk jantungnya.
"Maaf... maafkan aku, Adeline... aku tahu anak kita... anak kita sudah tiada... aku berdosa..."
"Kamu tidak berhak menyebut dia sebagai anakmu!"
Elena mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke manik mata Bram dengan jarak dekat.
Tatapannya sedingin pisau belati yang siap menguliti mangsanya.
"Daripada mengemis pengampunan yang tidak akan pernah kamu dapatkan di sini, lebih baik kamu gunakan sisa waktumu untuk melihat bagaimana Bram Corp akan lenyap dari muka bumi besok pagi."
"Adeline, jangan lakukan itu! Aku mohon! Perusahaan itu adalah peninggalan almarhum ayahmu juga!"
teriak Bram putus asa, mencoba menggunakan nama mendiang ayah Elena sebagai tameng terakhirnya.
Sebelum Elena sempat membalas ucapan menjijikkan itu, Nicholas Syailendra sudah lebih dulu bangkit dari kursi kebesarannya.
Langkah kakinya yang tegas bergaung di ruangan, membawa aura dominan yang sanggup membungkam atmosfer di sekitarnya.
Nicholas berjalan mendekat, lalu dengan gerakan posesif langsung merangkul pinggang ramping Elena, menariknya mundur menjauh dari Bram.
"Tuan Bramantara,"
Nicholas berdesis dingin, sepasang mata elangnya menatap Bram seolah sedang melihat tumpukan sampah yang tidak berharga.
"Jangan pernah berani membawa nama mendiang mertua saya di dalam ruangan ini. Kontrak pembatalan pasokan bahan baku berlian sudah sah secara hukum, dan seluruh bank di Jakarta sudah menyetujui untuk membekukan sisa aset Bram Corp mulai jam dua siang ini atas permintaan Syailendra Group."
Nicholas tersenyum miring, sebuah senyuman kejam yang sangat serasi dengan ekspresi wajah Elena.
"Kamu sudah tamat, Bram. Tidak ada tempat bagimu untuk bersembunyi di kota ini."
Bramantara lemas seketika.
Tubuhnya ambruk ke atas lantai dengan pandangan mata yang kosong.
Seluruh takhta kemewahan, harga diri, dan kekayaan yang ia pertahankan dengan cara menumpahkan darah Adeline, kini benar-benar telah dirampas habis tanpa sisa oleh Elena Vance.
"Yan, bawa pria menjijikkan ini keluar dari areaku," perintah Nicholas tegas pada asisten pribadinya.
Dua pengawal berbadan besar segera maju, mencengkeram kedua lengan Bram dengan kasar dan menyeret tubuh pria yang terus menangis meraung-raung itu keluar dari kantor penthouse.
Pintu ganda tertutup rapat, mengakhiri raungan penyesalan yang sudah terlambat.
Elena mengembuskan napas panjang, bersandar sepenuhnya pada dada bidang Nicholas yang terasa hangat dan kokoh di belakangnya.
Rasa puas yang luar biasa perlahan-lahan merayap di hatinya saat melihat musuh utamanya merangkak di bawah kakinya.
"Satu per satu dari mereka sudah runtuh, Nicholas," bisik Elena lirih, jemarinya bertumpu di atas lengan kekar Nicholas yang melingkari pinggangnya.
Nicholas mengecup puncak kepala Elena dengan penuh kasih sayang dan kepemilikan mutlak.
"Ini baru awal dari kemenangan kita, Sayang. Aku akan memastikan seluruh dunia tahu... siapa pun yang berani menyakitimu di masa lalu, akan berakhir di dasar neraka."
------------------------------
Bersambung......