NovelToon NovelToon
Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
​Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
​Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Menara Penjaga dan Fondasi Tatanan

​Gudang utama pabrik peleburan itu sangat luas dan berdebu. Cahaya rembulan yang menembus atap seng yang berlubang menyorot tumpukan logam seolah itu adalah gunung harta karun. Bagi Yudha, itu memang harta karun.

​Di tengah ruangan, Yudha berdiri memandangi tumpukan material yang telah ia kumpulkan: empat buah pipa baja mulus, sebuah motor penggerak dari mesin bubut tua, segulung besar kabel tembaga, dan satu kristal energi dari monster Tingkat 4.

​Ia membuka antarmuka Sistem di benaknya. Daya Komputasinya saat ini berada di angka 150. Otaknya berdengung halus, memproses jutaan kemungkinan rancangan dalam hitungan detik.

​[Menganalisis material...]

[Kecocokan Cetak Biru ditemukan: Menara Lontar Elektromagnetik (Tingkat Dasar)]

[Biaya Perakitan: 100 Daya Komputasi. Apakah Anda ingin melanjutkan?]

​"Mulai perakitan," perintah Yudha mutlak.

​Seketika, cahaya biru menyilaukan meledak dari kedua telapak tangan Yudha. Cahaya itu merambat seperti akar pohon, melilit pipa baja, kabel tembaga, dan motor penggerak. Logam-logam itu mulai meleleh dan menyatu tanpa menggunakan panas api. Roda gigi terbentuk dengan presisi tingkat mikrometer, dan lilitan tembaga membungkus laras pipa baja dengan pola yang sangat rumit.

​Sebagai sentuhan terakhir, kristal energi merah darah melayang dan tertanam tepat di bagian belakang susunan mekanis tersebut, berfungsi sebagai inti tenaga.

​TRANG!

​Cahaya biru meredup, menyisakan kepulan asap tipis. Di depan Yudha, kini berdiri sebuah mesin pembunuh setinggi dada manusia. Mesin itu memiliki dudukan tiga kaki yang kokoh, laras ganda berbentuk silinder berlilitkan tembaga, dan sebuah lensa pelacak kecil di bagian atas yang berkedip merah.

​[Perakitan Selesai!]

[Item Dibuat: Menara Lontar Elektromagnetik (Prototipe) - Peringkat: Biasa]

​Fungsi: Menembakkan paku baja atau potongan logam tajam menggunakan gaya tolak elektromagnetik berkecepatan tinggi.

​Jangkauan Deteksi: 50 Meter.

​Sumber Tenaga: Kristal Energi Kotor (Sisa tembakan: 500/500).

​Mode Operasi: Otomatis (Membidik entitas tanpa tanda pengenal Tatanan).

​Yudha mengusap laras logam yang masih hangat itu dengan senyum tipis. Ini adalah langkah pertamanya untuk tidur nyenyak di dunia yang telah hancur ini.

​Terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah pintu gudang. Yudha menoleh, melihat Lin Tian masuk dengan langkah tegap, diikuti oleh Lin Chen. Keduanya telah membersihkan diri dari darah monster dan keringat kotor sisa pembersihan jalur saraf tadi. Mereka kini mengenakan pakaian kerja pabrik yang tebal. Sikap mereka jauh lebih tajam, dengan aura ketenangan yang biasanya hanya dimiliki oleh para ahli bela diri veteran.

​Lin Tian berhenti lima langkah dari Yudha, menangkupkan kepalan tangan di depan dada, dan menundukkan kepala.

​"Melapor, Ketua," suara Lin Tian bergema mantap. "Pembagian tugas telah selesai. Kelima belas orang Pekerja Kasar telah dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama membersihkan barak dan dapur, kelompok kedua mulai mengumpulkan sisa makanan dan air. Berdasarkan inventaris cepat, kita memiliki dua puluh ton besi tua, pasokan air bersih untuk satu minggu, dan bahan bakar minyak yang cukup untuk menyalakan generator cadangan selama sebulan."

​Yudha mengangguk puas. Potensi Lin Tian dalam mengatur hierarki dan menegakkan disiplin sangat luar biasa. Pemuda itu benar-benar mengerti arti dari sebuah tatanan dan kepatuhan mutlak.

​"Kerja bagus," kata Yudha datar. "Mulai besok, kalian berdua akan memimpin kelompok pekerja untuk membuat barikade tambahan di balik gerbang utama. Jangan biarkan mereka bermalas-malasan. Jika ada yang menolak bekerja, patahkan salah satu kaki mereka dan lemparkan ke luar tembok."

​"Siap laksanakan, Ketua," jawab Lin Chen tanpa keraguan sedikit pun di matanya. Rasa sakit saat menyerap energi tadi telah menempanya menjadi sosok yang jauh lebih keras.

​Lin Tian kemudian menatap mesin logam aneh di sebelah Yudha dengan pandangan penuh rasa ingin tahu, sekaligus ketakutan. "Ketua... benda apa ini?"

​"Ini adalah penjaga gerbang kita," ucap Yudha. "Bantu aku mengangkatnya ke atas menara pantau di dekat gerbang depan. Kita akan melakukan uji coba malam ini."

​Kedua bersaudara itu segera mematuhi. Dengan kekuatan fisik mereka yang telah meningkat berkat pembersihan saraf tahap pertama, mengangkat mesin seberat seratus kilogram ke atas menara pantau gerbang bukanlah hal yang sulit.

​Setengah jam kemudian, mesin itu telah dibaut erat pada lantai beton menara pantau. Laras gandanya mengarah lurus ke jalan raya yang gelap di luar tembok pabrik.

​Yudha memasukkan sekotak penuh paku baja raksasa setebal ibu jari—yang mereka kumpulkan dari gudang—ke dalam kotak amunisi menara. Ia kemudian menekan tombol aktivasi di belakang inti kristal.

​WUNGGG...

​Mesin itu bergetar halus. Lensa pelacaknya menyala terang, memancarkan garis sinar inframerah tipis yang menyapu jalanan di luar gerbang.

​Sebagian besar Pekerja Kasar berkumpul di halaman bawah, menatap ke arah menara pantau dengan wajah tegang.

​Tidak butuh waktu lama bagi bau darah dari pertempuran sebelumnya untuk menarik perhatian makhluk lain. Dari balik kabut tipis di jalan raya, terdengar suara gesekan cakar di aspal. Seekor monster merayap lambat. Bentuknya menyerupai kadal raksasa sepanjang tiga meter, dengan sisik punggung yang meneteskan cairan korosif.

​[Kadal Asam Pemakan Bangkai - Tingkat 4]

​Kadal itu mendongak, matanya yang kuning menatap lurus ke arah gerbang pabrik. Ia membuka rahangnya, bersiap untuk mengeluarkan auman pelan.

​Namun, sebelum raungan itu keluar, lensa merah di atas menara pelontar berkedip dua kali dengan cepat.

​BZZT! TRANG-TRANG-TRANG-TRANG!

​Suara desingan kumparan magnetik yang berpadu dengan lontaran logam memecah keheningan malam layaknya senapan mesin berat. Empat paku baja melesat dengan kecepatan nyaris setara peluru senapan runduk, meninggalkan jejak cahaya biru tipis di udara.

​Daya tembus gaya elektromagnetik benar-benar mengerikan. Paku-paku baja itu merobek sisik tebal kadal raksasa itu seolah menembus kertas basah. Dua paku menancap di dada, satu menghancurkan lutut depannya, dan tembakan terakhir menembus lurus ke dalam tengkoraknya hingga tembus ke aspal di bawahnya.

​Kadal raksasa itu bahkan tidak sempat menjerit. Tubuhnya tersentak keras ke belakang akibat gaya tumbukan yang luar biasa, lalu ambruk terkapar di tengah jalan raya, tak bernyawa. Genangan darah asam menyebar dari tubuhnya, mendesis membakar aspal.

​[Entitas 'Kadal Asam Pemakan Bangkai' (Tingkat 4) berhasil dimusnahkan oleh Pertahanan Tatanan.]

[+100 Poin Pengalaman dibagikan kepada inang.]

​Di atas menara pantau, laras menara pelontar itu mengeluarkan asap putih tipis, lalu kembali berputar perlahan, memindai sekeliling mencari ancaman baru.

​Suasana di halaman pabrik mendadak sunyi senyap. Kengerian yang baru saja terjadi membuat napas semua orang tertahan. Lin Tian dan Lin Chen melebarkan mata mereka, menelan ludah dengan susah payah. Monster Tingkat 4 yang sebelumnya membutuhkan perjuangan hidup dan mati dari mereka, kini dihabisi dalam waktu kurang dari dua detik dari jarak lima puluh meter.

​Para Pekerja Kasar di bawah sana seketika kehilangan semua niat untuk memberontak atau melarikan diri. Tembok ini benar-benar tidak tertembus.

1
REY ASMODEUS
lanjut thor
Aisyah Suyuti
good
REY ASMODEUS
karya ini menarik untuk dinanti kelanjutannya. petualangan di dunia apocalipse sungguh membawa aroma baru untuk kalian yang haus ketegangan dan pertempuran epik. 10 Jempol untuk karya terbarumu othor badhot
REY ASMODEUS: othornya salh 🤣🤣🤣. othor bhodat
total 1 replies
REY ASMODEUS
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!