NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 15

"Apa kau yakin jika pemuda itu sudah membunuh Nyi Asih?" tanya Patih Mahasura. Pandangannya beralih kepada Senopati Mandala, setelah Arya dan Putri Citra menghilang di balik pintu gerbang.

"Sebenarnya aku tidak yakin, Tuan. Bisa jadi itu hanya akal-akalan Jaya dan dia memberitahu anak buahnya untuk berbohong jika Nyi Asih telah dibunuh pemuda itu," jawab Senopati Mandala.

"Kalau begitu kita harus menyingkirkannya secepat mungkin. Dilihat dari kedekatannya dengan Gusti Putri, aku kuatir Paduka akan terpengaruh dengan ucapan Jaya."

"Lalu bagaimana rencana Tuan Patih selanjutnya?" tanya Senopati Mandala.

Patih Mahasura melihat sekeliling sebelum menjawab pertanyaan Senopati Mandala. "Kita sebaiknya bicara di tempatku saja, Jangan di sini!"

Senopati Mandala mengangguk, lalu berjalan di samping Patih Mahasura.

Sementara itu, tatapan heran mata para penduduk Kotaraja seakan hendak menelanjangi Arya dan Putri Citra yang berjalan bersisian tanpa kawalan prajurit.

Bukan hal yang biasa mereka melihat Putri Citra keluar dari istana tanpa pengawalan ketat. Biasanya lusinan prajurit akan menjaga kereta kuda yang dinaiki putri satu-satunya Raja Gajayana itu di sisi kiri-kanan.

"Siapa pemuda lusuh itu? Kenapa Gusti Putri mau berjalan dengannya, apa beliau tidak malu?"

Berbagai ungkapan yang kesannya menghina, tercetak liar dalam pikiran para penduduk yang melihat secara langsung suatu peristiwa yang mereka anggap aneh.

Arya sadar tatapan mata para penduduk sedang terarah kepadanya. Dia tahu jika penampilannya sangat tidak memenuhi standar dari segi kepantasan ketika mendampingi seorang putri. Namun Arya tidak peduli dengan hal itu, apa yang nyaman dikenakannya, itulah yang pantas buatnya.

Putra sang Legenda itu tidak pernah peduli dengan anggapan orang terhadapnya. Biarpun seribu kali hinaan tertuju kepadanya, tak akan pernah dia membalasnya kecuali terpaksa. Namun jangan harap dia akan diam saja jika yang dihina itu orang-orang yang disayanginya. Bahkan nyawanya pun siap dipertaruhkan ya.

"Arya, aku pernah sekali makan di tempat itu, dan masakannya sangat enak sekali. Bagaimana jika kita makan di sana, apalagi kita tadi belum sempat sarapan, bukan?" tunjuk Putri Citra.

"Terserah Gusti Putri saja. Aku ikut kemanapun Gusti Putri pergi," jawab Arya. Matanya terus berlari-lari melihat sekeliling untuk mengamati situasi.

Meskipun berada di Kotaraja yang penjagaannya sangat ketat, tapi Arya tidak mengendurkan sedikitpun kewaspadaannya. Baginya, keselamatan Putri Citra adalah yang utama, meski bukan dia yang mengajak gadis cantik tersebut keluar dari istana.

Arya kuatir jika ada pihak-pihak yang tidak suka dengannya dan menjadikan Putri Citra sebagai sasaran tembak untuk menjatuhkan namanya di depan Raja Gajayana. Sedikit saja kulit gadis cantik tersebut lecet, maka itu bisa dijadikan alasan yang kuat untuk membuatnya malu.

Setelah berada di depan tempat makan yang dimaksud, Putri Citra tiba-tiba menggandeng tangan Arya dan sedikit menyeretnya masuk ke dalam. Malu dengan tatapan orang-orang yang melihatnya, Arya berusaha menepiskan gandengan tangan gadis cantik tersebut, tapi Putri Citra menggenggam tangannya dengan kuat seolah enggan untuk melepasnya.

"Kalian melihat apa!? Jaga pandangan mata kalian jika tidak ingin melihat matahari untuk yang terakhir kali!" bentak Putri Citra ketika pandangan mata semua pengunjung terarah kepadanya dan Arya.

Seketika pandangan mata para pengunjung tempat makan itu terarah ke bawah, tepatnya ke atas meja di mana pesanan mereka terhidang.

"Tidak seharusnya kau bersikap keras seperti itu kepada mereka," ucap Arya berbisik pelan. Dia menyesalkan sikap Putri Citra yang terlalu reaktif, padahal seharusnya sebagai putri seorang raja, gadis cantik itu harus bisa bersikap bersahabat kepada rakyat.

"Apa kau tidak melihat pandangan mata mereka begitu menghinamu?" Putri Citra berusaha membela diri.

Arya tersenyum memandang gadis cantik yang duduk di depannya itu. "Aku tidak merasa terhina dengan pandangan mata mereka, Gusti Putri. Bagiku, itu hanyalah seni dalam kehidupan yang sedang kita jalani. Ketika kita berada di bawah, banyak yang mencemooh dan akan menghina kita. Tapi begitu roda berputar dan menempatkan kita berada di atas, mereka akan berduyun-duyun mendatangi dan memuji kita."

"Kau ini aneh, Arya. Apa kau tidak merasa sakit hati atas sikap mereka?" Putri Citra menatap Arya dengan penuh rasa keheranan.

"Stress pikiran adalah faktor terbesar pemicu munculnya penyakit di dalam tubuh kita, Gusti Putri. Dari pada aku pusing memikirkan orang-orang yang menghinaku, lebih baik aku melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat buat orang lain. Selain itu, penyakit hati sangat sulit atau bahkan tidak bisa diobati dari pada penyakit biasa. Jadi tolong biasakanlah bersikap positif kepada orang lain agar pikiran kita tidak terganggu," papar Arya menjelaskan.

Putri Citra diam mendengarkan nasihat yang diberikan Arya. Diam-diam dia merasa kagum dengan pola pikir pemuda yang usianya sepantaran dengannya itu.

Tiba-tiba Arya berdiri dan bertepuk tangan dua kali untuk memancing perhatian pengunjung tempat makan tersebut. "Mohon maafkan sikap Gusti Putri barusan, Kisanak sekalian. Gusti Putri sedang ada sedikit masalah sehingga emosinya sedikit terganggu. Jadi aku harap Kisanak sekalian jangan merasa takut atau sakit hati kepada Gusti Putri."

Pengunjung tempat makan tersebut akhirnya bisa bernafas lega. Mereka yang sedari tadi bahkan takut untuk bersuara, akhirnya bisa bersikap sewajarnya. Setidaknya pemuda itu

Putri Citra mendelik menatap Arya dengan tajam. "Kapan aku punya masalah?" ucapnya pelan.

Arya memberi kode agar Putri Citra tidak berkata apapun. Dia saat ini berusaha agar pengunjung tempat makan itu bisa bersimpati kepada putri Raja Gajayana tersebut.

Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, Putri Citra mengajak Arya untuk kembali ke istana. Gadis cantik itu masih penasaran dengan ucapan Arya tentang dirinya yang sedang mendapatkan masalah.

"Kenapa kau tadi bilang aku sedang ada masalah?" tanya Putri Citra di saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar Arya. Raut mukanya terlihat cemberut mendapat tuduhan seperti itu.

Arya menghela nafas panjang. Dia sedikit bingung bagaimana cara untuk mengawali menjelaskan tentang maksud ucapannya tadi. "Begini Gusti Putri ..."

"Citra ... Panggil saja aku Citra jika kita sedang berdua!"

Arya menaikkan kedua alisnya, "Baiklah jika itu keinginanmu. Jadi begini, Citra ... ucapanku tadi hanya alasan saja agar penduduk Kotaraja tidak menganggapmu sebagai putri yang arogan. Apa kau mau dicap sebagai sosok yang jahat dan bertangan besi?"

Putri Citra menggeleng pelan.

"Buatlah rakyat kerajaan ini hormat karena sikap dan kepribadianmu yang baik. Jangan buat mereka hormat karena rasa takut yang berlebih. Kerajaan itu bisa dibilang ada jika ada rakyatnya, jadi mereka juga berpengaruh besar atas perkembangan suatu kerajaan. Dari mana suatu kerajaan bisa berputar ekonominya jika tidak ada pajak yang dipungut dari rakyat?" kata Arya memberi penjelasan.

"Aku sudah paham sekarang, Arya. Terima kasih atas semua nasihat yang kau berikan padaku. Jangan sungkan untuk memarahiku jika aku berbuat salah," lirih gadis cantik itu berkata.

Waktu berjalan tanpa terhalang. Tanpa terasa malam pun tiba menyambangi Bumi.

Dalam rebahan tubuhnya di atas ranjang, Arya berusaha menghapalkan isi kitab Cambuk Api yang sudah memasuki jurus kedua.

Namun sebuah suara yang berada di atas atap membuyarkan konsentrasinya. Arya menajamkan pendengarannya. Dia mendengar suara Langkah kaki yang begitu pelan, bagai gerakan seekor harimau yang sedang mengincar mangsanya.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!