"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suara ketukan stik drum di udara menjadi aba-aba. Satu, dua, tiga, empat!
Hentakan bas yang menggelegar langsung memenuhi seisi aula sekolah. Almeera Azzahra—atau yang lebih suka dipanggil Al—memutar stik drum di tangan kanannya dengan gerakan luwes sebelum menghantam crash cymbal dengan tenaga penuh. Rambut sebahunya yang diikat asal-asalan bergoyang mengikuti irama, beberapa helai poni menempel di dahinya yang berkeringat.
Di depan sana, Nino melompat ke tengah panggung, menggenggam mikrofon dengan gaya khas vokalis papan atas yang sedang konser di stadion, padahal penonton mereka hanyalah deretan kursi kosong dan beberapa siswa yang nongkrong di pinggir aula.
"Kupetik bintang, untuk kau simpan... Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan..."
Suara Nino mengalun menyanyikan lagu Melompat Lebih Tinggi dari Sheila on 7. Di sebelah kirinya, Darren memetik gitar dengan ekspresi kalem yang selalu berhasil membuat siswi-siswi menjerit tertahan. Di sisi kanan, Baim mengangguk-anggukkan kepala sambil memainkan basnya, sesekali melempar cengiran ke arah Almeera yang membalasnya dengan gebukan drum yang makin bersemangat.
Almeera berada di elemennya. Di balik set drum ini, dia bukan Almeera si siswi dengan nilai matematika pas-pasan. Dia adalah jantung dari NOISE, band kebanggaan SMA Bina Bangsa. Setiap ketukan yang ia buat adalah detak jantung lagu ini. Ia memejamkan mata sejenak, meresapi adrenalin yang mengalir deras di nadinya, bersiap untuk masuk ke bagian reffrain.
Namun, tepat sebelum ketukan klimaks itu jatuh...
NGUIIIIING!
Suara feedback mikrofon yang melengking tajam merobek gendang telinga siapa pun yang berada di aula. Nino sampai menjatuhkan mikrofonnya sambil menutup telinga. Petikan gitar Darren terhenti dengan nada sumbang. Almeera menahan pedal basnya secara refleks, matanya membelalak kaget.
Suasana aula yang tadinya penuh energi seketika mati. Sepi. Hanya menyisakan dengungan sisa amplifier.
Almeera berdiri dari kursi drumnya. Napasnya memburu. Matanya yang tajam menyapu sekeliling ruangan, mencari pelaku di balik sabotase barusan. Pandangannya langsung terkunci pada sebuah siluet yang berdiri di dekat panel listrik aula.
Seorang cowok jangkung dengan seragam putih abu-abu yang dimasukkan rapi, dibalut jaket navy kebanggaan OSIS. Tangan kanannya dengan santai memegang ujung kabel ekstensi yang baru saja ia cabut dari stop kontak.
Akram Pradana.
Cowok itu memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah senyum miring perlahan terbentuk di bibirnya—senyum menyebalkan yang selalu berhasil membuat darah Almeera mendidih dalam hitungan detik.
"Ups," ucap Akram. Suaranya tidak keras, tapi menggema di aula yang mendadak hening. "Kesenggol."
Almeera mencengkeram stik drumnya kuat-kuat. "Kesenggol mata lo!" serunya, suaranya membelah kesunyian. Ia melompat turun dari panggung, mengabaikan Baim yang berusaha menahan lengannya. Langkahnya lebar dan penuh emosi menuju ke arah cowok itu.
Di belakang Akram, Bastian, sang Wakil Ketua OSIS, terlihat mengusap wajahnya pasrah. Bastian bergumam pelan, "Udah gue bilang jangan dicabut paksa, Kram. Habis kita diterkam." Tapi Akram sama sekali tidak menggubris sahabatnya itu. Matanya hanya tertuju pada Almeera yang kini berdiri berhadap-hadapan dengannya, dada cewek itu naik-turun menahan marah.
"Pasang lagi." Almeera menunjuk kabel di tangan Akram dengan ujung stik drumnya. Suaranya rendah, mengancam.
Akram malah memasukkan kedua tangannya ke saku jaket OSIS-nya, membiarkan kabel itu jatuh begitu saja ke lantai. Ia menunduk sedikit untuk menyejajarkan pandangannya dengan mata Almeera. Wangi parfum maskulin bercampur mint langsung menguar, entah kenapa membuat Almeera semakin kesal karena cowok ini selalu terlihat—dan tercium—sempurna bahkan di cuaca panas begini.
"Gue rasa latihan kalian udah cukup, Al," kata Akram santai. Nada suaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang menasihati anak TK. "Anak-anak OSIS di ruang sebelah lagi pusing ngurusin proposal pensi. Dan jujur aja, suara gebukan lo barusan lebih mirip orang lagi mukulin kaleng rombeng daripada main musik."
Rahang Almeera mengeras. "Kita udah booking aula ini dari minggu lalu buat latihan! Lo yang Ketua OSIS harusnya tahu jadwal, dong. Jangan mentang-mentang lo punya jabatan, lo bisa seenaknya matiin listrik orang latihan!"
Nino yang baru saja turun dari panggung ikut menimpali dari belakang. "Iya, Bos! Lo kalau mau rapat ya rapat aja. Aula kan emang buat ekskul. Lagian lo iri aja kan nggak bisa nyanyi sehebat gue?"
Akram menoleh sekilas ke arah Nino, senyumnya semakin lebar. "Bukan iri, Nin. Gue cuma peduli sama kesehatan mental anggota gue. Mendengar suara lo nyanyi nada tinggi tadi, gue takut mereka malah mual."
"Wah, ngajak ribut beneran ini anak," Baim menggulung lengan seragamnya, bersiap maju, namun Darren dengan cepat menahan kerah belakang baju Baim.
"Biarin Al yang urus," bisik Darren rasional. Ia tahu, kalau urusannya sudah dengan Akram, tidak ada yang bisa menghentikan Almeera.
Almeera melangkah maju satu tindak, mengikis jarak di antara mereka berdua. Ia mendongak menatap Akram dengan sorot mata menantang, sama sekali tidak terpengaruh oleh pesona sang Ketua OSIS yang diagung-agungkan separuh siswi SMA Bina Bangsa.
"Gue nggak peduli sama proposal pensi lo, Akram. Pasang. Kabelnya. Sekarang," desis Almeera, menekankan setiap kata.
Akram menatap mata cokelat terang milik Almeera. Ia selalu menyukai momen ini. Momen di mana mata cewek itu berkilat marah, pipinya memerah karena emosi, dan semua fokusnya hanya tertuju pada Akram. Ada kepuasan tersendiri saat ia berhasil memancing singa betina ini keluar dari sarangnya.
Bagi orang lain, Akram adalah sosok sempurna. Cerdas, tampan, ramah, dan bisa diandalkan. Tapi di depan Almeera, ia tidak perlu berpura-pura menjadi 'Ketua OSIS Teladan'. Ia bisa menjadi dirinya sendiri: jahil, menyebalkan, dan suka mencari gara-gara.
"Kalau gue nggak mau?" Akram mencondongkan wajahnya lebih dekat, nyaris berbisik. Jarak mereka begitu dekat sampai Almeera bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam cowok itu. "Lo mau apa, Al? Mau mukul gue pakai stik drum lo itu?"
Bulu kuduk Almeera meremang, tapi pantang baginya untuk mundur. Ia menegakkan dagunya. "Lo pikir gue nggak berani? Muka lo itu emang pantes dipukul biar senyum sok kecakepan lo itu luntur sekalian."
Akram malah tertawa pelan. Tawa yang renyah dan dalam, membuat beberapa siswi yang sedari tadi menonton pertengkaran mereka dari ambang pintu menahan napas. "Sok kecakepan? Gue rasa lo diam-diam juga ngakuin kalau gue emang cakep, kan?"
"Najis!" umpat Almeera refleks.
"Hati-hati, Al. Benci sama cinta itu bedanya tipis. Hari ini lo mau mukul gue, besok bisa-bisa lo nangis minta peluk." Akram mengedipkan sebelah matanya.
"AKRAM!" Almeera mengangkat stik drumnya, benar-benar bersiap untuk memukul lengan cowok itu.
Namun, sebelum stik itu mendarat, sebuah melodi nyaring memecah ketegangan. Ringtone dari saku rok Almeera.
Almeera menghentikan gerakannya di udara. Ia mendengus kasar, menurunkan tangannya, lalu merogoh saku roknya. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama 'Mama Negara'.
Di saat yang hampir bersamaan, ponsel di saku celana Akram juga bergetar. Cowok itu menarik mundur wajahnya, mengeluarkan ponselnya dengan santai. Keningnya sedikit berkerut melihat nama 'Papa' di layar.
Almeera menatap layar ponselnya curiga, lalu menekan tombol hijau. "Halo, Ma? Al lagi ekskul ini—"
"Pulang sekarang, Almeera. Nggak ada tapi-tapian." Suara mamanya terdengar tegas di seberang sana, memotong kalimat Almeera. "Papa udah nunggu di rumah. Malam ini kita ada makan malam penting. Dandan yang rapi, jangan pakai kaos oblong band kamu itu."
"Ma, tapi Al—"
Tut. Sambungan diputus sepihak.
Almeera mengerang frustrasi, memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan kasar. Ia menoleh dan mendapati Akram juga baru saja menurunkan ponsel dari telinganya. Ekspresi santai cowok itu sedikit memudar, digantikan oleh sorot bingung yang jarang terlihat.
"Bokap gue," gumam Akram pelan, entah bicara pada siapa. Ia menatap Almeera. "Gue disuruh pulang. Sekarang."
"Nggak peduli gue!" balas Almeera sewot. Ia berbalik badan, berjalan hentak-hentak kembali ke panggung. "Beresin alat-alat, Guys. Latihan bubar. Ratu drama udah manggil pulang."
Nino mengeluh panjang, Baim mendengus kecewa, sementara Darren hanya mengangguk dan mulai membereskan kabel gitarnya.
Akram masih berdiri di tempatnya. Matanya terus mengikuti sosok Almeera yang sedang memasukkan stik drumnya ke dalam tas dengan gerakan kasar dan penuh emosi. Tiba-tiba saja, perasaan aneh menyelinap di dada Akram. Papanya tidak pernah memaksanya pulang di tengah jam OSIS kecuali ada hal yang benar-benar genting. Dan melihat reaksi Almeera barusan, cewek itu juga sepertinya ditarik pulang secara mendadak.
Kebetulan?
"Kram, jadi balik ke ruang OSIS nggak nih?" tegur Bastian, menyadarkan Akram dari lamunannya.
Akram menoleh, menarik sudut bibirnya kembali membentuk senyum santai. "Balik. Lo urus anak-anak, Bas. Gue harus cabut duluan."
Ia kembali menatap punggung Almeera untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi. Pertandingan hari ini seri, Al, batin Akram geli.
Keduanya melangkah keluar dari aula melalui pintu yang berbeda, sama-sama merasa kesal dengan panggilan mendadak dari keluarga mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari, bahwa makan malam keluarga yang menunggu mereka malam ini akan menjadi garis start dari kekacauan terbesar, dan terpanjang, dalam hidup mereka.
Makan malam yang akan mengubah status musuh bebuyutan mereka menjadi sesuatu yang sangat, sangat mustahil.