Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Satu Kelemahan
Ponsel usang di dalam saku celana Daniel bergetar.
Daniel mengambil benda pipih itu dengan tangan gemetar. Layarnya menampilkan siaran langsung dari sebuah portal berita. Di sana, Stefanus sedang dikepung oleh puluhan wartawan pemburu gosip di depan gerbang apartemen.
Tajuk berita berwarna merah menyala bergulir sangat cepat di bagian bawah layar televisi. Skandal pelecehan seksual di Hotel Grand Batavia.
Daniel menelan ludah dengan susah payah. Kerongkongannya terasa sangat kering kerontang. Kedua telapak tangannya mulai berkeringat dingin memegang ponsel tersebut.
Semua kekacauan fatal di layar itu terjadi akibat ulah tangannya sendiri. Tadi malam, ia mengirimkan satu pesan singkat berisi jadwal rahasia Stefanus kepada Theo. Ia menukar harga diri dan integritasnya dengan sebuah koper hitam berisi uang tunai.
Namun, hanya beberapa jam setelah ia menerima koper uang itu, pihak rumah sakit memberitahukan pelunasan seluruh biaya cuci darah Ratih. Sebuah pelunasan anonim dengan pesan tulus yang sama sekali tidak mencerminkan gaya arogan Mahendra Group.
Daniel menyadari satu fakta yang sangat mengerikan pagi ini. Ia telah mengkhianati pihak yang kemungkinan besar telah menyelamatkan nyawa adiknya secara diam-diam.
Rasa bersalah itu menghantam telak dadanya seperti hantaman palu godam. Tulang rusuknya terasa ngilu. Ia nyaris tidak bisa mengatur napas saat melihat wajah tenang Stefanus di layar ponsel yang sedang difitnah habis-habisan.
Daniel mematikan layar ponselnya seketika. Ia meremas map plastik biru di tangan kanannya kuat-kuat. Ia harus memperbaiki kesalahan fatalnya hari ini juga sebelum semuanya terlambat.
Pemuda itu melangkah maju dan mendorong pintu kaca ruko tersebut.
Lonceng kecil berbunyi nyaring di atas pintu memecah kesunyian. Ruangan di dalam ruko itu sama sekali tidak besar. Hanya ada beberapa meja kerja sederhana, dua buah papan tulis putih, dan tumpukan kardus air mineral di sudut ruangan. Mesin pendingin ruangan berbunyi mendengung pelan menyejukkan udara.
Di tengah ruangan, Shaquena dan Stefanus duduk berhadapan di sebuah meja bundar. Mereka berdua sama sekali tidak terlihat panik atau tertekan. Ketenangan yang justru membuat nyali Daniel semakin menciut.
Stefanus mengangkat wajahnya. Mata tajam pria itu langsung menatap lurus ke arah Daniel.
Tatapan itu luar biasa dingin. Tidak ada kilatan amarah yang meledak-ledak. Namun, sorot mata Stefanus menusuk lurus menembus pertahanan mental Daniel. Pria pendiam itu pasti tahu persis siapa pelaku pembocor informasinya semalam.
Ruangan kecil ini mendadak kehilangan pasokan oksigen bagi pernapasan Daniel.
"Selamat siang," ucap Daniel pelan. Suara pemuda jenius itu terdengar bergetar menahan malu.
Shaquena tidak langsung membalas sapaan kaku itu. Wanita itu duduk dengan punggung bersandar santai di sandaran kursi. Auranya mendominasi penuh seluruh sudut ruangan ini.
"Duduklah, Daniel," perintah Shaquena dengan nada suara yang teramat tenang.
Daniel menarik kursi besi dan duduk perlahan di seberang mereka berdua. Jantungnya berdetak liar memukul tulang dada.
"Saya melihat berita buruk di televisi barusan," kata Daniel membuka percakapan. Ia memaksa dirinya mengangkat kepala untuk menatap mata Shaquena.
Wanita itu menopang dagunya menggunakan punggung tangan dengan anggun. "Itu adalah tayangan berita yang sangat menarik buat ditonton, bukan?"
"Itu pasti fitnah keji yang sengaja dirancang oleh Pak Sebastian," balas Daniel cepat.
"Tentu saja itu fitnah murahan." Shaquena tersenyum tipis dan amat tajam. "Sebastian tidak pernah bermain bersih dalam berbisnis. Dia suka memanipulasi fakta lapangan. Dia selalu memanfaatkan celah kelemahan sekecil apa pun dari musuhnya."
Shaquena menghentikan kalimatnya sesaat. Ia menatap tepat ke dalam pupil mata Daniel tanpa berkedip.
"Termasuk dengan memanfaatkan informasi jadwal rapat yang hanya diketahui oleh segelintir orang di dalam tim ini," lanjut wanita itu perlahan.
Kalimat itu menohok telak ulu hati Daniel. Sindiran itu sangat jelas, bersih, dan tajam. Wanita di depannya ini sudah mengetahui aksi pengkhianatannya sejak awal.
Daniel menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa malunya sukses menenggelamkan sisa keberanian di hatinya.
Shaquena mengambil teko keramik kecil bermotif bunga di atas meja. Ia menuangkan teh kamomil hangat ke dalam sebuah cangkir kosong. Ia lalu mendorong perlahan cangkir porselen putih itu ke arah Daniel.
"Minumlah dulu teh ini untuk menenangkan diri," tawar Shaquena sangat lembut.
Daniel menatap kosong cangkir di depannya. Asap tipis mengepul membawa aroma bunga yang mendamaikan pikiran. Kebaikan kecil tanpa penghakiman verbal ini justru membuat rasa bersalah Daniel semakin membesar berkali-kali lipat.
Ia kembali teringat pada sop ayam buatan Ratih di rumah. Ia teringat pesan berharga yang dititipkan pada dokter semalam. Lanjutkan hidup. Jangan menyerah.
Tangan Daniel sedikit gemetar saat mengangkat cangkir keramik itu. Ia meminum tehnya perlahan. Cairan hangat itu mengalir turun, sukses menenangkan perutnya yang sejak tadi bergejolak mual karena tegang.
Stefanus menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Lalu untuk alasan apa kamu datang menemui kami hari ini?"
Daniel meletakkan kembali cangkir tehnya perlahan. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa fokus di dalam kepalanya. Ia tidak boleh terus tenggelam dalam pusaran rasa bersalah. Ia harus membuktikan nilai dan loyalitasnya sekarang juga sebelum mereka benar-benar membuangnya ke jalanan.
"Saya tidak datang dengan tangan kosong ke mari," jawab Daniel mantap.
Pemuda itu memindahkan map biru tebal miliknya ke atas meja. Ia mendorong map itu ke tengah agar bisa dilihat jelas.
Stefanus melirik map tersebut tanpa berniat menyentuhnya. "Apa isi dokumen itu?"
"Ini adalah hasil analisis data mendalam mengenai kelemahan fatal dari seluruh jaringan logistik pelabuhan milik Mahendra Group."
Shaquena menurunkan tangannya dari dagu. Sorot mata wanita itu kini berubah menjadi sangat serius dan tajam. Insting bisnisnya langsung menyala membaca situasi.
Daniel membuka halaman pertama map tersebut. Rentetan angka statistik, grafik distribusi barang harian, dan jadwal bongkar muat kapal kargo tercetak sangat rapi di atas kertas putih.
"Pak Sebastian memang berhasil mengunci akses pelabuhan Tanjung Priok kemarin pagi," jelas Daniel. Ia menunjuk sebuah tabel tebal. "Dia memiliki kendali mutlak atas sistem administrasi utama di sana berkat uang sogokan. Namun, dia terlalu fokus membangun tembok pertahanan di pintu depan."
Stefanus mulai mencondongkan postur tubuhnya ke depan. Pria itu menatap lurus deretan angka rumit di atas kertas.
"Jelaskan maksud analisamu ini lebih rinci," perintah Stefanus.
"Mahendra Group menguasai enam puluh persen kuota peti kemas di pelabuhan. Mereka menggunakan volume pengiriman raksasa itu untuk menekan prioritas bongkar muat milik perusahaan kompetitor. Mahardika Textile ikut menjadi salah satu korbannya."
Daniel membalik kertas itu ke halaman berikutnya dengan cepat. Terdapat sebuah grafik garis merah yang menukik sangat tajam ke bawah.
"Tapi sistem logistik Pak Sebastian ini memiliki satu kelemahan yang sangat besar. Terjadi titik penyempitan jalur yang teramat parah."
Shaquena membaca angka-angka rumit itu dengan kecepatan tinggi. Otaknya berhasil mencerna informasi Daniel dalam hitungan detik.
"Sebastian ternyata tidak menyewa gudang transit logistik yang berlokasi di dekat area pelabuhan," sahut Shaquena memotong penjelasan Daniel.
Daniel mengangguk mantap membenarkan analisis itu. "Tepat sekali, Nyonya."
Daniel menatap wajah Shaquena dengan penuh rasa takjub. Wanita ini memiliki ketajaman insting bisnis yang jauh melampaui kemampuan Sebastian.
"Mahendra Group sengaja menekan biaya operasional logistik hingga batas maksimal dengan cara menghapus biaya sewa puluhan gudang transit. Dia sepenuhnya hanya mengandalkan sistem distribusi langsung dari lambung kapal ke atas truk pengangkut."
Daniel menatap bergantian ke arah Stefanus yang menyimak.
"Volume barang kiriman mereka setiap harinya terlalu masif. Jika terjadi penumpukan truk distribusi di gerbang keluar pelabuhan selama lebih dari empat jam saja, seluruh sistem perputaran barang mereka akan lumpuh total."
Shaquena tersenyum penuh perhitungan melihat data tersebut. "Peti kemas mereka akan menumpuk menjadi sebuah gunung besi mati di dermaga."
"Benar sekali. Pihak otoritas pelabuhan internasional pasti akan langsung memberikan denda kepada Mahendra Group hingga puluhan miliar rupiah per jam. Penumpukan masif itu akan menyumbat total arus keluar masuk armada kapal asing lainnya," tegas Daniel.
Inilah momen titik balik bagi serangan balasan mereka. Daniel berhasil menelanjangi kelemahan terbesar dari sistem yang digunakan oleh Mahendra Group.
Stefanus mengetukkan buku jarinya ke atas meja. Pria itu menajamkan pikirannya untuk mencari celah kegagalan dari rencana brilian ini.
"Memblokir atau menunda kedatangan ratusan truk logistik milik Mahendra Group itu bukan perkara mudah di lapangan," ucap Stefanus sangat objektif. "Mereka memiliki pengawalan keamanan dari pihak swasta yang sangat ketat di setiap rute jalur keluar pelabuhan."
Daniel menggelengkan kepalanya pelan. Senyum tipis milik seorang analis jenius mulai menghiasi wajah pucat pemuda itu. Rasa bersalahnya kini sepenuhnya berganti menjadi rasa percaya diri yang tinggi. Pemuda ini akhirnya menemukan rumah yang tepat untuk bernaung.
"Kita sama sekali tidak perlu repot-repot memblokir truk pengangkut mereka secara fisik di jalan raya."
"Lalu bagaimana caramu menghentikan arus distribusi mereka tanpa memblokir jalan tol?" tuntut Shaquena.
Daniel membalik halaman terakhir di dalam map plastiknya. Sebuah peta topografi jaringan transportasi ibu kota terpampang sangat jelas di sana dengan garis merah tebal.