Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Antara Bingung dan Kesal
"Apakah mate-ku adalah salah satu dari ras lautan? Seorang Mermaid?"
Cedric menduga-duga dalam hati, mengingat pekatnya aroma samudra yang menguar dari celah pintu.
Dengan satu tarikan napas berat terakhir yang memompa keberaniannya, Cedric memutar gagang pintu tersebut.
Cklek.
Begitu pintu kamar terbuka, Cedric seketika mematung di ambang pintu. Bahunya merosot, bergetar hebat selama beberapa detik sebelum kesadarannya tersentak kembali. Dengan tangan yang gemetar, ia buru-buru menutup pintu di belakangnya.
Di dalam sana, ia disuguhi pemandangan kamar yang sangat kacau. Bau alkohol yang menyesakkan kini bercampur dengan aroma yang asing, serta... aroma tubuh seorang werewolf yang sangat familier di penciumannya yang tajam. Tangan Cedric terkepal kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, sementara rahangnya mengeras menahan gejolak emosi.
Pandangannya tertuju ke atas ranjang. Di sana, seorang gadis tengah berbaring menyamping memunggunginya, berusaha menutupi diri dengan selimut yang tersisa. Cedric bisa melihat bahu gadis itu yang gemetar, menandakan ketakutan yang mendalam.
"Wanita itu telah menipuku," bisik Cedric dengan nada suara sarat kekecewaan.
Ia menduga ada pihak lain yang telah mengintervensi sebelum dirinya sampai di sana. Cedric menyadari bahwa situasi di kamar ini menunjukkan telah terjadi peristiwa yang tidak diinginkan sebelum kedatangannya. Dan yang paling mengejutkan, ia mengenali dengan sangat baik jejak yang tertinggal di ruangan ini—itu adalah aroma milik salah satu pria yang beberapa menit lalu baru saja berpapasan dengannya.
Dengan langkah lebar dan cepat, Cedric menghampiri ranjang. Ia mencoba mengabaikan rasa ibanya dan menggantinya dengan sikap dingin agar tidak goyah oleh situasi tersebut.
"Bangun!" ucap Cedric dengan suara rendah namun tegas sambil menyentuh lengan Elara untuk menyadarkannya.
Gadis itu melenguh lirih, kelopak matanya berkedip cepat berusaha mengumpulkan kesadaran. Begitu netranya terbuka dan menangkap sosok pria di hadapannya, Elara sontak bangkit dan menarik selimutnya erat-erat.
Sorot matanya masih terlihat sayu, menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya pulih dari kondisi sebelumnya.
"Tuan! Jangan mendekat! Aku mohon, menjauhlah!" ucap Elara dengan suara parau. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa tertekan yang luar biasa.
Meskipun ia masih merasa bingung dengan apa yang terjadi sebelumnya, Elara merasakan aura yang berbeda dari pria ini.
"Cukup, tenanglah. Aku di sini bukan untuk menyakitimu," potong Cedric, berusaha meredam kepanikan gadis itu. "Sekarang cepat bersiap dan ikut denganku. Mulai hari ini kau akan bekerja di tempatku. Segera bergegas sebelum keadaan menjadi lebih sulit bagi kita berdua."
Elara terdiam, otaknya yang masih pening berusaha keras mencerna perkataan pria asing di hadapannya. "Maksud Anda apa, Tuan? Saya... saya tidak dalam kondisi yang layak untuk pergi ke mana pun saat ini."
Cedric menghela napas, lalu melepas mantel panjang beludrunya. Ia menyerahkan mantel tebal itu kepada Elara. "Pakai ini. Kita harus segera pergi dari tempat ini."
Meskipun belum mengenali siapa pria itu, Elara sadar betul bahwa tetap tinggal di sana bukanlah pilihan yang bijak. Sambil menerima mantel tersebut, ia berharap dalam hati bahwa keputusan untuk mengikuti pria ini adalah awal dari perlindungan, bukan ancaman baru.
Dengan gerakan kaku, Elara mulai memakai mantel tersebut. Tangannya bergetar hebat saat mencoba mengancingkannya satu per satu. Tenaga di tubuhnya terasa seolah telah habis.
Namun, di balik kerapuhannya, sebuah tekad mulai muncul. Ia harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpanya.
Elara bisa merasakan aura yang menguar dari tubuh Cedric—aura yang kuat dan berwibawa. Pria seperti ini pasti memiliki pengaruh besar dan kemungkinan besar mengenal orang-orang yang berada di lingkungan ini. Jika ia bisa bertahan, ia akan mencari jawaban atas segala yang terjadi malam ini.
"Sudah, Tuan," ucap Elara lirih setelah kancing terakhir mantel itu berhasil terpasang di tubuhnya. Mantel panjang itu menenggelamkan tubuh mungilnya, memberikan sedikit rasa aman yang sangat ia butuhkan.
"Ikuti aku," titah Cedric dingin tanpa menoleh. Pria Elf itu berbalik, bersiap melangkah keluar.
Elara berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai.
Namun, baru saja ia menumpu berat badannya untuk melangkah, rasa perih yang teramat sangat menyengat area intimnya. Rasa sakit itu begitu hebat hingga membuat dunianya berputar. Kedua lutut Elara mendadak sekaku jeli, dan dalam sekejap, tubuhnya ambruk ke lantai kasur yang dingin.
Bruk!
Cedric menghentikan langkahnya. Mendengar suara debuman itu, ia menoleh dan mendapati Elara yang terduduk lemas sambil meringis kesakitan.
Pria Elf itu memejamkan mata sejenak, menghela napas pasrah. Ia melangkah kembali mendekati Elara, lalu dengan satu gerakan mantap, ia menyusupkan kedua lengannya ke bawah ketiak dan tekukan lutut gadis itu.
Cedric mengangkat tubuh Elara ke dalam bopongannya. Ada gejolak perasaan yang campur aduk di dalam dada Cedric—antara kecewa pada situasi ini, dan sebuah tanya besar mengapa takdir harus mempertemukannya dengan gadis ini dalam kondisi seironis sekarang.
"Berpeganganlah yang erat jika kau tidak mau jatuh," bisik Cedric, suaranya terdengar datar namun ada nada ketegasan di sana.
Elara tidak punya pilihan lain. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengangguk patuh dan mengalungkan kedua tangannya yang gemetar pada leher tegap Cedric. Kepalanya bersandar lemas di dada pria itu, menghirup aroma pinus yang menenangkan—sangat berbeda dengan aroma memabukkan dan liar milik pria sebelumnya.
Cedric pun membawa Elara keluar dari kamar VIP tersebut, melintasi koridor kasino yang remang-remang dengan langkah lebar dan penuh wibawa.
'Siapa sebenarnya lelaki werewolf yang sudah menyentuhmu?' batin Cedric di sela-sela langkahnya.
Spekulasi tentang aroma yang tertinggal di kamar tadi kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Panca indra seorang Elf tidak pernah menipu. Itu adalah aroma dominan yang sangat pekat, aroma khas bangsawan werewolf kelas atas yang hanya dimiliki oleh seorang Alpha atau calon penerus garis keturunan murni. Di kota ini, siapa lagi yang memiliki aroma seperti itu jika bukan Alpha Ethan Blue dan keponakannya, Edgard Blue?
'Tidak mungkin jika Alpha Ethan yang melakukannya,' batin Cedric menyangkal.
Ia mengingat kembali jalannya pertemuan malam ini. Pria paruh baya berdarah Alpha itu terus berada di sisinya sepanjang malam, berbincang serius membahas kerja sama pasokan sayuran segar untuk bisnis restorannya. Cedric sama sekali tidak melihat Ethan meninggalkan ruangan VIP bisnis mereka, bahkan untuk beberapa menit saja.
Namun... Edgard. Keponakan sang Alpha yang tadi sempat menghilang cukup lama. Mengingat bagaimana penampilan pemuda itu yang tampak agak berantakan saat kembali, serta hilangnya dasi yang ia kenakan tadi, potongan-potongan teka-teki itu mendadak tersusun rapi di kepala Cedric.
Rahang Cedric mengeras seketika saat menyadari sebuah kemungkinan yang mengerikan.
'Jangan bilang... bocah ingusan itu yang sudah merenggut kesucianmu di kamar ini?'