"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"
Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau Tak Berdasar dan Terbangun di Sepertiga Malam
Ketakutan yang sempat mencekam pasca-lolongan misterius itu perlahan-lahan terkikis oleh rasa lelah yang teramat sangat. Di dalam tenda dome yang tertutup rapat, keempat gadis itu tidur dengan posisi saling merapat, mencari rasa aman dari kehangatan tubuh satu sama lain. Suara deru ombak laut di luar terdengar ritmis, bertindak bagai lagu pengantar tidur alami yang akhirnya berhasil membawa kesadaran mereka tenggelam ke alam bawah sadar. Malam semakin larut, dan udara di sekeliling Pulau Tirta Asri semakin dingin berkabut.
Namun, di saat tubuh mereka terbaring diam di atas matras perkemahan, jiwa Elena mendadak terseret ke sebuah ruang dimensi yang sama sekali berbeda.
Di dalam mimpinya, Elena membuka mata dan mendapati dirinya tidak lagi berada di dalam tenda yang sempit. Ia sedang berdiri di tepi sebuah danau yang luar biasa megah. Air danau itu begitu tenang, jernih bagaikan cermin raksasa yang memantulkan langit biru cerah tanpa cela. Di sekeliling danau, pepohonan dengan daun-daun berwarna putih keperakan tumbuh dengan indahnya, menggugurkan kelopak-kelopak bunga yang menebarkan aroma wangi yang sangat menenangkan.
Vibes pemandangan di tempat itu begitu magis dan estetik. Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung terpaku kagum, merasakan kedamaian yang magis, dan memunculkan hasrat mendalam di dalam hati bahwa mereka tidak akan pernah mau pergi dari tempat seindah surga ini.
"Elena! Sini, El! Airnya segar banget, gila!"
Elena menoleh dan mendapati ketiga sahabatnya ternyata sudah berada di dalam air. Keisha sedang mencipratkan air ke arah Amanda sambil tertawa renyah, sementara Amanda membalasnya dengan pekikan kesal yang jenaka. Di bagian yang sedikit lebih dalam, Aldara berenang dengan santai, rambutnya basah terurai di atas permukaan air yang berkilau.
Melihat keceriaan mereka, Elena tersenyum lebar. Rasa waspada yang biasanya ia miliki seolah menguap begitu saja di tempat ini. Ia melangkah turun, membiarkan kakinya menyentuh air danau yang terasa sejuk dan lembut seperti sutra. Elena bergabung dengan ketiga sahabatnya, ikut bercanda dan tertawa di bawah siraman cahaya yang entah datang dari mana. Mereka berempat berenang bersama, menikmati momen kebersamaan yang terasa begitu sempurna.
Kebetulan, karena sifatnya yang berani dan kadang tidak sabaran, posisi Aldara berenang paling jauh di antara mereka, mendekati bagian tengah danau yang airnya tampak berwarna biru lebih gelap.
"Ra, jangan ke tengah-tengah banget! Kita enggak tahu sedalam apa danau ini," panggil Elena, pembawaannya yang pintar dan penuh perhitungan tetap muncul bahkan di dalam mimpi.
"Tenang aja, El! Gue kan atlet renang gadungan kelas kompleks," sahut Aldara ceplas-ceplos seperti biasanya, disusul tawa cerobohnya yang khas.
Namun, tepat setelah tawa itu mereda, ekspresi wajah Aldara mendadak berubah drastis. Matanya yang semula berbinar jenaka mendadak melebar penuh keterkejutan. Gerakan lengannya di atas air terhenti secara paksa.
"Eh... bentar. Guys..." suara Aldara terdengar tercekat.
"Kenapa, Ra? Lo kram?" tanya Amanda dari tepi yang agak dangkal.
"Kaki gue... kaki gue ada yang megang! Dingin banget!" seru Aldara panik. Ia mulai meronta, mencoba menggerakkan kakinya, namun tubuhnya justru mulai tertarik ke bawah secara perlahan, seolah ada sepasang tangan raksasa tak kasat mata yang mencengkeram pergelangan kakinya dari dasar danau yang gelap.
Mendengar hal itu, insting Elena langsung bekerja kilat. "Manda, Keisha! Naik ke pinggiran sekarang! Cepat!" instruksi Elena dengan suara lantang yang tak terbantah.
Tanpa berpikir dua kali, Keisha yang penakut dan Amanda segera berenang dengan panik menuju tepian batu danau atas instruksi Elena. Sementara itu, Elena dengan berani membelah air, berenang secepat mungkin mendekati Aldara yang kini tubuhnya sudah tenggelam hingga sebatas dada.
"El! Tolongin gue! Ini narik nya kencang banget!" teriak Aldara, wajahnya pucat pasi, kepanikannya memuncak. Kecerobohannya di dunia nyata seolah menjadi kutukan di tempat ini karena ia terlalu jauh melangkah ke area berbahaya.
Elena berhasil meraih kedua tangan Aldara. Ia mencengkeram jemari sahabatnya itu dengan sangat erat. Berkat tarikan Elena, tubuh Aldara tertahan sejenak dan masih terlihat tidak sampai tenggelam sepenuhnya ke dalam air.
"Gue pegang lo, Ra! Pegang yang kencang!" teriak Elena, urat-urat di lengannya menegang. Ia mencoba menjejakkan kakinya untuk menarik Aldara kembali ke arah yang dangkal.
Namun, kekuatan di bawah sana benar-benar tidak masuk akal. Di dalam air yang jernih itu, Elena samar-samar melihat siluet bayangan ekor raksasa bersisik gelap yang meliuk-liuk di dasar danau, mengikat kaki Aldara. Meskipun sekuat tenaga Elena menarik Aldara hingga seluruh badannya bergetar dan napasnya tersengal, cengkeraman magis itu tidak bisa dilawan oleh kekuatan manusia biasa. Tangan Aldara perlahan-lahan mulai terlepas dari genggaman Elena karena permukaannya yang licin oleh air.
"Elena...!"
Blubbb!
Dengan satu sentakan yang luar biasa kuat, tubuh Aldara sepenuhnya tertarik masuk ke dalam danau, menghilang ditelan kegelapan air yang dalam tanpa menyisakan riak sedikit pun.
Melihat pemandangan mengerikan itu di depan matanya sendiri, Elena membeku di tengah danau, sebelum akhirnya berteriak histeris. Di tepi danau, Keisha dan Amanda yang menyaksikan sahabat mereka lenyap juga ikut berteriak dan menangis histeris. Mereka memandang ke sekeliling dengan keputusasaan yang mendalam; tidak ada siapapun lagi di tempat indah namun mematikan ini selain mereka berempat untuk dimintai pertolongan. Rasa sepi dan mencekam langsung meremukkan jiwa mereka.
"ALDARAAA!!!"
"ALDARAAA!!!"
Elena tersentak hebat, matanya terbuka lebar menatap langit-langit tenda yang gelap gulita. Napasnya memburu cepat bagai orang yang habis berlari maraton, dan seluruh tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin. Dadanya naik turun dengan tidak teratur, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di rongga dadanya.
Elena meraba lehernya dengan panik. Di sana, kalung permata merah pemberian bundanya terasa sangat panas bukan hangat lagi, melainkan panas yang berdenyut, seolah-olah artefak itu baru saja melepaskan energi besar untuk menyentak kesadaran Elena keluar dari mimpi buruk yang hampir mengurung jiwanya.
"El? El, lo kenapa? Hei, bangun, El!"
Sebuah tangan menepuk-nepuk pipi Elena dengan lembut. Elena menoleh dengan pandangan yang masih agak kabur karena air mata yang tanpa sadar telah menetes. Di bawah temaram cahaya lampu badai portabel kecil yang digantung di tengah tenda, ia melihat wajah Aldara. Ya, Aldara asli, sedang menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan.
Melihat sosok sahabatnya masih utuh dan berada di depannya, Elena langsung menghambur maju dan memeluk Aldara dengan sangat erat, hingga Aldara sedikit terdorong ke belakang.
"Eh, eh, El... tenang. Kenapa sih? Lo mimpi buruk?" tanya Aldara lembut. Suara ceplas-ceplosnya yang biasa terdengar menyebalkan kini terdengar seperti suara paling merdu yang sangat disyukuri Elena. Aldara mengusap-usap punggung Elena yang masih bergetar hebat.
Mendengar keributan tersebut, Keisha dan Amanda ikut menggeliat dan terbangun.
"Ada apa sih? Jam berapa sekarang?" gumam Amanda sambil mengucek matanya yang sembap. Ia melirik ke arah jam beker kecil berlogo katak yang sengaja diletakkan di sudut matras. Jarum jam fosfornya menunjukkan tepat pukul 2 dini hari. "Hah... baru jam dua malam. El, lo kenapa nangis?"
"Gue... gue mimpi kita mandi di danau yang bagus banget," suara Elena bergetar, ia melepaskan pelukannya dari Aldara tapi kedua tangannya masih memegang bahu gadis itu, memastikan bahwa ini nyata. "Terus di tengah danau, kaki lo ditarik sesuatu yang gede banget ke dalam air, Ra. Gue udah coba tarik lo sekuat tenaga, tapi lo tetep tenggelam. Kita berdua... kita semua teriak histeris karena enggak ada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong."
Keisha langsung merinding mendengar cerita Elena. Ia menarik selimutnya hingga sebatas dagu. "Aduh, El... jangan cerita yang horor-horor dong di jam dua malam begini. Mana tadi malam kita habis denger suara lolongan serigala lagi. tempat mandi juga jauh."
Aldara menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan Elena. "El, dengerin gue. Itu cuma bunga tidur, oke? Lo kecapekan gara-gara kemarin kita kurang tidur dan stres mikirin perjalanan. Lihat nih, gue masih hidup, masih utuh, masih bisa ceplas-ceplos di depan lo. Lagian, di pulau sekecil ini mana ada danau? Adanya kan cuma pantai sama laut."
"Iya, El, lagian kan lo sendiri yang bilang tadi malam kalau kita harus tenang," timpal Amanda, meskipun dalam hati ia juga merasa tidak nyaman dengan atmosfer malam itu.
Elena menatap ketiga sahabatnya, lalu perlahan mengangguk, mencoba meredam sisa kepanikan di hatinya. "Iya... mungkin gue cuma kecapekan."
Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Elena tahu ada yang salah. Denyut panas dari kalung merah di lehernya bukanlah halusinasi. Mimpi itu terasa terlalu nyata, terlalu detail untuk disebut sebagai sekadar bunga tidur.
Sementara itu, di waktu yang sama di dimensi seberang, ketenangan malam di Istana Buaya Putih juga terusik.
Di atas balkon istana yang langsung menghadap ke arah koordinat danau suci di dimensinya, Mo Chenxi sedang berdiri diam. Jubah hijau tua keabu-abuannya tampak gelap di bawah sinaran bulan purnama. Di dalam kegelapan malam, manik mata predator milik Sang Raja Buaya Putih itu mendadak berkilat tajam.
Sebagai penguasa air di pulau ini, Mo Chenxi memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan memasuki alam bawah sadar makhluk hidup yang berada di dekat wilayah perairannya. Mimpi yang dialami Elena tadi bukanlah mimpi biasa, melainkan proyeksi spiritual dari energi danau mistis milik klan buaya yang tak sengaja beresonansi dengan kehadiran jiwa para gadis manusia tersebut.
Secara khusus, jiwa Aldara yang ceroboh dan melangkah terlalu dekat dengan energi air di siang hari telah memicu ketertarikan magis dari wilayah domain Mo Chenxi. Di dalam mimpi tadi, siluet ekor raksasa yang dilihat Elena di dasar air tidak lain adalah wujud manifestasi spiritual dari kekuatan sejati Mo Chenxi yang hampir saja menarik jiwa Aldara untuk tinggal selamanya di dimensinya.
"Menarik sekali," gumam Mo Chenxi, suara beratnya memecah kesunyian malam. Sebuah senyuman dingin namun penuh ketertarikan terukir di wajah tampannya yang biasanya kaku. "Gadis yang bernama Aldara itu... jiwanya memiliki resonansi yang sangat liar dengan airku. Ceroboh, tapi sangat memikat."
Sebuah desir angin lembut membawa aroma bunga persik putih mendarat di samping Mo Chenxi. Sosok Bai Yuanjun muncul dari balik bayangan kabut, wajah tampannya terlihat sangat dingin, dengan mata keperakan yang menatap langsung ke arah Mo Chenxi dengan penuh peringatan.
"Kau melanggar batas malam ini, Mo Chenxi," kata Bai Yuanjun dingin, mengacu pada intervensi spiritual yang hampir merenggut kesadaran para gadis manusia melalui mimpi. "Kalung permata merah milik gadis itu terpaksa melepaskan energinya untuk memutus mimpimu. Jika kau mengulangnya lagi dan merusak segel perlindungannya, aku sendiri yang akan mengunci klan buayamu di dasar parit laut terdalam."
Mo Chenxi menoleh, menatap Sang Raja Ular Putih dengan pandangan menantang, namun tidak ada niat untuk bertarung. "Aku tidak sengaja menarik mereka, Bai Yuanjun. Energi mereka yang datang sendiri ke dalam aliran airku. Lagipula, kau terlalu protektif pada gadis pembawa kalung itu. Tapi bagaimana dengan tiga gadis lainnya? Pulau ini memiliki empat klan... dan sepertinya, takdir tidak hanya memilih gadismu."
Bai Yuanjun terdiam, matanya kembali menatap ke arah tenda kecil di pantai yang berjarak dimensi dari mereka, di mana Elena dan sahabat-sahabatnya baru saja mencoba untuk kembali memejamkan mata di sepertiga malam yang sunyi. Benang takdir di Pulau Bai She tampaknya mulai menjerat mereka berempat, satu per satu, tanpa bisa dicegah lagi oleh hukum langit sekalipun.