Sekuel novel pertama MY ACCIDENT DESTINY..
Kisah kali ini berpusat pada kehidupan dan perjalanan cinta si Badboy JACOB setelah cinta pertama nya bertepuk sebelah tangan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElizabethMelyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERUMAH
Part 15 " Serumah "
Begitu takjub kedua mata Jasmin melihat tempat tinggal Jacob yang seperti di atas awan.
Pemandangan kota tampak kecil di penglihatan Jasmin.
Davin yang mengantarkan Jasmin, menunjukkan setiap ruangan dan fungsi di penthouse Jacob yang sangat jarang menerima tamu jika tidak atas seijin bosnya.
" Jacob.. tinggal di sini sendirian?? Dirumah sebesar ini?? " Tanya Jasmin tak bisa menghentikan kekagumannya.
" Benar. Bos selalu tinggal sendiri. Dia paling benci jika orang asing masuk ke rumah nya dan menyentuh barang barang nya. " Jawab Davin menjelaskan, sambil membawa 2 koper Jasmin menuju kamar tamu yang sudah dibersihkan.
" Ini kamar anda. " Kata Davin menunjukkan.
" Waaahh.. cantik banget.. aku bisa melihat pemandangan setiap bangun tidur. " Sahut Jasmin antusias dengan keindahan kamar nya yang di kelilingi kaca transparan, sehingga setiap ia tidur dan bangun.. hal pertama yang bisa di lihatnya adalah pemandangan kota serta biru nya langit.
" Bos akan pulang sore nanti, saat ini dia sedang melakukan beberapa transaksi di club. Apa ada yang ingin anda tanyakan? " Tanya Davin sebelum meninggalkan gadis ini sendirian.
" Kurasa tidak ada. Trimakasih sudah mengantarku. " Jawab Jasmin dengan sopan, dan mulai menyadarkan dirinya bahwa ia berada disitu untuk bekerja bukan untuk tamasya.
Davin pun bergegas meninggalkan Jasmin sendirian.
Di kamar baru miliknya, dengan segera Jasmin membongkar isi kopernya dan menata setiap barang pads tempatnya.
Termasuk foto ayah dan ibu di meja samping ranjang..
Boneka yang tampak usang, hadiah ulang tahun dari orangtua nya saat ia kecil..
Di sela sela ia membereskan barang barang, ia seketika memandang ke foto ibu nya dan membersihkan frame foto itu.
" Aku akan baik baik saja. Aku tinggal di tempat yang baik, dan aku akan menghasilkan banyak uang untuk ikut khursus desain. Mama jangan khawatir. " Gumam Jasmin yang tiba tiba teringat akan ibu kandung yang meninggalkannya sejak usia 10 tahun.
Keluar dari suasana kamar, ia kembali melihat lihat sekeliling.
Langkah nya memgarah ke kamar tertutup di sebrang kamarnya.
" Itu pasti kamar Jacob. " Tebak Jasmin dan kembali melihat tempat lain.
Jasmin membuka kulkas dan ternyata tidak ada bahan makanan apapun.
Seperti halnya rumah seorang bujang yang apa adanya.
" Ya ampun. Isi nya cuma soda, air mineral dan bir kalengan.. ckckck.. memang dia ga pernah makan ya. " Gumam Jasmin tidak habis pikir.
Tanpa pikir panjang ia mengambil tas dan jaket kemudian pergi untuk berbelanja ke supermarket terdekat.
Penthouse Jacob berada di pusat ibukota, yang membuatnya mudah untuk mengakses ke arah manapun ia mau.
Jasmin memasukkan berbagai macam sayuran dan buah ke dalam trolly, tidak lupa juga beberapa bumbu dapur.
Dengan detail dan memperhitungkan harga ia mengambil setiap bahan, karena mau tidak mau ia menggunakan sisa uang pribadinya lebih dulu.
Ketika melewati lorong yang berisikan berbagai macam cemilan, ia tidak bisa menahan diri untuk hanya melewatinya.
Ia memasukkan beberapa makanan ringan, termasuk coklat ke dalam trolly.
Selama kurang lebih Jasmin berbelanja dengan cermat, hingga waktu menunjukkan pukul 3 sore.
Ia kembali ke penthouse Jacob, namun ketika ia hendak masuk.. dirinya tidak mengetahui password pintu nya.
" Bodoh. Kenapa tadi aku tidak bertanya pada Davin. " Gumam Jasmin menyadari kelalaiannya.
Dengan segera ia mengambil iphone dan mencoba menghubungi Jacob berkali kali, namun tidak direspon.
" Sepertinya dia sangat sibuk. " Gumam Jasmin yang masih berusaha menghubungi Jacob.
Karena kaki nya sudah merasa pegal, ia pun duduk bersila di depan pintu.
Ia mencoba terus menghubungi Jacob hingga batrei hp miliknya tidak bersisa dan off.
Selama berjam jam, Jasmin menunggu dengan sabar. Karena uang yang sudah habis untuk berbelanja, ia tidak bisa pergi kemanapun selain menunggu di pemilik rumah datang.
Sekitar pukul 8 malam, Jacob yang baru menyadari panggilan dari Jasmin sebanyak 36kali.. mencoba untuk menghubungi kembali, namun nomor Jasmin tidak aktif.
Sontak itu membuat Jacob khawatir, pria yang baru selesai bertransaksi.. tanpa pikir panjang berlari ke mobil dan mengemudikannya sendiri untuk pulang tanpa berpamitan.
Jacob yang berusaha sampai ke rumah secepat mungkin mendapati wanita yang ia khawatirkan sedang bersandar di pintu, tertidur sambil memeluk kantong belanjaannya.
" Sial. Kukira terjadi sesuatu. " Gerutu Jacob sambil mengatur nafas setelah berlarian tidak karuan.
Jacob jongkok di hadapan Jasmin, dan menepuk pelan dahi wanita itu hingga terbangun kaget dari tidur nya.
PUUKK..
" Auw.. " Rintih Jasmin terbangun.
" Dasar bodoh. Apa yang kamu lakukan disini. " Sahut Jacob kesal.
" Ah.. kamu sudah pulang. Aku tidak bisa masuk, aku lupa menanyakan pasword rumahmu. " Kata Jasmin menjelaskan dengan malu karena kebodohannya.
" Minggir. " Sahut Jacob, membuat Jasmin yang duduk di depan pintu dengan segera berdiri.
" Lihat ini. " Kata Jacob menunjukkan.
Jacob hanya menggunakan fingerscan untuk lebih mudah. Jika terjadi kesulitan, baru ia memasukkan paswordnya.
Tit tit tit..
" Mana jari mu? " Kata Jacob seraya menambahkan sidik jari Jasmin ke sistem.
" Wahh.. praktis.. " Kata Jasmin kagum.
" Kalau bermasalah. Masukkan angka nol sebanyak 4 kali. " Sahut Jacob mengajarkan.
CEKREK
Pintu pun terbuka, dan begitu leganya Jasmin yang sudah menunggu selama 5 jam.
Sambil membawa kantong belanjaan di tangan kanan kiri, ia berjalan masuk mengikuti langkah Jacob.
" Apa yang kamu bawa?? " Tanya Jacob yang menyadari kantong belanjaan Jasmin.
" Oh.. aku habis berbelanja. Di sini tidak ada makanan sama sekali. Kamu harus ganti uang ku. " Jawab Jasmin yang bergegas mengisi kulkas gersang Jacob.
" Duuhh.. kenapa ribet banget. Mau makan tinggal pesan. " Gerutu Jacob yang tidak terbiasa.
" Jangan. Makan masakan rumah lebih sehat. " Jawab Jasmin membantah sambil terus menata isi kulkas Jacob.
" Suka suka mu lah. Terserah. Aku mandi dulu. " Pamit Jacob hendak masuk ke kamarnya.
" Tunggu. Kamu sudah makan malam? " Tanya Jasmin mulai melakukan tugasnya sebagai asisten rumah tangga.
" Aku tidak lapar. Setelah mandi, baru kita bicara. " Kata Jacob.
" Oke kalau begitu. " Sahut Jasmin tidak peduli.
" Ehm... daripada makan malam. Bagaimana kalau ikut aku mandi saja? " Goda Jacob usil.
" Jacob.. itu tidak lucu. " Jawab Jasmin sewot, membuat Jacob tersenyum melihatnya.
Beberapa saat setelah membersihkan diri masing masing.
Terlihat Jacob yang keluar dari kamar menggunakan kimono tidur yang memperlihatkan dada bidang miliknya.
Sedangkan Jasmin menggunakan piyama lucu yanv bertolak belakang dengan keseksian Jacob.
" Oh my God. " Sahut Jasmin kaget dan mengalahkan pandangannya dari tubuh Jacob.
" Duduklah. Kita bicara. " Kata Jacob cuek, dengan rambut setengah basah.
" Apa kamu tidak bisa pakai baju yang benar. " Kata Jasmin menghindari pemandangan itu.
" Aku biasa seperti ini, malah terkadang tidak pakai apa apa. " Jacob semakin suka menggoda Jasmin.
" Baiklah, karena kamu tuan rumah. Aku bisa terima. " Jawab Jasmin menahan rasa kesal.
" Berikan nomor rekening mu. Aku akan mentransfer gaji mu bulan ini. " Tanya Jacob dengan santai.
" Hah? Aku bahkan belum mulai mengerjakan apapun. " Jawab Jasmin heran.
" Aku gaji dulu, baru lakukan sesukamu. Cepat, jangan banyak tanya. " Jawab Jacob santai.
Jasmin pun patuh dan mengirimkan nomor rekening nya ke Jacob.
Tidak menunggu lama, notifikasi mutasi rekening masuk ke hp Jasmin.
" Haaaa.... " Sahut Jasmin terkejut melihat jumlah yang di transfer Jacob.
" Sudah masuk kan? Gunakan uang itu sesukamu. Kalau kurang, katakan saja. " Kata Jacob santai.
" Ini.. ini.. banyak sekali, kamu gak salah?? Ini sih bisa buat setahun. " Kata Jasmin tergagap saking kagetnya.
" Itu tidak seberapa. Kamu bisa ikut kursus sampai lulus dengan uang itu. " Jawab Jacob yang mengingat cita cita Jasmin.
Begitu senang dan antusiasnya Jasmin mendengar perkataan itu.
Ia tidak menyangka kalau pria seperti Jacob ikut memperhatikan impiannya untuk menjadi desainer.
Ia berlari dan reflek memeluk Jacob karena sangat senang dan bersyukur.
" Jangan memancing ku. Aku tidak sebaik yang kamu pikir. " Gumam Jacob dingin sambil melihat Jasmin.
" Ah.. maaf. Maaf. Aku terlalu senang jadi begini. Terimakasih. " Sahut Jasmin yang tersadar dan segera melepas pelukannya.
Jacob pun meninggalkan wanita itu dan masuk ke kamarnya dengan senyum kecil di wajahnya.
Ia berusaha menghindari Jasmin agar tidak melewati batas, dan dapat mengendalikan diri karena jantungnya yang berdebar kencang.
selalu suka karyamu