NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016: Perjalanan Berdarah

Belum sampai dua hari.

Nadira sudah menyelesaikan hal yang Arga berikan untuk satu minggu.

Pagi itu, di ruang baca lantai dua perpustakaan UNDIP, tiga puluh dua mahasiswi duduk dalam empat baris. Mereka tidak berebut makanan atau berbicara tanpa izin. Di depan mereka, beberapa pisau dapur sudah dibagikan berdasarkan kelompok.

Dara berdiri di samping jendela dengan pipa besi di tangan.

Kiara duduk di atas meja, dua belati Hi-Tech terselip di pinggangnya. Tatapannya lebih dingin dari dua hari lalu.

Nadira menyerahkan tiga lembar kertas kepada Arga.

"Daftar nama. Pembagian kelompok. Catatan kondisi fisik."

Arga membacanya cepat.

Kelompok satu: paling tenang, cocok menjaga barang.

Kelompok dua: kaki kuat, cocok bergerak cepat.

Kelompok tiga: mudah panik, harus ditempatkan di tengah.

Kelompok empat: enam orang yang berani memegang pisau.

Setiap orang punya tanda. Kuat, lemah, luka, patuh, rawan menangis, rawan membantah.

Tulisan Nadira rapi seperti laporan bisnis.

"Kamu tidur berapa jam?" tanya Arga.

"Cukup."

"Jawaban."

"Tiga jam."

Arga meliriknya.

Nadira tidak menunduk.

"Kalau saya tidur delapan jam, mereka akan saling makan sebelum Anda kembali."

Dara tertawa pendek.

"Dia memang begitu. Galak, tapi hidup."

Arga mengembalikan kertas itu.

"Kita pergi hari ini."

Ruang baca langsung sunyi.

Beberapa wajah memucat.

Seseorang hampir bersuara, tetapi Nadira mengangkat tangan.

Semua diam.

"Ke hotel?" tanya Nadira.

"Ya."

"Jarak sekitar tiga kilometer. Dengan kondisi jalan sekarang, rombongan sebesar ini akan menarik Zombie."

"Aku tahu."

"Kalau kami bergerak lambat, kami mati. Kalau kami bergerak cepat, orang lemah tertinggal."

"Tidak ada yang tertinggal."

Kalimat itu pendek.

Tetapi tekanan di dalamnya membuat para mahasiswi berhenti bernapas sejenak.

Nadira menatap Arga beberapa detik.

Lalu ia berbalik.

"Semua orang, berdiri. Bawa tas paling ringan. Makanan otomatis tidak dibawa terbuka. Air dibagi ke empat kelompok. Tidak ada koper. Tidak ada barang nostalgia. Kalau Anda membawa boneka, album foto, atau sepatu cadangan, saya buang sendiri."

Seorang gadis menggenggam tas ransel kecil dengan mata merah.

Nadira menunjuknya.

"Isi?"

"Baju... dan foto keluarga."

"Satu baju. Satu foto. Sisanya tinggal."

Gadis itu menggigit bibir, lalu mengangguk.

Dara memukul lantai dengan ujung pipa.

"Yang bisa memegang pisau, ikut aku. Yang tidak bisa, jangan sok berani. Kalian panik, kalian bunuh teman sendiri."

Kiara turun dari meja.

"Dengar perintah. Kalau ada Zombie, jangan teriak. Kalau jatuh, angkat tangan, bukan menjerit. Kalau ada orang asing mendekat dan meminta belas kasihan, lihat Nadira, bukan aku atau Dara."

Salah satu mahasiswi bertanya pelan, "Kalau mereka menyerang?"

Kiara tersenyum tipis.

"Baru lihat aku."

Sepuluh menit kemudian, pintu perpustakaan terbuka.

Udara busuk langsung masuk.

Di halaman, beberapa Zombie berkeliaran di antara motor yang terbalik, spanduk kampus yang basah, dan meja kantin yang hancur.

Arga berjalan paling depan.

Ia tidak memberi pidato.

Pedang Hi-Tech keluar dari Cincin Dimensi, memantulkan cahaya pucat.

Zombie pertama menoleh.

Kepalanya jatuh sebelum sempat mengeluarkan suara.

Zombie kedua berlari dari kanan.

Arga maju setengah langkah, menebas lehernya, lalu menendang tubuhnya ke samping agar tidak menghalangi jalan.

"Jalan," katanya.

Rombongan bergerak.

Formasi Nadira sederhana.

Arga di depan.

Kiara di kiri.

Dara di kanan.

Nadira di tengah, memegang kertas lipat dan spidol seperti komandan lapangan.

"Kelompok dua ikut rapat. Jangan bersuara. Kelompok empat awasi kanan. Kelompok tiga, tangan di bahu teman depan. Jangan lihat mayat."

Suara Nadira tidak keras.

Tetapi tajam.

Perintahnya memotong panik sebelum panik membesar.

Mereka keluar dari gerbang UNDIP melewati jalan yang sudah bukan jalan.

Aspal retak.

Air hitam menggenang sampai mata kaki.

Badan mobil menumpuk seperti sampah logam. Beberapa sepeda motor tersangkut di pagar, terbawa banjir lalu terbakar oleh Hujan Api.

Arga menghitung.

Tiga ratus meter pertama, sebelas Zombie.

Terlalu banyak.

Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, area ini seharusnya lebih kosong pada hari seperti ini. Banyak Zombie baru turun di pusat kota, bukan menumpuk di sekitar kampus.

Sekarang jumlahnya meningkat hampir dua kali.

Efek Kupu-Kupu.

Arga tidak berhenti.

Ia hanya memperpendek napas.

Zombie berlari dari balik warung fotokopi.

Arga menebas satu, menghantam rahang satu lagi dengan gagang pedang, lalu memutar tubuh. Pedang menyapu lutut tiga Zombie sekaligus. Ketika mereka jatuh, ujung pedang turun tiga kali.

Tiga Kristal diambil cepat.

Tidak semua.

Waktu lebih penting dari rampasan kecil.

"Terus," katanya.

Di belakangnya, seorang mahasiswi tersandung kaki Zombie.

Mulutnya terbuka.

Sebelum jeritan keluar, Nadira sudah mencengkeram bahunya.

"Tahan. Napas."

Gadis itu gemetar hebat.

Nadira menatap matanya.

"Kalau kamu teriak, sepuluh orang di belakangmu mati. Kamu mau itu?"

Gadis itu menggeleng dengan air mata mengalir.

"Bagus. Berdiri."

Dara menarik gadis itu dengan satu tangan.

"Pegang bajuku. Jangan lepas."

Rombongan bergerak lagi.

Lima ratus meter berikutnya lebih buruk.

Di dekat minimarket yang pintunya jebol, lebih dari dua puluh Zombie berkeliaran. Bau darah lama membuat mereka gelisah. Begitu rombongan muncul, kepala-kepala busuk itu menoleh bersamaan.

Beberapa mahasiswi mundur refleks.

"Diam di tempat," kata Arga.

Lalu ia maju.

Bukan berlari.

Ia berjalan.

Zombie pertama menerkam.

Pedang Arga menebas dari bawah ke atas, membuka tengkoraknya. Tubuh Zombie itu belum jatuh ketika Arga sudah melewati bahunya.

Tebas.

Tusuk.

Patahkan leher.

Tendang dada.

Setiap gerak pendek. Setiap gerak membunuh.

Tingkat 2 Evolver dengan tubuh dua belas kali manusia biasa tidak bertarung seperti orang.

Ia seperti mesin pemotong di tengah daging busuk.

Dara memandang dari kanan, mata melebar.

"Gila," gumamnya.

Kiara mendengarnya.

"Jangan cuma menonton."

"Aku tahu."

Satu Zombie lolos dari sisi kanan, merangkak cepat di bawah mobil.

Dara bergerak duluan.

Kakinya menghantam lutut Zombie dari samping. Pipa besi turun ke tengkuknya. Bunyi tulang retak membuat beberapa mahasiswi menggigil.

Zombie itu masih bergerak.

Dara tidak panik.

Ia memutar pinggul seperti gerakan Pencak Silat, menginjak punggung Zombie, lalu menusukkan pisau dapur ke belakang kepala.

Selesai.

Arga melihat sekilas.

Bakat tempur bagus.

Keberanian saja tidak cukup.

Ia bisa membaca jarak, mengunci sendi, dan memakai berat badan dengan benar. Dengan Ketangguhan nanti, Dara akan menjadi dinding hidup.

"Kanan, tiga ekor!" teriak Kiara pendek.

Dara sudah bergerak.

Pipanya berputar seperti angin pendek. Satu Zombie terpental ke kap mobil. Satu lagi kena lutut dan jatuh. Yang terakhir hampir mencakar seorang mahasiswi sebelum Kiara muncul di belakangnya.

Belati hitam masuk dari bawah rahang.

Kiara menariknya keluar tanpa ekspresi.

"Jangan tinggalkan garis," katanya pada Dara.

Dara meludah ke samping.

"Aku tidak sehalus kamu."

"Tidak perlu halus. Perlu tepat."

"Cerewet."

Kiara hampir tersenyum.

Hampir.

Nadira tidak sempat menikmati percakapan itu.

"Kelompok satu, geser kiri. Kelompok tiga, jangan menumpuk. Orang belakang, tutup jarak. Kalau Anda menyentuh tas teman, berarti jaraknya benar."

Di tengah bau busuk, darah, dan air hitam, perintahnya menjadi tali.

Tiga puluh dua orang biasa tidak berubah menjadi prajurit dalam dua hari.

Tetapi mereka bisa menjadi barisan.

Dan barisan bisa diselamatkan.

Satu jam pertama berlalu seperti pisau tumpul menggergaji tulang.

Arga terus membuka jalan.

Ia tidak memakai Teleportasi.

Kemampuan itu untuk keadaan mutlak. Bukan untuk menghemat langkah.

Setiap kali Zombie mendekat, ia membunuhnya sebelum rombongan kehilangan bentuk. Setiap kali ada suara dari gang, ia memakai Telepati untuk menangkap niat di baliknya.

Ketakutan.

Lapar.

Serakah.

Putus asa.

Kota ini penuh pikiran manusia yang lebih kotor dari air banjir.

Di pertigaan menuju jalan besar, mereka bertemu kelompok pertama.

Enam orang pria dan dua wanita berdiri di atas atap ruko rendah. Mereka memegang kayu, parang, dan botol pecah.

Salah satu pria berteriak, "Hei! Bawa makanan tidak?"

Nadira langsung mengangkat tangan.

Rombongan berhenti rapat.

Arga tidak menjawab.

Ia hanya menoleh.

Pria itu melihat pedang di tangannya, darah di lengan Combat Suit, dan mayat Zombie yang berjatuhan di belakangnya.

Teriakan kedua tidak keluar.

Arga membaca pikirannya.

Mau minta. Kalau lemah, rampas.

Arga mengangkat pedang sedikit.

Tidak tinggi.

Cukup agar darah menetes dari ujungnya ke genangan.

Pria di atap mundur.

"Lewat... lewat saja."

Arga berjalan lagi.

Tidak ada negosiasi.

Negosiasi hanya untuk pihak yang punya nilai.

Kelompok kedua lebih berbahaya.

Mereka muncul setelah rombongan melewati pasar kecil yang separuh terbakar.

Sekitar lima puluh pria.

Sebagian memakai jaket kampus. Sebagian telanjang dada. Mereka berdiri di jalan layang rendah, menatap rombongan mahasiswi seperti melihat gudang terbuka.

Mata mereka berhenti pada tas.

Lalu pada wajah.

Lalu pada tubuh.

Nadira merasakan perubahan udara.

Dara menggenggam pipa lebih keras.

Kiara menundukkan tubuh sedikit, siap melompat.

Para mahasiswi di tengah mulai gemetar.

Seseorang berbisik, "Kak Nadira..."

"Diam," kata Nadira.

Arga maju sendirian.

Lima puluh pasang mata menatapnya.

Seorang pria bertubuh besar turun dua langkah.

"Banyak juga rombonganmu."

Arga berhenti sepuluh meter di depannya.

"Minggir."

Pria itu tersenyum miring.

"Jalan milik umum."

Arga tidak menjawab.

Ia melepaskan tekanan tubuhnya.

Bukan kemampuan khusus.

Hanya hasil dari kekuatan dua belas kali manusia biasa, pengalaman enam tahun membunuh, dan niat membantai yang sengaja dibiarkan keluar.

Udara terasa turun.

Pria besar itu mendadak kaku.

Di matanya, Arga berubah menjadi satu-satunya jalan keluar.

Ia seperti tepi jurang.

Seperti sesuatu yang jika disentuh, akan membuat seluruh kelompoknya hilang.

Telepati menangkap pecahan pikiran dari lima puluh orang itu.

Dia berbahaya.

Jangan.

Pedangnya asli.

Dia sudah bunuh banyak.

Pria besar itu menelan ludah.

"Kami... cuma lewat."

"Bagus."

Arga melangkah maju.

Kelompok pria itu membuka jalan.

Tidak ada yang berani menyentuh satu tas pun.

Ketika rombongan lewat, beberapa mahasiswi menangis tanpa suara. Rasa takut bercampur dengan lega yang terlambat datang.

Karena untuk pertama kali sejak kiamat dimulai, ada seseorang yang membuat lima puluh pria lapar memilih mundur.

Setelah jalan layang, serangan Zombie datang lebih padat.

Suara manusia dari kelompok pria tadi menarik gerombolan dari dua gang.

Tiga puluh lebih Zombie bergerak bersamaan.

Arga menghela napas.

"Nadira. Tahan tengah."

"Semua jongkok setengah. Kelompok empat, luar. Kelompok tiga, tutup mata kalau perlu, tapi jangan lepas pegangan!"

"Kiara, kiri."

"Aku ambil."

"Dara, kanan."

"Akhirnya."

Pertempuran pecah.

Arga menabrak gerombolan depan.

Pedang Hi-Tech menyala redup oleh gesekan darah. Kepala Zombie beterbangan. Lengan putus. Kaki patah. Arga tidak mundur satu langkah pun.

Tetapi tubuh manusia punya batas.

Dua jam lebih membuka jalan untuk tiga puluh dua orang bukan duel biasa.

Ia harus membunuh cepat, menjaga suara, membaca gang, mengatur jarak, dan memastikan tidak ada Zombie menembus ke tengah.

Keringat menetes di lehernya.

Lengan kanannya mulai berat.

Zombie Tingkat 1 memang lemah di hadapannya, tetapi jumlah bisa menggerus baja.

Seekor Zombie menerobos dari bawah gerobak sayur.

Ia tidak menuju Arga.

Ia menuju kelompok tiga.

Seorang mahasiswi membeku.

Dara meraung.

Ia melompat ke depan, pipa menghantam wajah Zombie sampai separuh tengkoraknya penyok. Lalu tubuhnya berputar rendah, kaki menyapu pergelangan Zombie lain, gerakan Pencak Silat yang dulu dilatih untuk pertandingan kini berubah menjadi teknik bertahan hidup.

Pipa itu patah di pukulan berikutnya.

Dara tidak berhenti.

Ia memakai sisa pipa seperti tongkat pendek, menghantam pelipis, menusuk mata, menendang lutut.

"Maju!" teriaknya. "Jangan berhenti di belakangku!"

Nadira langsung menangkap ritme.

"Kelompok dua, tarik kelompok tiga. Kelompok satu, lindungi tas. Semua bergerak tiga langkah. Sekarang!"

Barisan yang hampir pecah tersambung lagi.

Kiara muncul dan hilang di sisi kiri, belum memakai Bayangan, tetapi geraknya sudah seperti bayangan tipis. Setiap belati keluar, satu Zombie jatuh.

Arga melihat semuanya.

Cukup.

Tim ini mentah.

Tapi tulangnya ada.

Ia menurunkan pusat berat badan.

Pedang di tangan kanannya berpindah ke kiri.

Tangan kanan meraih kepala Zombie terdekat, menghancurkannya ke dinding ruko.

Satu.

Dua.

Tiga.

Jalur depan terbuka paksa.

"Lari kecil," kata Arga.

Nadira mengulang tanpa ragu.

"Lari kecil! Jangan saling dorong!"

Rombongan bergerak menembus genangan darah.

Hotel akhirnya terlihat saat langit mulai gelap.

Gedung tinggi itu berdiri seperti batu hitam di tengah kota yang membusuk. Lantai bawah masih rusak oleh banjir. Pintu depan hancur. Bekas mayat Zombie yang pernah Arga bersihkan mulai membusuk di sudut lobby.

Beberapa penghuni lantai atas mengintip dari jauh.

Mereka melihat Arga datang dengan tiga puluh dua wanita di belakangnya.

Mereka juga melihat darah di pedangnya.

Tidak ada yang turun bertanya.

Pintar.

Di lobby, Arga membunuh tujuh Zombie tersisa tanpa berhenti.

Tangga darurat menjadi ujian terakhir.

Naik dua puluh satu lantai untuk orang kelaparan dan ketakutan bukan hal kecil.

Tetapi tidak ada pilihan.

Lift mati.

Arga berdiri di bawah tangga.

"Sepuluh lantai pertama, Dara pimpin. Kiara tutup belakang. Nadira hitung orang setiap tiga lantai."

"Baik," jawab Nadira.

Dara memutar sisa pipa yang sudah bengkok.

"Yang jatuh, aku seret."

Kiara menatap penghuni hotel yang mengintip dari lorong lantai dua.

"Yang mengganggu, aku bunuh."

Tidak ada yang mengganggu.

Ketika mereka sampai di lantai dua puluh satu, beberapa mahasiswi langsung jatuh duduk di koridor.

Ada yang muntah.

Ada yang menangis keras.

Ada yang mencium lantai seperti baru kembali dari neraka.

Nadira tidak membiarkan tangis itu berubah menjadi kekacauan.

"Hitung."

Suaranya serak, tetapi tetap jelas.

"Kelompok satu?"

"Delapan."

"Kelompok dua?"

"Delapan."

"Kelompok tiga?"

"Delapan."

"Kelompok empat?"

"Delapan."

Tiga puluh dua.

Nol korban.

Baru setelah angka itu keluar, bahu Nadira turun sedikit.

Dara duduk bersandar ke dinding, tertawa dengan napas putus-putus.

"Gila. Aku kira minimal ada yang mati."

Kiara membersihkan belatinya.

"Kamu hampir membuat dua orang mati karena terlalu maju."

"Tapi tidak mati."

"Karena aku tutup."

"Ya, ya. Terima kasih, Kak Kiara."

Kiara meliriknya.

Dara menyeringai, lalu meringis karena lengannya gemetar.

Arga membuka pintu beberapa kamar kosong di lantai dua puluh satu.

Kamar-kamar itu milik orang yang sudah mati dalam pembersihan sebelumnya. Bau darah lama masih tertinggal, tetapi bisa dibersihkan. Dibanding perpustakaan yang dikepung Zombie, tempat ini adalah surga.

"Nadira."

"Ya."

"Kamar dibagi sekarang. Yang luka ringan satu kamar. Yang mentalnya runtuh jangan ditinggal sendiri. Barang masuk kamar tengah. Tidak ada yang masuk suite utama tanpa izin."

Nadira langsung mengambil kertas.

"Dara, kumpulkan yang kuat untuk bersihkan kamar. Kiara, saya butuh batas wilayah yang tidak boleh dilewati. Kelompok satu, air dulu. Kelompok dua, ambil kain apa pun untuk membersihkan darah. Kelompok tiga, duduk di sini, jangan menyebar. Kelompok empat, jaga tangga."

Perintah mengalir.

Tanpa jeda.

Arga bersandar sebentar di dinding.

Otot bahunya panas.

Napasnya masih stabil, tetapi bagian dalam tubuhnya kosong seperti mesin yang dipaksa bekerja terlalu lama.

Kiara mendekat.

"Kamu pucat."

"Tidak apa-apa."

"Itu jawaban orang yang pasti apa-apa."

Arga melihatnya.

Kiara tidak mundur.

Ia mengambil botol air otomatis dari Cincin Dimensi miliknya, menyerahkannya.

"Minum."

Arga menerimanya.

Dulu, Kiara akan meminta izin untuk melakukan itu.

Sekarang ia memerintah.

Perubahan bagus.

Malam turun.

Lantai dua puluh satu berubah dari koridor mati menjadi markas kasar.

Kasur hotel dipindah. Seprai kotor dibuang. Pintu kamar yang rusak ditahan dengan meja. Barang dari perpustakaan disusun di kamar tengah. Air dan makanan dibagi ketat.

Beberapa mahasiswi masih menangis.

Tetapi suara tangisnya berbeda.

Bukan suara orang menunggu mati.

Suara orang yang akhirnya punya dinding di belakang punggung.

Arga duduk di sofa suite utama, mata setengah tertutup.

Kiara berjaga dekat jendela.

Dara tidur di lantai koridor dengan pipa patah masih dalam pelukan.

Lewat tengah malam, pintu suite diketuk pelan.

"Masuk," kata Arga.

Nadira masuk.

Wajahnya pucat karena lelah. Rambutnya diikat asal. Tetapi matanya masih tajam.

Di tangannya ada satu bundel kertas.

"Saya sudah membuat daftar sementara."

Arga membuka mata.

Nadira meletakkan kertas itu di meja.

Tiga puluh dua nama.

Kondisi fisik.

Keberanian.

Kepatuhan.

Potensi tempur.

Potensi logistik.

Jadwal jaga.

Alokasi makanan.

Catatan psikologis.

Bahkan ada tanda untuk orang yang harus dijauhkan dari pisau sampai stabil.

Arga membaca tiga halaman pertama.

Lalu ia tertawa pelan.

Jarang.

Cukup membuat Kiara menoleh.

"Kamu lebih cocok jadi pengurus daripada yang kubayangkan."

Nadira menatapnya dingin.

"Saya bukan pengurus."

Ia menunjuk kertas di meja.

"Saya manajer."

Arga tersenyum tipis.

Nadira melanjutkan, "Besok, saya mau bicara soal aturan tim."

Di luar jendela, kota Semarang masih tenggelam dalam gelap, darah, dan suara Zombie.

Di lantai dua puluh satu, untuk pertama kalinya, Arga melihat bentuk awal dari sesuatu yang bisa bertahan lebih lama dari satu orang kuat.

Sebuah tim.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!