NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMPAT SEMUANYA DIMULAI

Pukul 06.30 pagi.

Alya berdiri di depan mobil Raka.

Hari ini tanggal 17 Agustus.

Dua puluh lima tahun lalu, di hari yang sama, ayah Raka mengalami kecelakaan yang mengakhiri hidupnya.

Dan hari ini seseorang meminta mereka datang ke tempat itu.

Sendiri.

Alya memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Sudah siap?”

Raka mengangguk.

“Siap.”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”

“Saya tahu.”

“Kalau ada sesuatu yang mencurigakan—”

“Kita pergi.”

Alya tersenyum tipis.

“Bagus.”

Raka menatapnya beberapa detik.

“Kamu masih bisa berubah pikiran.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena saya ingin kebenaran.”

Raka membuka pintu mobil.

“Kalau begitu kita pergi.”

PUKUL 08.00

Tempat kecelakaan itu berada di sebuah jalan lama yang kini sudah jarang digunakan.

Dua puluh lima tahun telah mengubah banyak hal.

Pohon-pohon di pinggir jalan semakin besar.

Aspal sudah diperbaiki.

Namun tikungan tajam itu masih ada.

Raka turun dari mobil.

Dia berdiri cukup lama.

Alya tidak mengganggu.

Dia tahu tempat itu menyimpan kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang.

“Ayah saya meninggal di sini.”

Alya berdiri di sampingnya.

“Dua puluh lima tahun lalu?”

“Ya.”

Raka menunjuk sisi jalan.

“Mobilnya ditemukan di bawah sana.”

Mereka berjalan turun.

Tidak ada siapa-siapa.

Alya melihat sekeliling.

“Tidak ada orang.”

Raka mengangguk.

“Mungkin memang jebakan.”

“Lalu kenapa kita diminta datang?”

Raka tidak menjawab.

Alya melihat sebuah batu besar di dekat pohon.

Ada sesuatu di bawahnya.

“Raka.”

Dia mendekat.

Di bawah batu terdapat sebuah kotak logam kecil.

Raka mengambilnya.

Kotak itu terkunci.

Alya melihat sekeliling.

“Pakai ini.”

Dia memberikan penjepit kecil dari tasnya.

Raka tertawa.

“Kamu bawa apa saja?”

“Pengalaman kerja.”

Beberapa detik kemudian kunci terbuka.

Di dalamnya terdapat tiga benda.

Sebuah kaset lama.

Sebuah foto.

Dan sebuah kunci mobil.

Raka mengambil foto.

Wajahnya langsung berubah.

“Ini ayah saya.”

Alya melihat foto tersebut.

Ayah Raka berdiri bersama tiga orang.

Dimas.

Surya.

Dan—

Bram Santoso.

Ayah Reza.

Di belakang foto tertulis:

17 Agustus 2001 — Pertemuan terakhir.

Alya menatap Raka.

“Berarti mereka memang bertemu di sini.”

Raka mengangguk.

“Dan bukan karena kecelakaan.”

Dia mengambil kaset.

“Sekarang kita perlu tahu apa yang terjadi.”

REKAMAN LAMA

Mereka membawa kaset itu ke seorang teman lama keluarga yang masih memiliki pemutar kaset.

Suara berisik terdengar.

Kemudian percakapan mulai terdengar.

Suara pertama adalah ayah Raka.

“Saya sudah tahu semuanya.”

Suara kedua—

Dimas.

“Anda tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”

Ayah Raka menjawab,

“Saya tahu uang perusahaan dipindahkan.”

Hening.

Kemudian suara Bram.

“Aditya, dengarkan saya.”

Raka menatap Alya.

Percakapan terus berjalan.

Ayah Raka mengatakan bahwa dia akan membawa semua bukti kepada polisi dan dewan.

Dimas terdengar panik.

Kemudian Bram mengatakan sesuatu yang membuat Raka membeku.

“Kalau kamu membuka semuanya, bukan hanya Dimas yang jatuh.”

Suara ayah Raka terdengar tegas.

“Siapa lagi?”

Hening.

Kemudian Bram menjawab,

“Orang yang lebih tinggi dari kami.”

Rekaman berhenti.

Alya menatap layar pemutar.

“Orang yang lebih tinggi?”

Raka mengangguk.

“Berarti Dimas bukan dalang.”

“Tapi siapa?”

Raka tidak menjawab.

Mereka memutar bagian akhir kaset.

Suara ayah Raka kembali terdengar.

“Saya akan bertemu dengannya malam ini.”

Dimas bertanya,

“Sendiri?”

“Ya.”

“Jangan.”

“Saya harus menyelesaikan ini.”

Kemudian suara mobil terdengar.

Rekaman berakhir.

Alya terdiam.

“Jadi kecelakaannya terjadi setelah pertemuan itu.”

Raka mengangguk.

“Dan orang terakhir yang ditemui ayah saya belum diketahui.”

SATU PETUNJUK

Kunci mobil yang mereka temukan kemudian diperiksa.

Ternyata bukan kunci mobil ayah Raka.

Itu kunci mobil milik Surya.

Alya mengerutkan kening.

“Kenapa kuncinya ada di sini?”

Raka berpikir.

“Karena Surya mungkin kembali ke tempat ini.”

“Setelah kecelakaan?”

“Mungkin.”

Mereka mencari data kendaraan lama.

Plat nomor kendaraan Surya ditemukan.

Kemudian muncul sesuatu yang mengejutkan.

Kendaraan itu tercatat masuk ke sebuah bengkel beberapa jam setelah kecelakaan.

Bengkel tersebut masih ada.

Dan pemiliknya masih hidup.

Raka langsung berdiri.

“Kita ke sana.”

PUKUL 14.00

Pemilik bengkel tua itu awalnya tidak mengenali nama Surya.

Namun ketika Raka menunjukkan foto mobilnya—

wajah pria itu berubah.

“Saya ingat.”

Raka langsung bertanya,

“Mobil ini masuk kapan?”

“Malam tanggal 17.”

“Siapa yang membawa?”

Pria itu diam.

“Saya tidak tahu namanya.”

“Laki-laki?”

“Ya.”

“Seperti apa?”

Pria itu berpikir.

“Usianya sekitar empat puluh.”

“Ciri-ciri?”

“Jas hitam.”

Alya bertanya,

“Ada lagi?”

Pria itu mengangguk.

“Dia membawa mobil lain.”

“Mobil apa?”

“Sedan hitam.”

Raka dan Alya saling menatap.

“Plat nomornya?”

Pria itu menggeleng.

Namun kemudian berkata,

“Saya punya sesuatu.”

Dia masuk ke ruang belakang.

Beberapa menit kemudian kembali membawa buku catatan lama.

Dia membuka halaman tertentu.

Ada catatan nomor kendaraan.

Raka membaca.

Kemudian membeku.

Plat nomor itu cocok dengan kendaraan perusahaan Mahendra Group pada tahun tersebut.

Alya menatapnya.

“Siapa yang menggunakan mobil itu?”

Raka langsung mengenali nomor tersebut.

“Direktur Keuangan.”

“Dimas?”

Raka mengangguk.

SEMUA TERHUBUNG

Dimas berada di lokasi.

Surya juga berada di sana.

Ayah Raka ada di sana.

Dan setelah itu terjadi kecelakaan.

Namun ada satu bagian yang masih tidak masuk akal.

Kalau Dimas adalah pelakunya—

kenapa dia masih berada di perusahaan selama puluhan tahun?

Alya berkata,

“Karena dia bukan orang terakhir yang ditemui ayahmu.”

Raka menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Orang yang datang setelah Dimas.”

Raka diam.

“Dimas mungkin hanya membawa ayahmu ke tempat itu.”

“Lalu?”

“Orang lain yang menyelesaikannya.”

Raka menatap Alya.

“Berarti kita masih mencari satu orang.”

Alya mengangguk.

“Tapi sekarang kita punya bukti bahwa Dimas terlibat.”

MALAM

Mereka kembali ke Bali.

Raka langsung menghubungi pengacara.

Semua bukti diserahkan:

surat ayahnya,

transaksi keuangan,

rekaman,

foto,

catatan bengkel,

dan bukti keberadaan kendaraan perusahaan.

Untuk pertama kalinya, kasus tersebut memiliki dasar yang kuat.

Namun Raka masih terlihat murung.

Alya duduk di sampingnya.

“Kenapa?”

“Karena saya masih belum tahu siapa orang terakhir.”

“Tidak apa-apa.”

“Saya ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian ayah saya.”

Alya menggenggam tangannya.

“Kita akan menemukannya.”

Raka menatapnya.

“Kalau ternyata orang itu masih hidup?”

“Kita hadapi.”

“Kalau dia orang yang kita kenal?”

Alya terdiam.

“Lebih baik tahu kebenarannya daripada hidup dengan kebohongan.”

Raka mengangguk.

KEESOKAN PAGI

Pukul 07.00.

Raka menerima telepon dari pengacara.

“Ada perkembangan.”

“Apa?”

“Kami berhasil melacak kendaraan kedua.”

Raka langsung berdiri.

“Siapa pemiliknya?”

Pengacara menjawab,

“Mobil itu terdaftar atas nama perusahaan.”

“Perusahaan apa?”

Hening sebentar.

Kemudian—

“Mahendra Group.”

Raka membeku.

“Tidak mungkin.”

“Dokumennya ada.”

“Siapa yang menggunakannya?”

“Nama yang tercatat sebagai pengguna kendaraan malam itu…”

Raka menahan napas.

“Siapa?”

Pengacara menjawab,

“Aditya Mahendra.”

Raka terdiam.

“Mobil ayah saya?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Mobil tersebut terdaftar atas nama perusahaan, tetapi digunakan oleh seseorang yang mendapat izin khusus dari ayah Anda.”

Raka mengerutkan kening.

“Siapa?”

Pengacara menjawab,

“Bram Santoso.”

Raka membeku.

SEMENTARA ITU

Reza datang ke kantor.

Alya menemuinya.

“Kamu tahu tentang mobil itu?”

Reza mengangguk.

“Saya tahu.”

“Mobil ayahmu?”

“Ya.”

Alya menatapnya.

“Kenapa dia menggunakannya malam itu?”

Reza menarik napas.

“Karena ayah saya diminta datang oleh ayahmu.”

“Untuk apa?”

“Saya tidak tahu.”

“Reza.”

Dia menatap Alya.

“Yang saya tahu hanya satu.”

“Apa?”

“Malam itu ayah saya pulang dalam keadaan sangat ketakutan.”

Alya terdiam.

“Dia tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi.”

“Lalu kenapa keluargamu menyalahkan keluarga Mahendra?”

“Karena keesokan harinya ayah saya mengatakan bahwa Aditya telah menghancurkan keluarga kami.”

Alya mulai memahami.

“Jadi kamu tumbuh dengan cerita bahwa ayah Raka adalah penyebab semuanya.”

“Ya.”

“Padahal mungkin tidak.”

Reza tersenyum pahit.

“Mungkin.”

Kemudian dia mengeluarkan sebuah benda.

Sebuah kunci kecil.

Alya mengenalinya.

“Itu…”

“Kunci loker ayah saya.”

“Di mana lokernya?”

Reza menatapnya.

“Di rumah lama keluarga saya.”

Alya langsung berdiri.

“Bawa kami ke sana.”

Reza mengangguk.

RUMAH KELUARGA SANTOSO

Mereka menemukan sebuah ruang penyimpanan yang sudah lama tidak dibuka.

Kunci tersebut membuka loker tua.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.

Foto.

Surat.

Dan sebuah buku catatan.

Reza membukanya.

Halaman terakhir membuat wajahnya pucat.

Ada tulisan tangan Bram:

“Jika sesuatu terjadi kepada saya, jangan percaya kepada Dimas.”

Alya menatap Raka.

Raka kemudian mengambil halaman berikutnya.

Hanya ada satu kalimat.

“Orang yang sebenarnya mengatur semuanya bukan Dimas.”

Di bawahnya terdapat sebuah nama.

Alya membaca.

Kemudian membeku.

Raka mengambil buku itu.

Wajahnya berubah total.

Karena nama yang tertulis di sana bukan nama Dimas.

Bukan nama Reza.

Bukan pula nama orang asing.

Melainkan nama seseorang yang selama ini paling mereka percaya.

Ibu Raka.

Alya menatap Raka.

Raka tidak bergerak.

“Tidak…”

Dia membaca nama itu sekali lagi.

Tangannya gemetar.

“Tidak mungkin.”

Namun untuk pertama kalinya, bukti yang mereka temukan tidak mengarah kepada musuh di luar keluarga.

Bukti itu mengarah kepada orang yang selama dua puluh lima tahun dipercaya Raka sebagai korban dari semua kejadian tersebut.

Dan jika tulisan Bram benar—

maka selama ini Raka mungkin telah membenci orang yang salah.

Sementara orang yang sebenarnya berada di balik tragedi keluarganya…

ada jauh lebih dekat daripada yang pernah dia bayangkan.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!