Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Cincin yang Ditolak
“Ya, lukisan itu milikku.”
Jawaban Renata menutup percakapan di area parkir malam itu.
Ketika Nathan bertanya kenapa ia tidak pernah tahu, Renata hanya berkata, “Karena kamu nggak pernah bertanya.”
Lalu ia masuk ke mobil bersama Tania dan pergi.
Keesokan siangnya, Nathan memanggil Cheryl ke kantor pribadinya di Prima Aeroteknik.
Perempuan itu datang membawa kopi yang biasa ia pesan. Ia meletakkan cangkir di meja dan tersenyum hati-hati.
“Kamu belum membalas pesanku sejak semalam.”
Nathan tidak menyentuh kopi tersebut. “Kenapa kamu bilang lukisan itu milikmu?”
“Aku sudah menjelaskan. Gayanya sangat mirip dengan lukisan lama yang pernah kubuat.”
“Kamu bilang melukisnya setelah AG2331.”
Cheryl terdiam sepersekian detik.
“Aku panik karena semua orang melihatku. Mungkin kata-kataku salah.” Ia duduk di depan meja Nathan. “Sebenarnya aku cuma nggak ingin pelukis aslinya merasa malu. Waktu itu aku belum tahu orangnya Rena.”
“Jadi kamu mengaku sebagai pelukis untuk melindungi orang yang bahkan nggak kamu kenal?”
Mata Cheryl mulai memerah. “Kenapa kamu menginterogasiku seperti ini? Hanya karena satu kesalahpahaman?”
Biasanya, perubahan wajah itu cukup untuk membuat Nathan menghentikan pertanyaan. Kali ini ia justru memandangnya lebih teliti.
Ia teringat catatan rumah sakit, jadwal Singapura, dan cerita penyelamatan yang seluruhnya bersumber dari mulut Cheryl.
“Aku hanya bertanya tentang lukisan,” katanya.
“Kamu berubah sejak rekaman pernikahan itu tersebar.”
Nathan membuka laci meja dan mengeluarkan foto cincin merah muda dari katalog sertifikasi.
“Jual cincin itu kepadaku.”
Wajah Cheryl membeku. Tangannya refleks menyentuh tas, tempat ia biasa menyimpan kotak cincin sejak berhenti memakainya di depan publik.
“Aku membelinya secara sah dari Rena.”
“Aku tahu.”
“Dia sendiri yang menjualnya. Kenapa sekarang kamu ingin mengambilnya?”
“Aku nggak mengambil. Aku membeli.” Nathan mendorong dokumen penawaran ke arahnya. “Enam puluh miliar rupiah. Tiga kali harga yang kamu bayar.”
Cheryl menatap angka itu. Bagi orang lain, tawaran tersebut mustahil ditolak. Namun cincin itu bukan hanya perhiasan. Benda itu adalah bukti bahwa Renata pernah melepaskan sesuatu yang seharusnya melambangkan posisi istri.
Selama cincin berada di tangannya, Cheryl merasa telah menang.
“Aku suka cincin ini.”
“Sebut angka lain.”
“Bukan soal uang.”
“Kamu membelinya dengan uang.”
Nada Nathan tetap datar, tetapi jarak di antara mereka terasa berbeda. Cheryl menyadari secangkir kopi di meja belum disentuh. Dulu Nathan akan meminumnya meski sudah dingin hanya karena ia yang membawa.
“Kamu mau memberikannya kembali kepada Rena?”
“Itu bukan urusanmu.”
Kalimat tersebut lebih menyakitkan daripada penolakan.
Cheryl menelan emosinya. Menahan cincin hanya akan membuat Nathan semakin curiga, sementara ia belum tahu sejauh apa lelaki itu memeriksa cerita lama.
“Baik,” katanya akhirnya. “Tapi aku melakukannya karena kamu meminta.”
“Pengacara akan menyelesaikan jual beli hari ini.”
Sore itu, setelah sertifikat dan pembayaran berpindah, kotak beludru merah muda kembali berada di tangan Nathan.
Prosesnya dilakukan di ruang rapat kecil dengan pemeriksa perhiasan yang sama seperti saat Renata menjual cincin. Nomor sertifikat dicocokkan, berlian diperiksa, lalu Cheryl menandatangani pelepasan kepemilikan.
“Transaksi selesai,” kata pengacara.
Cheryl tetap duduk ketika semua dokumen dibereskan. “Kalau Rena menolaknya, kamu akan mengembalikan cincin ini kepadaku?”
Nathan menutup kotak. “Tidak.”
“Kenapa? Kamu bahkan nggak mencintainya.”
Kalimat itu pernah terdengar begitu jelas baginya. Kini Nathan justru tidak bisa langsung menyetujuinya.
“Pulanglah, Cheryl.”
Ia meninggalkan ruangan lebih dulu. Di balik pintu, ia mendengar kursi bergeser keras, tetapi tidak berbalik.
Ia membukanya di dalam mobil. Berlian merah muda tersebut menangkap cahaya senja, indah dan dingin. Tiga tahun lalu ia memilih cincin itu karena Opa mendesaknya menyiapkan pernikahan. Ia bahkan tidak ingat ekspresi Renata ketika pertama kali menerimanya.
Sekarang ia menghabiskan enam puluh miliar untuk membawanya kembali, seolah harga tinggi dapat memperbaiki makna yang pernah ia abaikan.
Menjelang malam, Nathan menemukan Renata di lorong kamar Puri Teratai.
Bik Inah baru saja mengantarkan pakaian bersih dan berhenti ketika melihat kotak di tangan Nathan.
“Rena.”
Renata menoleh. Nathan menyodorkan kotak itu.
“Apa?”
“Buka.”
Renata tidak mengambilnya, jadi Nathan membuka tutup kotak sendiri. Kilau merah muda muncul di antara mereka.
Bik Inah menarik napas kecil, lalu tersenyum penuh harap.
“Aku membelinya kembali,” kata Nathan. “Barang ini seharusnya ada padamu.”
Renata hanya melihat cincin itu sekali.
“Kapten, barang yang sudah dijual bukan milik saya lagi.”
“Aku mengembalikannya.”
“Aku nggak memintanya kembali.”
Nathan mengerutkan kening. “Itu cincin pernikahan kita.”
“Pernikahan yang kamu sembunyikan.”
“Sekarang semua orang tahu.”
“Dan itu membuat tiga tahun sebelumnya hilang?”
Nathan tak bisa menjawab.
Bik Inah mundur pelan, meninggalkan mereka di lorong.
“Aku membayar tiga kali lipat untuk mengambilnya dari Cheryl,” ujar Nathan.
“Itu pilihanmu.”
“Enam puluh miliar bukan angka kecil.”
“Aku menjualnya bukan karena nggak tahu nilainya.” Renata menatap tepat ke matanya. “Aku menjualnya karena nilainya sudah nggak berarti bagiku.”
Nathan merasakan kotak kecil itu semakin berat di telapak tangan.
“Apa yang harus kulakukan supaya kamu menerimanya?”
Pertanyaan tersebut keluar sebelum ia sempat menahan diri.
Renata tampak sedikit terkejut, tetapi hanya sesaat.
“Cincin bukan hati. Dibeli lagi juga tetap kosong.”
Ia membuka pintu kamar tamu.
“Rena.”
“Selamat malam, Kapten.”
Pintu tertutup lembut di depan Nathan.
Ia berdiri sendirian di lorong, memegang benda yang dulu Renata kenakan tanpa pernah ia hargai. Kini ketika ia ingin mengembalikannya, perempuan itu bahkan tidak mau menyentuh kotaknya.
Bik Inah muncul lagi dari ujung lorong. “Nyonya dulu selalu membersihkan cincin itu sendiri,” katanya pelan. “Meskipun Tuan nggak pernah bertanya.”
Nathan menoleh. “Kenapa Bik Inah baru bilang sekarang?”
“Karena dulu Tuan nggak mau mendengar apa pun soal Nyonya.”
Perempuan itu mengambil keranjang pakaian dan pergi, meninggalkan luka kecil lain yang tidak dapat Nathan bantah.
Ia mencoba mengingat tangan Renata saat masih memakai cincin itu. Yang muncul justru pagi-pagi ketika ia melewati meja makan tanpa duduk, malam saat Renata tertidur di sofa menunggunya, serta pesan-pesan singkat yang selalu ia abaikan.
Mungkin cincin itu tidak menjadi kosong ketika dijual.
Mungkin ia sendiri yang mengosongkannya sedikit demi sedikit.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa uang tak selalu bisa membeli kesempatan kedua yang sudah disia-siakan.
Nathan memasukkan cincin ke saku dalam jas, tepat di dekat dada.
“Suatu hari kamu akan memakainya lagi,” gumamnya.
Di dalam kamar, Renata mendengar samar tetapi tidak membalas.
Di jalan menuju apartemennya, Cheryl menggenggam salinan bukti transfer sampai kertasnya kusut.
Cincinnya sudah hilang.
Namun ia tidak akan menyerahkan Nathan kepada Renata.