NovelToon NovelToon
Bocah Kambil

Bocah Kambil

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:523.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Doris Gaverna

Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.

Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.

Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.

Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

014. Episode 14

Bimo berjalan menuju kamarnya setelah memakirkan sepedanya dari garasi. Tubuhnya berbau asam karena terlalu banyak berkeringat hari ini.

“Aku pulang,” salam Bimo saat sampai di ruang tengah.

“Selamat datang. Kau pulang agak terlambat hari ini.”

Sebuah suara datang dari arah tangga. Bimo melayangkan pandangan. Seorang wanita bergaun tidur hijau selutut yang hanya menutupi sebagian dadanya yang besar berdiri bersandar di pegangan tangga dengan pose yang aneh. Sangat cantik. Dari tampangnya, mungkin usianya tidak terpaut jauh dengan Bimo.

“Kau? Sejak kapan kau di sini?” tanggap Bimo dingin.

Wanita itu tertawa. Giginya yang putih rapi dan bibir tipis yang dipoles dengan lipstik merahnya mengembang. Rambut coklat bergelombangnya terayun menutupi sebelah pundaknya. Ia berjalan dengan pelan turun dari tangga tersebut.

“Ternyata kau tidak berubah, ya? Masih adik tengil dan dingin. Tidak seperti adikmu, Pras itu ramah, sopan, dan tidak kasar. Kakaknya pulang, bukannya disambut dengan baik, malah disambar. Mau sampai kapan kau seperti itu?”

“Bukan urusanmu.”

“Ho, jadi begitu. Kau tidak suka aku di sini?”

“Diamlah, Jodie. Kalau kau bertanya ‘kau tidak suka aku di sini?’, maka jawabannya ‘ya’,” desis Bimo. Kakaknya, Jodie memang membuatnya selalu kesal. Semua kekesalannya pada Jodie hari ini bersumber dari traumanya di masa lalu. Jodie selalu ingin menang sendiri. Segala yang dimiliki Bimo, selalu dirampas dan direbut oleh Jodie. Tapi, entahlah.

Jodie tertawa sinis. Kakak Bimo yang penyanyi itu mendekati Bimo yang masih berdiri di sebelah buffet dengan tas merah yang tetap setia di punggungnya. Kuku ujung jari lentiknya yang dicat merah terang menyusuri wajah Bimo yang licin.

“Begitu rupanya. Sebenci itukah kau padaku? Hmm? Ayah akan sangat kecewa melihat satu-satunya putra yang dapat diandalkannya bertingkah kekanakan begini.” Jodie menjentikkan jarinya ke hidung mancung adiknya. Bimo yang merasa risih langsung menepis tangan kakaknya dengan kasar.

“Aku tidak peduli.”

“Aku tahu. Tapi aku masih penasaran,”

Bimo melirik tajam ke arah Jodie. “Penasaran soal apa?”

Jodie tertawa jahat sekali lagi. “Aku penasaran. Apakah si tampan di hadapanku ini masih mengalami kendala dalam percintaan?”

Bimo spontan mendorong tubuh Jodie dengan kasar menggunakan satu lengan besarnya. “Jangan pernah ungkit tentang hal itu lagi.”

Bimo langsung pergi naik ke atas dengan dengusan nafas di setiap langkahnya. Suara dentuman pintu yang dibanting keras terdengar sampai lantai bawah.

Jodie tersenyum sinis. Tangannya menyilang di dada dengan salah satu lengan memainkan ujung poninya yang bergelombang. Lidahnya menjulur ke tepi bibir merahnya.

“Rupanya adikku masih mengalami kelainan.”

Jodie lalu berjalan santai menuju kamarnya.

Bimo merasa sangat marah. Dibantingnya tas yang tak bersalah ke pojok kamar. Ia pegang dengan kesal kepalanya dengan kedua tangannya yang agak gemetar. Dirinya berusaha menenangkan diri dengan duduk di kasur. Hatinya mengumpat tak karuan. Ia bingung harus melakukan apa. Akhirnya, dirinya memutuskan untuk mandi.

Saat akan beranjak, kakinya menginjak sesuatu. Sebuah buku agenda—bersampul kuning cerah yang sedikit kemerahan di setiap pojoknya, ber-glitter dengan stiker beruang teddy di pojok kanan atas—teronggok di lantai dekat kakinya. Bimo memungut benda itu. Ditaruhnya benda itu di atas meja belajar yang berantakan dengan asal untuk dilihat nanti. Posisi buku itu ada di ujung meja.

Pintu kamar mandi tertutup digantikan dengan suara gemericik air dari dalam.

Angin berhembus lembut membuat tirai kamar Bimo tersingkap. Gemerlap lampu kota terlihat jelas dari luar jendela kamarnya. Suara gesekan dedaunan pepohonan membungkus suasana kota yang lumayan dingin malam ini. Bulan purnama menyinari gedung-gedung dengan samar.

Angin berhembus semakin kencang, membuat buku yang diletakkan di meja belajar tadi terbuka beberapa halaman. Namun angin berhembus lebih kencang lagi tak lama setelahnya. Buku itu terlempar jatuh ke bawah bersama benda-benda ringan lainnya.

Bimo keluar dari kamar mandi dengan celana kolor dan kaus oblong putih. Rambutnya basah dan belum disisir rapi. Dirinya yang melihat barang-barang miliknya jatuh berserakan ke bawah segera memungutnya. Saat memunguti barang-barangnya, tangannya menyentuh sesuatu di kolong kasurnya. Bimo melongok untuk mengecek apa yang disentuhnya.

“AAA!”

Bimo memekik kaget ketika sebuah benda terbang melintas di hadapannya.

“Sialan, tuh, kecoa.”

Bimo bangkit dan mengambil senter agar dirinya bisa melihat lebih jelas. Sinar cahaya dari senter menerobos masuk ke kolong kasurnya yang sedikit berdebu karena jarang disapu. Bimo merasa terkejut, senang, sekaligus konyol mengetahui bahwa barang-barang yang dikiranya hilang selama ini ternyata ada di tempat yang tidak diduganya.

Akan kuambil nanti saja.

Buku agenda itu sekarang ada di tangan Bimo yang duduk di tepian kasur. Tangannya membolak-balikkan sampul buku yang agak usang tersebut. Jemarinya membuka lembaran buku itu. Ia sama sekali tidak ingat, bahkan tidak tahu pernah menyimpan buku tersebut.

Buku itu hanya berisi tulisan tangan. Sepertinya buku harian. Halaman pertama hanya ada foto dalam polaroid yang ditempel sekenanya. Foto sebuah karakter perempuan kartun Jepang. Halaman berikutnya hanya dilihat sekilas oleh Bimo. Meskipun tulisannya bagus, dia malas untuk membacanya.

Saat akan menutup buku itu, dirinya tertarik pada sebuah kata-kata yang terletak paling belakang di buku tersebut. Tulisan dengan hiasan semacam bingkai bunga yang digambar tangan memperindahnya dan membuat Bimo tertarik untuk membacanya. Tinta hitam yang sudah agak transparan tersebut memuat beberapa baris kalimat.

Tidak peduli seberapa keras aku berusaha, dia tidak akan pernah menghargainya. Karena, jika hati sudah terlanjur terikat dengan orang lain, maka segala hal indah bersama orang yang selalu bersamanya sebelumnya akan terlupakan begitu saja.

Spongebob

Bimo tertawa melihat nama si penulis. “Spongebob apaan, sih? Sudah wibu, emosional, pakai acara nama kartun pula. Menjijikkan.”

Dirinya hanya geleng-geleng kepala setelah melihat isi tulisan itu. Ditutupnya buku itu lalu dilemparkannya dengan kasar di atas meja belajar, lagi. Ia rebahkan tubuhnya ke atas kasurnya yang empuk, matanya menatap langit-langit kamar yang seolah minta dicat ulang.

Banyak hal yang terjadi hari ini.

Angin sepoi membuat dirinya semakin nyaman. Matanya terpejam. Semenit kemudian, dirinya sudah berada di alam mimpi.

___________________________________

Wkwk, gatau mo ngomong apa lagi.

Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media

IG: @dernatasw or @dahelart

FB: Derna Taswara

1
Cut SNY@"GranyCUT"
masin subuh
Cut SNY@"GranyCUT"
mama bagaimana sih.. anaknya cantik kok dibilang wajahnya buruk..
Cut SNY@"GranyCUT"
waduh cantik kok jorok sih ndok.. seminggu gak keramas mambune koyo bunga raflesia arloldi.. namanya keren ya, tapi istilah indonesianya bunga bangkai... 😆
Mukmini Salasiyanti
laaaaa...
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
Mukmini Salasiyanti
Berdebar..
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
Mukmini Salasiyanti
maaf thor..
bocah Kambil itu apa ya artinya??
Mukmini Salasiyanti
nyimak thor
salken
Rahma Husnul
dr tutur bahasanya, penulis punya pemikiran yg dewasa. meski yg di sajikan cerita anak SMA ... keren 👍👍👍
Rahma Husnul
suka dg pemilihan katanya. terus semangat berkarya ya 💪💪💪
Dawet_Legi
hai kak aku mampir, kapan" mampir baca karyaku juga ya..thanks🙏☺️
ruhaynizz
mampir nih thor
Zuai Azmi
satu vote buat athor 👍👌
r4tn4🌛
penasaran sama judulnya, trnyta ceritanya seru juga👍
harie insani putra
salam kenal ijin meninggalkan jejak di sini ya thooorrr
lembayungsenja88
masalahnya kau terlalu lemah dan dungu bimo
lembayungsenja88
lemah kau Bimo banci heang.
Anita Suwarti
Bocah kambil,, ank pramuka thor???
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,
azkia zain
kok enggak update, kayaknya kan Senin ma Kamis,
مي زين الش
sdh aq kasih vote dan like kakak... . sukses sll ya
im_ha
10 like untukmu ya Thor. mampir juga di karyaku DOAKU BERBEDA DENGAN DOAMU 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!