NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Putri Hikari berdiri di depan aula utama yang telah selesai dihias.

Bunga-bunga Porana menjuntai dari setiap sudut ruangan. Kelopaknya yang putih bersih berkilauan diterpa cahaya pagi, sementara aromanya yang lembut menyebar hingga ke lorong-lorong istana. Dia memandangnya cukup lama.

"Indah..."

"Persis seperti yang kubayangkan."

Banyak orang mempertanyakan mengapa dia memilih bunga ini untuk pesta ulang tahunnya. Padahal jawabannya sederhana. Karena bunga ini mengingatkannya pada banyak hal.

Kesucian.

Keindahan.

Dan kesedihan.

Tiga hal yang sering berjalan berdampingan dalam kehidupan manusia.

Angin lembut berembus. Beberapa kelopak bunga putih terlepas dan melayang perlahan di udara. Mata Putri Hikari mengikuti gerakan kelopak. Dia mengulurkan tangan, menyentuh salah satu kelopak yang menggantung di dekatnya.

"Semakin indah sesuatu... semakin mudah orang lupa bahwa di baliknya terdapat luka dan pengorbanan."

Seperti kerajaan. Seperti kedamaian. Seperti dirinya sendiri. Namun dia tidak menyesal. Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Dan sebagai putri mahkota, dia telah menerima perannya sejak lama. Hari ini para bangsawan akan datang.

Para pejabat.

Para kesatria.

Para tamu dari berbagai penjuru negeri.

Sebagian datang untuk merayakan ulang tahunnya. Sebagian lagi mungkin datang karena kepentingan mereka sendiri. Dia tidak terlalu memikirkannya. Itulah dunia tempat dia hidup.

Yang terpenting adalah dia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Tatapannya kembali menyapu aula yang dipenuhi bunga putih. Lalu sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.

"Meski begitu... Aku berharap hari ini menjadi hari yang menyenangkan."

"Setidaknya untuk sekali ini saja, biarkan aula ini dipenuhi tawa, bukan urusan politik."

Untuk sesaat, dia membiarkan dirinya menikmati keheningan pagi. Sebelum pesta dimulai dan sebelum para tamu berdatangan.

---

Pagi itu, ibu kota kerajaan jauh lebih ramai dari biasanya.

Bendera-bendera kerajaan berkibar di sepanjang jalan. Para pedagang sibuk menawarkan dagangan mereka, sementara para warga membicarakan pesta ulang tahun Putri Mahkota yang akan digelar malam nanti. Kaisar membagikan banyak makanan kepada masyarakat saat itu karena hari ini adalah hari ulang tahun Tuan Putri.

Di tengah keramaian itu, Yua berjalan di samping Jinsei.

"Kita sebenarnya mau ke mana?" tanya Yua.

"Aku mau membeli pakaian untuk pesta malam nanti."

"Tidak biasanya.. aku cukup terkejut mendengarnya. Biasanya kau tidak terlalu memperhatikan hal hal kecil".

Yua kembali berjalan. Namun beberapa langkah kemudian dia menyadari sesuatu.

"Tunggu... tapi kenapa kau mengajakku?"

Jinsei meliriknya sebentar.

"Karena aku juga mau membelikan pakaian untukmu. Aku ingin nanti malam kita terlihat serasi dengan pakaian yang sama."

Yua berkedip.

"Jadi kau sudah memikirkan itu sejak awal?"

Sudut bibir Yua perlahan terangkat dan pipinya memerah. Jinsei kembali melirik Yua dengan senyuman hangatnya.

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah bangunan megah yang berdiri di salah satu jalan utama ibu kota. Di atas pintu masuknya terpasang papan nama berukir emas.

Butik itu telah berdiri selama puluhan tahun dan dikenal sebagai salah satu butik terbaik di ibu kota. Banyak bangsawan, pejabat tinggi, hingga keluarga kerajaan pernah memesan pakaian di sana.

Keistimewaannya terletak pada sutra berkualitas tinggi yang didatangkan dari berbagai penjuru negeri. Setiap helainya ditenun dengan tangan oleh para pengrajin terbaik.

Begitu memasuki ruangan, Yua langsung disambut oleh interior yang elegan. Lampu kristal menggantung di langit-langit. Deretan pakaian mewah tersusun rapi di sepanjang ruangan.

Beberapa pelanggan yang tampak berasal dari kalangan bangsawan sedang dilayani oleh para pegawai butik.

"Astaga... ini bukan toko pakaian. Ini museum yang kebetulan menjual baju." ucap Yua.

Sementara Yua masih terpana akan isi butik itu yang menunjukkan berbagai pakaian indah dan mewah terpajang di dalamnya.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang rapi menghampiri mereka.

Wanita itu memiliki sikap tenang dan anggun yang menunjukkan pengalaman panjangnya dalam melayani pelanggan kalangan atas.

"Selamat datang di butik kami."

Dia membungkukkan badan dengan sopan.

"Saya pemilik tempat ini. Ada yang bisa saya bantu?"

Jinsei mengangguk.

"Kami sedang mencari pakaian untuk menghadiri sebuah pesta malam ini."

"Tentu."

Wanita itu tersenyum ramah.

"Apakah ada konsep tertentu yang Anda inginkan?"

Jinsei menjawab tanpa ragu.

"Kami ingin pakaian yang serasi."

Yua langsung menoleh. Dia benar-benar mengatakannya begitu saja...

"Pakaian pria dan wanita yang cocok jika dikenakan bersama," lanjut Jinsei.

Senyum pemilik butik sedikit melebar. Matanya bergantian memandang Jinsei dan Yua. Dia sudah bertemu ribuan pelanggan selama hidupnya.

Dan pasangan muda seperti ini bukanlah hal baru baginya.

"Saya mengerti. Kalau begitu kalian datang ke tempat yang tepat."

Wanita itu memberi isyarat agar mereka mengikuti dirinya.

"Sutra terbaik kami berada di lantai dua. Koleksi di sana dirancang khusus untuk pelanggan yang ingin tampil selaras dalam acara-acara penting."

Yua yang berjalan di belakang hanya bisa memegang dahinya pelan.

"Selaras katanya... Serasi katanya... Kenapa semua orang hari ini menggunakan kata-kata yang membuatku gugup?" batin Yua lagi sambil tersenyum malu.

Sementara itu Jinsei tetap berjalan dengan ekspresi tenang, sama sekali tidak menyadari kekacauan yang sedang terjadi di dalam kepala Yua.

Tak lama mereka sampai di lantai dua. Pemilik butik memperlihatkan seluruh pakaian yang cocok.

Pemilik butik itu meninggalkan mereka sejenak setelah menunjukkan deretan pakaian pasangan yang dipajang di area khusus.

Rak-rak kayu mahoni berdiri rapi. Berbagai pakaian berbahan sutra terbaik tergantung dengan elegan. Cahaya lampu kristal memantulkan kilau lembut pada kain-kain mahal itu.

Yua berdiri agak canggung di tengah ruangan.

"Sangat indah.. harganya pasti juga sangat mahal". batin Yua.

Matanya berpindah dari satu pakaian ke pakaian lain.

"Kau suka yang mana? aku bisa menyesuaikan pilihan ku nanti."

Jinsei berjalan mendekat lalu berhenti di sampingnya.

"Kau saja yang pilih."

Yua berkedip bingung.

"Aku saja? tapi kalau ada warna yang kau tak suka bagaimana... Ini kan pakaian untuk kita berdua."

"Itu sebabnya."

Yua semakin tidak mengerti. Jinsei lalu menatap deretan pakaian itu dengan santai.

"Pilih yang kau suka. Kalau kau suka aku juga pasti suka."

Jinsei tertawa pelan. Yua terdiam. Pipinya sedikit menghangat.

"Baiklah.."

Yua buru-buru mengalihkan pandangan sebelum Jinsei menyadari wajahnya yang mulai memerah.

Dia kemudian berjalan menyusuri rak-rak pakaian. Matanya memperhatikan satu per satu desain yang dipajang.

Ada yang terlalu mencolok.

Ada yang terlalu mewah.

Ada pula yang terlihat kaku seperti pakaian resmi bangsawan.

Hingga akhirnya langkahnya berhenti. Di hadapannya tergantung sepasang pakaian berwarna biru tua dengan aksen putih perak.

Untuk pria, berupa jas panjang bergaya bangsawan muda. Sedangkan untuk wanita, berupa gaun elegan yang anggun.

Mewah. Namun tetap sederhana. Yua menyentuh kain sutra itu perlahan.

"Bagaimana menurutmu? entah kenapa aku merasa cocok untuk kita. Tidak terlalu mencolok. Tapi tetap membuatnya terlihat berwibawa."

Jinsei yang memperhatikan dari belakang mendekat. Jinsei menatap pakaian yang ditunjukkan Yua. Beberapa detik berlalu. Kemudian dia tersenyum.

"Bagus."

Jinsei lalu menambahkan dengan nada santai.

"Karena yang memilih Yua. Ini pasti akan sangat cocok saat kita berdansa nanti."

Yua langsung memalingkan wajahnya.

"Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu di tempat umum. Bagaimana jika ada yang mendengarnya."

"Tapi aku serius." ucap Jinsei sambil menatapnya dengan tatapan hangat.

Yua yang semula berusaha menjaga wajah tenangnya langsung memalingkan pandangan.

Darj kejauhan, pemilik butik yang sedang mengatur pakaian lain diam-diam tersenyum melihat keduanya. Sebagai seseorang yang sudah puluhan tahun melayani pelanggan bangsawan, dia bisa melihatnya dengan jelas. Cara mereka saling memandang sudah jauh lebih mirip pasangan daripada sekadar teman.

Setelah pakaian selesai dibeli, mereka berjalan santai mengelilingi pusat kota. Angin sejuk berembus pelan. Suasana terasa damai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yua merasa tidak sedang berburu monster.

Tidak sedang menjalankan misi. Tidak sedang memikirkan urusan kerajaan. Hanya berjalan berdua. Sesederhana itu.

Yua diam-diam melirik Jinsei. Pria itu berjalan di sampingnya dengan ekspresi tenang seperti biasa.

Saat itulah Jinsei tiba-tiba berhenti.

"Ada apa?"

Jinsei tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah kios kecil. Di sana terpajang berbagai aksesori buatan tangan. Jinsei menggandeng tangan Yua lalu menghampiri kios itu.

Jinsei melihat lihat semuanya. Kemudian dia mengambil sebuah jepit rambut. Bentuknya sederhana. Hanya bunga kecil berwarna putih. Namun terlihat elegan.

Entah kenapa. Jinsei langsung teringat pada Yua. Tanpa banyak berpikir, dia membelinya.

Jinsei mengulurkan sebuah kotak kecil. Yua membuka kotak itu. Matanya membesar. Sebuah jepit rambut cantik terletak di dalamnya.

"Untukku?"

"Iya."

"Kenapa kau membelikanku ini?"

Jinsei berpikir sebentar. Lalu menjawab jujur.

"Karena aku melihatnya dan langsung teringat padamu."

Yua membeku. Jantungnya seperti berhenti bekerja. Dia lalu tersenyum.

Jinsei melanjutkan.

"Kupikir akan cocok jika kau memakainya malam nanti."

Yua menatap jepit rambut itu cukup lama. Lalu tersenyum kecil. Senyum yang jarang dia tunjukkan kepada orang lain.

"Terima kasih."

Untuk sesaat. Tatapan mereka bertemu. Dan entah kenapa. Keramaian kota terasa menghilang. Yang tersisa hanya mereka berdua.

---

Namun suasana itu tidak bertahan lama. Karena telinga Yua tiba-tiba menangkap sesuatu.

"Hah?!"

"Ada apa?"

"Itu..."

Yua menunjuk ke arah alun-alun. Di sana terlihat antrean panjang warga. Terdengar mereka berkata kue gratis untuk semua orang. Di ujung antrean, seorang gadis bangsawan cantik sedang membagikan kue gratis bersama pelayannya.

Mata Yua langsung berbinar.

"Gratis."

Yua menarik tangan Jinsei lalu pergi ke arah antrian itu.

Di sisi lain. Seorang bangsawan cantik tersenyum lembut saat membagikan kue. Ternyata dia adalah Yuna. Putri Tuan Satoshi. Melihat masyarakat bahagia selalu membuat hatinya senang. Dia membagikan kue gratis kepada orang-orang karena hari ini adalah hari spesial.

Saat itulah Yuna melihat seorang gadis berambut hitam muncul di hadapannya. Matanya bersinar lebih terang daripada orang-orang lain. Seolah hidupnya bergantung pada kue tersebut. Yuna berkedip.

"Silakan.."

"Terima kasih nona!", ucap Yua.

Yua menerima kuenya dengan kedua tanga. Lalu dia meninggalkan antrian itu bersama Jinsei.

Yuna memperhatikan mereka tanpa sadar.

---

"Enak."

Yua menggigit kuenya dengan wajah puas. Jinsei hanya menggeleng.

"Kau benar-benar mengantri karena gratis."

"Tentu saja."

"Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan."

"Gratis adalah berkah dunia."

Jinsei tertawa pelan.

Yua Kemudian memotong sebagian kuenya. Lalu mengangkatnya ke arah Jinsei.

"Cobalah.."

Jinsei menatap potongan kue itu beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil. Tanpa banyak bicara lagi, Jinsei mencondongkan tubuh dan memakan kue yang disodorkan Yua.

"Bagaimana?" tanya Yua.

Jinsei mengunyah sebentar lalu menelan.

"Enak."

"Tapi kuurasa aku tidak bisa menilai dengan objektif."

"Kenapa?"

"Karena yang menyuapiku adalah gadis yang kusukai."

Yua langsung membeku di tempat. Wajahnya perlahan memerah. Sedangkan Jinsei hanya menatapnya dengan ekspresi tenang seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa.

Dari kejauhan. Yuna yang melihat adegan itu tanpa sadar tersenyum.

"Mereka sangat romantis... hubungan mereka pasti dipenuhi kebahagiaan.."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!