Melati dan Rayan sudah 5 tahun menikah, tapi mereka belum di karuniai keturunan. Di usia 5 tahun pernikahan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan, dan hasil nya Rayan yang bermasalah.
Dokter Silvi, sahabat nya Melati memberi saran pada Melati agar Melati mengatakan bahwa diri nya yang mandul. Maka Melati akan melihat seperti apa wajah asli mereka, dan Melati pun menerima saran itu.
Setelah mengatakan hal itu, Melati di perlakukan bak pembantu. Rayan datang dengan membawa wanita hamil yang diakui sebagai anak nya.
Di hari syukuran kelahiran anak nya, Rayan mengundang Melati dan menghina nya di depan banyak orang. Melati lalu memberikan surat hasil pemeriksaan yang asli, Rayan dan kekuarga nya tidak percaya dengan hal itu.
Tapi setelah memeriksa keaslian surat itu, dan melakukan tes DNA maka mereka baru tahu bahwa anak itu bukan anak nya Rayan. Dan saat itu juga Rayan juga sudah di tipu oleh istri baru nya, harta nya sudah di bawa lari oleh wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Tanpa mereka semua sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi perdebatan di antara mereka. Orang itu berpapasan dengan Melati dan Rista, yang baru saja keluar dari toko itu.
"Bu, mbak Arini, aku ke toilet dulu ya!" Andin merasakan tidak nyaman.
"Iya, mau ibu temenin?" Tawar bu Arum dengan lembut.
"Gak usah bu, ibu temani mbak Arini belanja. Aku tidak lama kok, sebentar lagi aku akan kembali!" Andin pun berjalan meninggal kan mertua dan juga ipar nya.
Semenjak hamil, apalagi saat ini sudah memasuki bulan ke sembilan. Andin selalu buang air kecil, bahkan dalam satu jam bisa beberapa kali. Andin berjalan menuju ke kamar toilet, seseorang yang tadi mengawasi mereka pun mengikuti langkah kaki Andin.
Setelah Andin menuntaskan hajat nya, Andin keluar dari toilet khusus wanita tersebut. Tapi baru saja melangkah keluar, tiba - tiba sebuah tangan menutup mulut Andin. Dan Andin di seret paksa dari tempat itu, kondisi Andin dengan perut besar membuat nya tidak bisa melawan.
"Jangan mencoba untuk berontak, atau kau akan tahu akibat nya!" Ancam orang itu sambil berbisik di telinga Andin.
Andin mengangguk kan kepala nya, dia tidak berani melawan. Karena jika dia melawan, maka hidup nya akan berakhir di tangan laki - laki itu.
"Viki, kenapa kau mengikuti ku?" Tanya Andin dengan kesal saat mereka sudah menjauh dari tempat itu.
"Andin, bagai mana aku bisa jauh dari mu. Sedangkan anak ku ada bersama mu!" Ucap Viki sambil menunjuk perut buncit Andin.
"Jangan coba - coba menyakiti ku, Viki. Atau kau akan tahu akibat nya!" Andin mengancam Viki.
"Aku tidak akan menyakiti mu dan anak ku, asalkan kau bisa penuhi semua permintaan ku!" Ujar Viki sambil memperlihatkan senyuman penuh seringai nya.
"Apa yang kau ingin kan, Viki?" Tanya Andin dengan kesal nya.
"Berikan aku uang, maka kau akan aman!" Viki berkata sambil menadahkan tangan nya.
"Viki, aku tidak punya uang!" Jawab Andin lagi.
"Jangan coba - coba untuk bohong pada ku Andin, kau sudah menjadi istri nya orang kaya. Jadi jangan coba - coba untuk mengelabuhi aku, atau aku akan membongkar semua nya di hadapan Rayan dan keluarga nya!" Ancan Viki sambil tersenyum.
"Viki, kau,,,,!"
"Andin, kau ingin selama nya menjadi istri nya Rayan kan? Jadi jika kau tidak mau memberikan aku uang, maka aku pastikan semua nya akan terbongkar!" Kembali Viki berkata sambil memamerkan seringai licik nya.
Setelah berkata seperti itu, Viki langsung merebut tas yang di bawa oleh Andin. Viki mengambil semua uang yang ada di dalam dompet Andin, dia tersenyum lalu mengembalikan tas itu pada Andin.
"Seperti ini kan enak!" Guman Viki sambil mengipas uang pecahan ratusan ribu itu ke wajah nya.
"Viki, ini uang untuk membeli semua keperluan bayi ini, jangan di ambil!" Andin berusaha merebut uang itu kembali.
"Sudah lah Andin, Rayan kan punya banyak uang. Dia juga sangat menyayangi anak kita kan, jadi kau bisa minta kembali pada nya!" Jawab Viki lagi.
Andin sangat kesal pada Viki, tapi dia tidak bisa melawan nya. Jika dia menolak memberikan uang itu, maka Viki pasti akan membongkar semua ini pada Rayan. Jika Rayan sampai tahu, maka dia dan keluarga nya pasti tidak akan bisa hidup senang lagi.
"Terima kasih Andin, jika aku butuh uang maka aku pasti akan datang lagi!" Ucap Viki sambil berlalu meninggal kan Andin sendirian.
Sementara itu, Bu Arum dan Arini mencari Andin ke sana Kemari. Mereka menelepon Andin, tapi ternyata ponsel Andin tidak bisa di hubungi.
"Andin, kok kamu ada di sini? Kami sudah mencari mu sejak tadi!" Arini berkata pada Andin setelah dia berhasil menemukan Andin.
"Mbak,, ibu, tadi aku mencari toko perlengkapan bayi, jadi aku pergi ke sini!" Andin memberikan alasan yang logis pada ipar dan mertua nya.
"Andin, toko perlengkapan bayi itu ada di sana. Ayo kita ke sana!" Ajak bu Arum.
"Iya bu!" Jawab Andin sambil mengangguk kan kepala nya.
Andin berjalan mengikuti langkah kaki bu Arum dan juga Arini, dia bingung bagai mana dia bisa membayar semua barang perlengkapan bayi yang akan dia beli. Karena semua uang yang di berikan oleh Rayan, untuk membeli semua perlengkapan bayi nya sudah di ambil oleh Viki tadi.
"Hari ini kita akan membeli perlengkapan bayi mu, sebentar lagi kau akan melahirkan!" Bu Arum berkata dengan sangat antusias.
Mereka memasuki sebuah toko yang menyediakan semua perlengkapan bayi dan anak - anak, bu Arum dan Arini begitu semangat memilih barang - barang perlengkapan untuk menyambut kelahiran sang jarang bayi. Sedangkan Andin, dia tidak begitu bersemangat. Karena semua uang yang di berikan oleh Rayan, sudah di ambil oleh Viki semua.
"Bu, seperti nya ini warna biru hitam ini bagus deh!" Arini menunjuk kan sebuah stoller bayi yang tampak mewah.
"Iya, ini bagus banget!" Jawab Bu Arum dengan sangat antusias.
"Bagai mana Ndin, bagus gak?" Tanya Arini yang meminta pendapat Andin.
"Bagus mbak!" Jawab Andin dengan senyuman yang di paksa kan.
Bu Arum dan Arini begitu semangat memilih semua perlengkapan bayi itu, sedangkan Andin hanya mengikuti saja.
"Seperti nya semua nya sudah lengkap, tidak ada lagi yang ketinggalan!" Bu Arum kembali mengecek satu persatu barang itu.
"Iya bu, udah ayo kita bawa ke kasir. Aku udah capek, pengen cepat - cepat istirahat!" Arini berkata pada kedua nya.
Arini dan bu Arum mendorong troli belanja mereka ke meja kasir, sekarang wanita yang bertugas di meja kasir mengemasi dan menghitung barang belanjaan mereka.
"Total nya 12 juta, bu. Mau Cash atau debit?" Tanya kasir itu dengan sopan.
"Andin, kamu bayar sana!" Bu Arum berkata oada menantu nya.
"Mas Rayan belum kasih uang nya, bu!" Jawab Andin dengn suara lirih.
"Apa? Rayan belum kasih uang nya, ya udah kamu pake uang kamu dulu. Nanti biar Rayan yang ganti!" Bu Arum kembali berkata.
"Semua kartu aku ketinggalan di rumah bu, aku lupa membawa nya!" Jawab Andin memberikan alasan.
"Ya ampun Andin, kok kamu bisa ceroboh begitu. Ya udah sekarang kamu telepon Rayan, dan minta dia buat transfer uang nya sekarang!" Perintah bu Arum.
"Bu, mas Rayan lagi kerja bu. Aku tidak mau mengganggu waktu nya, jadi ibu atau mbak Arini dulu yang bayar nya. Nanti jika mas Rayan udah kasih uang nya, aku kembalikan sama ibu!" Pinta Andin dengan setengah memelas.
"Ya udah deh, kamu ini bikin malu saja seperti orang miskin!" Omel bu Arum.
Bu Arum akhir nya langsung membayar semua barang perlengkapan bayi itu, sekalipun dia kesal dengan Andin tapi dia tetap melakukan nya demi cucu yang selama ini di nanti kan.