Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ZENAYA DAN VEXIA
Malam itu, area depan gedung acara masih dipenuhi sorotan lampu dan kerumunan awak media yang telah menunggu sejak lama. Sebuah karpet merah membentang megah menuju deretan mobil mewah yang terparkir di depan pintu utama.
Begitu Eros, Zenaya, dan Desmon melangkah keluar, suara rana kamera langsung bertalu-talu memenuhi udara.
"Tuan Eros! Miss Zenaya, ke sini!"
"Satu foto lagi, tolong!"
Kilatan lampu kamera menyala tanpa henti, mengabadikan setiap langkah pasangan yang tengah menjadi sorotan publik tersebut. Eros berjalan dengan tenang di sisi Zenaya, sementara Desmon mengikuti beberapa langkah di belakang mereka dengan sikap sigap sebagai sekretaris pribadi.
Zenaya tampil begitu anggun dalam balutan gaun elegan, sedangkan Eros memancarkan kharisma seorang CEO muda yang berwibawa. Keduanya saling bertukar senyum hangat, memperlihatkan keharmonisan yang membuat para fotografer semakin antusias.
Sesekali Eros menoleh kepada Zenaya, lalu membalas senyumnya dengan tatapan lembut. Tanpa banyak kata, keduanya berjalan berdampingan di atas karpet merah, memancarkan kesan romantis yang membuat para wartawan tak berhenti mengabadikan momen tersebut.
"Benar-benar pasangan yang sempurna," gumam salah seorang fotografer.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan limusin hitam mewah yang telah menunggu. Desmon segera membukakan pintu belakang dengan penuh hormat.
"Silakan, Tuan Eros... Miss Zenaya."
Eros mempersilakan Zenaya masuk lebih dahulu. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, barulah ia menyusul masuk ke dalam limusin. Desmon menutup pintu perlahan sebelum beralih ke kursi depan bersama sopir.
Beberapa detik kemudian, limusin itu melaju perlahan meninggalkan keramaian, sementara kilatan kamera para fotografer masih terus mengikuti hingga kendaraan mewah tersebut menghilang di balik deretan lampu kota.
......................
Di sepanjang perjalanan pulang, mobil limosin hitam melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan malam yang lengang.
Desmon mengemudikan kendaraan itu dengan tenang, membawa mereka kembali menuju mansion pribadi Eros Forger.
Suasana di dalam mobil terasa hening. Lampu-lampu kota yang berkelebat di balik jendela memantulkan bayangan wajah Zenaya yang masih terlihat muram.
Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya masih dipenuhi kejadian di ballroom hotel beberapa saat yang lalu.
Eros yang duduk di sampingnya melirik sang istri. Pria itu dapat melihat jelas bahwa Zenaya masih menyimpan kekesalan.
"Kau masih memikirkan wanita itu?" tanyanya lembut.
Zenaya mengembuskan napas panjang sebelum menggeleng pelan.
"Tidak juga... hanya sedikit kesal. Hari ini aku sudah sangat lelah, tetapi tetap saja ada orang yang sengaja membuat suasana menjadi buruk."
Eros mengamatinya beberapa saat.
"Apakah dia sering mengganggumu?"
Zenaya menoleh sekilas. "Kenapa
memang?"
"Aku hanya ingin tahu."
Beberapa detik berlalu sebelum Zenaya akhirnya menjawab.
"Vexia memang tidak pernah menyukaiku. Entah sejak kapan, dia selalu menganggapku sebagai saingan."
Bibirnya membentuk senyum tipis yang terasa pahit.
"Padahal aku sendiri tidak pernah menganggap model lain sebagai rival. Bagiku, setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing. Tapi... sepertinya dia selalu iri karena karierku lebih baik darinya."
Ia kembali memandang ke luar jendela.
"Selama ini aku memilih diam. Aku tidak ingin namaku tercoreng hanya karena bertengkar dengannya. Reputasi jauh lebih penting daripada melampiaskan emosi sesaat."
Pemikiran Zenaya sangat dewasa.
Eros mengangguk pelan. Kini ia mulai memahami kehidupan sang istri.
Selama ini ia mengira dunia modeling yang dijalani Zenaya dipenuhi kemewahan, pujian, dan kesuksesan. Namun di balik semua sorotan itu, ternyata ada rasa iri, persaingan, dan kebencian yang harus dihadapi setiap hari.
Tidak mengherankan jika banyak orang merasa iri kepada Zenaya. Ia memiliki wajah yang nyaris sempurna, karier yang cemerlang, kehidupan yang mewah, dan nama besar yang disegani. Namun di balik semua kesempurnaan itu, ternyata hidupnya tidak selalu berjalan semudah yang terlihat.
Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh suara Desmon dari balik kemudi.
"Maaf, Nona. Tadi saya sempat terpancing emosi karena melihat perlakuan wanita itu kepada Anda."
Zenaya tersenyum hangat.
"Tidak apa-apa, Desmon. Justru aku yang harus berterima kasih. Kau sudah membelaku."
Desmon mengangguk hormat, merasa sedikit lega.
Eros kemudian menggenggam lembut tangan Zenaya, membuat wanita itu menoleh kepadanya.
"Mulai sekarang," ucapnya dengan tatapan tegas namun penuh perhatian,
"jika ada masalah apa pun, sekecil apa pun itu, jangan pernah menyembunyikannya dariku. Beritahu aku."
Nada suaranya terdengar begitu tenang, tetapi tersirat rasa posesif dan keinginan kuat untuk selalu melindungi istrinya.
Zenaya menatap mata Eros beberapa saat. Kehangatan dalam sorot mata pria itu perlahan menghapus sisa kekesalan yang memenuhi hatinya.
Ia pun mengangguk pelan sambil mengulas senyum tulus.
"Baik... aku janji."
Desmon yang menyaksikan keduanya melalui kaca spion tak mampu menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.
Ia menyadari perubahan sikap Eros akhir-akhir ini. Tatapan penuh kekesalan yang sempat Eros arahkan kepada Lucian tadi pun tak luput dari pengamatannya.
Meski berusaha menutupi rasa cemburu itu dengan wajah datar, Desmon yang telah lama menjadi orang kepercayaannya dapat membaca setiap perubahan emosi sang tuan.
Dalam hati, Desmon bertanya-tanya.
Apakah Eros akhirnya mulai menerima Zenaya sebagai istrinya? Ataukah semua perhatian dan sikap lembut itu hanya sebuah kepura-puraan?
Apa pun jawabannya, Desmon berharap yang pertama adalah kenyataannya. Baginya, Zenaya adalah wanita yang tulus, baik hati, dan pantas mendapatkan
kebahagiaan bersama Eros.