NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Darius meletakkan Maria dengan sangat pelan di sofa ruang tengah. Anak perempuan itu langsung meraih kembali boneka beruang lusuhnya, lalu duduk manis seraya memperhatikan Darius dengan binar mata yang dipenuhi kepolosan.

"Maaf tempatnya sangat sederhana, Darius," ucap Karina lembut seraya melangkah ke dapur. "Aku hanya bisa menyediakan tempat seperti ini untuk Maria."

Darius segera menyusul Karina ke dapur, lalu berdiri bersandar di tepi meja kayu. Sorot matanya menatap Karina dengan ketegasan yang mutlak.

"Jangan pernah meminta maaf, Karina," ujar Darius dengan suara rendah yang menenangkan. "Kau telah membesarkan Maria dengan sangat baik. Akulah yang bersalah karena terlambat menemukan kalian."

Karina menghentikan gerakannya saat hendak menyeduh teh. Ia membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Darius. ada bayangan perjuangan panjang di raut wajah cantiknya.

"Setelah kamu pergi hari itu... aku tahu hidupmu pasti penuh dengan risiko," bisik Karina seraya menghela napas panjang. "Namun, aku selalu percaya... suatu hari nanti kita pasti akan bertemu kembali."

Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol emosinya. "Setahun lalu, situasi di Ruskavia makin berbahaya. Aku pun memutuskan pindah ke sini demi kehidupan yang lebih baik."

Darius menatap Karina dengan tatapan yang sangat dalam. Penyesalan yang mendalam membakar hatinya, namun tekad baru yang jauh lebih besar kini bergelora di dalam dadanya

"Penderitaan kalian berhenti hari ini, Karina," tegas Darius. Suaranya sarat akan otoritas mutlak yang tak bisa dibantah. "Mulai detik ini, hidup kalian berdua tidak akan kesusahan lagi."

Darius melangkah mendekati Karina, meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya erat.

"Aku akan memindahkan kalian ke tempat yang jauh lebih layak hari ini juga. Tempat ini tidak cukup bagus untuk putriku," lanjut Darius.

Karina sempat tertegun ketika menatap mata Darius. Ia mengenali sorot mata itu, sorot mata pria yang selalu menepati setiap katanya. "Darius... kamu tidak perlu merepotkan dirimu sejauh itu..."

"Ini sama sekali tidak merepotkan, Karina. Ini adalah tanggung jawab dan janji seorang pria," potong Darius lembut namun begitu tegas.

Tepat saat itu, ponsel tanpa merek di saku jas Darius bergetar pelan. Ia merogohnya, melihat nama Julian di layar, lalu menjawab panggilan itu seraya melangkah ke sudut ruangan.

"Ada apa, Julian?" tanya Darius dingin.

"Tuan," suara Julian terdengar sangat sigap di seberang telepon. "Kami baru saja mendapatkan informasi... kalau Devran Zavian akan melakukan suatu tindakan kepada Anda."

Darius menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, sebuah senyuman penuh penghinaan yang tak pernah disaksikan oleh siapa pun.

"Dia hanya seorang tuan muda manja yang terbiasa menggunakan ancaman kosong," sahut Darius datar. "Biarkan saja dia mencoba, Julian."

"Siap, Tuan! Saya akan terus memantau pergerakan orang-orang Devran dari jauh," sahut Julian tegas sebelum mematikan sambungan telepon.

Darius memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia membalikkan badan dan mendapati Maria sedang melangkah kecil mendekatinya seraya menuntun jemari Karina.

"Papa..." panggil Maria polos sambil mendongak, matanya yang bulat berkedip lucu. "Papa mau ajak Maria dan Mama jalan-jalan?"

Darius berlutut kembali di hadapan putri kecilnya. Senyuman hangat yang hanya ditunjukkan khusus untuk Maria kembali terukir di wajahnya.

"Ya, Sayang," ucap Darius seraya mengusap lembut kepala putri kecilnya itu. "Papa akan membawa Maria dan Mama ke rumah baru yang sangat luas, tempat di mana Maria bisa bermain sepuasnya."

Maria membelalak girang, melompat kecil seraya memeluk leher Darius. "Hore! Rumah baru sama Papa!"

Darius segera merengkuh Maria ke dalam pelukannya, lalu berdiri seraya memandang Karina yang menatapnya dengan binar mata penuh haru dan rasa percaya yang utuh.

"Kemasi barang-barang kalian sekarang, Karina," ujar Darius penuh wibawa. "Mulai hari ini, kalian adalah bagian terpenting dalam hidupku."

Karina mengangguk perlahan, matanya berbinar menahan keharuan. Tanpa membuang waktu, ia melangkah menuju kamarnya, untuk mengemas pakaian dan barang-barang miliknya serta Maria.

Sementara Karina sibuk berkemas, Darius berjalan santai menuju ruang tengah sambil menggendong Maria. Putri kecilnya itu tak henti-hentinya berceloteh polos.

Tak butuh waktu lama, Karina keluar dari kamar sambil membawa dua buah koper berukuran sedang.

"Hanya ini barang-barang kami, Darius," ucap Karina dengan suara lembut sambil menyunggingkan senyuman tipis.

Darius menurunkan Maria dengan perlahan, lalu meraih gagang kedua koper tersebut dengan satu tangan kokohnya seolah beban koper itu tak berarti apa-apa baginya.

"Ayo kita berangkat," ajak Darius tegas namun penuh kelembutan.

Mereka bertiga melangkah keluar dari unit 304, menyusuri lorong apartemen dan turun menaiki anak tangga menuju lantai dasar. Maria menuntun jemari Karina dengan riang, sementara Darius berjalan menjaga mereka.

Cahaya matahari menyinari kawasan Apartemen Griya Sentosa saat Darius menuntun Karina dan Maria menuju mobil Mercedes-Maybach S-Class hitam yang terparkir di tepi jalan.

Darius membukakan pintu belakang dengan gerakan yang sangat sopan dan tangkas. "Masuklah, Karina, Maria."

"Wah... mobil Papa bagus sekali!" celoteh Maria dengan mata berbinar saat Darius memasukkannya ke dalam mobil yang terasa begitu sejuk dan nyaman.

Karina menyunggingkan senyuman hangat, lalu melangkah masuk dan duduk di samping putrinya. Setelah meletakkan koper di bagasi, Darius segera memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.

Ia menyalakan mesin, lalu menginjak pedal gas secara perlahan. Mobil itu meluncur mulus membelah jalanan utama Ibukota, meninggalkan kawasan permukiman selatan menuju Perumahan Dama Sanctuary.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu hangat dan damai. Maria tak hentinya menunjuk ke luar, mengagumi gedung-gedung pencakar langit Ibukota dengan celotehan riang.

Darius sesekali melirik melalui kaca spion tengah, mengukir senyum tipis setiap kali melihat binar kebahagiaan di wajah putri kecilnya dan raut lega di paras Karina.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mulai melambat saat mendekati gerbang utama Perumahan Dama Sanctuary.

Para petugas keamanan yang bersiaga di pos penjagaan dengan sigap memberi hormat dan segera membuka gerbang besi yang megah itu.

Mobil Darius melaju menyusuri jalanan kompleks yang begitu asri, teduh, dan dikelilingi pepohonan rindang hingga akhirnya berhenti di depan Mansion Nomor Satu.

"Kita sudah sampai," ucap Darius pelan seraya mematikan mesin mobil yang baru saja memuat perjalanan mereka.

Karina menatap keluar jendela mobil dengan pandangan takjub. Di hadapannya, berdiri sebuah bangunan megah yang amat luas, dikelilingi taman hijau yang tertata sempurna.

"Darius... ini..." bisik Karina dengan suara tertahan, matanya berkedip tak percaya. "Ini rumahmu?"

"Ini rumah kita," ujar Darius lembut seraya memutar badan dan menatap Karina serta Maria. "Mulai hari ini, kalian tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi."

Mata Maria membelalak lebar melihat hamparan rumput dan kolam air mancur di depan mansion. "Mama... rumah Papa besar sekali! Ada tamannya juga!"

Darius keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk anak dan wanita yang amat dicintainya itu. Ia lalu menggendong Maria dan merengkuh pinggang Karina saat mereka melangkah menuju pintu utama mansion.

1
Glastor Roy
tor yang baik hati
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!