Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngerasain juga gak?
"Raka sama kamu baik-baik aja kan?" tanya Pak Sofyan.
"Ah ... iya baik-baik aja Pa," jawab Jenna yang mulai berpikir ternyata Raka juga belum membicarakan kandasnya hubungan mereka kepada kedua orangtua Raka.
"Nanti kita bicarakan lagi itu ... Mama Papa ada acara malam ini, gala dinner di rumah walikota, kalian mau ikut?"
"Akbar ada acara sore nanti Pa," ujar Akbar.
"Jenna?" tanya Pak Sofyan.
"Jenna boleh minta ijin mau ke tempat temen Pa, Ma?"
"Papa ijinin tapi pulang jangan terlalu malam.'
"Kenapa gak ikut Mama sama Papa, kamu tuh harusnya sekali-kali ikut kalo ada acara kayak gini, jadi tau seperti apa pergaulan Mama sama Papa kamu ini, Na ... lagian biar temen-temen Mama tuh kenal sama kamu, ini loh anak gadisnya Sofyan Alamsyah ... Mama heran sama kamu tuh Na—"
"Ma ... sudah, biar Jenna ada waktunya nanti, gak sekarang," ujar Pak Sofyan.
"Jadi Jenna boleh Pa?" tanya Jenna dan Pak Sofyan mengangguk.
"Pulangnya jangan malem-malem," pesan Pak Sofyan. Mama Kartina berlalu dengan wajah yang terlihat kesal di susul Pak Sofyan.
"Abang," panggil Jenna saat Akbar akan meninggalkannya di ruangan itu.
"Apa?"
"Abang serius?"
"Serius apa?"
"Tunangan itu? Abang yakin?"
"Yakin ... Abang udah kenal anaknya, tinggal di kota ini juga, ternyata orangtuanya teman SMA Mama."
"Abang yakin bisa membina rumah tangga dengan orang yang bahkan Abang belom kenal seutuhnya."
"Masih tunangan, Na ... pernikahannya belum tau kapan kan, masih ada waktu untuk saling kenal kayak kamu sama Raka."
Bahkan aku yang sudah kenal lama dengan Raka pun harus kandas di tengah jalan, batin Jenna.
"Syukurlah ... aku cuma gak mau terjadi apa-apa kedepannya," ujar Jenna.
"Apa-apa gimana?"
"Gak ... lupain aja, semoga Abang gak salah menentukan pilihan."
"Kok gitu ngomongnya?"
"Aku takut Bang ... aku takut Abang gak bahagia, aku takut Abang salah ambil keputusan ... ini hidup Abang bukan hidup Mama ataupun Papa."
Akbar menghampiri Jenna, memeluk adik yang sebenernya dia sayang, namun tak bisa ia tunjukkan karena sifat Akbar yang keras dan pendiam.
"Kamu jangan pikirin Abang, Abang tau yang Abang lakukan ... keputusan Abang sudah bulat, ini demi keluarga kita Na."
"Demi keluarga kita ... tapi masa depan Abang? keluarga kita gak kenapa-kenapa Bang, kita baik-baik aja, gak seharusnya Abang menggadaikan hidup Abang ... aku takut akhirnya malah mengecewakan." Mata Jenna berkaca-kaca, dia hanya ingin kakak satu-satunya ini bahagia, karena sudah terlalu sering Akbar menahan hatinya demi sang mama.
"Doain yang baik-baik, Abang gak apa-apa." ujar Akbar lembut membelai rambut Jenna.
...----------------...
Jenna memasuki coffee shop, dia menemukan Ellen berada di depan kasir. Jenna pun tersenyum saat Ellen melambaikan tangan padanya.
"Hai," ujar Jenna.
"Hai Na, Mas Radit ada di roof top, naik aja," ujar Ellen menunjukkan anak tangga. "Nanti naik sampai lantai tiga ya ... mau minum apa? makan apa biar nanti dianterin sama anak-anak ke atas," tawar Ellen.
"Aku minta sandwich dan coffee late aja mbak," jawab Jenna.
"Ok ... ntar di anterin ke atas ya," kata Ellen pada Jenna, Jenna pun pamit untuk menemui Radit.
Menaiki anak tangga dan sempat melihat ruangan Radit serta beberapa meja staf tersusun rapi di salah satu ruangan lagi, naik ke lantai tiga terdapat dua kamar yang sepertinya merupakan tempat istirahat para pegawai atau Radit mungkin.
Jenna menuju sebuah pintu yang mengarah ke roof top, membukanya dan menemukan Radit sedang duduk di sebuah ayunan panjang beratap seperti tenda, menghadap ke sebuah taman kecil dengan rumput sintetis dan tanaman-tanaman hijau yang tersusun rapih, beberapa ada yang tersusun di atas rak dan ada pula yang tergantung. Sepertinya ini adalah tempat yang asyik untuk menyendiri ataupun sekedar mengobrol.
"Mas," sapa Jenna, Radit pun menoleh.
Lelaki itu mengenakan kaos berlengan panjang berwarna hitam, dipadukan dengan jeans bekel dan sebuah sandal jepit bermerk swallow.
"Na ... sini," Radit menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Jenna pun melangkah ke arah lelaki itu, Radit pun tersenyum. Debaran jantungnya selalu tak beraturan jika bertemu dengan Jenna. Gadis dengan wajah cantik, polos dan terlihat sederhana.
"Ketemu Ellen di bawah?"
"Iya ... Mbak Ellen bilang kamu di sini."
"Aku suka di sini, anginnya banyak ... pas juga karena matahari lagi gak terik," ujar Radit menoleh ke arah Jenna. "Udah pesen makanan?" tanyanya dan Jenna mengangguk.
"Iya di sini enak kayaknya buat menyendiri ya."
Radit mengangguk, "tapi kalo malem serem."
"Kok serem, bukannya lebih enak Mas, udah gitu anginnya lebih banyak," ujar Jenna mengulum senyum.
"Kalo sendirian serem juga kali Na, kecuali rame-rame atau berdua gitu sama kamu," ujar Radit menggoda.
"Aih." Jenna serba salah.
Tak berapa lama seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Jenna.
"Makasih, Bud," ujar Radit, pelayan itupun berlalu.
Sesaat mereka terdiam, Radit asyik menggoyangkan ayunan tempat mereka duduk berdua.
"Kita kek orang yang musuhan gitu ya," ujar Radit menoleh pada Jenna.
"Kok musuhan?"
"Tadi diem-diem an," kekeh Radit.
"Bisa aja ... em, Mas Radit," ucap Jenna.
"Yes, pasti mau bilang kangen kan?"
"Dih, bisanya loh mikir begitu," Jenna tertawa.
"Ya kan kali aja ... kali aja rasanya sama dengan yang aku rasa," kata Radit lalu tersenyum dan melempar pandangannya pada tanaman-tanaman di depannya.
Jenna tertawa, hal-hal seperti ini yang Jenna suka. Radit selalu bisa mengutarakan isi hatinya tanpa rasa ragu ataupun malu. Meski dalam bentuk candaan.
"Bener gak?" tanya Radit lagi mengangkat satu alisnya.
"Apa?"
"Kamu ngerasain juga ... kalo kangen sama aku."
Jenna semakin tertawa sungguh dia menjadi salah tingkah.
"Ditanya malah ketawa ... emang lucu ya, kan aku udah bilang kalo kangen talking bukan stalking," ujarnya.
"Eh ... tapi aku gak stalking loh," jawab Jenna polos.
"Hooh aku percaya," ujar Radit terkekeh.
Jenna spontan memukul lengan Radit, sumpah demi apapun lelaki yang berada di sampingnya saat ini seakan selalu tahu isi hatinya.
"Sakit, Na," ujar Radit mengusap pundaknya.
"Sakit ya." Jenna pun secara tiba-tiba mengusap lengan Radit yang ia pukul. "Maaf ya Mas," katanya dengan muka polos.
Radit tersenyum. "Aku cuma pengen denger jawaban kamu ... kamu ngerasain juga apa yang aku rasa?" tanya Radit sekali lagi lalu meraih tangan Jenna yang sedang mengusap lengannya.
"Apa? kangen?"
"Iya ... kangen, karena jujur aku ngerasain itu saat jauh dari kamu. Radit menatap Jenna dalam.
Bagai mendapati sengatan listrik di sekujur tubuhnya, sumpah demi apapun Jenna bingung harus menjawab apa.
"Na?"
"Iya ... iya aku kangen." Jenna membalas tatapan Radit.
**enjoy reading 😘
happy weekend, stay healthy, stay safe, stay like and comment 😂 jangan pernah lupa yaaaah 😘**
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba