seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
komandan Dominic
*Tujuh Hari Perjalanan, Markas Militer Perbatasan Barat*
Debu kuning beterbangan di udara kering. Setelah tujuh hari menempuh perjalanan melewati hutan lebat, rawa, dan jalan berbatu, akhirnya gerbang kayu besar markas militer perbatasan Barat terlihat di kejauhan. Bendera Sanata berkibar lemas di atas menara pengawas karena tidak ada angin.
Di dalam kereta utama, Bima duduk dengan punggung tegak. Tangannya menggenggam erat pegangan kursi. Wajahnya tegang. Dahinya berkeringat meski udara pegunungan dingin.
Di sampingnya, Menteri Logistik Wira ikut menelan ludah. Sejak ancaman Hana di gerbang Sanata, Wira tidak pernah berani duduk jauh dari Bima.
"Tuan Bima, tarik napas," bisik Wira. "Anda tidak perlu takut. Anda di sini atas perintah Yang Mulia Kaisar. Anda membawa bantuan makanan dan obat untuk prajurit."
Bima mengangguk pelan. "Aku tahu, Menteri Wira. Tapi aku... aku hanya pria biasa. Aku bukan bangsawan. Aku juga bukan pejabat tinggi.. Aku tidak pernah memegang pedang sejak menikah. Aku takut mereka tidak menghormati ku."
Wira menepuk bahu Bima. "Anda ayah dari Nona Hana. Itu sudah cukup. Dan Anda membawa 50.000 keping emas dalam bentuk gandum dan obat. Itu yang akan mereka hormati."
Kereta berhenti. Pintu gerbang berderit terbuka perlahan. Puluhan prajurit berlapis baju besi menatap konvoi dengan mata curiga. Tidak ada sambutan. Tidak ada penghormatan. Hanya tatapan dingin.
Bisik-bisik langsung terdengar di antara para prajurit.
"Siapa orang tua itu?"
"Pakaiannya bagus, tapi wajahnya asing. apa dia prajurit baru ?"
"yang aku dengar dia adalah utusan dari ibu kota,membawa perbekalan obat-obatan dan makanan. Tapi siapa dia? Kok tidak pernah dengar namanya?"
Bima turun dari kereta. Lututnya gemetar. Ia menegakkan punggungnya, mencoba mengingat kata-kata Hana: _Ayah harus percaya diri. Angkat dagu._ Tapi mata ratusan prajurit yang menatap tajam membuatnya merasa kecil seperti semut.
"Berhenti!" seru seorang kapten berbadan besar. Ia maju dan menghalangi jalan Bima. "Siapa kalian? Ada surat tugas dari markas?"
Wira segera maju dan mengeluarkan gulungan surat bersegel lilin kerajaan. "Saya Menteri Logistik Wira, utusan langsung Yang Mulia Kaisar Sanata Ardian. Ini surat perintah resmi. Dan ini Tuan Bima, yang ditunjuk untuk mengawasi distribusi bantuan makanan dan obat-obatan ke markas ini."
Para prajurit saling pandang. Beberapa mengerutkan dahi. Tidak ada yang berlutut. Tidak ada yang memberi hormat. Mereka hanya menatap Bima dari atas ke bawah seperti menatap pedagang keliling.
Bima menunduk sedikit. Dalam hati ia bergumam: _Benar kata Hana. Dunia luar tidak mengenal aku. Aku hanya Bima, ayah Hana. Bukan siapa-siapa._
Wira berbisik cepat. "Tuan Bima, angkat kepala. Anda tidak bersalah. Anda di sini untuk menolong mereka agar tidak mati kelaparan."
Bima menarik napas dalam. Ia mengangkat dagunya sedikit. Matanya menatap lurus ke depan, meski jantungnya berdebar kencang.
Tiba-tiba, langkah kaki berat dan teratur terdengar dari dalam markas.
_Duk... duk... duk..._
Setiap langkah membuat tanah bergetar. Semua prajurit langsung tegak sempurna dan memberi hormat. Suasana menjadi hening total. Hanya suara angin kering yang berdesir.
Seorang pria keluar dari tenda komando utama. Tingginya hampir dua meter. Bahunya bidang seperti tembok. Wajahnya tampan dengan garis tegas, seperti patung pahlawan Yunani. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang. Matanya tajam seperti elang yang mengincar mangsa. Baju zirah peraknya bersih meski berdebu perjalanan.
Itu Jenderal Dominic. Komandan markas perbatasan Barat. Prajurit terhebat di seluruh kerajaan Sanata. Pria yang tidak pernah kalah dalam perang. Pria yang ditakuti musuh sampai ke negeri seberang.
Dominic berhenti tiga langkah di depan Bima dan Wira. Ia tidak memberi hormat. Ia hanya menatap. Tatapannya menyelidik, tajam, dan menekan seperti beban gunung.
"Siapa orang ini?" suara Dominic berat dan rendah, menggema di lapangan markas. Ia menatap Wira tanpa berkedip.
Wira langsung membungkuk 90 derajat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Jenderal Dominic, perkenalkan. Ini Tuan Bima. Beliau ditunjuk oleh Yang Mulia Kaisar untuk mengawasi distribusi bantuan makanan dan obat-obatan yang kami bawa dari ibu kota."
Dominic tidak menjawab. Matanya beralih ke Bima. Ia menatap wajah Bima lama sekali, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Alisnya terangkat sedikit.
" Bima," ucap Dominic pelan, seolah menguji nama itu di lidahnya. "Aku belum pernah mendengar nama itu di daftar perwira Sanata."
Bima mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ia menunduk hormat, tapi suaranya tenang. "Benar, Jenderal. Hamba bukan perwira. Hamba bukan jenderal. Hamba hanya seorang Bima. Hamba hanya memiliki seorang putri bernama Hana. Hamba datang ke sini bukan untuk merebut jabatan siapa pun. Hamba datang karena putri hamba meminta hamba memastikan prajurit di perbatasan tidak mati kelaparan."
Mendengar kata "putri bernama Hana", Dominic mengerutkan kening. Ia menoleh ke salah satu letnan di belakangnya. "Pernah dengar nama Hana?"
Letnan itu menggeleng cepat. "Tidak, Jenderal. Di markas ini belum pernah ada yang mendengar nama itu. Kami hanya tahu ada bantuan dari ibu kota. Tidak tahu siapa pengirimnya."
Dominic mengangguk pelan. Ia kembali menatap Bima. Tatapannya masih curiga, tapi sedikit melunak.
"Jadi kau bukan jenderal. Kau hanya ayah dari wanita yang mengirim bantuan ini," kata Dominic datar. "Kaisar mengirim bantuan karena wanita itu, bukan karena kas negara. Begitu?"
Wira menelan ludah. "Begitulah laporannya, Jenderal. Nona Hana menyediakan 50.000 keping emas untuk membeli gandum, daging, dan obat-obatan. Yang Mulia Kaisar memerintahkan kami mengantarkannya secepatnya sebelum prajurit mati kelaparan."
Dominic berjalan memutari Bima perlahan, seperti singa yang mengitari mangsa. Para prajurit menahan napas. Suasana sangat tegang.
"Di markas ini," kata Dominic akhirnya, suaranya mengiris udara. "Kami tidak menghormati surat. Kami tidak menghormati emas. Kami hanya menghormati kekuatan dan keberanian."
Ia berhenti tepat di depan wajah Bima. Jarak mereka hanya sejengkal. Bima bisa merasakan napas Dominic yang panas.
"Jika kau bukan jenderal, maka buktikan kau pantas berdiri di tanah ini," kata Dominic. "Malam ini ada latihan tempur simulasi antar regu. Kau akan memimpin satu regu prajurit baru. Jika regumu menang, aku akan izinkan kau mengawasi distribusi makanan. Jika regumu kalah... kau dan konvoi mu akan segera kembali ke Sanata malam ini juga."
Bima menatap mata Dominic. Tangan yang mengepal perlahan ia buka. Ia menghela napas, lalu mengangguk.
"Hamba terima tantangan itu, Jenderal Dominic," jawab Bima. Suaranya tidak keras, tapi tegas.
Para prajurit langsung berbisik. Beberapa tertawa kecil meremehkan.
"Pria tua itu gila. Mau lawan regu kita?"
"Dia tidak pernah pegang pedang. Pasti kalah telak."
"Kita lihat saja nanti malam. Biar dia tahu markas ini bukan tempat orang lemah."
Wira mendekat ke Bima dan berbisik cemas. "Tuan Bima, Anda yakin? Mereka semua prajurit terlatih. Anda..."
Bima menoleh ke Wira dan tersenyum tipis. Senyum seorang ayah yang tidak mau anaknya khawatir. "Aku tidak yakin, Menteri Wira. Tapi aku janji pada Hana. Aku harus pulang hidup-hidup. Dan untuk itu, aku harus melewati malam ini."
Dominic berbalik dan melangkah masuk ke tenda komando. Sebelum tirai tenda tertutup, ia berkata tanpa menoleh.
"Menteri Wira, Tuan Bima, silakan masuk. Kita bicarakan teknis distribusi makanan. Tapi ingat satu hal: di perbatasan ini, nama besar tidak berarti apa-apa. Hanya yang kuat yang bertahan."
Tirai tenda tertutup. Debu beterbangan.
Wira duduk di kursi kayu dengan lutut masih gemetar. Ia menuang teh untuk Bima dan untuk dirinya sendiri. Tangannya gemetar.
"Tuan Bima... jujur, saya takut," akui Wira lirih. "Jenderal Dominic... tatapannya bisa membuat orang gila."
Bima menerima cangkir teh. Tangannya sudah tidak gemetar lagi. Ia menyeruput teh panas perlahan. "Wajar kalau semua orang takut padanya,dia komandan terhebat di kerajaan kita,,siapa yang tidak mengenal nya,,
Wira mengangguk setuju"benar,,tapi tuan bima nanti malam anda harus berhati-hati,,jangan sampai anda terluka,jika tidak putri anda pasti akan mengambil kepala saya " panik Wira.
Bima mengangguk. "kamu tidak perlu khawatir,meski aku kalah aku berarti bukan pengecut,,aku hanya ingin membuktikan diri sendiri,,aku akan melawan meski aku sudah menebak jika aku akan kalah,,tapi saat ini yang sedang aku pertaruhan adalah harga diri " ucap bima,dan itu semua adalah kata-kata putrinya Hana,sebelum dia pergi Hana mengajarkannya untuk tidak jadi pria pengecut.
Wira menghela nafasnya,dia mengangguk dan pamit keluar sebentar,melihat itu bima hanya mengangguk,tanpa bima tau,Wira menemui para pengawal Hana yang ada digudang makanan dan obat-obatan,dia menceritakan semuanya yang terjadi.
Jay,jek,dan logan saling memandang,mereka berterimakasih pada Mentri Wira,setelah melihat kepergian nya Jay mengeluarkan sesuatu,dan itu adalah kertas jimat yang diberikan oleh Hana padanya sebelum pergi.
" aku harus memberitahu nona Hana,jangan sampai tuan bima terluka " ucapnya dengan serius, logan dan Jek mengangguk setuju, setelah kertas itu dia bakar,,mereka melihat cahaya kecil yang meninggalkan perbatasan, ketiga pria itu saling memandang dan akhirnya mengangguk tersenyum.
Di luar tenda, matahari mulai terbenam. Langit perbatasan berubah jingga kemerahan, seperti darah yang mengering. Bendera Sanata berkibar pelan.
Para prajurit masih berkumpul dan bergosip.
"Jadi benar dia bukan jenderal. Cuma ayah dari wanita pengirim bantuan."
"Wanita itu siapa? Hana Kusuma? Nama aneh. Belum pernah dengar."
"Kerajaan Sanata memang aneh sekarang. Kaisar tunduk pada wanita. Kita kirim bantuan karena wanita. Dunia sudah terbalik."
Di dalam tenda, Bima meletakkan cangkirnya. Matanya menatap peta perbatasan di meja Dominic. Ia bergumam pelan, hanya Wira yang mendengar.
"Hana... Ayah tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini. Tapi Ayah akan berusaha. Untukmu."
Angin malam mulai bertiup dingin dari arah pegunungan. Pertempuran kehormatan Bima akan dimulai beberapa jam lagi. Dan di ibu kota, Hana masih belum tahu apa yang menunggu ayahnya di perbatasan.