Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Langkah yang Berbeda
...Perjalanan cinta Arga dan Laras telah usai dengan kebahagiaan abadi. Namun kisah ini belum berakhir. Warisan ketulusan dan keberanian mereka kini diteruskan ke tangan generasi baru—menghadapi dunia yang berbeda, dengan jalan cerita yang tak kalah menyentuh hati....
... ...
Matahari pagi menyinari halaman luas kediaman Pratama, namun suasana di sana tidak lagi sepenuhnya sama seperti puluhan tahun silam. Dulu tempat ini dipenuhi kesibukan urusan bisnis besar dan pertemuan penting, kini lebih tenang—namun tetap terasa hidup dengan kenangan yang tak pernah pudar.
Di bangku kayu tua yang berdiri kokoh di sudut taman, duduk seorang gadis berusia sembilan belas tahun bernama Laras Pratama. Ia memiliki senyum lembut dan tatapan mata yang tajam persis seperti nenek moyang yang namanya ia sandang. Di pangkuannya terbuka sebuah buku kulit tua yang berisi catatan perjalanan hidup Arga dan Laras.
“Masih membaca buku itu lagi, Lar?”
Suara lembut itu terdengar dari belakang. Laras menoleh dan tersenyum melihat kakeknya, Arga Muda, berjalan mendekat sambil memegang dua gelas teh hangat.
“Iya, Kek. Setiap kali kubaca, rasanya selalu ada hal baru yang kupahami. Tapi kadang aku juga bertanya-tanya… apakah aku sanggup membawa nama ini dengan baik? Dunia sekarang sangat berbeda dengan zaman dulu.”
Arga Muda duduk di samping cucunya, menatap pohon-pohon besar yang menjadi saksi bisu perjalanan keluarganya.
“Kau tidak perlu menjadi persis seperti mereka, Nak. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri, namun tetap memegang nilai yang sama. Dulu Arga dan Laras dipersatukan karena keadaan yang berat. Kalian mungkin tidak akan mengalami hal yang sama persis, tapi setiap hati pasti punya ujiannya masing-masing. Itulah jalan yang harus kau tempuh dengan caramu sendiri.”
Laras mengangguk pelan, namun keraguan masih tersisa di matanya. Ia tumbuh dengan segala kemudahan dan nama yang harum, tapi hal itu justru sering membuat orang melihatnya hanya sebagai “anak orang kaya”, bukan melihat siapa dirinya yang sebenarnya.
Siang itu, Laras berangkat menuju kampus tempat ia menempuh pendidikan jurusan sosial. Ia ingin belajar bagaimana cara membantu orang lain dengan cara yang benar, persis seperti yang selalu diajarkan keluarganya. Namun baru saja ia melangkah keluar dari gerbang kampus, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
Sebuah mobil hitam melaju kencang namun tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, dan seorang pemuda berwajah dingin keluar dengan tergesa-gesa. Tanpa banyak bicara, ia menarik tangan Laras dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
“Maaf, aku butuh bantuanmu sebentar. Tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang,” ucapnya singkat, suaranya tegas namun terdengar tertekan.
Laras sempat terkejut dan hendak melepaskan diri, namun saat melihat tatapan mata pemuda itu—yang menyembunyikan kekhawatiran besar—ia justru teringat pesan nenek moyangnya: “Terkadang takdir datang menyamar sebagai kesulitan, tapi seringkali itu adalah jalan menuju kebaikan yang tak terduga.”
“Siapa kau? Dan kemana kau akan membawaku?” tanya Laras tenang, meski jantungnya berdegup kencang.
Pemuda itu menoleh sekilas, menatap mata Laras dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Namaku Daffa Aditya. Dan aku berjanji akan mengantarkanmu kembali dengan selamat setelah urusanku selesai. Tapi kumohon, percayalah padaku sebentar saja.”
Laras terdiam. Entah mengapa, meski pertemuan mereka begitu tiba-tiba dan aneh, hatinya tidak merasa terancam. Ada sesuatu pada diri pemuda itu yang mengingatkannya pada kisah yang baru saja ia baca—seseorang yang tampak keras di luar namun menyimpan beban berat di dalam hati.
“Baiklah. Aku ikut,” jawab Laras akhirnya.
Mobil itu pun melaju membelah jalanan kota, membawa mereka menuju sebuah pertemuan yang akan mengubah seluruh rencana hidup Laras. Ia belum tahu, bahwa langkah yang ia ambil hari ini adalah awal dari perjalanan panjangnya sendiri—dimana cinta tidak lagi datang dari paksaan orang lain, melainkan dari pertarungan hati, pilihan, dan keberanian untuk memahami seseorang yang berbeda dunia dengannya.
Dan di kejauhan, seolah-olah dua sosok tua yang penuh kasih tersenyum melihatnya, berharap kisah baru ini pun akan tumbuh menjadi sesuatu yang indah pada waktunya.
(Bersambung ke Bab 24) ✨