"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalimat yang tertahan
Yuna berdiri di dekat gerbang kampus, jemarinya dengan cekatan membuka aplikasi di ponsel untuk memesan ojek online. Karena mobil City Car putihnya sengaja ditinggal di rumah ibunya semalam, mau tidak mau hari ini ia harus mengandalkan transportasi umum untuk pulang ke rumah suaminya.
Tak butuh waktu lama, seorang driver ojek online berjaket hijau datang menjemputnya. Setelah memakai helm, Yuna segera naik ke boncengan dan motor pun melaju membelah jalanan kota yang cukup terik.
Sepanjang perjalanan pulang, angin yang berembus menerpa wajah Yuna sama sekali tidak bisa mendinginkan kepalanya yang terus berputar keras. Pikiran gadis 21 tahun itu sepenuhnya tertuju pada satu hal: mencari alasan untuk meminta izin kepada Labib.
"Aduh, bilang apa ya sama Mas Labib?" gumam Yuna lirih, suaranya teredam oleh bisingnya knalpot kendaraan di jalanan.
Mengingat kepribadian Labib yang kaku, disiplin, dan sangat protektif—terutama setelah insiden kaburnya Yuna semalam—pasti tidak akan mudah mendapatkan izin keluar pada jam delapan malam. Apalagi ini hanya untuk acara pesta ulang tahun teman kuliah. Di mata seorang Profesor Labib Galendra, acara malam-malam seperti itu pasti dianggap kurang berfaedah dan melelahkan.
Yuna meremas ujung kemeja kuliahnya dengan cemas.
Kalau jujur bilang mau ke ulang tahun Meysa, kira-kira dibolehin nggak ya? Atau malah dilarang karena udah kemalaman?
Tapi kalau bohong bilang mau kerja kelompok sama Dinda, nanti kalau Mas Labib nanya macam-macam atau malah mau antar-jemput, malah makin berabe.
Yuna menghela napas panjang di balik masker kainnya. Membayangkan wajah datar dan tatapan mata elang suaminya saat berada di rumah saja sudah membuat nyali Yuna ciut, apalagi jika harus berhadapan langsung untuk negosiasi izin keluar malam ini. Benar-benar teka-teki yang lebih sulit daripada tugas struktur bangunan yang diberikan pria itu di kelas tadi.
Motor ojek online yang ditumpangi Yuna perlahan melambat saat memasuki pos penjagaan komplek perumahan elit tempat tinggalnya bersama Labib. Setelah sang driver menerima kartu pas dari satpam, motor kembali melaju membelah jalanan komplek yang asri, tenang, dan dinaungi pohon-pohon peneduh di kanan-kirinya. Berbeda dengan jalanan kota yang bising, di sini suasananya begitu sunyi—hanya ada beberapa mobil mewah yang terparkir rapi di halaman rumah-rumah megah berpagar tinggi.
Semakin dekat motor itu dengan rumah bernomor 12, jantung Yuna justru berdegup semakin kencang. Alasan yang sejak tadi ia susun di atas motor mendadak buyar begitu saja.
"Di depan rumah cat putih pagar hitam itu aja, Pak," ucap Yuna pelan, menunjuk ke arah kediamannya.
Setelah motor berhenti sempurna, Yuna turun dan menyerahkan helm kepada sang pengemudi. Ia mengucapkan terima kasih, lalu melangkah ragu mendekati pintu gerbang kecil di samping pagar otomatis. Begitu gerbang terbuka, matanya langsung menangkap siluet mobil sedan hitam milik Labib yang sudah terparkir manis di garasi.
"Astaga, Mas Labib udah pulang..." cicit Yuna dengan leher yang mendadak terasa kering.
Suaminya itu memang selalu bergerak lebih cepat. Meskipun jam kuliah baru selesai siang tadi, Labib pasti langsung pulang ke rumah untuk melanjutkan koreksi tugas atau pekerjaan dekanatnya di ruang kerja pribadi.
Yuna menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debaran di dadanya. Ia merapikan sedikit rambut dan pakaian kuliahnya, lalu berjalan pelan menuju pintu utama rumah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Yuna memutar knop pintu, bersiap masuk ke dalam "wilayah kekuasaan" sang suami galak demi sebuah misi: meminta izin keluar malam.
Yuna melangkah pelan melewati pintu utama yang kokoh. Atmosfer di dalam rumah terasa begitu sejuk berkat pendingin ruangan yang menyala. Begitu menoleh ke sisi kanan, matanya langsung menangkap sosok Labib yang sedang duduk tegak di meja kerja portabel yang terletak di sudut ruang tamu. Pria itu masih mengenakan kemeja dongker kuliahnya pagi tadi, namun kancing teratasnya sudah dibuka dan lengan bajunya digulung lebih tinggi, menatap serius ke arah layar komputer.
"Aku... aku pulang," ucap Yuna agak terbata, memecah keheningan ruangan.
Mendengar suara sang istri, Labib seketika menghentikan ketikannya. Jemarinya menjauh dari keyboard, lalu pria 31 tahun itu memutar kursi kerjanya untuk menghadap penuh ke arah Yuna. Tatapan mata elangnya yang tajam perlahan melembut saat melihat istri kecilnya sudah kembali ke rumah dengan selamat.
Namun, sebelum Yuna sempat membuka mulut untuk mengutarakan alasan izin ke pesta ulang tahun Meysa yang sudah ia susun sepanjang jalan, Labib lebih dulu bersuara.
"Malam ini aku keluar ya," ucap Labib dengan nada suara baritonnya yang datar namun terdengar lelah. Pria itu mengembuskan napas pendek sebelum melanjutkan, "Ibu menyuruhku ke rumah."
Kata-kata Labib seketika membuat kalimat izin yang sudah berada di ujung lidah Yuna tertelan kembali. Jantungnya mencelos sedikit. Mendengar kata 'Ibu', bayangan amukan dan makian mertuanya semalam mendadak berputar lagi di kepala Yuna.
Ternyata, badai semalam belum benar-benar usai. Panggilan dari ibunya pasti berhubungan dengan keributan besar yang terjadi di kamar mereka kemarin.
Yuna berdiri mematung di dekat sofa, meremas tali tas ranselnya erat-erat. Rencana untuk meminta izin pergi ke pesta Meysa mendadak buyar, tergantikan oleh rasa cemas yang kembali menggelayuti hatinya melihat suaminya harus kembali menghadapi sang ibu demi membela pernikahan mereka.