Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuma gue
Setelah selesai rapat, Revan menepati janji yang dia buat di surat itu. Dia langsung menjemput Serena dan mengajaknya untuk makan di luar.
Restoran itu sepi. Tempatnya kecil, di sudut mall, pencahayaannya redup dan musiknya pelan.
Revan sengaja milih yang tidak ramai. Agar tidak ada mata lain yang melihat Serena terlalu lama.
Begitu duduk, dia langsung menarik kursi Serena agar lebih dekat ke sisinya.
"Duduk di sini. Biar gue bisa ngeliat lo," katanya pelan sambil menyerahkan menu.
Serena menurut dan duduk di sebelah nya. Dia masih diam sejak kejadian malam itu. Dadanya masih terasa sesak, tapi marah ke Revan tidak ada gunanya.
Revan membuka menu, tapi tatapannya tidak pernah berpaling dari wajah Serena.
"Mau pesen yang pedas? Kemarin lo bilang kangen ramen pedes."
Serena mengangguk kecil. "Iya, Kak."
Pelayan datang. Revan memesan semuanya sendiri tanpa bertanya lagi.
"Ramen pedes level 3, es lemon, sama puding coklat. Dia nggak suka yang kemanisan."
Serena menatapnya terkejut.
"Kak Re inget?"
Revan hanya mengangkat bahu, nadanya datar tapi ada senyum tipis.
"Gue inget semua tentang lo, Na. Sekecil apa pun itu."
Serena diam. Kalimat itu membuat dadanya aneh. Marah, tapi juga hangat.
Makanan datang. Revan mendorong mangkuk ramen ke depan Serena. Mencium aroma dari uap yang masih mengepul. Serena mencicipi kuah hangat itu pelan -pelan .
Tiba-tiba Revan mengambil tisu dan menyeka sudut bibir Serena. Gerakan nya pelan tidak terburu-buru.
"Ada kuah."
Jemarinya menyempatkan menyentuh pipi Serena sebentar. Tidak kasar.
Serena menahan napas. Gerakan kecil itu berhasil membuat seluruh tubuhnya kaku.
"Kak..."
Serena tidak melanjutkan. Dia tidak tahu harus bicara apa.
Revan duduk, menyandarkan punggung ke kursi. Matanya menatap Serena lekat-lekat.
"Lo nggak perlu takut sama gue kalau lo nurut, Na."
Dia nyodorin gelas es lemon ke depan Serena.
"Makan. Nanti pusing kalau perut kosong."
Serena mulai makan pelan-pelan. Revan tidak makan. Dia hanya melihat Serena.
Di tengah suasana tenang itu, pelayan pria yang tadi mengantar pesanan kembali mendekat. Ia membawa tisu tambahan dan meletakkannya di meja. Saat menarik tangan, tangannya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Serena yang sedang mengambil gelas.
"Maaf, Kak," ucap pelayan itu cepat, sedikit membungkuk.
Wajah Revan berubah seketika.
Mata yang sedari tadi lembut langsung menggelap. Ia berdiri setengah dari kursinya, bahunya menegang.
"Maksud lo apa?. Lo nggak punya mata?" suaranya rendah, tapi tajam dan dingin sampai membuat pelayan itu menelan ludah.
"Kak, udah.." Serena berusaha menarik lengan Revan pelan untuk menyuruhnya duduk.
"Ka-kak, maaf. Nggak sengaja..."
"Gue nggak peduli sengaja atau nggak."
Revan mencondongkan tubuh, menatap pelayan itu lekat-lekat.
"Jangan sentuh dia. Sekali lagi, gue pastikan lo nggak akan kerja di sini lagi."
Pelayan itu mundur cepat, wajahnya pucat. "Baik, Kak. Maaf sekali."
Serena langsung panik. Ia menarik ujung lengan Revan pelan.
"Kak Re, udah... dia nggak sengaja. Jangan marah di sini, malu."
Revan masih menatap ke arah pelayan yang pergi terburu-buru. Dadanya naik turun.
Serena menggeser kursinya sedikit, menggenggam tangan Revan di atas meja.
"Kak, aku nggak apa-apa. Sumpah. Dia nggak sengaja. Jangan bikin masalah di sini."
Revan menoleh. Tatapan tajamnya perlahan turun ke tangan Serena yang menggenggamnya.
Napasnya masih berat, tapi sentuhan Serena membuat rahangnya sedikit mengendur.
"Lo nggak boleh biarin orang lain nyentuh lo, Na," gumamnya pelan, suaranya masih berat.
"Gue nggak suka."
Serena mengangguk kecil, ibu jarinya mengusap punggung tangan Revan pelan.
"Aku tau kak.. Tapi jangan kayak gitu lagi ya. Aku cuma punya kakak kok"
Kalimat itu membuat otot di rahang Revan akhirnya mengendur.
Ia menarik napas panjang, lalu duduk kembali. Matanya kembali fokus ke Serena, seolah ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Habisin makannya," katanya pelan, nadanya sudah tidak sekeras tadi.
"Abis ini kita pulang. Dan kalau ada orang yang berani nyentuh lo lagi, lo langsung bilang gue."
Serena mengangguk pelan.
"Iya, Kak."
Di luar, hujan mulai turun lagi.
Tapi di meja itu, Revan menatap Serena seolah seluruh dunia di luar tidak lagi penting. Posesif. Keras.
.......
Malam itu Revan mengantar Serena sampai depan pintu apartemen.
Dia tidak masuk, karena malam ini Revan memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Dia hanya berdiri, menatap Serena lekat-lekat sebelum akhirnya berbisik pelan.
"Jangan lupa. Lo milik gue, Na."
Dia menyentuh dahi Serena sekilas, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.
Pintu apartemen tertutup pelan.
Serena bersandar di sana, napasnya pelan-pelan lepas.
Di meja ruang tamu, ponselnya menyala.
Revan sudah mengembalikan ponsel itu sore tadi, setelah memastikan tidak ada chat dari Jake yang belum dibaca.
Serena mengambilnya dengan ragu.
Jemarinya gemetar kecil waktu dia membuka Instagram.
Dan di notifikasi paling atas, ada nama itu.
Jake mulai mengikuti Anda.
Dadanya sesak.
Serena buru-buru ingin menutup aplikasi itu, tapi terlambat.
"Lo buka HP."
Suara Revan tiba-tiba muncul dari belakang.
Serena tersentak, menoleh cepat.
Revan berdiri di ambang pintu yang ternyata belum benar-benar dia tutup. Wajahnya datar, tapi matanya gelap.
"Kak Revan... kok balik lagi?"
Suara Serena pelan, hampir berbisik.
Revan melangkah masuk tanpa izin, menutup pintu di belakangnya dengan suara pelan.
Dia tidak langsung marah. Dia hanya menatap Serena, lalu menatap layar ponsel yang masih menyala di tangan Serena.
"Gue bilang apa tadi siang, Na?"
Suaranya rendah, tapi ada tekanan yang bikin udara di ruangan jadi berat.
Serena menelan ludah.
"Aku... aku nggak buka chat-nya, Kak. Aku sumpah."
Revan mengangguk pelan. Dia maju, mengambil HP itu dari tangan Serena dengan hati-hati, seolah takut kalau disentak, Serena akan lari.
Dia melihat notifikasi itu. Nama Jake.
"Gue nggak suka lo masih kepikiran dia, Na."
Revan menaruh HP itu di meja, lalu menarik Serena ke dalam pelukannya.
Pelukannya erat. Terlalu erat, seperti takut Serena akan menghilang kalau dilepas sedetik saja.
"Gue tahu lo takut sama gue. Tapi lebih baik lo takut kehilangan gue daripada lo ngasih dia kesempatan."
Serena memejamkan mata. Bau parfum Revan memenuhi hidungnya, menenangkan sekaligus mencekik.
"Aku nggak kepikiran dia, Kak. Aku cuma... kaget."
Revan mengusap rambut Serena pelan.
"Bagus kalau gitu. Karena mulai sekarang, gue nggak mau ada nama dia di HP lo. Nggak di notifikasi, nggak di kepala lo."
Revan mundur sedikit, mengangkat dagu Serena supaya mata mereka bertemu.
"Lo cuma boleh mikirin gue, Na. Cuma gue."
Serena tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil.
Revan tersenyum tipis. Dia mencium kening Serena lama, seolah ingin menghapus rasa takut yang masih tertinggal di sana.
"Mandi sana. Nanti gue tungguin di kamar."
Serena mengangguk lagi, lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.
Revan menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.
Begitu suara air terdengar, dia mengambil HP Serena dari meja, membuka pengaturan, lalu memblokir akun Jake tanpa ragu.
"Lo nggak perlu tahu Na," gumamnya pelan.
"Yang lo perlu tahu cuma satu... lo milik gue."