Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Beberapa bulan telah berlalu sejak Dio pertama kali menempuh pendidikan di sekolah dasar. Kehidupan Rena kini berjalan jauh lebih baik. Setiap hari Sabtu, Ririn selalu menepati janjinya untuk mentransfer upah kerja Rena langsung ke rekening barunya. Pagi ini, sebelum memulai aktivitasnya, Rena sempat membuka aplikasi m-banking di ponselnya. Melihat angka di saldo tabungannya yang terus bertambah secara konsisten, seulas senyum penuh kelegaan terukir di bibirnya.
Tabungannya kini sudah terkumpul sudah lumayan. Rena bersikap sangat hemat, uang itu hanya sesekali dia gunakan untuk kebutuhannya yang benar-benar mendesak dan menutupi kekurangan kebutuhan sekolah Dio yang tidak bisa dipenuhi oleh suaminya. Tabungan ini adalah satu-satunya harapannya di masa depan jika terjadi sesuatu dengan pernikahannya.
Di rumah, situasi masih mendingin seperti medan perang yang membeku. Sikap Rena terhadap ibu mertua dan adik iparnya masih tetap dingin tanpa kompromi. Dia tidak lagi menjadi Rena yang penurut dan lemah. Sesekali, Rena langsung melawan dengan kata-kata tajam dan tatapan menusuk saat mereka mencoba menindas atau mencibirnya. Keberanian baru Rena sukses membuat Bu Broto dan Siska sering kali mati kutu dan hanya bisa menggerutu di belakangnya.
Sementara itu, sikapnya kepada Aris juga tidak kalah dingin. Rena tetap melayani Aris sebagai suami seperti menyediakan makan dan mencuci bajunya, namun semua itu dia lakukan hanya untuk formalitas hubungan suami istri di atas kertas semata. Tidak ada lagi rasa cinta, tidak ada lagi kehangatan. Hal itu terjadi karena perlakuan Aris kepadanya maupun kepada Dio tetap sama saja tidak ada perubahan sama sekali, tetap abai, dingin, dan tidak peduli. Walau Rena sudah menegurnya dengan sangat keras beberapa bulan lalu sebelum Dio masuk sekolah. Aris seolah menutup mata dan telinga, memilih tetap menjadi pajangan egois di dalam rumah.
Aris tetap pada sikapnya yang tidak peduli kepada anak istrinya. Ditambah sekarang dia selalu pulang terlambat dan terkadang melewatkan makan malamnya. Dia hanya menjadikan rumah sebagai tempat tidur.
Sempat terbesit kecurigaan dalam benak Rena, kenapa suaminya sekarang selalu pulang larut. Tapi dia selalu mencoba berfikir positif, mungkin pekerjaan Aris sangat banyak dan dia harus lembur. Meskipun begitu, uang bulanan tidak bertambah sedikit pun, nilainya tetap sama seperti sebelumnya.
Suatu pagi, tepat saat Rena sedang memilah pakaian kotor milik suaminya yang akan di cuci, dia menemukan sesuatu yang aneh pada salah satu kemeja Aris.
Saat Rena mengangkat kemeja kerja putih yang dipakai Aris kemarin, sebuah aroma menyengat langsung menusuk hidungnya. Rena mengernyitkan keningnya saat mencium bau parfum yang sangat berbeda dan terasa asing menempel kuat di baju kerja Aris. Itu bukan wangi detergen rumah mereka, bukan pula wangi parfum maskulin berharga diskonan yang biasa Aris gunakan. Itu adalah wangi parfum wanita yang sangat manis, pekat, dan mewah.
Firasat buruk seketika menghantam dada Rena. Dengan tangan yang mulai bergetar, dia membalikkan kerah kemeja tersebut ke arah cahaya lampu yang lebih terang. Jantung Rena berdebar kencang, saat matanya menemukan satu fakta baru di sana.
"Lipstik...?" bisik Rena lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Untuk memastikan dugaannya, Rena segera merogoh semua kantong celana kerja Aris yang tersisa di dalam ember. Tangannya menyentuh beberapa lembar kertas di dalam sana. Saat ditarik keluar, matanya menangkap sebuah struk bukti transfer ATM atas nama Aris yang ditujukan ke rekening seseorang bernama 'Linda' sebesar dua juta rupiah, lengkap dengan nota pembayaran satu malam di sebuah hotel di pusat kota tertanggal dua hari lalu.
Rena terpaku di lantai kamar mandi yang dingin. Rasa terkejut, jijik, dan amarah bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Namun, sedetik kemudian, rasa sesak itu berubah menjadi sebuah tawa hambar. Rena tersenyum sinis, menatap lembaran kertas di tangannya dengan pandangan menghina.
"Dua juta rupiah untuk perempuan bernama Linda, dan satu malam di hotel mewah," gumam Rena dengan suara bergetar menahan gejolak emosi. "Sementara untuk anak kandungnmu dan istri yang sudah mengurusmu dan keluarga mu, kamu bilang tidak punya uang. Sungguh luar biasa, Mas Aris."
Rena menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang menggila. Mungkin ini yang disebut sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya akan kepleset juga. Sepandai-pandainya Aris menyembunyikan kebusukannya di luar sana, takdir akhirnya membongkar semuanya hari ini lewat selembar kertas kecil dan noda di kerah baju yang mungkin lupa ia hilangkan.
Rena bergerak cepat. Dia menyimpan semua bukti fisik tersebut, lalu merogoh ponselnya. Dengan tangan yang sudah kembali tenang, dia memfoto noda lipstik di kerah kemeja serta struk transfer dan nota hotel itu dari berbagai sudut. Dia memastikan semua detail tulisan dan tanggal terlihat dengan sangat jelas.
Dia akan menanyakan hal ini nanti malam kepada Aris. Kalau pagi ini, tidak mungkin dia melakukan konfrontasi. Waktunya terlalu sempit, dia harus segera mengantarkan Dio pergi ke sekolah dan setelah itu dia harus langsung pergi kerja. Rena tidak ingin merusak hari Dio untuk sekolah dengan keributan rumah tangga yang menjijikkan.
Hari itu, saat bekerja di rumah Ririn, Rena jadi sedikit tidak konsentrasi dalam bekerja. Pikirannya melayang jauh setelah mendapatkan sesuatu fakta yang begitu menjijikkan tentang suaminya tadi pagi. Fokusnya terpecah, membuat gerakannya saat menyapu dan menyetrika menjadi agak lambat dari biasanya.
Ternyata suaminya itu tidak hanya pelit dan abai, tetapi juga tukang selingkuh yang tega membiarkan anak istrinya hidup terlunta-lunta demi membiayai wanita lain. Kenyataan itu menghantam harga diri Rena sebagai seorang wanita dengan sangat keras.
Ririn yang sedang menyusui bayinya di sofa ruang tengah menyadari perubahan drastis pada asistennya. "Mbak Rena? Mbak baik-baik saja? Kok dari tadi aku perhatikan mbak kerja nya nggak kayak biasanya?" tanya Ririn dengan nada cemas.
Rena tersentak dari lamunannya, hampir saja menjatuhkan gelas yang sedang dia lap. Dia buru-buru memaksakan seulas senyum tipis untuk menutupi kegundahannya. "Ah, iya, Mbak Ririn. Maaf, saya baik-baik saja. Cuma agak sedikit pusing karena kurang tidur semalam."
"Kalau Mbak Rena merasa kurang sehat, istirahat dulu saja, Mbak. Jangan terlalu dipaksakan kerjanya," tawar Ririn dengan tulus, merasa tidak tega melihat gurat kesedihan yang mendalam di wajah Rena.
"Tidak apa-apa, Mbak Ririn. Terima kasih banyak. Saya akan selesaikan pekerjaan ini secepatnya," jawab Rena sopan.
Rena memang sangat terpukul hari itu, hatinya seperti diremas oleh kenyataan pahit yang baru diketahuinya. Namun, dia mencoba sekuat tenaga untuk tetap fokus dan profesional menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Dia membutuhkan setiap sen dari hasil keringatnya ini. Rena menguatkan hatinya, mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan energinya yang ada, sebelum dia harus pulang dan bertarung dengan perasaannya sendiri serta menghadapi badai besar yang sudah dia siapkan di rumah nanti malam.