Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peduli
Laju motor kami terarah ke salah satu pusat perbelanjaan di ibu kota ini. Ferdy mengarahkan motor ini ke basement Gedung yang memang diperuntukkan sebagai tempat parkir motor para pengunjungnya.
“Kok kesini Dy?!” Aku bertanya heran saat motorku sudah terparkir rapi.
“Ada titipan babeh harus gue ambil.” Ferdy menjawab keherananku sambil berjalan santai menuju pintu lift di ujung basement ini.
“Oh.. Kalau gitu, gue tunggu disini aja ya. Kepala gue masih pusing.” Aku berusaha bernegosiasi lagi dengannya. Akan sangat aneh jika nanti aku harus berjalan sempoyongan di dalam sana seperti orang mabuk, mengingat semua yang kulihat sekarang masih berbayang. Denyutan menyakitkan masih setia melekat di kepalaku.
“Eittts,, nggak bisa. Lo harus ikutan dong. Masa gue jalan di pusat keramaian gini sendirian aja. Ogah gue.” Ferdy mengajukan protes dan segera memutar badannya kembali melangkah mendekatiku yang memilih duduk di atas motor.
“Sumpah Dy, gue nggak bisa. Gue sekarang liat lo aja ada dua gini. Kepala gue lagi sakit banget.”
“Hmmm… Oke, lo tunggu sebentar, gue nelpon orang dulu.” Ferdy melangkah menjauhiku, sedangkan aku memilih menumpukan tanganku di stang motor ini sebagai penyangga kepalaku yang terasa semakin berat saja.
Aku hampir pulas, entah sudah berselang berapa menit ketika Ferdy kembali sambil menggoyang tubuhku pelan.
“Dit, bangun dong. Ayo temenin gue keatas. Nggak jauh ko, masuk lift keluar lift belok kanan jalan dikit nyampe. Lagian lo udah istirahat lama juga di UKS, kagak sembuh-sembuh. Please Dit temenin gue...” Kuangkat kepalaku menengadah kearahnya. Mungkin aku memang harus mengikutinya. Ya, setidaknya sekarang ferdy hanya terlihat satu tidak berbayang seperti sebelumnya. Fakta bahwa aku yang semakin lemah dan sering merasakan sakit di beberapa anggota tubuhku pasca kecelakaan itu memang tidak bisa dipungkiri. Aku pernah merasa sangat sehat saat baru pulang dari Rumah Sakit. Hanya satu hari. Hari berikutnya, aku harus berjuang menahan mual saat makan karena entah mengapa semua makanan yang masuk seakan enggan dicerna oleh perutku. Berkali-kali aku muntah di hari itu. Hari berikutnya, pertengkaran kedua orang tuaku semakin membebani kerja otakku, sehingga asam lambungku menjadi tidak terkontrol dan membuatku terkapar kembali karena kelelahan hanya untuk aktifitas mual muntahku saja. Dan beberapa hari ini, aku memutuskan menjalankan hari-hariku sebagai siswa SMA seperti biasanya. Namun, fakta bahwa Dheka pun berusaha menjauhiku, semakin membuat beban di otakku bertambah.
"Oke, nggak lama ya. Dan pelan-pelan jalannya." Aku memilih mengalah untuk segera bertemu kasur di rumah Ferdy.
"Siap, baru jam tujuh kok. Babeh izinin kita sampai jam sembilan." Ferdy merangkul pundakku dan segera berjalan mengikuti langkahku yang cukup berat.
Seperti yang dikatakan Ferdy sebelumnya, kami memasuki lift dan kulihat tombol angka tujuh ditekan olehnya. Aku sangat hafal susunan lantai di sini, lantai tujuh adalah deretan kafe dan tempat makan yang cukup besar disini. Mungkin babeh Ferdy memesan makanan di salah satu tempat itu. Aku mengikuti langkahnya berjalan ke salah satu kafe yang cukup terkenal di kalangan remaja saat ini. Biasanya aku menghabiskan banyak waktu dengan Dheka disini untuk makan, mengerjakan tugas atau bahkan sekedar menghabiskan waktu. Apa mungkin babeh sengaja pesan makanan disini?!
"Nah,, ketemu! Silahkan duduk Adit..." Aku masih memperhatikan arah jalanku saat Ferdy menggeser sebuah kursi dan memintaku untuk duduk di kursi tersebut. Dan segera mataku terbelalak saat kudapati Dheka terduduk manis di meja yang sama dengan kursi yang digeser Ferdy tadi.
"Dheka...?!"
"Lho, Adit?!" Dheka juga terlihat kaget menyadari kehadiranku disini.
"Ferdy! Besok gue tunggu penjelasan lo!" Dheka melanjutkan ucapannya dengan nada kesal dan penuh penekanan. Segera saja Dheka berjalan keluar meninggalkan kami yang bahkan belum mulai duduk sama sekali.
"Yaaah... Pergi dia." Ferdy pun terlihat cukup tercengang dengan respon yang diberikan Dheka.
"Maksud lo apa Dy... lo sengaja ngundang Dheka kesini?"
"Hmmm... Udahlah, kita pesen makan dulu yuk. Laper gue. Heran aja gue sama kalian ada masalah nggak selesai-selesai, makanya sengaja gue undang biar ketemu. Eh, malah jadi gini..." Ferdy segera menggeser kursi disampingnya dan mendudukkan dirinya diatas kursi itu. Akupun mengikutinya duduk, ingin marah tapi sepertinya sudah tidak perlu, ingin menjelaskan pun rasanya percuma karena aku pun belum mengetahui apa penyebab Dheka berubah seperti saat ini.
"Lo pesen apa Dit?"
"Gue nggak makan." Aku berkata pelan menjawabnya, selain karena memang aku sangat tidak berselera makan, mengingat bisa saja perutku belum siap menerima makanan, aku pun masih kesal dengan nya. Ferdy terlihat acuh dan segera menunjuk beberapa menu yang tidak kuketahui apa saja pesanannya.
Hanya keheningan yang menemani kami selanjutnya. Aku tidak tertarik membahas apapun saat ini, entahlah, rasa kesal pada tindakan gegabah Ferdy tadi masih belum hilang. Seandainya tidak ada rencana bodoh ini, seharusnya kami sudah sampai di rumah nya dan aku bisa segera merebahkan tubuh ini.
"Dit, sorry ya. Gue nggak berharap bakal begini jadinya. Gue kira lo sama Dheka hanya butuh seseorang yang bisa mempertemukan kalian dengan situasi dan kondisi yang tepat. Dan gue kira gue bisa jadi seseorang itu. Sorry banget, ide ini tiba-tiba mucul gitu aja pas gue baca history Dheka lagi ada disini. Tadi, sesaat sebelum kita keluar dari sekolah." Ferdy berkata panjang lebar mencoba menjelaskan alasannya. Ya, niat nya memang baik, tapi terlalu dini jika disimpulkan sekarang. Langkah apapun pastinya tidak akan berhasil.
Aku hanya menghela nafas menanggapinya. Bagiku cukup yang dijelaskan Ferdy tadi menjawab keherananku dan aku tidak perlu menambahkan pertanyaan atau pembelaan apapun.
"Dit,,, kok lo diem?! Lo marah?!" Setelah jeda cukup lama, Ferdy pun bersuara kembali.
"Iya, gue marah. Gue mau tidur dulu. Lo bangunin kalau udah selesai makan." Langsung kutumpukan kepalaku pada kedua tanganku yang terlipat diatas meja.
Aku tak memperdulikan lagi apa yang dilakukan Ferdy, biarlah dia menunggu makanan nya datang tanpa obrolan apapun. Aku mencoba untuk terlelap, tapi alunan musik yang cukup keras di sekitarku sangat mengganggu. Mataku terpejam namun otak ku masih belum bisa diajak beristirahat. Beberapa kali derap langkah terdengar seperti mendekati meja kami, tapi tak ada suara apapun yg kudengar selain derap langkah itu. Mungkin pramusaji sedang bolak balik mengantar dan mengambil pesanan. Entahlah, aku tak peduli. Pikiran, tubuh dan hatiku terasa sangat lelah. Bahkan nama Dheka sekarang seolah menari di kepalaku.
Kenapa Dheka sampai sekejam tadi merespon keberadaan ku?!
Apakah kata sayang yang dulu selalu digaungkannya sekarang telah berubah menjadi kebencian?!
Apakah janji untuk berusaha bersama meraih impian sampai jenjang kuliah nanti sudah dia lupakan?!
Apakah kesepakatan untuk saling menjaga hati sampai sukses dan siap waktunya nanti untuk menikah tidak lagi ada dalam wishlist nya?!
Aku lelah memikirkan itu semua..
Tapi otak ku benar-benar blank mencari jawaban yang tepat untuk menjadi alasan kenapa semua ini terjadi.
"Dit, Lo minum dulu lemon tea hangat nya. Sengaja gue pesenin." Kurasakan tepukan kecil pada pundakku.
"Thanks Dy." Ucapku sambil berusaha menegakkan badan ku kembali. Kulihat piring Ferdy menyisakan setengah porsi spageti yang dipesannya. Segera kuteguk minuman yang telah dipesankan Ferdy untuk ku. Tanpa jeda, aku menghabiskan satu gelas full lemon tea tersebut. Rasanya menyegarkan tenggorokan dan perutku menghangat. Sangat nyaman.
"Buseet.. haus Lo. Mau gue pesenin lagi?" Ferdy melihatku sambil sesekali menggelengkan kepalanya, kurasa normal saja yang kulakukan tadi.
"Boleh, enak banget lemon tea nya." Aku mengangguk merespon tawarannya. Ferdy pun segera memesankan minuman tersebut kembali.
"Hmmm,, soal tadi, gue bener-bener minta maaf ya Dit. Sorry banget. Gue nggak tahu respon Dheka akan seperti itu." Ferdy mulai berkata serius melihatku merespon dengan baik interaksi diantara kami saat ini.
"Iya, kali ini gue maafin. Lain kali Lo nggak usah sok bikin surprise ga jelas gini ya. Lo belum tau sefatal apa masalah yang ada antara gue sama Dheka. Jadi, bilang dulu kalo mau bikin pertemuan diantara kami." Aku mencoba mengerti sikap Ferdy kali ini. Meski kutahu, sangat bukan seorang Ferdy jika dia sampai memperhatikan detail hubungan kami. Ferdy yang kukenal akan cuek dan nggak peduli dengan segala hal yang berhubungan dengan privasi orang lain. Kecuali jika orang tersebut meminta pertolongan kepadanya, dia akan sangat membuka tangannya untuk ikut serta terlibat dan memikirkan penyelesaiannya. Mungkin karena persahabatan kami sudah menembus layaknya persaudaraan, Ferdy menjadi manusia super peka yang ingin kedamaian kembali pada hubungan ku dengan Dheka.
Tanpa aku dan Ferdy sadari, di sudut ruangan ini, seseorang memperhatikan kami dengan intens. Seseorang yang ternyata sangat peduli dengan keadaanku namun tidak pernah memperlihatkannya. Dari seseorang itu, seorang pramusaji berhasil memasukkan satu butir pil berwarna putih kedalam minuman pesanan ku tadi.
"Datang! Gih minum. Makanan gue udah mau habis nih." Ferdy menerima minuman tersebut dari seorang pramusaji lain yang wajahnya serasa tidak asing bagiku. Aku memperhatikan cukup lama, sampai akhirnya pramusaji tersebut hilang dibalik pintu.
"Kenapa Lo? Biasa aja kali lihat orang nggak usah sampai segitunya." Ferdy menatapku heran sambil menggeser lemon tea hangat kehadapanku.
"Gue nggak asing deh sama wajah tadi, tapi siapa ya. Hmm,, udahlah mungkin pernah ketemu di jalan kali ya." Aku segera meminum lemon tea tersebut, masih cukup menghangatkan seperti sebelumnya namun sensasi rasa pahit yang terlampau kental membuatku menghentikan aktifitas minumku.
"Lho, nggak dihabiskan?" Ferdy bertanya heran melihatku meletakkan gelas kembali.
Aku menggeleng dan terbatuk sebentar menanggapinya. Sensasi pahit itu seakan menguasai mulutku. Aku mengernyit dalam sambil memejamkan mata berusaha menghalau rasa pahit di mulutku yang seakan menarik isi lambungku kembali untuk dikeluarkan.
"Lo oke?" Ferdy yang melihat gelagat aneh dariku mulai terlihat khawatir.
"Gu..gue ke toilet dulu."
Aku melangkah tergesa menuju toilet kafe yang ada dibalik tembok penyekat di belakang area makan tadi, Ferdy yang mengikutiku hanya bisa membantu memijat tengkukku saat aku kembali muntah di wastafel toilet kafe ini. Dadaku terasa sedikit sesak.
Sial!
Aku ingin pingsan rasanya!
"Dit?!" Aku mencoba berpegangan kuat pada sisi wastafel saat tubuhku tiba-tiba terkulai. Sigap Ferdy menahan tubuhku saat mulai menyadari keanehan ku.
Cengkeramanku di sisi wastafel semakin menguat bersamaan dengan aku yang terbatuk cukup keras. Aku merasakan oksigen berusaha menjauh dariku.
"Lo oke?! Ya Allah Dit,, Lo kenapa?!" Ferdy mengeluarkan Tumbler miliknya dan memintaku untuk segera minum. Nafasku mulai teratur setalah air putih itu kuminum.
"Balik sekarang Dy, gue pengen pingsan banget rasanya."
Astaghfirullah..
Semoga serangan tersebut tidak akan kurasakan kembali. Beberapa detik lalu Aku sampai berfikir akan tercabutnya nyawa ini.
Aku mulai takut..
Ada apa dengan tubuhku..
Kenapa tubuhku ini...
semangatt juga kak 💪