"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Amelia
Pagi itu, setelah tidur kurang dari tiga jam, Rangga belum sempat menyentuh kopi ketika ponselnya bergetar lagi.
Nama yang muncul bukan Rina.
Citra.
Teman satu angkatan yang dulu paling rajin mengurus kabar alumni itu mengirim pesan pendek, lalu langsung menelepon.
"Rangga, maaf ganggu. Gue baru dengar Rina akhirnya menghubungi lo."
Rangga berdiri di depan wastafel ruang dokter. Air dingin masih menetes dari dagunya.
"Iya. Dia bilang anaknya sakit."
Di ujung sana, Citra terdiam sebentar.
"Bukan cuma sakit. Amelia leukemia. Sudah lama. Rina nutupin dari banyak orang karena malu minta bantuan. Dulu dia kerja sales mobil, lumayan rapi hidupnya. Setelah anaknya sakit, rumahnya dijual, cicilan habis, suaminya... pergi."
Suara Citra menurun.
"Cerai?"
"Iya. Katanya tidak kuat lihat tagihan dan rumah sakit. Rina sekarang pindah ke kontrakan tua dekat pasar. Kadang masih bantu jualan kendaraan bekas lewat kenalan lama, tapi itu pun tidak rutin. Dia pernah masuk grup angkatan, mau pinjam uang untuk transplantasi sumsum tulang. Belum sempat kirim, langsung dihapus."
Rangga memejamkan mata.
Di rumah sakit, orang miskin jarang tumbang pada hari pertama sakit. Mereka tumbang setelah semua barang berharga habis dijual, setelah semua saudara sudah dimintai tolong, setelah kalimat "nanti kita cari jalan" berubah menjadi "sudah, ikhlaskan saja".
"Alamatnya sudah ada pada saya," kata Rangga.
"Tolong lihat dia, Rangga. Rina itu bukan tipe yang drama. Kalau dia sampai hubungi lo..." Citra menarik napas berat. "Berarti dia sudah tidak punya pintu lain."
Setengah jam kemudian, Rangga turun dari mobil di depan deretan kontrakan tua.
Gangnya sempit. Dinding rumah menempel satu sama lain. Kabel listrik melintang rendah. Bau minyak goreng bekas bercampur dengan air selokan dan pakaian lembap.
Di tangannya ada kantong berisi roti, susu, bubur instan, buah yang mudah dimakan, dan beberapa mainan kecil yang ia ambil terburu-buru dari minimarket. Barang-barang itu terasa terlalu ringan untuk sebuah keluarga yang sedang runtuh.
Nomor rumah Rina berada di ujung gang.
Pintu kayunya dicat biru pudar. Ada sandal anak kecil di depan pintu, ukurannya sangat kecil sampai dada Rangga seperti ditekan sesuatu.
Ia mengetuk.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Rina berdiri di baliknya.
Dulu, di kampus, Rina selalu paling rapi. Kemejanya licin, rambutnya diikat tinggi, senyumnya cepat, cara bicaranya lincah seperti orang yang yakin hidup bisa diatur dengan kerja keras.
Sekarang wajahnya tirus. Matanya cekung. Rambutnya diikat asal. Kaos lengan panjang yang ia pakai sudah longgar di bahu.
Begitu melihat Rangga, bibirnya bergerak, tetapi suara tidak keluar.
"Rina," kata Rangga pelan.
Air mata perempuan itu langsung jatuh.
"Maaf, Rangga." Itu kalimat pertamanya. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi."
Rangga menggeleng. Ia menyerahkan kantong belanja ke tangannya.
"Jangan minta maaf karena minta tolong untuk anakmu."
Rina menunduk. Tangannya gemetar saat menerima kantong itu.
Di dalam kontrakan, ruang tamu sekaligus kamar tidur hanya cukup untuk satu kasur lipat, satu lemari plastik, dan meja kecil dengan obat-obatan tersusun tidak rapi. Ada hasil lab, kuitansi, dan salinan rekam medis dalam map bening yang sudutnya sudah robek.
Di atas kasur, seorang gadis kecil duduk bersandar pada bantal.
Tubuhnya kurus. Kulitnya pucat hampir transparan. Rambutnya nyaris habis, tertutup topi rajut merah muda yang sama seperti di foto. Di punggung tangannya masih ada bekas tusukan infus yang menghitam.
Namun saat melihat ibunya membawa tamu, ia berusaha tersenyum.
"Mama, dokternya datang?"
Suara kecil itu serak, tetapi sopan.
Rangga berjongkok di samping kasur.
"Halo, Amelia. Saya Rangga. Teman mama kamu."
Amelia memandang jas luar yang Rangga pakai, lalu kantong belanja di tangan Rina.
"Bawa roti?"
Rina cepat menyeka air mata.
"Iya, Nak. Om Rangga bawa roti."
"Untuk Mama juga?"
Pertanyaan itu membuat ruangan hening.
Rangga tidak langsung menjawab. Ia membuka stetoskop, menghangatkannya sebentar dengan telapak tangan, lalu berkata, "Untuk Amelia dan Mama. Tapi sekarang saya periksa dulu, boleh?"
Amelia mengangguk patuh.
Pemeriksaan singkat itu segera membuat wajah Rangga mengeras.
Demam rendah. Napas cepat. Gusi mudah berdarah. Limpa teraba membesar. Memar kecil muncul di lengan dan paha. Konjungtiva pucat. Dari hasil lab yang disodorkan Rina, jumlah sel darah putih melonjak tidak terkendali, trombosit turun tajam, hemoglobin nyaris berada di batas yang membuat tubuh anak kecil itu hanya bertahan dengan sisa tenaga.
Ini bukan sakit yang bisa menunggu.
Ini adalah tubuh kecil yang setiap jamnya sedang dikikis dari dalam.
"Kapan terakhir kontrol ke hematologi?" tanya Rangga.
Rina menggenggam map erat.
"Tiga minggu lalu. Setelah itu... aku belum bisa bayar tunggakan administrasi. Dokter bilang perlu transplantasi, atau setidaknya terapi lanjutan. Aku sudah coba cari donor, coba pinjam uang, coba semuanya. Tapi..."
Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat.
Amelia menarik ujung baju ibunya.
"Mama jangan nangis."
Rina cepat menoleh.
"Mama tidak nangis, Sayang."
"Mama bohong." Amelia tersenyum lemah, seolah sedang menenangkan orang dewasa. "Ame sudah tahu. Mama tidak punya uang makan lagi..."
Kalimat itu jatuh pelan.
Tidak keras.
Tidak dramatis.
Justru karena itu, dada Rangga seperti dihantam palu.
Anak berusia empat tahun seharusnya tidak tahu harga beras.
Anak berusia empat tahun seharusnya tidak menghitung apakah ibunya makan malam atau pura-pura kenyang.
Rangga menunduk, menarik napas satu kali, lalu berdiri.
"Rina, siapkan baju Amelia. Kita ke RSUD Harapan Bangsa sekarang."
Rina terkejut.
"Sekarang?"
"Sekarang."
"Tapi aku belum..."
"Semua biaya pengobatan Amelia saya tanggung."
Rina membeku.
Rangga mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi bank, lalu mengirim Rp 5.000.000 ke rekening yang Rina kirimkan semalam.
Notifikasi masuk di ponsel tua Rina beberapa detik kemudian.
Tangannya langsung gemetar.
"Rangga, ini terlalu banyak. Aku tidak bisa..."
"Itu untuk makan, transportasi, dan kebutuhan kamu selama Amelia dirawat. Jangan jual barang lagi. Jangan pinjam ke orang yang memeras bunga. Jangan pikirkan biaya rumah sakit malam ini."
Rina menutup mulutnya dengan tangan.
Air matanya jatuh tanpa suara.
"Aku... aku tidak tahu harus bilang apa."
"Nanti saja." Rangga melirik Amelia. "Sekarang anakmu harus masuk rumah sakit."
Amelia mengangkat tangan kecilnya.
"Om Dokter."
Rangga menoleh.
"Iya?"
"Kalau Ame ke rumah sakit, Mama boleh tidur?"
Rangga menahan sesuatu yang panas di belakang matanya.
"Boleh. Nanti Mama tidur. Amelia juga tidur. Tugas saya menjaga kalian."
Gadis kecil itu mengangguk puas, seolah janji itu sudah cukup untuk membuat dunia sedikit lebih aman.
Perjalanan ke rumah sakit terasa panjang.
Rina duduk di belakang sambil memangku Amelia. Beberapa kali ia memeriksa napas anaknya, beberapa kali pula ia hendak bicara, lalu menelan kembali kata-katanya.
Rangga tidak memaksanya.
Di RSUD Harapan Bangsa, kabar kedatangannya lebih cepat daripada langkahnya.
Perawat UGD langsung menyiapkan brankar anak. Dokter jaga memanggil bagian anak dan hematologi. Pak Bambang yang baru turun dari ruang rapat muncul di koridor dengan wajah serius.
"Ini pasien yang kamu sebut semalam?"
"Iya, Pak. Leukemia stadium lanjut. Kondisi buruk. Perlu masuk rawat sekarang, stabilisasi, transfusi sesuai indikasi, kultur kalau perlu, dan evaluasi hematologi lengkap."
Pak Bambang melihat Amelia, lalu Rina yang berdiri seperti orang kehilangan tanah pijakan.
"Masukkan. Urus administrasi belakangan."
Kalimat itu membuat Rina hampir jatuh berlutut.
Rangga menahan lengannya.
"Rina. Tetap berdiri. Amelia melihatmu."
Perempuan itu menggigit bibir, lalu mengangguk.
Malam kembali turun ketika Amelia akhirnya berada di ruang rawat isolasi sederhana. Infus terpasang. Darah diambil. Pemeriksaan lanjutan diminta. Terapi suportif dimulai sesuai protokol, tetapi semua orang yang melihat hasil lab paham satu hal.
Protokol yang ada hanya membeli waktu.
Tidak menyelesaikan akar masalah.
Rangga berdiri di balik kaca ruang rawat.
Amelia sudah tidur. Rina duduk di kursi samping ranjang, kepala tertunduk, satu tangan tetap memegang ujung selimut anaknya.
Pada saat itulah suara dingin sistem muncul di benak Rangga.
[Terdeteksi pasien leukemia stadium lanjut.]
[Aktifkan check-in?]
Jantung Rangga berdetak sekali lebih kuat.
Pilihan mode tidak muncul.
Hanya satu pertanyaan.
Seakan sistem pun tahu bahwa kasus ini membutuhkan sesuatu yang belum dimiliki dunia. Keberanian mandiri di meja operasi saja tidak akan cukup.
Rangga menjawab dalam hati.
Aktifkan.
[Check-in berhasil.]
[Klasifikasi kasus: hematologi ganas pediatrik, stadium lanjut.]
[Hadiah khusus dibuka.]
[Resep obat leukemia — Serum RegenoStem.]
Dalam sekejap, pengetahuan yang sangat rinci memenuhi kepalanya: rumus molekuler, rantai protein, medium kultur, urutan stabilisasi, suhu penyimpanan, batas waktu aktif, skema uji toksisitas, dan parameter regenerasi sumsum tulang.
Serum RegenoStem.
Obat yang bukan sekadar membunuh sel ganas.
Obat yang memaksa tanah hangus di dalam sumsum tulang untuk kembali menumbuhkan kehidupan.
Rangga mencengkeram pagar koridor.
Di balik kaca, Amelia tidur dengan bibir pucat.
Rangga menatapnya lama.
"Kamu belum selesai, Amelia," bisiknya. "Belum."
Menjelang subuh, lampu laboratorium RSUD Harapan Bangsa kembali menyala.
Rangga sudah berdiri di depan meja kerja dengan sarung tangan, masker, dan lembar protokol kosong. Ia menulis dari ingatan sistem, tetapi setiap baris ia susun sebagai prosedur yang bisa diuji, diaudit, dan dipertanggungjawabkan.
Tidak boleh ada jalan pintas.
Tidak untuk anak sekecil Amelia.
Pintu lab terbuka hampir dibanting.
Kevin masuk dengan rambut berantakan dan jaket yang bahkan belum dikancing.
"Lo bilang darurat. Gue kira Trombosin Plus bermasalah."
Rangga menyerahkan lembar pertama.
Kevin membaca.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Wajahnya berubah.
Ia membaca halaman kedua, lalu ketiga. Tangannya yang memegang kertas mulai bergetar.
"Rangga..."
Rangga menatap reagen di depannya.
Kevin menelan ludah.
"Ini obat untuk leukemia? Lo tahu berapa banyak laboratorium di seluruh dunia yang meneliti ini? Berapa banyak dana, profesor, fasilitas, uji coba yang gagal?"
Suaranya mendadak serak.
"Lo sendirian justru..."
Kevin tidak sanggup melanjutkan.
Di luar jendela lab, langit Cakrawala mulai memucat.
Di atas meja, nama Serum RegenoStem tertulis di baris paling atas.
Dan di ruang rawat anak, Amelia masih menunggu pagi.