"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI ATAS TAKHTA KACAMATA
Gedung Mahendra Tower berdiri megah mencakar langit ibu kota, namun atmosfer di lantai paling atas ruang kerja pribadi Kael Mahendra terasa sesak bagaikan ruang introgasi tanpa udara. Dinding kaca tebal yang menampilkan pemandangan lanskap kota Jakarta dari ketinggian tak mampu mendinginkan suasana di dalam.
Kael Mahendra duduk di kursi kulit kebesarannya. Kedua tangannya tertaut rapat di atas meja kayu mahoni yang mengilap, sementara matanya yang tajam menatap lurus pada putra bungsunya. Di sebelah kiri meja, Ethan berdiri kaku dengan kedua tangan di belakang punggung, sedangkan Raka menyandarkan bahunya di dekat pilar, menyunggingkan senyum tipis penuh antisipasi.
Zavier berdiri tegap di tengah ruangan. Jaket kulit hitamnya masih menyimpankan aroma angin pegunungan Danau Sanubari, namun raut wajahnya tetap tenang tanpa cela, sebuah ketenangan yang justru makin memancing amarah di dalam dada sang Papi.
"Dua belas jam, Zavier," suara Kael mengalun rendah, berat, dan dipenuhi getaran kekuasaan yang mengintimidasi. "Dua belas jam kamu mematikan ponselmu, menyembunyikan putri Alexander Alveric, dan membuat konsorsium bernilai belasan triliun rupiah berada di ujung tanduk."
Zavier tidak menundukkan kepalanya sedikit pun. "Nayla butuh tempat untuk bernapas, Papi. Dia bukan aset bisnis Alveric yang bisa dipaksa sesuai draf investasi."
"Dan kamu pikir kamu punya hak untuk menentukan apa yang dibutuhkan putri Alveric?!" bentak Kael, memukul meja mahoni dengan telapak tangannya hingga bunyi berdenting keras bergema di seluruh ruangan. "Kamu ini anak Mahendra! Setiap jengkal langkahmu membawa nama besar keluarga ini. Apa yang kamu lakukan semalam adalah pembangkangan mentah yang sangat tidak bertanggung jawab!"
"Pembangkangan, atau Papi cuma merasa kehilangan kendali atas diriku?" balas Zavier dengan intonasi yang amat tenang, namun tiap katanya menghantam langsung ke ego sang Papi.
Raka tertawa pendek dari sudut ruangan, memotong pembicaraan. "Dengar itu, Papi. Anak Emasmu bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun. Dia merasa tindakannya semalam adalah bentuk kepahlawanan yang indah."
Ethan melirik Raka dengan tatapan tajam yang menyuruhnya diam, lalu beralih menatap adiknya. "Zavier, kamu harus minta maaf pada Papi dan Alexander Alveric. Hari ini juga, jadwal masukmu ke dewan direksi muda akan ditunda sampai situasi dengan Barito Group dan Alveric stabil kembali."
"Tidak perlu ditunda, Bang Ethan," sahut Zavier cepat, matanya berpindah menatap abang sulungnya. "Batalkan saja. Aku sama sekali tidak pernah meminta kursi itu."
Kael menyipitkan matanya tajam, berdiri perlahan dari kursi kebesarannya. Pria paruh baya itu melangkah mendekati Zavier, memangkas jarak hingga mereka berdiri saling berhadapan.
"Kamu pikir kamu bisa menolak takdirmu di keluarga ini, Zavier?" desis Kael penuh penekanan. "Papi yang membangun jalan ini untukmu. Papi melihat potensi besar dalam dirimu yang tidak dimiliki abang-abangmu. Tapi kalau kamu menggunakan potensi itu hanya untuk melawan Papi dan mengejar emosi mentah bersama putri Alveric... Papi tidak akan segan mencabut semua fasilitas dan hak minimalismu sebagai seorang Mahendra."
Zavier menatap mata ayahnya tanpa berkedip. Di dalam manik mata kelam pria yang sangat disegani itu, Zavier tidak melihat rasa kasih sayang seorang ayah, melainkan ambisi seorang penguasa yang tak mau dibantah.
"Cabut saja semuanya, Papi," ujar Zavier datar dan dingin. "Cabut fasilitas, akses kantor, bahkan nama Mahendra kalau itu yang Papi mau. Tapi Papi tidak akan pernah bisa mendikte siapa yang boleh aku lindungi."
Ruangan itu mendadak menjadi begitu hening. Ethan menahan napasnya, sementara Raka tertegun dengan raut wajah kaget yang tak bisa disembunyikan. Belum pernah ada satu pun anak Mahendra yang berani menantang otoritas Kael Mahendra hingga ke titik ekstrem seperti ini.
Kael mengepalkan puncaknya, rahangnya mengetat menahan amarah yang membakar. "Kamu akan menyesali kata-katamu hari ini, Zavier. Keluar dari ruangan ini sekarang juga."
Zavier membungkukkan tubuhnya sedikit secara formal, lalu berbalik dan melangkah mantap menuju pintu keluar tanpa sedikit pun keraguan di dalam langkah kakinya.
Di saat yang sama, di kediaman utama klan Alveric.
Suasana di dalam ruang kerja Alexander Lauren Alveric tidak kalah mencekam. Pintu ruangan tertutup rapat, menyisakan Alexander yang berdiri di depan meja kerjanya dengan raut wajah kelam, sementara Nayla duduk di kursi kayu berukir di hadapannya.
Di samping Nayla, Eleanor memegang bahu putrinya dengan cemas, sedangkan Adrian berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada.
"Kamu melepas sistem pelacak, melarikan diri ke rumah teman rakyat jelatamu, lalu pergi berdua ke tempat terpencil bersama anak bungsu Kael Mahendra?" suara Alexander mengalun tebal dan sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Apa kamu sadar betapa bahayanya tindakanmu itu, Nayla?"
Nayla mendongak, menatap ayahnya dengan mata yang telah mengering dari air mata. Ketenangan yang ia dapatkan selama beberapa jam bersama Zavier di Danau Sanubari rupanya memberi Nayla keberanian baru yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
"Nayla sadar, Ayah," jawab Nayla pelan namun terdengar sangat tegas. "Tapi Nayla lebih sadar kalau terus tinggal di rumah ini tanpa suara, Nayla cuma akan jadi alat pertukaran modal antara Alveric, Barito, dan Mahendra."
Alexander mengetukkan jarinya ke meja. "Kami melakukan semua ini untuk masa depanmu! Untuk posisi Alveric di puncak industri!"
"Itu masa depan Ayah, bukan masa depan Nayla," pangkas Nayla berani, membuat Eleanor menahan napas kaget. "Ayah sudah mengatur jadwal kepindahanku ke London, melarangku melukis, bahkan memanfaatkan interaksiku dengan Zavier demi manuver bisnis. Nayla bukan dokumen saham yang bisa Ayah pindahkan sesuka hati."
Adrian memutar tubuhnya dari jendela, menatap adiknya dengan alis berkerut. "Nayla, kamu sudah terpengaruh terlalu jauh oleh Zavier Mahendra. Anak itu cuma membawa kekacauan untuk struktur keluarga kita."
"Zavier adalah satu-satunya orang yang memperlakukanku sebagai manusia utuh, Mas Adrian!" tegas Nayla, berdiri dari kursinya dan menatap abang tertuanya tanpa rasa takut. "Bukan sebagai 'Putri Alveric', bukan sebagai pameran reputasi!"
Alexander menatap putri tunggalnya dengan pandangan dingin yang membekukan. "Cukup. Karena kamu sudah menunjukkan bahwa kamu tidak bisa dipercaya untuk memegang kebebasan, mulai hari ini... seluruh aktivitasmu di luar sekolah akan berada di bawah pengawasan penuh tim keamanan. Kamu tidak diizinkan keluar rumah tanpa dikawal Adrian atau Julian."
Alexander melangkah mendekati Nayla, menatapnya dengan tatapan tanpa ampun.
"Dan soal Zavier Mahendra... jika kamu membiarkan dirimu bertemu dengannya lagi secara sembunyi-sembunyi," ancam Alexander pelan, "aku akan memastikan posisi Barito Group menggeser seluruh porsi Mahendra Group dalam proyek ini, dan aku akan membuat Kael Mahendra membuang anak bungsunya itu selamanya."
Nayla meremas gaunnya erat-erat, merasakan sesak yang teramat sangat menghantam dadanya. Namun, di balik ancaman yang mengepungnya dari segala arah, bayangan genggaman tangan Zavier yang kokoh di tepi Danau Sanubari tetap berdiri teguh di dalam ingatannya.
Kedua klan raksasa itu boleh saja memasang rantai terkuat mereka dan memperketat tembok istana, namun benih perlawanan yang telah merekah di dalam hati Zavier dan Nayla telah tumbuh terlalu dalam, siap merobohkan takhta kaca yang dibangun atas nama kekuasaan dan ambisi.
😶🌫️😶🌫️😶🌫️
Koran bisnis pagi itu memuat tajuk utama tentang penandatanganan addendum kerja sama Alveric, Barito, dan Mahendra Group, namun di balik tinta emas korporat tersebut, sebuah perang dingin yang amat sunyi baru saja dimulai. Di koridor SMA Garuda Bangsa, kehadiran dua orang pengawal pribadi berjas rapi yang kini membuntuti Nayla dari jarak lima meter menjadi pemandangan baru yang memancing kasak-kusuk para siswa.
Nayla berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan pandangan lurus ke depan, mencoba mengabaikan tatapan penasaran dari orang-orang di sekitarnya. Di sudut loker dekat ruang seni, Salmania Rain berdiri bersedekap dada bersama gengnya, menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat kentara.
"Lihat siapa yang sekarang dapat pengawalan super ketat," sindir Salma saat Nayla melintas di dekatnya. "Pangeran Mahendra-mu sudah dibuang dari jajaran direksi, dan kamu sekarang cuma jadi tawanan di rumahmu sendiri. Kasihan sekali."
Nayla menghentikan langkahnya sejenak, memutar kepala untuk menatap Salma. Raut wajah Nayla amat tenang, tanpa ada sedikit pun jejak kepanikan yang diharapkan Salma. "Kalau cuma itu yang mau kamu katakan, Salma, sebaiknya kamu hemat tenagamu untuk urusan kelas."
Tanpa menunggu balasan Salma yang merona merah menahan amarah, Nayla terus melangkah menuju area tangga darurat, satu-satunya sudut yang agak terlindung dari jangkauan pandang dua pengawalnya.
Saat ia mendorong pintu besi tangga darurat yang berat, sebuah tangan tegap menyambar pergelangan tangannya secara halus namun cepat, menariknya masuk ke dalam keremangan lorong sebelum pintu menutup kembali.
Nayla sempat menahan napas kaget, namun aroma harum kayu segar yang sangat familier seketika meredakan kepanikannya.
Zavier berdiri di sana. Pria Mahendra itu tidak lagi mengenakan jam tangan mewah atau aksesoris klan yang biasanya melekat pada dirinya. Seragam sekolahnya tampak sederhana, namun tatapan mata kelamnya tetap memancarkan aura ketegasan dan kehangatan yang utuh.
"Kamu tidak apa-apa, Nay?" bisik Zavier pelan, matanya menyapu wajah Nayla untuk memastikan kondisi gadis itu setelah rentetan introgasi Alexander Alveric kemarin.
Nayla menatap Zavier dengan mata yang berbinar penuh rasa lega. Ia menggeser posisinya lebih rapat ke arah Zavier. "Aku tidak apa-apa, Zav. Tapi Ayah... Ayah menaruh dua pengawal di belakangku. Papi Kael bagaimana? Apa yang Papi lakukan padamu setelah kemarin?"
Zavier menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sangat rasional. "Papi menarik seluruh fasilitas pribadi, memblokir kartu akses gedung Mahendra, dan membatalkan pencalonanku di dewan direksi muda. Bang Raka yang sekarang memegang kendali penuh atas proyek konsorsium."
Nayla membelalakkan matanya pelan, meremas ujung seragam Zavier dengan rasa bersalah yang membakar. "Zav... ini semua gara-gara aku. Kamu kehilangan posisi yang diperjuangkan keluargamu..."
"Aku tidak pernah kehilangan apa pun, Nayla," potong Zavier cepat namun lembut. Ia meraih kedua telapak tangan Nayla, menggenggamnya erat-erat di dalam keremangan tangga darurat itu. "Fasilitas dan posisi itu milik Mahendra Group, bukan milikku. Dengan mencabut semuanya, Papi justru memberi aku sesuatu yang paling aku inginkan dari dulu."
Nayla menatap bingung. "Sesuatu? Apa maksudmu?"
"Kebebasan," jawab Zavier mantap, matanya menatap lurus ke dalam manik mata jernih Nayla. "Sekarang Papi tidak punya kartu as lagi untuk mengancamku. Aku tidak terikat oleh janji direksi atau tuntutan aliansi klan. Aku berdiri di sini sebagai Zavier... bukan sebagai pion Mahendra."
Nayla merasa dadanya berdesir hebat mendengar kalimat itu. Di saat seluruh dunia menganggap Zavier telah jatuh dan hancur karena kehilangan panggungnya di Mahendra Group, pria di hadapannya ini justru merasa menang karena berhasil melepaskan rantai takhtanya.
"Tapi Ayah mengancamku, Zav," bisik Nayla lirih, menyampaikan kenyataan pahit yang terus membayanginya sejak kemarin. "Ayah bilang kalau aku menemuimu lagi secara sembunyi-sembunyi, Ayah akan menggunakan kekuatan Barito untuk membuat Papi Kael membuangmu selamanya."
Zavier terkekeh pendek di sebuah tawa kecil yang sarat akan keberanian dan ejekan pada skenario para orang tua mereka.
"Alexander Alveric dan Papi Kael boleh saja mengatur peta bisnis dan menaruh puluhan pengawal di sekitar kita, Nay," ujar Zavier, merapatkan genggaman tangannya hingga rasa hangat menyalur sempurna ke jemari Nayla. "Tapi mereka terlalu fokus pada angka dan dokumen sampai lupa satu hal."
"Lupa apa, Zav?"
"Mereka lupa kalau tembok setinggi apa pun tidak akan pernah bisa menghentikan langkah orang yang sudah tidak punya ketakutan lagi," balas Zavier dengan nada suara yang penuh keyakinan mutlak. "Biarkan mereka sibuk dengan pesta aliansi dan perebutan saham dengan Barito Group. Kita ikuti permainan mereka untuk sementara waktu... sampai saatnya kita sendiri yang meruntuhkan benteng kaca itu."
Dari balik pintu besi tangga darurat, suara hentakan sepatu kulit para pengawal Alveric mulai terdengar mendekat, mencari keberadaan putri tunggal yang sempat menghilang dari jangkauan pandang.
Zavier mengusap rambut cokelat keemasan Nayla dengan jemarinya untuk yang terakhir kali sebelum melangkah mundur.
"Masuklah ke kelas, Nay," bisik Zavier lembut. "Jangan perlihatkan rasa takutmu di depan mereka."
Nayla mengangguk pelan, menyerap seluruh kekuatan dari tatapan mata Zavier. Walau kedua pengawalnya kini berdiri di ujung pintu dan tangan-tangan kekuasaan dua klan raksasa makin memperketat kepungan, Nayla tahu... di dalam keremangan lorong sekolah ini, sebuah ikatan yang tak terlihat telah menjelma menjadi benteng yang jauh lebih kokoh dari apa pun yang pernah dibangun oleh Mahendra mau pun Alveric.
kekny zavier ini tipe aku 🤭