Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Protes
Keesokan harinya, saat pagi baru saja datang dan Caspian sudah pergi ke kantor, Celeste memilih bermalas-malasan dulu di kasur.
Setelah dia makan siang, Celeste langsung turun mencari Serena. ia tidak sabar untuk berbagi kebahagiaan dan kekayaannya yang mendadak yang dia dapat kemarin karena Serena kemarin izin keluar.
"Serena!" panggil Celeste begitu memasuki kamar, menyerukan nama pelayan pribadinya dengan riang. "Ganti baju! Hari ini kita shopping sepuasnya. Tenang aja, semua dibayarin sama suamiku!"
Serena yang mendengar ajakan itu langsung melotot kaget bercampur antusias. "Wah, seriusan, Celeste? aku diajak? IKUTTT!"
.
.
.
.
Caspian duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar monitor dengan tatapan dingin dan sangat tajam. Xanderion berdiri tegak di samping meja, memegang sebuah tablet transparan berisi laporan harian.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, Caspian membuka suara dengan nada baritonnya yang datar dan mengintimidasi.
"Xanderion," panggil Caspian.
"Ya, Tuan?" jawab Xanderion sigap.
"Suruh Cassandra datang ke ruangan ini sekarang juga," perintah Caspian mutlak, tanpa memberikan celah penolakan.
"Jangan biarkan dia kabur atau beralasan macam-macam. Pastikan dia sampai di sini dalam waktu tiga puluh menit."
Xanderion sedikit mengangguk, menyembunyikan seringai kecil di balik wajah datarnya karena tahu betul masalah apa yang akan dibahas bosnya itu dengan sang adik pembuat masalah. "Baik, Tuan. Saya laksanakan sekarang."
Cassandra melengking penuh emosi begitu mendengar panggilan dari Xanderion.
"Hah?! Disuruh ke kantor utama sekarang?!" pekik Cassandra kaget, hampir menjatuhkan cangkir kopi yang baru saja dia beli.
"Lo gila ya, Xanderion! Gue lagi sibuk, kartu kredit gue lagi diblokir, hidup gue lagi berantakan gara-gara ulah atasan lo yang songong itu! Ngapain pula gue dipanggil-panggil?!"
Xanderion, yang mendengarkan omelan itu lewat ponsel dengan loudspeaker yang sengaja dijauhkan sedikit dari telinganya, hanya bisa menghela napas panjang menghadapi perangai adik bosnya yang terkenal paling bar-bar seantero keluarga Devereux.
"Tuan Besar menyuruh Anda datang sekarang, Nona Cassandra," jawab Xanderion dengan nada datar yang dibuat-buat setenang mungkin. "Dan mengenai kartu kredit Anda yang diblokir... itu sepenuhnya adalah keputusan Tuan Caspian. Jadi, silakan protes langsung pada orangnya."
"Sialan emang si Lucifer!" maki Cassandra tanpa filter, sama sekali tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitarnya. Kebetulan dia ada di supermarket.
"Bilangin ke abang gue yang psikopat kulkas dua pintu itu, gue nggak mau ke sana! Suruh dia urus aja urusan dunianya sendiri, jangan ganggu adik tersayangnya yang lagi menderita ini!"
"Maaf, Nona Cassandra. Perintah Tuan Besar bersifat mutlak," balas Xanderion yang penurut tapi menyebalkan. "Jika Anda tidak datang dalam waktu tiga puluh menit menggunakan kaki Anda sendiri, Tuan Besar sudah menginstruksikan saya untuk menyeret Anda ke sini dengan borgol emas. Pilihan ada di tangan Anda."
Tut. Tut. Tut.
Sambungan diputus begitu saja sepihak oleh Xanderion.
"EH, ANJIR! Malah dimatiin!" geram Cassandra sambil menatap layar ponselnya dengan mata melotot penuh amarah. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas meja, menghentakkan kaki dengan kesal setengah mati. "Sialan banget emang si Xanderion botak—eh, maksudnya Xanderion sialan! Awas aja ya, kalau ketemu nanti bakal gue cakar tuh muka datarnya!"
Dengan hati dongkol, misuh-misuh tiada henti, dan sumpah serapah yang terus meluncur dari bibirnya, Cassandra akhirnya terpaksa meninggalkan supermarket dan memesan taksi online menuju perusahaan pusat Devereux dengan sejuta kekesalan di kepalanya.
Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, pintu kaca besar ruang kerja pribadi Caspian di lantai paling atas terbuka dengan kasar.
Cassandra melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah ditekuk sedalam-sedalamnya. Begitu melewati meja kerja Xanderion yang berdiri tegak di dekat pintu, Cassandra dengan sengaja dan penuh tenaga menyenggol bahu sang sekretaris pribadi hingga tubuh Xanderion sedikit bergeser ke samping.
"Gila ya kalian semua!" ketus Cassandra tanpa membuang waktu, menatap tajam ke arah Xanderion dengan mata melotot.
"Keluarga macam apa sih yang hobi banget menyiksa mental rakyat jelata kayak gue?! Kartu kredit diblokir sepihak, disuruh datang mendadak kayak buronan, emangnya gue pesuruh kalian?! Gue ini CEO perusahaan gue sendiri anjir, tapi kenapa tetap abang yang selalu punya akses"
Xanderion hanya menegakkan kembali posisinya, memasang wajah datarnya tanpa terusik sedikit pun oleh senggolan maut dari adik bosnya itu.
"Selamat datang di kantor pusat, Nona Cassandra," balas Xanderion tenang, mengabaikan omelan panjang tersebut.
"Tuan sudah menunggu Anda di dalam."
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Cassandra mendengus kasar, mendorong pintu ruang kerja Caspian dengan sebelah tangan, lalu melangkah masuk dengan aura menggebu-gebu siap melabrak sang kakak tersayang.
Begitu menjejakkan kaki di dalam ruang kerja pribadi yang luas dan megah itu, Cassandra langsung melancarkan protes keras tanpa ampun.
"Abang!" pekik Cassandra kencang, berkacak pinggang di hadapan meja kerja Caspian dengan mata menyala-nyala. "Lo tuh ya, bener-bener keterlaluan! Kenapa sih hobi banget bikin hidup gue menderita hari ini?! Main blokir kartu kredit orang sembarangan, terus nyuruh anak orang datang kayak buronan korupsi! Mau lo apa sih, hah! Gue juga CEO kali. Sumpah ya, kalau bukan karena lo abang kandung gue, udah gue—"
Caspian yang duduk tenang di balik meja kerjanya seketika mengerutkan kening.
Suara melengking Cassandra yang menggelegar di dalam ruangan tertutup itu sukses membuat gendang telinganya berdengung hebat. Pria itu memijat pelipisnya sekilas, merasa kepalanya mendadak pening menghadapi kebisingan yang dibawa adiknya sendiri.
Tanpa banyak bicara, Caspian merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil milik Celeste yang tidak sengaja tertinggal di mobil atau meja makan rias Celeste—sebuah jepitan rambut mutiara elegan berukuran sedang milik sang istri yang sempat dipungutnya, padahal sengaja dia bawah.
Sebelum Cassandra sempat melanjutkan omelannya, tangan kokoh Caspian bergerak secepat kilat.
Clack!
Dengan presisi tingkat tinggi, Caspian langsung menjepit bibir Cassandra yang sedang terbuka lebar menggunakan jepitan rambut milik Celeste tersebut.
"Mph?!"
Cassandra sontak terpekik tertahan. Kedua matanya melotot selebar-lebarnya karena shock. Bibirnya terkunci rapat oleh jepitan rambut, membuatnya hanya bisa mengeluarkan suara dengungan protes yang tidak jelas.
Ia langsung meraba-raba bibirnya dengan tangan, mencoba melepas jepitan itu sambil menatap Caspian dengan tatapan tak percaya yang luar biasa.
Caspian kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tenang, menatap adiknya datar tanpa secercah pun rasa bersalah.
"Bising," ucap Caspian dingin, menikmati keheningan instan yang akhirnya tercipta di ruangannya. "Duduk, diam, atau jepitan itu tidak akan kulepas sampai besok pagi."
Cassandra mencoba melepas jepitan rambut yang menjepit bibirnya dengan mata berkaca-kaca penuh amarah, sementara jarinya menunjuk-nunjuk wajah Caspian seolah ingin menerkam sang kakak hidup-hidup.
Iris kelam pria itu menatap tajam penuh intimidasi, menusuk langsung ke mata adiknya. Suara baritonnya yang rendah dan dingin mengalun, memenuhi setiap sudut ruangan.
"Jangan berani memakai gaya bicara itu ketika berbicara denganku, Cassie," desis Caspian tajam. "Kau sudah tahu aturan di rumah kita. Sepertinya terlalu membiarkanmu bebas membuat tata kramamu tidak ada, hm?"
Mendengar nada suara Caspian yang berubah menjadi mode pimpinan klan Devereux, nyali Cassandra langsung menciut seketika. Sisa-sisa keberaniannya mendadak lenyap ditelan rasa gentar yang luar biasa.
Dengan tangan bergetar pelan, Cassandra akhirnya menarik perlahan jepitan mutiara milik Celeste dari bibirnya, mengusap bibirnya yang sedikit merah sambil menunduk patuh, sama sekali tidak berani membalas tatapan dingin sang kakak.
Cassandra menelan ludahnya susah payah. Dengan pundak yang sedikit merosot karena takut, ia menunduk dalam-dalam seraya meremas jemarinya sendiri.
"M-maaf, Abang..." cicit Cassandra pelan, suaranya jauh lebih jinak dari sebelumnya.
"Aku... aku nggak sengaja kelepasan tadi. Jangan hukum aku lagi, ya?"
Caspian tidak langsung menjawab. Pria itu masih menatap adiknya dengan sorot mata dingin, sebelum akhirnya kembali bersuara dengan nada datar yang menusuk.
"Bukan hanya padaku," ucap Caspian dingin, menegaskan setiap kata. "Dengan kakak iparmu juga harus diubah. Jaga sikap dan tata kramamu di depannya."
Mendengar instruksi itu, Cassandra seketika tersentak. Ia mendongakkan kepalanya secara spontan, lupa sepenuhnya bahwa ia baru saja berjanji untuk patuh dan menunduk di hadapan sang kakak.
Fakta bahwa Celeste—sahabat karibnya sendiri, teman curhatnya soal hal-hal konyol, orang yang baru saja ia ajak mengobrol lewat telepon tadi kemarin—kini telah resmi berstatus sebagai kakak iparnya, mendadak menghantam otaknya dengan keras. Emosi yang tadi diredamnya seketika meledak kembali, mengalahkan rasa takut pada sang penguasa mafia.
Tanpa pikir panjang, Cassandra langsung menerjang maju, mencengkeram kerah jas mahal Caspian dengan kedua tangannya dan menarik tubuh pria itu ke depan hingga Caspian terpaksa bangkit setengah berdiri dari kursinya.
"Kenapa kakak nikahin Celeste tanpa minta izin aku dulu?! Hah?!" teriak Cassandra histeris tepat di depan wajah sang kakak, matanya melotot tajam penuh ketidakpercayaan.
Caspian sama sekali tidak bergeming meski kerah jas mewahnya dicengkeram erat oleh adiknya sendiri. Pria itu hanya menatap Cassandra dengan sebelah alis terangkat, membiarkan kemarahan kekanak-kanakan sang adik tumpah begitu saja tanpa menunjukkan sedikit pun rasa terancam.
"Minta izin padamu?" ulang Caspian dengan nada datar, suaranya terdengar begitu meremehkan amukan adiknya.
"Sejak kapan urusan rumah tangga ku harus meminta izin kepada anak kecil yang hobinya kabur ke klub malam dan menghabiskan uang tabungan? Katanya CEO"
Mendengar sindiran telak itu, Cassandra semakin geram. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Caspian dengan gemas, melupakan fakta bahwa pria di hadapannya ini bisa saja melenyapkannya dalam hitungan detik.
"Bukannya masalah izinnya, Abang CASPIAN!" pekik Cassandra kesal setengah mati, wajahnya sudah memerah karena emosi.
"Dia itu sahabat karib aku! Kita udah kayak saudara kembar, tahu segala rahasia busuk masing-masing! Aku tau masa lalu dia. Dan sekarang tiba-tiba kamu—tanpa angin tanpa hujan—nikahin dia, tanpa aku tahu dan aku izinkan"
POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂