Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Kembali ke Klinik
Nara ingin langsung turun dari ranjang.
Raka menahan bahunya. “Kamu tidak pergi ke mana-mana.”
“Buku itu bisa habis dibakar.”
“Dan kamu baru satu hari melahirkan.”
“Mas Raka...”
“Aku tidak bilang kita diam.”
Raka menelepon Pak Hadi, pemilik Klinik Bersalin Anugerah, dari kamar rumah sakit. Ia tidak mengaku sebagai petugas yang sedang menyelidiki. Ia memperkenalkan diri sebagai suami pasien dan meminta catatan persalinan diamankan karena ada ketidaksesuaian identitas bayi.
Pak Hadi terdengar terkejut. Ia mengaku baru mengetahui ada kebakaran kecil di gudang, lalu setuju bertemu keesokan hari dengan semua pihak terkait.
“Saya ikut,” kata Nara setelah telepon ditutup.
“Tidak.”
“Itu persalinanku.”
“Dan tubuhmu masih dalam pemulihan.”
Mereka saling menatap.
Raka menarik kursi. “Aku tidak akan berbicara menggantikanmu. Kita buat daftar pertanyaan bersama. Besok kamu ikut melalui telepon dari rumah sakit jika dokter mengizinkan.”
Nara ingin membantah, tetapi nyeri di perut bawah datang ketika ia mencoba bergeser. Tubuhnya sendiri memberi keputusan.
Malam itu mereka menuliskan urutan waktu, daftar dokumen, dan benda yang harus dilihat. Nara menentukan pertanyaan. Raka hanya merapikan agar tidak ada dua hal tercampur.
Keesokan sore, Raka tiba di klinik bersama Vania. Pak Hadi menunggu di kantor dengan wajah lelah. Bu Rini duduk di sisi meja, sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang baru saja mencoba mengubah hidup dua bayi.
Ponsel Raka diletakkan di tengah meja dengan sambungan suara aktif.
“Nara bisa mendengar?” tanya Pak Hadi.
“Bisa,” jawab Nara dari kamar rumah sakit. “Terima kasih sudah mengizinkan saya ikut.”
“Kita semua ingin masalah ini jelas.”
Bu Rini mendengus. “Masalahnya sudah jelas. Pasien panik setelah melahirkan dan Vania ikut memperbesar.”
Raka membuka buku catatan. “Tolong masukkan pendapat itu ke notulen dengan nama yang mengucapkan.”
Bu Rini menatapnya tajam.
Pak Hadi berdeham. “Mari kita lihat berkas.”
Ia mengeluarkan buku jaga yang pinggirnya terbakar. Beberapa halaman masih utuh, tetapi bagian tanggal delapan belas hingga sembilan belas Januari hilang.
“Ini ditemukan di gudang?” tanya Nara.
“Ya.”
“Siapa yang memindahkannya dari kantor?”
Pak Hadi tidak tahu.
“Siapa yang pertama melihat api?”
Seorang petugas kebersihan, tetapi ia sudah pulang.
“Apakah kejadian itu dicatat?”
“Belum.”
Nara menutup mata sejenak. Setiap jawaban menunjukkan buruknya pengelolaan, tetapi belum menunjuk satu pelaku.
Vania membuka jadwal jaga yang dipasang pagi setelah persalinan. Namanya tidak tercantum di ruang Nara.
“Saya ada di sana,” katanya. “Foto pada ponsel saya memiliki waktu.”
Bu Rini tertawa pendek. “Waktu ponsel bisa diatur.”
“Karena itu kami tidak menyebut foto sebagai satu-satunya bukti,” kata Raka.
“Lalu apa yang kalian mau? Membuat klinik ini tampak seperti tempat penculikan?”
Suara Nara keluar dari ponsel. “Saya ingin tahu mengapa dua gelang dengan nama saya dibuat, mengapa satu ditemukan dengan nomor berbeda, dan mengapa catatan jaga malam itu hilang.”
“Kamu habis melahirkan. Ingatanmu kacau.”
“Masukkan kalimat Bu Rini ke notulen,” kata Raka lagi.
Pak Hadi mulai terlihat tidak nyaman. “Pak Raka, apakah semua harus ditulis?”
“Kalau tidak ada yang disembunyikan, catatan melindungi semua pihak.”
Raka tidak membentak. Justru ketenangannya membuat setiap alasan terdengar semakin lemah.
Pak Hadi meminta melihat gelang yang ditemukan. Raka menunjukkan kantong bening tanpa menyerahkannya langsung. Nomor pada gelang dibandingkan dengan nomor di surat rujukan dan foto awal. Tidak cocok.
“Bisa jadi gelang cadangan yang salah tulis,” kata Pak Hadi.
“Kalau begitu kesalahan itu juga harus dicatat,” ujar Nara.
Bu Rini menyilangkan tangan. “Kalian mau uang? Klinik bisa menghapus biaya persalinan.”
Nara terdiam satu detik, bukan karena tergoda, melainkan karena penghinaan itu.
“Saya tidak menjual pertanyaan saya dengan tagihan.”
Vania menunduk agar tidak terlihat tersenyum.
Pak Hadi meminta waktu memeriksa stok gelang. Mereka menuju lemari persediaan bersama-sama. Raka membawa ponsel agar Nara tetap mendengar. Setiap bungkus memiliki nomor kelompok, tetapi tidak ada daftar siapa yang mengambilnya malam itu.
“Berarti siapa pun bisa mengambil?” tanya Nara.
“Petugas jaga,” jawab Pak Hadi.
“Berapa orang?”
“Tergantung jadwal.”
“Jadwal yang halamannya hilang?”
Tidak ada yang menjawab.
Raka meminta kondisi lemari dan sisa nomor stok difoto tanpa membuka berkas pasien lain. Pak Hadi setuju setelah Vania menunjukkan dua bungkus bernomor berurutan telah terbuka.
Bu Rini berkata semua itu hanya membuktikan klinik sedang sibuk.
“Mungkin,” jawab Raka. “Karena itu kami mencatat, bukan memutuskan.”
Di ujung ruangan, Vania melihat tempat sampah logam dengan bekas abu kertas. Ia tidak menyentuhnya. Ia meminta Pak Hadi mencatat lokasi dan menahan pembuangan sampai laporan internal dibuat.
Bu Rini menatapnya dengan marah.
Vania gemetar, tetapi tidak menarik kata-katanya.
Pertemuan berakhir tanpa jawaban tentang halaman hilang. Pak Hadi setuju membuat laporan internal, menyimpan sisa buku jaga, dan memberikan salinan berkas Nara sesuai prosedur. Bu Rini menolak menandatangani bagian yang menyebut ketidaksesuaian gelang.
Raka meminta sisa buku disimpan di lemari berkunci dan dibuat daftar siapa yang memegang kunci. Pak Hadi menunjuk dirinya sendiri serta satu petugas administrasi.
“Bu Rini tidak mendapat kunci?” tanya Nara melalui ponsel.
Pak Hadi menatap bidan itu sebelum menjawab, “Tidak selama pemeriksaan internal.”
Bu Rini berdiri. “Setelah semua tahun saya bekerja di sini, kalian memperlakukan saya seperti pencuri.”
“Tidak,” kata Pak Hadi. “Saya menjaga catatan yang berada di bawah tanggung jawab klinik.”
Bu Rini keluar tanpa pamit. Pintu kantor membentur dinding.
Di luar kantor, Vania berjalan bersama Raka menuju halaman.
“Pak Raka.”
Ia mengeluarkan kartu memori kecil dari balik lapisan dompet.
“Ini salinan kedua. Ada foto yang belum saya tunjukkan.”
“Foto apa?”
“Sebelum buku jaga dipindah, saya sempat memotret dua halaman sebelumnya dan sampulnya. Halaman tanggal persalinan tidak terlihat penuh, tapi urutan nomor bisa dibandingkan.”
Raka tidak langsung mengambilnya. “Kamu menyerahkan ini secara sukarela?”
“Ya.”
“Saya akan mencatat waktu penerimaan dan membuat satu salinan. Kartu ini tetap milikmu kalau kamu mau.”
Vania mengangguk.
Malamnya, Raka membawa salinan berkas dan kartu memori ke rumah sakit. Nara membaca setiap halaman. Tidak ada catatan yang cukup untuk membuktikan pertukaran, tetapi terdapat cukup banyak ketidaksesuaian untuk membuat mereka tidak boleh berhenti.
“Apa langkah berikutnya?” tanya Raka.
Nara melihat Kirana yang tidur di keranjang rumah sakit.
Foto dan tanda lahir memberinya keyakinan. Namun ia membutuhkan jawaban yang tidak hanya hidup di dalam ingatannya.
“Aku ingin memastikan hubungan biologisku dengan Kirana.”
Raka memahami maksudnya. “Tes DNA?”
“Untuk kita. Bukan untuk menuduh siapa pun.”
“Baik,” katanya. “Kita lakukan dengan tempat yang jelas dan persetujuan yang benar.”