NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: tamat
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Proses penandatanganan berkas di kantor catatan sipil berlangsung sangat cepat dan privat. Tanpa kilatan kamera media atau kerumunan tamu, Clara resmi menyandang status sebagai istri sah dari Elzio Mahendra secara hukum.

​Namun, belum sempat Clara menikmati momen bahagianya di dalam mobil perjalanan menuju kantor, ponselnya yang berada di dalam tas mendadak berdering nyaring.

​Clara mengerutkan keningnya melihat nomor asing yang tertera di layar. "Halo?"

​"Clara... ini Tante Kirana," suara wanita setengah baya di ujung telepon terdengar gemetar, namun terkesan dibuat-buat. "Bisa kamu ke Rumah Sakit Medika sekarang? Ayah kamu... Ayah kamu kondisinya makin kritis. Dokter bilang ajalnya sudah dekat."

​Clara membeku seketika. Genggaman tangannya pada ponsel makin erat hingga bukunya memutih.

​Elzio yang duduk di samping Clara menyadari perubahan raut wajah istrinya. Dia langsung menggenggam jemari dingin Clara. "Ada apa, sweetheart?"

​"Bisa antar aku ke Rumah Sakit Medika, El?" bisik Clara parau, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Pria itu... sedang sekarat."

​Elzio menatap Clara lekat-lekat, lalu menepuk bahu sopir. "Ke Rumah Sakit Medika sekarang. Jalankan dengan cepat."

​Suasana koridor VIP Rumah Sakit Medika terasa begitu dingin dan mencekam.

​Begitu Clara melangkah mendekati kamar rawat VIP, tiga sosok manusia yang paling dia benci dalam hidupnya sudah berdiri di sana: Kirana—ibu tirinya, Miska—adik tirinya, dan Ardan—mantan kekasihnya yang dulu berselingkuh dengan Miska.

​"Clara!" Kirana langsung menyambut Clara dengan wajah kepura-puraan yang memuakkan. "Akhirnya kamu datang juga! Ayah kamu dari tadi memanggil nama kamu terus!"

​Clara berhenti beberapa langkah di depan mereka, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan dingin tanpa emosi. "Kenapa baru sekarang hubungi aku?"

​Kirana mengusap air mata palsunya dengan tisu. "Aduh Clara, kamu kan tahu sendiri biaya perawatan rumah sakit ini mahal banget! Ayah kamu kan bisnisnya udah jatuh, tabungan Tante udah habis! Karena kamu anak kandungnya, ya kamu yang harus tanggung jawab dong mengurus biaya rumah sakit dan penguburannya nanti!"

​Clara terkekeh sinis, menyunggingkan senyum penuh keharuan yang tajam bagaikan sembilu. "Lucu ya, Tante Kirana. Waktu Ayah masih sehat, masih kaya, dan punya banyak uang... kalian berdua mengeruk hartanya dan mendepak aku sama Ibu sampai Ibu meninggal! Sekarang begitu Ayah cuma tinggal bangkai sakit-sakitan begini... kalian mendadak lempar tanggung jawabnya ke aku?!"

​"Clara! Jaga mulut kamu ya!" cibir Miska dengan suara melengking. "Ibuku tuh udah cape ngurusin pria tua sakit-sakitan itu! Kamu kan anak kandungnya, masa tega biarin Ayah mati terlantar?!"

​"Memang itu yang aku tunggu, Miska," balas Clara dingin tanpa berkedip. "Aku datang ke sini bukan buat menyelamatkan dia. Aku datang cuma buat memastikan dengan mata kepala aku sendiri... gimana tragisnya ajal seorang pengkhianat."

​"Kamu bener-bener anak durhaka!" bentak Kirana emosi.

​Namun sebelum Kirana sempat melangkah maju, sesosok pria tegap bersetelan jas mahal melangkah dari belakang Clara, berdiri pasang badan mengintimidasi mereka bertiga. Binar mata Elzio tajam bagaikan elang yang siap menerkam musuhnya.

​"Sentuh istri saya satu jari saja," desis Elzio rendah namun sarat ancaman mematikan, "maka detik ini juga saya pastikan kalian berdua tidak akan pernah bisa melihat matahari esok hari."

​Miska dan Kirana seketika membeku. Matanya membelalak menatap Elzio.

​"E-Elzio Mahendra?!" cicit Kirana ketakutan.

​Di saat yang sama, Ardan yang sejak tadi diam mendadak melangkah maju dengan wajah penuh penyesalan. Matanya menatap Clara dengan pandangan memohon yang amat sangat.

​"Clara..." panggil Ardan, suaranya bergetar. "Clara, tolong dengarkan aku sebentar..."

​"Mau apa kamu, Ardan?" potong Clara dingin.

​"Aku menyesal, Clara! Demi Tuhan aku menyesal!" seru Ardan tiba-tiba, hendak menyambar tangan Clara, namun Elzio dengan cepat menepis tangan Ardan dengan kasar hingga pria itu terdorong ke belakang.

​"Jangan berani-berani menyentuh milik saya!" tegas Elzio tajam.

​Ardan mengabaikan Elzio, matanya tetap tertuju pada Clara. "Clara, aku tahu aku salah! Dulu aku khilaf karena godaan Miska! Tapi selama ini aku gak pernah bisa ngelupain kamu! Aku sadar cuma kamu wanita yang bener-bener tulus mencintai aku! Tolong... beri aku kesempatan kedua, Clara! Kita mulai lagi dari awal!"

​"ARDAN! KAMU GILA YA?!" jerit Miska histeris, menarik lengan Ardan kasar. "Aku ini tunangan kamu! Kenapa kamu malah melengos ngemis-ngemis sama cewek pembawa sial ini?!"

​Ardan menyentak tangan Miska dengan jijik. "Lepas, Miska! Aku udah muak sama kamu dan ibu kamu! Kalian berdua cuma benalu yang memorotin uangku! Aku gak pernah cinta sama kamu!"

​"Ardan..." Miska menatap Ardan tak percaya, air matanya menetas penuh amarah. Dia lalu menoleh menatap Clara dengan tatapan kebencian yang mendalam.

​"Ini semua gara-gara kamu, Clara!" bentak Miska histeris, menunjuk wajah Clara dengan jarinya yang gemetar. "Kamu emang cewek licik! Kamu sengaja kan jualan diri kamu ke pria-pria kaya kaya Elzio Mahendra cuma buat ngerebut Ardan balik dari aku?! Kamu tuh cuma cewek gatal yang gak tahu malu!"

​"Miska!" gertak Kirana ikut memanasi. "Kalian tahu kan, Pak Elzio? Clara itu dari dulu sukanya godain pria-pria kaya! Dulu waktu Ayahnya masih kaya aja dia sering keluyuran malam! Pria kaya kamu cuma dijadikan batu loncatan sama dia!"

​Mendengar fitnahan kejam yang keluar dari mulut ibu dan anak itu, Clara hanya menyunggingkan senyum sinisnya. Dia sama sekali tidak terpancing emosi lagi.

​"Sudah selesai bicaranya?" tanya Clara santai.

​Clara melangkah mendekat ke arah Miska, menatap adik tirinya itu dari atas ke bawah.

​"Miska... kamu kasihan banget ya," bisik Clara penuh penekanan. "Dulu kamu merebut Ayah dari aku dan Ibu. Lalu kamu merebut Ardan dari aku. Tapi ujung-ujungnya apa? Ayah kamu buang ke aku pas sekarat, dan Ardan... berlutut ngemis-ngemis minta balik sama aku di depan muka kamu sendiri."

​"Kamu... kamu!" Miska mengepalkan tangannya histeris.

​"Kamu pikir kamu menang dari aku?" Clara tertawa renyah. "Kamu gak pernah menang, Miska. Kamu cuma memungut sampah bekas yang udah aku buang."

​"Clara, tolong... tinggalkan pria itu dan kembalilah sama aku..." Ardan memohon lagi, mencoba meraih kaki Clara.

​Elzio melangkah maju, mencengkeram kerah baju Ardan dan mengangkat pria itu hingga terangkat dari lantai.

​"Dengar baik-baik, sampah," desis Elzio tepat di depan wajah Ardan yang ketakutan setengah mati. "Clara bukan lagi wanita yang bisa kamu sentuh atau kamu impikan. Dia sudah resmi menjadi Nyonya Elzio Mahendra sejak tadi pagi. Jika kamu berani menampakkan wajahmu satu kali lagi di depan istriku... bukan cuma karirmu yang hancur, tapi seluruh keluargamu akan aku bumi hanguskan."

​Elzio menghempaskan Ardan ke lantai hingga pria itu meringis kesakitan.

​Elzio lalu menoleh pada Kirana dan Miska dengan tatapan yang sangat dingin. "Dan untuk kalian berdua... seluruh biaya perawatan rumah sakit pria di dalam kamar itu tidak akan ditanggung satu rupiah pun oleh Clara. Itu adalah kewajiban kalian sebagai istri dan anak yang menikmati hartanya selama ini."

​"Tapi kami gak punya uang lagi, Pak Elzio!" jerit Kirana panik.

​"Itu bukan urusan kami," jawab Elzio datar.

​Elzio merangkul pinggang Clara dengan erat dan protektif, membawa istrinya berbalik arah meninggalkan koridor tersebut.

​"Elzio! Clara! Jangan pergi! Claraaa!" teriak Ardan dan Kirana dari belakang, namun Clara sama sekali tidak menoleh lagi.

​Di dalam lift yang sunyi, Clara menyandarkan kepalanya di dada tegap Elzio. Beban berat dan trauma masa lalunya seolah terangkat sepenuhnya hari ini.

​"Terima kasih ya, El," bisik Clara lembut.

​Elzio mengecup kening Clara dengan penuh kasih sayang. "Tugas saya adalah menjadi benteng kamu, sweetheart. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakiti kamu lagi."

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!