( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Risya
Masih melanjutkan cerita Taani yang meminta izin untuk pergi keluar rumah seorang diri, setelah keduanya menikah.
"Lagipula tidak akan lama, aku berjanji akan ada di rumah sebelum langit gelap." Taani Mengguncang bahu Rizwan.
Kenapa dia mirip sekali dengan Ayah ya?
Ih, tapi kalau untuk pergi dengan Risya, Ayah tidak akan pernah banyak aturan.
Huh
"Hari ini aku akan berkunjung ke panti." Rizwan menoleh kemudian matanya tertuju pada tangan Taani yang mencengkram bahunya kuat.
Tidak sakit memang hanya saja aliran darahnya seolah membeku ketika tangan lembut itu menyentuhnya.
Lihat, apa apaan Taani.
Dia tidak terbiasa dengan sentuhan tapi mudah sekali mendaratkan tangannya di tubuh laki-laki yang sensitif sekali terhadap sentuhannya.
Taani mengerjap buru buru melepaskan cengkraman, wajahnya tertunduk dalam.
Malu.
"Sanggar lukis satu arah dengan panti, jadi kamu tidak perlu menghambur-hamburkan uang, biar saya antar." Tanpa menunggu persetujuan dari Taani Rizwan berjalan masuk kedalam rumah.
Tak lama pria itu keluar menggunakan Hoodie warna hitam, tangannya menenteng sepasang sepatu sport.
"Aku mau lari pagi ke taman kota." Rizwan duduk di kursi teras rumah.
"Apa kau tertarik untuk ikut, Taani?" Mulai memakai sepatunya.
"Tapi sepagi ini biasanya tidak ada penjual permen kapas." Rizwan tersenyum sekilas setelah sepasang sepatunya selesai terpasang, pria jangkung itu berdiri menatap perempuan yang berdiri di hadapannya.
Kenapa sepagi ini dia sudah terlihat begitu cantik.
Wah sudah ada keberanian sekarang Rizwan.
Sudah berani menatap Taani tanpa harus mencuri pandang lagi.
"Ah, tidak. Aku tidak tertarik!" Taani mengibaskan tangan, bibirnya sudah sempurna mengerucut.
"Aku tidak suka lari pagi. Ish, lagipula permen tadi malam sudah membuatku mual." Menatap Rizwan jengah, kemudian masuk kedalam rumah.
Taani melirik pria yang hanya diam tak bergeming menerima penolakan darinya.
Perempuan itu mengira Rizwan akan memaksanya untuk ikut seperti dia memaksakan diri untuk mengantarkan ke sanggar siang ini.
Taani duduk di kursi rotan ruang tengah, mengintip dibalik gorden jendela rumah.
Ah, dia keluar pake speda lipatnya.
Jika nanti aku keluar menggunakan sepeda itu apakah boleh?
Tapi aku tidak bisa mengendarai benda itu.
Matanya tetap menatap punggung tegap Rizwan yang perlahan meninggalkan halaman rumah.
Taani menutup gorden dengan cepat jantungnya berdegub lebih cepat, karena sebelum benar-benar pergi Rizwan berbalik menutup gerbang kayu halaman rumahnya menatap sekilas ke arah jendela tempat perempuan itu mengintip.
Taani menyandarkan punggung pada sandaran kursi menutup wajahnya yang sudah merah padam.
Malu.
*****
Taani turun dari motor melepaskan helm dari kepalanya dan disimpan langsung di motor Rizwan.
"Apa kau tidak ingin ikut masuk?" Membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Tidak, aku langsung ke panti saja. Lain kali mungkin aku akan ikut. Ingat, jangan terlalu sore. Kalau kau sudah selesai hubungi aku." Menatap wanita di sampingnya, tersenyum hangat, kemudian
Mulai menjalankan motornya perlahan.
Taani hanya menganggukkan kepala masih berdiri menatap punggung Rizwan hingga menghilang di tikungan jalan.
Kemudian berbalik badan menatap pintu gerbang sanggar lukis yang sudah hampir Empat tahun ini menjadi tempat favoritnya.
Aaa
Aku rindu Bu Siska, Guru melukis di sanggar itu.
Kemudian membuka gerbang sudah ada Risya Menyambutnya dengan heboh.
"Taani." Risya berjingkrak jingkrak sembari melambaikan tangannya ke arah wanita yang berdiri di depan gerbang besi berwarna coklat itu.
"Risya." Tersenyum ramah membalas lambaian tangan Risya dengan tak kalah hebohnya. Tangannya menutup kembali pintu gerbang, berjalan menghampiri.
Hampir satu pekan tidak bertemu membuat kedua sahabat itu heboh, begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan Risya.
Satu pekan ini apa aja kegiatannya.
Terus kok sekarang tambah kurusan, dan
berbagai pertanyaan yang hanya mampu di jawab dengan senyuman saja.
Biasanya akan ada Dini, namun akhir akhir ini dokter yang sedang hamil menginjak usia lima bulan itu sangat sibuk dengan segala aktifitasnya.
Setelah berbasa-basi keduanya masuk ke dalam sanggar untuk menemui Bu Siska.
Mengobrol lumayan lama, Bu Siska wanita setengah baya, yang sudah empat tahun ini menjadi guru mekukis Taani juga tidak Mengetahui tentang pernikahannya dan Rizwan.
Mulai berkeliling melihat lukisan hasil orang orang yang belajar di sana.
Lukisan pertama Taani pun masih terpajang Dengan rapih.
Taani membalikkan badannya teringat tujuan utamanya datang ke sanggar lukis itu.
Matanya tertuju pada taman yang ada di samping sanggar terlihat kosong.
Sebelumnya Taani mengambil air mineral yang sudah disediakan di sana.
"Ikut aku! " Menarik tangan Risya.
Tanpa bertanya, Risya mengikuti langkah Taani.
Sesekali menyapa Orang-orang yang beberapa mereka kenal.
Sebelum ke intinya Risya bercerita tentang Kepergiannya ke luar kota.
Tempat tempat yang dikunjunginya dan Tentang Davin pria yang dia cintai namun Sampai saat ini belum juga melamarnya.
Eh, bagaimana mau melamar sementara perasaan pria itu pun risya tidak tahu.
Berharaplah sewajarnya, berdo'a lah sepenuhnya.
Bukankah begitu? manusia hanya bisa pasrah dan menerima setiap takdir yang sudah digariskan.
Tapi percayalah Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.
***
"Gila!" Adalah perkataan pertama yang keluar dari bibir cantik Risya. "Oh, ya Tuhan. Aku merasa seperti mimpi!"
"Mas Rizwan?"
Dih apa katanya?
Mas?
Kenapa terdengar begitu menggelikan, mengangkat kedua bahunya bergidik geli.
"Astaga Taani." Mengipasi wajahnya dengan tangan kemudian menenggak air mineral dihadapannya tenggorokan Risya terasa kering.
Taani hanya diam dia hanya perlu menunggu sahabatnya ini merasa lelah berceloteh.
"Ya Tuhan, Aulia Aftani." berteriak tangannya sibuk Merapihkan rambut.
"Pelankan suaramu, Risya!" Mengedarkan pandangannya.
Risya hanya nyengir, kepalanya mengangguk Paham dengan suasana disekitar mereka.
Karena jika akhir pekan sanggar lukis akan lebih ramai dari hari biasanya.
"Aku ingin mencekik lehermu saat ini juga. Bisa-bisanya kau menikah dengan laki-laki yang menjadi waiting list ku." Risya berlagak seperti orang yang sedang patah hati.
Taani mengendikkan kedua bahunya. Masa bodo!
"Tapi aku penasaran dengan Bu Tika, kau masih ingat kan? dia salah satu manusia yang terlihat kecentilan jika berhadapan dengan suamimu!" Memicingkan matanya.
"Dan sepertinya wanita itu benar-benar menaruh perasaan pada suamimu. Ah semoga saja keduanya tidak terlibat skandal."
Risya Mengigit bibir bawahnya, matanya terpejam karena telah lancang berbicara tanpa adanya bukti yang pasti.
Risya tahu sifat wanita dihadapannya ini sangatlah berbeda.
Meskipun Taani tidak menyukai sesuatu tapi dia akan marah ketika ada orang lain yang menyukainya. Intinya Taani akan marah ketika ada orang lain yang menyukai orang-orang terdekat dalam hidupnya.
Begitu juga dengan Rizwan, pria yang sudah beberapa hari ini menjadi suaminya.
Tapi Risya pernah beberapa kali memergoki Rizwan dan Tika duduk di kantin ketika jam Makan siang atau ngobrol di depan lobby kantor.
Meskipun tidak hanya berdua sih ada dika di samping Rizwan.
Tapi menurut Risya itu sudah menjadi bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa keduanya ada hubungan khusus.
"Maaf itu cuma perkiraanku saja. Lupakan saja, Oke? " Mengguncang bahu perempuan yang hanya diam tak bergeming dihadapannya.
Wajah Taani sudah terlihat
masam.
Risya hanya mengangguk hatinya terus berharap semoga hipotesanya kali ini kembali salah.
Taani membetulkan posisi duduknya
Menatap wajah Risya yang merasa bersalah. Tersenyum lebar hingga barisan giginya yang rapih terlihat.
"Kau tidak perlu minta maaf. Lagipula mereka terlihat cocok." Mencengkram pinggiran kursi, hatinya menolak mengatakan hal itu.
Taani tidak akan peduli jika hanya wanita itu yang mengejar cinta Rizwan.
Tapi bagaimana jika suaminya juga mencintai perempuan itu?
Bagaimana jika mereka saling mencintai dan harus terpisah karena perjodohan ini?
Hatiku kenapa ya.
Bu Tika?
Rizwan menyukainya?
Wanita yang selalu terlihat ayu itu,
wanita yang selalu tersenyum ramah.
Ya Tuhan.
Dulu, Taani sempat mendengar kabar tentang kedekatan Bu Tika dengan seorang pria yang juga bekerja di kantor yang sama di tempatnya bekerja.
Tapi karena merasa tidak penting, wanita yang hanya akan perduli dengan masalah orang orang terdekatnya saja itu, tidak pernah mau tahu siapa pria yang ramai di perbincangkan oleh Risya dan rekan kerja yang lain.
Dan ternyata, pria itu adalah Rizwan.
Rizwan suaminya.
"Taani.." Tangan Risya terjulur untuk mengusap bahu sahabatnya.
"Wajar kok. Dia menikahiku tanpa adanya cinta." Masih dengan senyum yang tersungging menatap Risya lekat. "Dan aku juga yang setuju untuk menikah dengannya. Dengan bodohnya aku tidak pernah berpikir apakah dia mau menikah dengan orang sepertiku."
Dalam hal menyembunyikan perasaan Taani memang juaranya.
"Waktu itu dia hanya iba pada perempuan malang sepertiku."
"Tan.." Lirih Risya.
Taani menggelengkan kepala menandakan kalau dia belum selesai berbicara.
"Dia punya hak untuk menentukan pilihan hidupnya. Dan aku tidak akan mengekang dia untuk tidak berhubungan dengan siapapun."
Terkekeh pelan.
Aduuuhhh, kenapa seperti ini?
Risya.
"Anter aku pulang yuk!" mengambil tas kecilnya yang disimpan di belakang Risya.
"Sudah Mulai sore." Beranjak dari duduknya berjalan mendahului risya.
"Tan.."
Langkah Taani terhenti saat pergelangan tangannya di cekal oleh wanita yang sudah belasan tahun menjadi sahabatnya itu. Tubunya berbalik menatap Risya.
"Kamu bahagia sama Mas Rizwan?" mencengkram pundak Taani.
Yang ditanya hanya diam menundukkan kepala.
"Aku yakin, alasan dia menikahimu bukan karena itu." Menatap Taani yang hanya diam. "Apa kau sungguh-sungguh dalam pernikahan ini? bagaimana dengan perasaanmu pada laki-laki itu?"
Deg!
Seketika Taani mendongakkan wajahnya, menatap Risya.
Air mata yang dari tadi mati matian ditahannya mengalir deras.
Kak Riko.
Ya Tuhan.
Bersambung...
sukses
semangat