Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Nara
Siang itu, sepulang sekolah, Nara memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah. Setelah mengambil tasnya, dia berjalan santai masuk ke dalam rumah.
"Mami, Nara pulang!" ucapnya sambil bersenandung ria.
"Eh, Sayang. Sini dulu sebentar," teriak maminya dari ruang tamu.
Nara pun langsung berjalan menghampiri maminya yang sedang duduk di sofa. "Ada apa, Mi?" tanyanya.
"Nih, coba kamu pilih. Mami lagi nyari konsep buat acara pertunangan kamu besok sore. Coba lihat, mana yang bagus?" ucap maminya sambil memperlihatkan layar iPad kepada Nara.
Mendengar ucapan itu, mata Nara langsung membesar. "Besok?" ucapnya kaget. Rupanya dia sempat melupakan acara pertunangannya yang akan dilaksanakan besok.
"Iya, besok. Kamu lupa, ya?" tanya maminya sambil menatapnya curiga.
Nara buru-buru menggelengkan kepala. "Enggak, Nara enggak lupa, kok. Hehehe," jawabnya gugup sambil tersenyum kaku.
"Ya sudah, ini gimana? Bagusnya dekorasinya kayak apa? Kamu pilih, nih," ucap maminya sambil kembali menggeser beberapa gambar dekorasi di layar iPad.
Nara menatap layar itu sekilas. "Kenapa harus pakai dekorasi, Mi? Memangnya kita ngundang banyak orang?" tanyanya dengan nada waspada.
"Ya, enggaklah, Sayang. Paling dari pihak Alden cuma keluarganya sama saudara kandung orang tuanya. Begitu juga dari pihak kita. Enggak bakal terlalu ramai, kok," jelas maminya.
Nara menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Terserah aja deh, Mi. Aku ikut pilihan Mami aja," ucapnya malas.
"Kok gitu, sih? Ayo, sini pilih dulu. Ini acara kamu juga," paksa maminya sambil mengarahkan kembali layar iPad ke hadapan Nara.
Nara mendengus pelan karena mulai merasa kesal. "Enggak tahu, Mi. Nara benar-benar enggak tahu. Mami aja deh yang pilih," jawabnya pasrah.
Felly menghela napas melihat sikap anaknya. "Ya sudah, berarti semuanya terserah Mami aja, kan?" tanyanya memastikan.
Nara pun menganggukkan kepala. "Iya, terserah Mami."
Setelah itu, suasana sempat hening selama beberapa saat. Felly kembali sibuk melihat berbagai contoh dekorasi pertunangan, sedangkan Nara hanya duduk sambil memainkan ujung lengan seragamnya.
"Oh, iya, Mi," ucap Nara tiba-tiba.
"Kenapa, Sayang?" tanya maminya yang masih fokus menatap layar iPad.
"Kira-kira Naya tahu enggak, ya, kalau sebentar lagi Nara bakal tunangan?" tanyanya penasaran.
Tangan Felly yang sedang menggeser layar seketika berhenti. Dia menoleh sebentar ke arah Nara, lalu kembali menatap layar di hadapannya.
"Nanti kalau Naya sudah sadar, baru kita kasih tahu, ya," jawab maminya dengan tenang.
Nara menundukkan pandangannya sebentar. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. "Mi, sebenarnya dulu Alden itu mau dijodohin sama siapa, sih? Sama aku atau sama Naya?" tanyanya penasaran.
Felly terdiam sesaat sebelum menjawab. "Sebenarnya, sih, sama Naya. Cuma karena kamu lebih tua dari Naya, jadinya sekarang sama kamu. Nanti Naya bakal Papi carikan yang sudah matang dan baik buat dia," ujar maminya santai.
Nara kembali menatap maminya. "Mami sama Papi sudah pernah ngomong soal ini ke Naya?"
"Sudah, dulu. Cuma waktu itu Naya diam aja, enggak kasih jawaban apa-apa. Jadi, setelah itu kita enggak pernah bahas lagi," jawab maminya.
"Kalau seandainya Naya tahu Alden tunangan sama aku, kira-kira gimana, Mi?" ujar Nara dengan nada khawatir yang mulai terdengar jelas.
Felly langsung menoleh dan menatap wajah anaknya. "Kok kamu jadi khawatir gitu, sih? Ya, enggak apa-apa. Kamu sama Naya juga sudah lama sama-sama, jadi Naya pasti maklum, kok. Nanti Mami sama Papi yang jelasin semuanya ke dia."
Nara hanya diam sambil mendengarkan penjelasan maminya.
"Dan mungkin Naya cuma bakal sedikit kaget waktu dengar kabar kamu tunangan. Kalau sampai marah, kayaknya enggak mungkin, sih. Menurut firasat Mami, Naya juga mungkin sudah lupa soal perjodohan itu," lanjut Felly.
Ucapan maminya membuat Nara semakin terdiam. Entah kenapa, rasa tidak enak di dalam hatinya masih belum benar-benar hilang. Namun, dia juga tidak ingin membuat maminya semakin curiga.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu, Mi. Bye!" pamitnya sambil berdiri dari sofa.
"Iya, Sayang. Istirahat dulu," jawab Felly.
Nara pun berjalan menuju lift yang berada tidak jauh dari ruang tamu. Sementara itu, Felly terus menatap punggung anak gadisnya sampai pintu lift tertutup.
"Semoga ini pilihan yang terbaik buat kamu, ya, Nak," gumam Felly pelan.
***
Keesokan harinya, Nara turun dari mobil sport miliknya. Rok yang ia kenakan hari ini bahkan lebih pendek dibandingkan sebelumnya. Dengan langkah angkuh, ia berjalan memasuki lobi gedung sekolah sambil menenteng tas barunya.
Saat hendak berbelok menuju lift, tiba-tiba Niel datang menyusul dari belakang.
"Widih, mantep banget tas lo. Baru, ya?" goda Niel iseng sambil memperhatikan tas yang dibawa Nara.
"Basi," jawab Nara jutek.
Sejujurnya, sampai sekarang dia masih kesal kepada cowok itu setelah aksi kejar-kejaran yang terjadi sebelumnya. Melihat Niel saja sudah cukup membuat suasana hatinya kembali berantakan.
"Dih, jutek banget. Padahal gue ngomong baik-baik sama lo," ucap Niel santai.
Nara tidak menanggapinya lagi. Ia hanya mengambil kartu akses miliknya, lalu menempelkannya pada mesin pemindai sebelum masuk ke dalam lift. Niel ikut masuk tepat di belakangnya.
Namun, sebelum pintu lift tertutup, tiba-tiba Alden muncul entah dari mana. Cowok itu menahan pintunya dengan tangan, lalu ikut masuk. Sekarang, mereka bertiga berdiri di dalam lift dengan suasana yang terasa sedikit canggung.
"Pagi, Kakak Ipar," sapa Niel sok akrab.
"Iya, pagi," jawab Alden seadanya tanpa menoleh.
Beberapa detik kemudian, tatapan Alden jatuh ke arah rok Nara. Ekspresinya langsung berubah tidak suka.
"Rok lo," ucap Alden sinis kepada cewek yang berdiri di sebelahnya.
Nara menoleh dengan wajah heran. "Kenapa sama rok gue?"
"Terlalu pendek. Mau gue gunting?" balas Alden dengan nada yang masih terdengar sinis.
Nara langsung mendengus kesal. "Apaan sih lo? Ini tuh fashion."
"Di sini siswi dilarang memakai rok terlalu pendek," ujar Alden lagi sambil menatap lurus ke depan.
"Bodo amat sih gue. Gue mau hidup sesuka hati gue tanpa ada kekangan, paham?" desis Nara dengan wajah kesal.
Alden tidak langsung menjawab. Rahangnya terlihat mengeras, seolah sedang menahan emosi. Saat lift berhenti di salah satu lantai, ia langsung melangkah keluar begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
Nara dan Niel yang masih berada di dalam lift hanya bisa menatap punggungnya dengan bingung.
"Kenapa sih dia? Ngambek, kah?" gumam Nara sambil mengernyitkan dahi.
"Dia emang gitu. Susah banget nebak mood-nya," jawab Niel sambil menahan tawa, sengaja meledek.
Nara langsung menoleh tajam. "Gue nggak nanya sama lo!"
Setelah pintu lift terbuka di lantai tujuan, Nara berjalan pergi begitu saja tanpa menunggu Niel. Langkahnya cepat dan wajahnya masih terlihat kesal.
Niel hanya bisa berdiri sambil menatap kepergiannya dengan wajah heran.
"Astaga, kenapa sih dia sensian mulu sama gue?" gumamnya seorang diri.
Saat jam istirahat, Nara berjalan sendirian dari arah toilet menuju kelas. Namun, baru beberapa langkah melewati lorong yang cukup sepi, jalannya langsung dihadang oleh dua cowok yang tidak ia kenal.
"Hai, cantik," gombal salah satu cowok itu sambil tersenyum menggoda.
"Apaan sih lo? Sana minggir," jawab Nara judes. Ia berniat melewati mereka, tetapi kedua cowok itu malah bergeser dan kembali menghalangi jalannya.
"Mau ke mana sih? Sini dulu, dong. Temenan sama kami," ucap salah satunya sambil mendekat.
"Dih, najis. Minggir lo," balas Nara ketus.
"Cantik-cantik judes, makin suka, deh," godanya lagi, membuat Nara merinding jijik.
"Kita nggak kenal, jadi lo nggak usah sok akrab sama gue," jawab Nara sambil menatap mereka tajam.
"Eh, tunggu dulu—"
Belum selesai cowok itu berbicara, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang mereka.
"Kalian ngapain di sini?" tanya suara itu dengan dingin.
Mereka bertiga langsung menoleh. Nara sedikit lega saat melihat Alden berdiri tidak jauh dari sana dengan ekspresi serius.
"Alden, tolongin gue, Al. Mereka gangguin gue," adu Nara sambil menunjuk kedua cowok itu.
"Dih, fitnah lo. Mana ada? Dia duluan yang godain kita, iya, kan?" jawab salah satunya sambil melirik temannya, meminta pembelaan.
Temannya langsung mengangguk cepat. Namun, Alden jelas tidak percaya dengan omongan mereka.
"Kalian sudah saya peringatkan, kan, untuk berhenti melakukan catcalling di sekolah?" tegur Alden dengan tegas.
Kedua cowok itu saling berpandangan. Meski terlihat sedikit gugup, salah satu dari mereka masih berusaha membela diri.
"Beneran, kok. Tuh, lihat aja. Dia sengaja pendekin roknya buat godain kami," ucapnya enteng.
Ekspresi Alden langsung berubah tajam. Ia melangkah mendekat sambil menatap cowok itu tanpa berkedip.
"Apa lo bilang? Coba ngomong sekali lagi!" bentaknya.
Kedua cowok itu langsung terkejut. Suasana lorong yang sebelumnya dipenuhi suara godaan mendadak menjadi hening.
"Kalian berdua mending pergi sekarang, sebelum saya kasih sanksi berat," tegas Alden.
Kedua cowok itu tidak berani membantah lagi. Mereka langsung berbalik dan pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Setelah keduanya menghilang di ujung lorong, tinggallah Nara dan Alden berdiri berhadapan.
"Mereka duluan yang godain gue. Mana mau gue godain orang yang kayak topeng monyet begitu," ketus Nara sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Alden menatapnya sejenak, lalu pandangannya kembali jatuh ke arah rok Nara.
"Kan sudah gue bilang, rok lo terlalu pendek. Di sekolah ini, panjang rok minimal sepuluh sentimeter di atas lutut," ucap Alden dengan nada memerintah.
Nara langsung mendengus kesal. "Sudah gue bilang sama lo, gue nggak suka diatur."
Alden bukannya mundur, malah berjalan mendekat. Tatapannya tetap tajam hingga membuat Nara sedikit menegakkan tubuhnya.
"Lo ganti sendiri roknya atau gue yang nyuruh lo ganti sekarang?" ancam Alden.
Nara langsung membulatkan matanya karena kesal sekaligus tidak percaya mendengar perkataan cowok itu.
"Sinting lo," desisnya.
Alden mengangkat satu alis, lalu tersenyum miring.
"Gue yang urus supaya lo ganti?" tanyanya dengan nada menyeramkan.
Nara menatap Alden beberapa detik. Meski masih kesal, akhirnya ia memilih mengalah daripada memperpanjang perdebatan.
"Oke, biar gue sendiri aja yang ganti," putusnya.
Setelah mengatakan itu, Nara langsung berbalik dan pergi dari sana dengan langkah cepat. Sementara Alden hanya berdiri di tempatnya sambil menatap kepergian cewek itu.