NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Kringgg... Kringgg...

Suara alarm dari ponsel di atas nakas memecah keheningan kamar yang luas dan sunyi itu.

Sari Maheswara mengerang kecil, perlahan membuka matanya yang masih terasa berat.

Layar ponsel yang menyala terang langsung menusuk retinanya, menunjukkan angka tiga digital yang masih terlalu pagi untuk memulai hari.

Sari menghela napas panjang, lalu menggeser layar untuk mematikan alarm.

Ia memijat pelipisnya yang terasa pening. Sungguh, ini adalah rekor bangun paling pagi dalam sejarah hidupnya sebagai seorang CEO yang biasanya baru akan terjaga pada pukul lima.

Namun, kalimat ancaman yang diterimanya semalam kembali terngiang dengan sangat jelas di kepalanya.

Kamu harus segera menikah tahun ini, Sari! Atau Nenek tidak akan pernah mau menginjakkan kaki lagi di Indonesia, dan posisi kamu di perusahaan akan Nenek tinjau ulang!

Suara tegas dan tak mau dibantah dari sang nenek, pemilik tunggal Maheswara Group, terus terngiang bagai kaset rusak.

Neneknya tidak pernah main-main dengan ucapan.

Bagi wanita tua itu, kesuksesan Sari memimpin belasan perusahaan tidak akan pernah lengkap sebelum ada seorang pria yang mendampinginya.

"Menikah? Dikira mencari suami itu semudah membalikkan telapak tangan," gumam Sari ketus pada kegelapan kamar.

Sari melempar selimut sutranya, lalu turun dari tempat tidur dengan langkah anggun namun tegas.

Tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Hari ini ia harus terbang ke Singapura untuk menghadiri meeting penting sekaligus menjemput sang nenek—atau setidaknya, membujuk wanita tua itu agar membatalkan ancaman konyolnya.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi mewah bernuansa marmer hitam.

Guyuran air dingin dari shower langsung menyapu sisa-sisa kantuknya, mengembalikan aura dingin dan perfeksionis yang menjadi ciri khasnya.

Setengah jam kemudian, Sari sudah rapi dengan setelan kerja formal yang elegan, rambut yang tersanggul rapi tanpa cela, dan riasan wajah yang natural namun tegas.

Setelah memastikan seluruh dokumen di dalam tabletnya aman, ia menyambar tas Hermes hitam dan kunci mobilnya.

Targetnya subuh ini hanya satu: sampai di bandara tepat waktu, terbang ke Singapura, dan memenangkan negosiasi melawan keras kepalanya sang nenek.

Segera ia melajukan mobilnya menuju ke bandara.

Di bawah temaram lampu jalanan Jakarta yang masih sepi dan lengang, sedan mewah bernilai miliaran rupiah itu membelah aspal dengan kecepatan stabil.

Untuk mengusir keheningan yang mencekam, Sari mengulurkan tangan kiri, menghidupkan radio yang langsung memutarkan lagu jaz berirama lambat.

Ia membuang napas perlahan, mencoba menyugesti dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.

Singapura hanya sepelemparan batu, dan ia adalah Sari Maheswara—negosiator ulung yang belum pernah kalah dalam meja perundingan. Menjinakkan ego sang nenek seharusnya bukan perkara mustahil.

Namun, tepat di pertengahan jalan, ketenangan itu mendadak buyar.

Blubub... Blubub...

Indikator mesin di dasbor berkedip merah. Pedal gas yang diinjak Sari tiba-tiba terasa kosong.

Setir mobilnya mendadak berat, dan dalam hitungan detik, mesin mobil mahal itu mati total.

Mobilnya melambat drastis sebelum akhirnya terhenti sempurna di bahu jalan.

"Oh, come on! No, no, no! Jangan sekarang!" seru Sari panik.

Ia mencoba menstarter ulang mesinnya beberapa kali, namun yang terdengar hanyalah suara ketukan lemah dari kap depan. Mobil itu mogok total.

Sari memukul setir dengan frustrasi. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.

Pukul 03.45. Penerbangannya dijadwalkan pukul 06.00 pagi.

Jika ia terlambat, hancur sudah semua rencananya.

Saat ia menurunkan kaca jendela untuk memeriksa situasi sekitar, indranya langsung dihantam oleh aroma yang sangat asing bagi hidung mahalnya: bau bumbu dapur yang pekat, aroma amis ikan segar, dan riuh rendah suara tawar-menawar yang bersahut-sahutan.

Sari menoleh ke kiri. Tepat di samping tempat mobilnya mogok, sebuah plang kayu kusam bertuliskan "Pasar Subuh" terpajang di bawah lampu jalan yang temaram.

Suasana pasar yang ramai, dan penuh sesak oleh manusia-manusia yang sudah memulai hari dengan peluh.

Ia terjebak di tempat yang paling enggan ia kunjungi seumur hidupnya, tepat di saat masa depannya sebagai CEO sedang dipertaruhkan.

Sari mengembuskan napas frustrasi, lalu memutuskan untuk turun dari mobil.

Sepatu high heels-nya yang mahal langsung menyentuh aspal dingin di pinggir jalan yang lembap.

Aura dinginnya tetap memancar kuat meski ia sedang berdiri di pinggir jalan.

Ia segera merogoh tas Hermes-nya, mengambil ponsel, dan mengetik pesan cepat untuk sekretaris pribadinya.

[Nanda, mobil saya mogok di dekat Pasar Subuh arah bandara. Tolong hubungi bengkel langganan sekarang juga untuk diderek.]

Hanya butuh waktu satu menit bagi sang sekretaris yang selalu siaga untuk membalas pesan tersebut.

[Baik, Bu. Nanti saya akan sampaikan ke pihak bengkel segera.]

Sari memasukkan kembali ponselnya. Baru saja ia melangkah ke pintu belakang untuk mengambil koper dan beberapa dokumen penting di jok penumpang, langkahnya mendadak terhenti.

Kruuuk...

Suara keroncongan dari perutnya terdengar begitu nyata di tengah sunyinya pagi.

Sari mendesah, baru teringat kalau semalam ia melewatkan makan malam demi memeriksa berkas-berkas Maheswara Group.

Membayangkan perjalanan udara ke Singapura dengan perut sekosong ini pasti akan menyiksa fisiknya.

Sari menoleh ke arah keramaian di sampingnya. Dengan ragu, ia melangkah masuk ke dalam pasar subuh.

Bau rempah dan keriuhan langsung menyambutnya.

Di antara deretan lapak yang penuh sesak, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah gerobak kayu bertuliskan kue basah Arka yang bersih dan tertata rapi.

Di balik gerobak itu, berdiri seorang lelaki tampan berkaus oblong rapi dengan celemek kain.

Lelaki itu memiliki rahang tegas, tatapan mata yang teduh namun tajam, serta karisma yang kuat—sangat kontras dengan riuhnya suasana pasar.

"Mau beli kue apa, Mbak?" tanya Arka dengan suara bariton yang tenang dan sopan.

Sari sempat terpaku sesaat, namun keangkuhannya dengan cepat mengambil alih.

"Apa yang paling enak di sini?" tanya Sari ketus.

Tanpa banyak bicara, Arka mengambil sebutir kue bulat berwarna hijau yang masih hangat, bergulingan di atas parutan kelapa muda, lalu menyajikannya di atas selembar daun pisang kecil.

"Dicoba dulu, Mbak. Ini klepon."

Sari menerima kue itu dengan ragu. Dengan sekali suap, klepon itu masuk ke dalam mulutnya.

Begitu giginya memecah tekstur kenyal ketan, gula merah cair yang manis murni langsung meletup, meleleh memanjakan lidah dan seketika menghangatkan hatinya yang sedingin es. Sari tertegun.

Demi apa pun, ini adalah kue paling enak yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Sifat dominan Sari sebagai CEO kaya raya langsung bangkit.

Terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan kekuatan finansialnya, Sari membuka dompet dan langsung menyodorkan selembar kartu premium berwarna hitam mengilap ke hadapan Arka.

"Ini Black Card. Gesek saja," ucap Sari dengan nada perintah yang angkuh.

Arka melihat kartu itu, lalu menatap wajah Sari dengan senyum tipis yang sarat akan ketenangan.

Ia menggeleng pelan. "Ini bukan mal, Mbak. Jadi hanya menerima uang tunai."

Sari mengernyitkan alis, merasa tidak biasa ditolak. Sifat kompetitifnya terusik.

"Baiklah, kalau begitu saya borong semuanya. Seluruh kue Anda, dan juga gerobaknya sekalian!"

Arka terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang anehnya terdengar sangat berwibawa.

"Mbak, saya ini jualan kue, bukan jualan gerobak."

Wajah Sari memerah karena gengsi. Merasa tertantang oleh ketegasan sang penjual, ia langsung menarik dompetnya kembali dan mengeluarkan sepuluh lembar uang merah pecahan seratus ribu rupiah dari dalam dompetnya, lalu meletakkannya di atas meja gerobak.

"Ini uang tunai. Ambil kembaliannya," ujar Sari kaku.

Sebelum Arka sempat merespons keangkuhan polos wanita di depannya, Sari melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.

Angka digital menunjukkan waktu yang kian memburu. Ia tidak punya waktu lagi untuk berdebat.

Sari berbalik dengan tergesa-gesa, melangkah lebar meninggalkan lapak Arka untuk kembali ke mobilnya.

Dengan cekatan, ia membuka pintu belakang, mengambil koper serta map dokumen penting yang ia perlukan untuk rapat di Singapura.

Tepat di tepi jalan raya, sebuah taksi berlogo biru melintas.

Sari segera mengangkat tangannya untuk memanggil taksi tersebut.

Setelah memasukkan koper ke bagasi dan duduk di kursi belakang, ia menginstruksikan sang sopir dengan tegas, "Ke bandara, Pak. Tolong agak cepat."

Taksi itu pun melaju membelah sisa keheningan subuh. Namun, di dalam taksi yang berjalan menjauh, pikiran Sari tidak lagi sepenuhnya tertuju pada rapat penting atau ancaman neneknya.

Di dalam benaknya, rasa manis dari sebutir klepon dan tatapan mata karismatik sang duda pasar subuh justru tertinggal dengan begitu lekat.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!