NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Komedi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"

Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.

Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.

Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.

Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Bakat Murni

Ketika Wei Changqing kembali dari balik pepohonan sambil menuntun seorang bocah perempuan lusuh yang berjalan pincang, Zhou Hao nyaris menjatuhkan pedang kayanya.

"Astaga, Changqing! Apa yang terjadi?!" seru Zhou Hao sambil berlari menghampiri, matanya membelalak menatap noda darah kering di pakaian Baii Ling. "Siapa anak ini? Lalu suara desingan pedang tadi..."

" Dia adalah korban penculikan komplotan perampok jalanan," potong Changqing tenang sambil mengangkat tubuh kecil Baii Ling ke atas kereta gerobak obat. "Aku berhasil mengejutkan para perampok itu dengan melempar sarang lebah hutan dan batu ke arah mereka. Saat mereka panik, aku membawa anak ini lari."

Zhou Hao menghela napas lega yang amat panjang, mengusap dadanya. "Syukurlah! Aku pikir kau nekat bertarung sendirian melawan para perampok itu! Kau ini benar-benar gila atau terlalu beruntung, Changqing!"

Changqing hanya tersenyum tipis tanpa membantah cerita karangannya. Di sampingnya, Baii Ling kecil menatap Changqing dengan mata hitamnya yang bening. Bocah itu cukup cerdas untuk menutup mulut rapat-rapat dan tidak membocorkan bagaimana "Kakak Pendekar"-nya membantai lima perampok kejam hanya dalam empat tarikan napas.

"Paman Kusir, mari kita lanjutkan perjalanan masuk ke Kota Lembah Hitam sebelum hari gelap," ujar Changqing.

Gerbang Kota Lembah Hitam menjulang tinggi dari batu bata kelabu yang berlumut. Kota ini terletak di persimpangan tiga jalur perdagangan besar, membuatnya selalu ramai oleh karavan obat-obatan, hingga para pendekar pengelana dari berbagai aliran. Namun di balik keramaian itu, lorong-lorong gelap kota ini menyimpan banyak mata-mata fraksi sesat yang siap memangsa mereka yang lemah.

Setelah menyerahkan delapan peti pasokan obat-obatan herbal kepada perwakilan medis setempat dan menerima tanda terima misi sekte, Changqing menyewa tiga kamar di sebuah penginapan yang bersih di pinggir kota.

Di dalam kamar Changqing, sebuah bak mandi kayu berisi air hangat dan ramuan herbal pemulih luka telah disiapkan.

"Mandi dan bersihkan dirimu dulu, Baii Ling," kata Changqing lembut sambil meletakkan satu set pakaian baru berbahan katun hijau muda yang baru saja ia beli di pasar kota. "Setelah itu kita makan."

Baii Ling mengangguk ragu-ragu. "Kakak... kau tidak akan meninggalkanku sendiri di kamar ini kan?" tanyanya dengan suara pelan, matanya menyiratkan trauma mendalam akibat diculik berhari-hari di dalam karung gelap.

Di masa lalu, tidak ada yang menanyakan hal ini kepada Baii Ling. Ia dibiarkan sendirian dalam ketakutan hingga hatinya membeku menjadi batu es.

"Aku akan duduk di meja teras depan pintu kamarmu sambil minum teh," jawab Changqing sambil tersenyum hangat. "Kalau kau memanggil namaku, aku akan langsung menjawab."

Senyum kecil, senyum pertama yang sangat manis, terukir di bibir pucat Baii Ling.

Setengah jam kemudian, pintu kamar terbuka. Bai Ling melangkah keluar. Lumpur dan darah telah lenyap dari tubuhnya. Di balik pakaian kotornya tadi, ternyata ia adalah seorang bocah perempuan berkulit putih bersih dengan fitur wajah yang sangat manis dan sepasang mata hitam yang tajam bersinar.

Saat mereka duduk menyantap semangkuk mi kuah hangat, Changqing meminta izin untuk memeriksa denyut nadi Baii Ling.

"Ulurkan tanganmu, Baii Ling. Biar kulihat apakah racun dari pedang perampok tadi ada yang masuk ke dalam aliran darahmu."

Baii Ling mengulurkan pergelangan tangannya tanpa ragu sedikit pun. Ia menaruh kepercayaan penuh sebesar seratus persen pada pemuda di depannya ini.

Tiga jari Changqing menempel lembut di titik nadi Baii Ling.

Seketika, Changqing menutup matanya. Di dalam penglihatan batinnya, ia mengirimkan sehelai tipis tenaga dalam murni untuk menelusuri jalur meridian di tubuh bocah perempuan itu.

Deg!

Apa yang ditemukan Changqing di dalam tubuh Baii Ling membuatnya diam-diam takjub.

Jalur meridian di tubuh bocah sebelas tahun ini tidak seperti manusia biasa. Sembilan jalur meridian utamanya begitu lebar, elastis, dan sebening kristal es. Terlebih lagi, di bagian pusat Dantian-nya, terdapat hawa dingin alamiah yang sangat padat—Meridian Teratai Es.

‘Pantas saja Bayangan Gerhana mengincar anak ini hidup-hidup,’ batin Changqing sadar. ‘Meridian Teratai Es adalah bakat kelahiran yang seratus tahun sekali baru muncul di dunia persilatan. Jika dilatih ilmu pedang aliran Yin atau es, ia bisa menembus tingkat Grandmaster sebelum usia dua puluh lima tahun!’

Di masa depan, karena Baii Ling jatuh ke tangan aliran sesat, bakat suci ini dirusak dan dipaksa menyerap hawa darah kotor, mengubahnya menjadi monster pembantai yang kehilangan kewarasannya.

Changqing melepaskan jarinya dari nadi Baii Ling. Menatap bocah yang sedang makan mi dengan lahap itu, sebuah tekad baru bulat di dalam hatinya.

"Baii Ling," panggil Changqing tenang.

Baii Ling mengangkat kepalanya, pipinya masih menggembung penuh mi. "Ya, Kakak?"

"Apakah kau ingin belajar ilmu bela diri?" tanya Changqing. "Bukan ilmu untuk membantai atau balas dendam... tapi ilmu agar kau tidak perlu lagi takut pada siapa pun di dunia ini, dan agar kau bisa melindungi orang-orang yang kau sayangi."

Mendengar tawaran itu, Baii Ling meletakkan sumpitnya. Mata hitamnya menatap Changqing dengan keseriusan yang melampaui usianya. Ia teringat rasa tak berdayanya saat diculik dari desa, teringat bagaimana orang tuanya dibunuh oleh perampok jalanan tanpa bisa ia bantu.

Lalu ia teringat sosok punggung Changqing yang tenang saat menghadapi lima perampok bergolok besar sore tadi.

Tanpa ragu, Baii Ling bangkit dari kursi, lalu berlutut di lantai kayu penginapan dan bersujud tiga kali di depan Wei Changqing—penghormatan tertinggi bagi seorang murid dalam dunia persilatan.

"Mohon terima Baii Ling sebagai muridmu, Kakak Guru!" ucap Baii Ling dengan suara yang bergetar namun penuh tekad baja. "Baii Ling bersumpah akan berlatih sampai mati dan tidak akan pernah mengkhianati kebaikan Kakak Guru seumur hidupku!"

Changqing tersenyum, mengulurkan tangan membangunkan bocah kecil itu.

"Kau tidak perlu memanggilku Guru di depan orang lain. Panggil saja aku Kakak Changqing seperti biasa," kata Changqing lembut. "Dan ingat satu hal ini, Pedang di tangan kita bukanlah alat untuk membuktikan siapa yang paling kuat, melainkan perisai untuk menjaga mereka yang lemah."

"Baii Ling ingat!"

Malam itu, di dalam kamar penginapan Kota Lembah Hitam, Wei Changqing mulai mengajarkan bait pertama dari Ilmu Pernapasan Hati Es Nirwana, sebuah teknik tingkat suci yang di masa lalu hanya dikuasai oleh segelintir legenda puncak.

Benih pertama telah ditanam. Akar perang ketiga tidak hanya berhasil dicabut, tetapi kini diubah menjadi pohon pelindung yang kelak akan mengguncang seluruh benua.

Namun, ketenangan malam di Kota Lembah Hitam hanyalah permulaan. Di markas rahasia Bayangan Gerhana yang terletak di balik lorong gelap kota, hilangnya pemimpin bermata satu beserta empat anak buahnya telah mulai menarik perhatian para pembunuh tingkat tinggi yang sebenarnya.

1
Arman Jaya
alur ceritanya bagus..
lanjutkan Thor.....👍👍🙏
Jhon
mantap thor👍
Suhartini Wahono
suka jg.....😍👍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Jimmi
Aku sangat menyukai cerita ini😍😍😍
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fatih Al
lanjut lagi🙏🙏
Fatih Al
mantap thor💪
Budi Xiao
Lanjut, semangat thor👍
Celestial Quill
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, vote supaya novel ini semakin dikenal dan semangat author untuk update juga semakin besar. Terimakasih sudah membaca🙏
Fatih Al
Cerita bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!