"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Ketika semburat cahaya fajar pertama kali menembus celah gorden, Bita sudah terbangun lebih dulu. Jantungnya ternyata masih belum bisa diajak kompromi sepenuhnya sejak semalam. Ia melirik perlahan ke sisi kanan tempat tidur. Gus Ibra sudah tidak ada di sana. Kasur di sebelahnya sudah rapi kembali, hanya menyisakan aroma kayu cendana yang samar menempel di bantal.
Dari arah bawah, lamat-lamat terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan dengan nada rendah dan sangat merdu. Bita mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar sambil memegangi dadanya yang masih berdegup hangat.
"Gila ya, bener-bener kayak beda dunia gue sama dia," gumam Bita pada diri sendiri sebelum akhirnya beranjak menuju kamar mandi.
Siang harinya berjalan dengan ritme yang cukup padat bagi Bita. Kuliahnya selesai pukul dua siang, dan sepanjang jalan pulang di dalam taksi, pikiran Bita terus berputar pada janji Umi semalam. Mengajari memasak sayur lodeh. Seumur hidupnya, menyentuh pisau dapur saja bisa dihitung dengan jari, apalagi harus mengolah bumbu tradisional di depan ibu mertuanya yang merupakan pengasuh pondok pesantren besar. Ada rasa minder dan takut salah yang mendadak menyelusup di hatinya.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Bita menyapa Umi "Assalamualaikum, Umi..." panggil Bita sambil berjalan menuju dapur bersih.
Umi yang sedang memotong terong ungu di balik meja bar menoleh, wajah teduhnya langsung dihiasi senyuman lebar. "Waalaikumsalam, Nak. Pas sekali, Umi baru saja mau menghaluskan bumbunya. Sini, ganti baju dulu terus kita masak sama-sama."
"Eh, iya Umi. Bita ganti baju bentar ya," jawab Bita kikuk.
Sepuluh menit kemudian, Bita sudah kembali dengan kaus santai dan rambut yang dicepol rapi. Ia berdiri di sebelah Umi dengan canggung, memperhatikan jemari mertuanya yang sangat telaten memilah bawang merah dan bawang putih.
"Bita biasa masak apa, Nak?" tanya Umi lembut, memberikan sebuah ulekan batu kecil ke tangan Bita.
Bita meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aduh, jujur ya Umi... Bita gak bisa masak. Paling cuma bisa bikin mi instan, goreng telur, atau pesen makanan online. Mama... Mama jarang masak di rumah, jadi Bita gak pernah diajarin."
Umi tidak menunjukkan gurat kecewa sama sekali. Beliau justru mengusap bahu Bita dengan penuh kasih sayang. "Ndak apa-apa, Nak. Menjadi istri itu proses belajar seumur hidup. Umi dulu waktu awal menikah sama Abi juga ndak bisa masak apa-apa. Malah pernah bikin sambal keasinan dan super pedas sampai Abi harus minum air putih satu teko."
Bita spontan tertawa kecil mendengar cerita itu. Ketegangan di pundaknya perlahan-lahan mencair. "Beneran, Umi? Seorang Kiai pernah dikasih sambal keasinan?"
"Beneran," Umi terkekeh, ingatan masa lalu membuat matanya berbinar hangat. "Tapi Abi ndak pernah marah. Beliau tetap habiskan sambil tersenyum. Katanya, menghargai usaha istri itu pahalanya besar. Nah, sekarang coba Bita ulek bawang merah sama kemiri ini sampai halus ya. Pelan-pelan saja."
Bita mengangguk patuh. Ia mulai menekan ulekan batu itu ke atas cobek dengan sekuat tenaga. Namun, karena tidak terbiasa, gerakan tangannya terlihat sangat kaku dan bumbu di dalam cobek justru berhamburan keluar.
"Eh, kok malah kabur semua bawangnya," gumam Bita kesal pada diri sendiri, wajahnya merengut gemas.
"Gunakan tenaga dari pergelangan tangan, Tsabita. Jangan ditekan terlalu kencang dari bahu."
Suara bariton yang sangat familiar itu tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk dapur. Bita dan Umi serentak menoleh. Gus Ibra sudah berdiri di sana, tampaknya baru saja pulang dari kantornya di daerah Sudirman. Pria itu sudah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang sudah digulung rapi hingga sebatas siku.
"Eh, Ibra sudah pulang?" sapa Umi.
Ibra berjalan mendekat, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, lalu melirik ke arah Bita yang masih memegang ulekan dengan posisi kaku. "Iya, Umi. Pekerjaan di kantor bisa ditinggal setengah hari."
Ibra kemudian bergeser, berdiri tepat di sebelah Bita. Tanpa ragu, ia mengambil alih ulekan batu dari tangan istrinya yang mulai memerah. "Sini, biar saya yang haluskan. Kamu potong kacang panjangnya saja."
Bita mengerjap, menatap suaminya dengan bingung. "Lo... lo bisa ngulek, Gus?"
"Di Yaman dulu, kami para santri harus memasak sendiri jika bosan dengan makanan asrama," jawab Ibra lempeng, tangannya mulai bergerak mengulek bumbu di atas cobek dengan gerakan yang sangat lihai dan cepat. Dalam hitungan menit, bumbu tersebut sudah halus sempurna.
Umi tersenyum penuh arti melihat interaksi anak dan menantunya. "Nah, kalau bumbunya sudah siap, sekarang giliran Bita yang menumis. Sini, Nak, masukkan bumbunya ke dalam wajan yang sudah dikasih minyak hangat."
Bita mengambil posisi di depan kompor. Dengan bimbingan telaten dari Umi dan diawasi oleh tatapan lekat dari Ibra, Bita mulai mengaduk bumbu tersebut. Hawa panas kompor membuat beberapa bulir keringat tipis muncul di pelipis Bita.
Tepat saat Bita hendak memasukkan santan ke dalam panci, selembar tisu putih tiba-tiba menempel lembut di pelipisnya. Bita tersentak, menoleh ke samping. Gus Ibra sedang memegang tisu tersebut, mengusap keringat di wajah Bita dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, seolah takut mengacaukan fokus istrinya.
"Awas terkena cipratan minyak," ucap Ibra pendek, suaranya terdengar sangat lempeng namun tatapan matanya memancarkan perhatian yang dalam.
Wajah Bita seketika terasa jauh lebih panas daripada suhu kompor di depannya. Ia buru-buru memalingkan muka kembali ke arah panci, menyembunyikan semburat merah yang kembali muncul di pipinya. "Y-ya... makasih."
Umi yang memperhatikan pemandangan itu dari meja bar hanya bisa tersenyum simpul, menyadari bahwa keputusannya untuk menginap di rumah ini sama sekali tidak salah. Sekat pembatas di antara anak dan menantunya perlahan tapi pasti mulai runtuh oleh momen-momen sederhana seperti ini.
Satu jam kemudian, sayur lodeh buatan kolaborasi mereka akhirnya tersaji di atas meja makan, lengkap dengan tempe goreng dan sambal terasi. Mereka bertiga duduk bersama untuk menikmati makan sore. Bita menahan napasnya dengan gugup saat Ibra mengambil sendok pertama dan menyuapkan sayur lodeh itu ke dalam mulutnya.
"Gimana, Ibra? Enak ndak masakan istrimu?" tanya Umi sengaja memancing.
Ibra mengunyah makanannya dengan tenang, beralih menatap Bita yang saat ini sedang memandangnya dengan raut wajah penuh harap yang terlihat sangat menggemaskan.
"Pas," jawab Ibra singkat setelah menelan makanannya. "Rasanya tidak kurang sedikit pun. Ini sayur lodeh terbaik yang pernah saya makan setelah buatan Umi."
Mendengar pujian tulus yang keluar dari mulut suaminya, sebongkah rasa lega yang luar biasa langsung membuncah di dalam dada Bita. Sebuah senyuman manis yang jarang ia tunjukkan akhirnya terkembang sempurna di bibirnya. "Beneran, Gus? Lo gak lagi bohong kan demi menyenangkan hati Umi?"
Ibra menggeleng perlahan, seulas senyuman tipis yang sangat menawan muncul di sudut bibirnya. "Saya tidak pernah berbohong soal rasa, Tsabita. Terima kasih untuk usahamu hari ini."
Di ruang makan yang tenang itu, ditemani kehangatan keluarga yang tulus, Bita merasakan sesuatu yang belum pernah ia dapatkan di rumah besarnya. Sebuah pengakuan sederhana atas usahanya, tanpa ada perbandingan, dan tanpa ada tuntutan untuk menjadi sempurna. Dan untuk pertama kalinya, Bita mulai merasa bahwa keputusannya untuk menerima perjodohan ini mungkin adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.