Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Yang Terungkap
Sosok itu terus melesat menembus pekatnya malam, mengikuti aroma yang menguar dari gadis buruannya. Aroma itu semakin jelas, semakin menggoda. Gadis itu pasti dibawa oleh vampir yang cukup kuat. Kecepatan pergerakan mereka jauh melampaui manusia biasa.
Sedikit lagi.
Hanya selangkah lagi, dan semuanya akan berakhir. Setelah darah gadis terberkati mengalir ke dalam tubuhnya, tidak akan ada lagi vampir yang mampu menandinginya. Seluruh klan yang selama ini membelenggu hidupnya akan ia musnahkan hingga tak bersisa. Bayangan masa lalu kembali berkelebat di benaknya.
Ibunya.
Wanita itu dibantai di depan matanya sendiri hanya karena berusaha melindunginya. Sementara ayahnya? Pria pengecut itu hanya berdiri mematung, membiarkan para tetua klan menghabisi wanita yang dicintainya. Sejak hari itu, dirinya bersumpah. Seluruh klan beserta peraturan busuk mereka akan lenyap oleh tangannya.
Sementara itu, Alea menarik napas panjang. Instingnya berteriak keras. Dia bisa merasakan aura Pangeran kegelapan yang semakin mendekat. Tanpa berkata apa-apa, Alea menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti? Apa kau lelah? Sebaiknya kita istirahat dulu, Lea," ucap Sonja dengan nada penuh kekhawatiran.
Namun Alea tetap membisu. Percuma terus berlari. Musuh sudah menemukan jejak mereka. Perlahan ia menurunkan Sonja dari punggungnya."Tetap di sini. Bersembunyilah sebaik mungkin. Jika terjadi sesuatu padaku, larilah sejauh yang kau bisa."
Tatapan Alea menatap lurus ke mata Sonja."Dan apa pun yang terjadi, jangan pernah melepaskan kalung itu jika kau ingin tetap hidup."
Belum sempat Sonja menjawab. Suara siulan terdengar dari atas pepohonan. Alea dan Sonja serempak mendongak.
"Halo, Alea. Lama tidak bertemu." Victoria duduk santai di atas dahan pohon sambil memamerkan senyum penuh ejekan.
Alea tetap diam. Tubuhnya bergeser sedikit, sengaja menghalangi Sonja.
"Masih sedingin biasanya," sahut Greg dari puncak pohon pinus.
"Sudahlah. Untuk apa mengobrol?" Yuno muncul sambil memutar bahunya. "Ayo mulai permainan ini."
Tatapan Alea berubah semakin tajam. Dugaannya benar. Musuh telah memastikan bahwa Sonja adalah gadis terberkati, karena itulah mereka datang untuk merebutnya.
Tanpa aba-aba, Victoria melesat lebih dulu. Cakarnya membelah udara, mengincar leher Alea. Namun Alea memiringkan tubuhnya tepat waktu. Belum sempat ia membalas, Greg menyerang dari sisi kanan. Yuno menerjang dari belakang.
Tiga lawan satu.
Pertarungan yang benar-benar tidak seimbang. Meski begitu, Alea terus menghindar dan membalas setiap serangan dengan gerakan yang nyaris tak terlihat. Dentuman benturan memenuhi hutan. Pepohonan berguncang. Tanah retak akibat kekuatan para vampir.
Sonja hanya mampu mematung. Jantungnya serasa berhenti setiap kali melihat Alea nyaris terkena serangan. Dia ingin membantu. Sungguh ingin. Namun apa yang bisa dilakukan manusia sepertinya?
Dengan susah payah Sonja mencoba berdiri."Akh..." Rasa nyeri luar biasa kembali menusuk pergelangan kakinya. Tubuhnya ambruk. Saat itulah seseorang melihatnya.
Sosok yang ditakuti semua vampir akhirnya menemukan buruannya. Seringai tipis terukir di bibirnya. Mangsa sudah begitu dekat. Tinggal beberapa langkah lagi. Dia bahkan sudah dapat mencium aroma darah gadis itu yang begitu manis. Begitu memabukkan. Begitu menggoda kerongkongannya yang telah lama mengering.
Sosok itu berjalan perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tetapi, tiba-tiba saja tubuhnya mendadak membeku. Kedua matanya melebar. Wajah dinginnya berubah untuk pertama kalinya.
Mustahil.
"Sonja..."
Suara itu terdengar lirih namun begitu dingin. Sonja spontan menoleh. Begitu melihat sosok yang berdiri di balik kegelapan, matanya membesar. "Arthur!"
Rasa takut yang sejak tadi memenuhi dadanya mendadak berubah menjadi kelegaan."Syukurlah kau di sini. Arthur, cepat bantu temanku! Dia sedang bertarung!"
Namun, Arthur tidak bergerak. Tatapannya justru jatuh pada kaki kanan Sonja. Darah perlahan mengalir dari luka di sana.
Aroma itu. Membuat naluri vampirnya bergejolak. Sorot matanya seketika berubah semakin merah."Apa yang terjadi dengan kakimu?" tanyanya dengan suara rendah.
"Awalnya hanya terkilir, tapi entah kenapa sekarang berdarah."
Arthur melangkah mendekat. Namun...
Buk!
Tubuhnya tiba-tiba terpental. Dia kembali bangkit. Mencoba melangkah lagi.
Buk!
Sekali lagi tubuhnya dihantam kekuatan tak kasatmata hingga terhempas beberapa meter.
"Arthur!" Sonja menjerit panik."Arthur! Kau kenapa?"
Arthur mengernyit. Tatapannya perlahan beralih menuju kalung yang menggantung di leher Sonja. Dia mendecak pelan."Pantas saja."
Tatapan tajamnya kembali mengunci Sonja."Lepaskan kalung itu."
Perintah itu tentu saja membuat tubuh Sonja menegang. Pikirannya mulai menyusun kepingan-kepingan yang selama ini berserakan. Arthur terpental karena kalung itu? Berarti...
Pria yang selama ini dicintainya adalah Pangeran Kegelapan. Tubuh Sonja bergetar hebat. Air mata mulai mengalir tanpa mampu ia bendung. Dengan langkah tertatih ia mundur perlahan. Menjauh dari pria yang selama ini begitu ia percayai.
"Sonja..." Untuk pertama kalinya, kecemasan muncul di wajah Arthur."Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Lepaskan kalung itu dan kemarilah. Kakimu terluka. Aku akan mengobatinya."
Namun Sonja terus mundur. Tatapannya dipenuhi luka dan kekecewaan."Jadi selama ini kau hanya mengincar darahku?" Kalimat itu menusuk Arthur lebih dalam, daripada cakar mana pun.
Manik mata merahnya berubah semakin pekat. Menandakan kemarahan. Kesabarannya mulai habis. Kemudian, dalam sekejap Arthur menghilang, tapi detik berikutnya.
Brak!
Alea yang sedang bertarung mendadak dicekik dari belakang.Tubuhnya terangkat begitu saja.
"Lepaskan dia!" teriak Sonja histeris.
Arthur mencengkeram leher Alea semakin kuat hingga wajah vampir wanita itu mulai membiru."Lepaskan kalung itu." Suara Arthur terdengar sedingin kematian."Atau temanmu akan kehilangan kepalanya."
"Ja, jangan..." suara Alea terdengar parau akibat cengkeraman itu."Jangan dengarkan dia, pergilah... Sonja."
Air mata Sonja jatuh semakin deras. Dadanya terasa sesak. Bahkan ketika nyawanya sedang di ujung tanduk, Alea masih menyuruhnya pergi.
Dengan tangan gemetar, Sonja meraih kalung di lehernya. Sejak awal dialah yang harusnya mati, bukan Alea. Perlahan kalung itu terlepas."Maafkan aku."
Begitu kalung menyentuh tanah. Arthur langsung melempar tubuh Alea hingga menghantam batang pohon dengan suara keras. Tanpa memberi kesempatan siapa pun bereaksi, ia menyambar tubuh Sonja ke dalam pelukannya."Lepaskan aku Arthur!" Jeritan Sonja menggema di tengah hutan. Namun dalam sekejap, keduanya lenyap ditelan pekatnya malam.
"So, Sonja..." Alea berusaha bangkit. Namun pandangannya mulai kabur. Tubuhnya tak lagi sanggup bergerak. Dengan napas yang semakin melemah, ia hanya mampu menyaksikan bayangan Arthur membawa pergi gadis yang telah berjanji akan ia lindungi. Perlahan, kesadarannya pun tenggelam dalam gelap.