~NOVEL KE 15~
Nama ku Myrtle. Aku telah jadi yatim piatu sejak masih bayi. Kemudian aku ikut tinggal di rumah sepupu ibu ku dan menjadi bagian dalam keluarga nya.
Sebuah tragedi kemudian terjadi pada keluarga sepupu ibu ku itu. Hampir semua anggota keluarganya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Hanya menyisakan Sang Sulung, Rayn Millard seorang saja.
Sejak itulah Aku tinggal berdua dalam asuhan Kak Rayn. Sampai kemudian aku menyadari rahasia tersembunyi terkait Rayn.
Bahwa sebenarnya, kakak sepupu ku itu ternyata adalah vampir!
Bagaimana kelanjutan hidup ku setelahnya?
Haruskah aku tetap hidup bersama Rayn, atau pergi sejauh-jauhnya?
Bagaimana juga kehidupan ku bersama Ray nanti, bila sosok wanita vampir lain muncul dan mengaku sebagai pemilik Rayn? Wanita yang telah mengubah Rayn menjadi seorang vampir..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Darah
(POV Rayn)
Begitu keluar ruangan, netra ku langsung beradu dengan netra milik Cisella. Vampir wanita itu kini berdiri sekitar dua belas meter jauhnya dari ku. Meski begitu aku masih cukup jelas melihat sebuah seringaian kecil pada bibir nya yang tipis itu.
Dari jarak 12 meter. Ku lihat Cisella menggerakkan bibirnya sedikit. Yang bagi penglihatan manusia biasa hanya akan tampak seperti ia membuka mulutnya saja. Padahal aku masih bisa menangkap jelas ucapan Cisella yang digaungkannya dalam range sonar 17 Hertz.
Pada besaran gelombang itu, tak ada telinga manusia normal yang bisa menangkap dengar suara Cisella.
"Wanita itu ternyata salah satu Si Darah Manis, huh? nice try, Rayn! pantas saja kau begitu protektif terhadapnya. Ternyata kau ingin menikmati meal mu sendirian rupanya.."
Aku tak menjawab dengan kata-kata. Sebuah geraman kecil keluar dari mulut ku. Pertanda sebagai ancaman ku pada Cisella agar ia tak menyentuh Myrtle-ku.
Cisella lalu tertawa. Tawa normal yang juga bisa dilihat oleh mata manusia lainnya. Dan kembali, ia bicara lagi. Dalam gelombang suara yang tak bisa didengar oleh telinga manusia biasa.
"Kau tak boleh serakah, Rayn. Bagaimana pun juga kau itu adalah bawahan ku. Jadi kau harus tunduk padaku! Serahkan Myrtle padaku! Maka aku akan membagi meal mu itu nanti!" ancam Cisella dengan seringai tipis yang sama.
Kali ini aku menjawab kalimatnya dengan kata-kata.
"Dia sudah terikat kontrak darah untuk jadi pendamping ku, Cella! Jangan berani menyentuh nya sedikit pun! Aku akan melindunginya dari siapapun juga! Bahkan jika aku harus menghadapi mu sekalipun. Maka aku akan menghadang mu!"
"Kontrak darah itu bisa dihancurkan, Rayn. Kau jelas tahu itu! Apalagi Myrtle belum terbangun dari tidur vampir nya! Sekalipun ia terlahir dari kelas bangsawan berdarah murni, jika ia masuh menjadi manusia biasa, maka darahnya tak lebih berharga dari darah anjing di peternakan daging!"
"Jaga mulut mu itu Cisella! Jangan samakan Myrtle-ku dengan hewan hina itu!"
"Hah! Bisa apa kau dengan darah inti ku yabg mengalir dalam katup inti di jantung mu itu,Rayn?"
Tiba-tibasaja aku merasakan hawa dingin menyergap sekujur tubuh ku. Dan aku juga mulai kesulitan bernapas.
'Sial! Dia benar-benar bermaksud menggunakan darah vampir nya di tubuh ku untuk menguasai ku! Aku harus melakukan sesuatu!'
Hawa dingin itu terus menyerang sekujur tubuh ku. Hingga aku cukup yakin kalau penampilan ku saat ini akan berubah jadi pucat pasi di mata manusia normal yang melihat ku.
'Aku harus tetap menjaga Myrtle! fokus, Rayn! Fokus! Segera temukan inti darah milik Cisella di jantung mu. lalu keluarkan! Aarrghh!!'
Tiba-tiba saja jantung ku serasa diserang oleh rasa sakit yang maha hebat. Rasa sakitnya perlahan menyebar dan terus menyebar hingga membuat ju goyah fan terhuyung jatuh di atas kedua lutut ku yang sudah gemetaran sedari tadi.
"Hah..hah..hah..hah.." Aku terengah-engah mengeluarkan napas. Mencoba menjernihkan lagi pandangan ku yang mulai mengabur.
'Sial! Kekuatan Cisella mulau menyerah daya penglihatan ku juga! Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kalau begitu, hanya ada satu hal yang bisa ku lakukan untuk membuat Cisella pergi dari sini..'
Benak ku berpikir cepat. Sampai kemudian sebuah rencana gila pun muncul di dasar pikiran ku.
'Hanya ada satu cara itu. Tapi..kalau aku menggunakan cara itu, ada kemungkinan nanti aku juga akan merasakan akibatnya..'
Setelah berpikir beberapa lama lagi, aku oun sampai juga pada satu kesimpulan.
'Tapi aku akan tetap melakukannya untuk Myrtle. Lagipula juga ada anak itu yang akan menjaga Myrtle dari Cisella. Apa aku bisa mempercayainya..?'
Terdiam lagi beberapa saat, sementara aku memusatkan pusat energi ku ke satu titik. Aku oun meneguhkan tekad ku kembali.
'Myrt.. Maaf, kalau pilihan ku ini akan membuat mu sedih. Tapi ini ku lakukan demi kebaikan mu. Jadi jangan terlalu marah ya, Myrt..' aku baru saja selesai mengirimkan gaung energi ku kepada Myrtle. Dan itu adalah pesan terakhir ku untuk nya, sebelum ku dekati Cisella dengan langkah yang susah payah.
Setelah berdiri di hadapan vampir wanita itu, aku oun akhirnya berkata padanya.
"Baiklah, Cell.. Aku akan setuju untuk melakukan kontrak darah bersama mu. Tapi tolong lepaskan Myrtle. Rahasiakan juga status darahnya dari vampir lain."
"Hanya begitu saja? Cih.. Rayn.. Kau sedikit membuat ku kecewa. Jika aku tahu kalau kau akan semudah ini menuruti permintaan ku, mungkin sedari dulu saja aku mengancam mu.." ucap Cisella dengan ekspresi yang entah.
Aku tak menjawab kalimatnya. Ku usahakan untuk memasang ekspresi datar di wajah ku ini. Padahal sungguh, hati ku mulai retak secara perlahan.
Setelah beberapa saat, Cisella kembali berkata.
"Ayo kita menghadap dewan. Kita ajukan pembatalan kontrak darah antara kau dan juga Myrtle,"
"Tapi kau juga harus berjanji dulu padaku, Cell.. Jangan sentuh Myrtle!"
Cisella tak langsung menjawab kalimat ku. Terlebih dulu ia menatap ku sinis. Sebelum sebuah kalimat acuh keluar dari mulutnya yang tipis.
"Ya.. ya.. ya.. akan ku penuhi janji ku, Rayn."
"Aku ingin kita melakukan janji darah dulu di sini. Sekarang juga!"
"Apa? janji darah? Kau gila apa, Rayn? Untuk apa kita melakukan janji darah?"
"Aku ingin kau benar-benar terikat untuk menepati janji mu, Cella!" jawab ku dengan berani.
"Kau gila, Rayn! hanya untuk Myrtle, kau sampai meminta ku untuk melakukan janji darah?!"
"Ya.. untuk Myrtle, aku akan melakukan apapun jua!"
"Kalau aku tak mau?" tanya Cisella dengan tatapan sinis.
"Kalau begitu, aku akan memerangi mu hingga akhir di sini dan saat ini juga!"
"Hah!... hahahahahaha!!"
Cukup lama Cisella tertawa bahak. Meskipun aku menangkap hawa benci yang menguar nyata dari suara tawanya itu.
Aku mulai waspada. Aku tahu benar apa yang akan menjadi jawaban vampir di depan ku itu.
"Tak ku duga, kau akan selicik ini, Rayn.. ck..ck..ck.. Baiklah. Tak masalah. Asalkan kau jadi milikku sepenuhnya, maka janji darah atau apapun itu, akan ku berikan padamu, Rayn ku yang manis.."
Cisella lalu menarik leher ku agar sedikit menunduk. Kemudian dengan gerakan perlahan, wanita itu mendekatkan bibirnya ke bibir ku. Hingga akhirnya kedua bibir kami bersentuhan selama beberapa detik.
Aku tahu, beberapa siswa dan guru mungkin akan melihat adegan ini. Mereka mungkin akan mengira kalau aku dan Cisella sedang bermes ra mes raan.
Padahal yang tak mereka ketahui adalah, ketika dua bibir kami bersentuhan, Cisella juga menitikkan sedikit darah di bibirnya ke bibir ku. Sambil ia berkata,
"Dengarkan aku, Rayn Millard! Aku berjanji, dengan darah ku ini aku tak akan menyakiti Myrtle Adelaine."
Setelah selesai mengucapkan janjinya,Cisella pun menambahkan.
"Apa kau cukup puas, Rayn..?"
Hati ku cukup puas mendengar Cisella menyelesaikan janji darah nya sesaat tadi. Dengan ini aku yakin, kalau kehidupan Myrtle akan berjalan aman, meski aku tak terikat kontrak darah dengannya lagi...
'Maaf, Myrt.. Aku harus melakukan ini..' gumam batin ku nelangsa.
***
PaMud Mampir
PaMud Papa Muda mampir
Ry Benci Pakpol Mampir