Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Razia Malam yang Kacau
Angka hitung mundur dari kecerdasan buatan itu terasa bagaikan vonis eksekusi mati bagi Reno yang malang.
Skuter listrik kuning yang ditumpanginya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi kecepatan gilanya melintasi aspal.
Rombongan petugas kepolisian di ujung persimpangan mulai menyadari datangnya ancaman berbentuk kendaraan roda dua berkecepatan ekstrem tersebut dari kejauhan.
Beberapa petugas berseragam resmi segera mencabut tongkat pemukul dari pinggang mereka, bersiap menghentikan laju skuter itu secara paksa menggunakan barikade fisik.
Reno memejamkan mata rapat-rapat, membayangkan tubuh kurusnya akan segera terpental menghantam aspal jalanan dalam hitungan sepersekian detik.
{Kalau aku menabrak barikade ini dengan kecepatan penuh, tulang rusukku pasti akan hancur lebur berkeping-keping sebelum aku sempat masuk ke ruang interogasi.}
Jari-jarinya yang masih mencengkeram stang kemudi terasa sangat kaku, menolak melepaskan pegangan meskipun situasi sudah sangat tidak masuk akal secara logika.
Ia harus segera memutar otak mencari jalan keluar instan sebelum motor penggerak skuter ini benar-benar mengirimnya ke fasilitas medis terdekat dalam kondisi mengenaskan.
"Lakukan sesuatu yang drastis sekarang juga, matikan seluruh fasilitas kota di area ini sebelum badanku membentur mobil patroli itu!"
Reno memukul panel dasbor skuter dengan sebelah tangan, berharap mikrofon ponsel misteriusnya mampu menangkap perintah darurat tersebut dengan sempurna.
Ponsel hitam X-Phreak 9000 yang tersimpan aman di dalam saku kemejanya segera memberikan getaran responsif yang sangat kuat menembus kain pakaian.
Teks peringatan sistem tersebut bergulir cepat di layar kacanya, menyajikan solusi ekstrem yang mengharuskan Reno membayar harga komputasi yang cukup mahal.
Reno tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan seluruh nasibnya pada kecerdasan buatan sarkastis itu, menekan layar dari luar sakunya untuk menyetujui eksekusi secara gegabah.
||||
Sebuah gelombang peretas tak kasat mata meledak keluar dari bodi ponsel hitam tersebut, menyebar dengan kecepatan tinggi menembus segala arah tanpa halangan.
Gelombang digital itu langsung menghantam seluruh infrastruktur elektronik yang terhubung ke jaringan kota dalam radius seratus meter persegi dari posisi Reno.
Seluruh panel layar digital pada mobil patroli kepolisian mati total secara bersamaan tanpa menyisakan sedikit pun daya cadangan di dalam aki mereka.
Layar papan peringatan lalu lintas di pinggir trotoar seketika kehilangan fungsinya, berubah menjadi bongkahan kaca mati yang tidak lagi menampilkan instruksi apa-apa.
Sistem kelistrikan kota di persimpangan jalan protokol itu mengalami kelumpuhan absolut, memutus fungsi utama dari setiap tiang elektronik yang berdiri tegak mengelilingi barikade.
Para petugas kepolisian mendadak diserang kepanikan massal, kehilangan orientasi arah karena seluruh alat komunikasi radio mereka tidak lagi memancarkan frekuensi transmisi ke pusat.
Skuter listrik kuning yang ditumpangi Reno pun ikut terkena dampak langsung dari gelombang sabotase massal yang memutus semua bentuk energi kelistrikan tersebut.
Mesin pendorong utamanya kehilangan asupan daya secara seketika, membuat putaran roda kecilnya terhenti paksa akibat kehilangan momentum penggerak yang selama ini menopangnya.
Ban karet skuter itu bergesekan keras dengan aspal, menghasilkan bunyi decitan panjang sebelum akhirnya berhenti berjarak hanya beberapa sentimeter dari deretan kerucut pembatas jalan.
Tubuh Reno terdorong kencang ke depan karena efek inersia, dadanya membentur panel kemudi dengan cukup keras hingga membuatnya meringis menahan rasa sakit.
"Ini adalah keputusan paling gila yang pernah aku ambil sepanjang sejarah hidupku sebagai seorang mahasiswa."
Ia mengusap tulang rusuknya yang terasa nyeri, berusaha mengatur kembali ritme debaran jantungnya yang kacau balau akibat guncangan pengereman mendadak barusan.
Reno segera menyadari bahwa ia tidak bisa terus berdiam diri di atas kendaraan mati ini sebelum para petugas penegak hukum berhasil menguasai keadaan sekitar.
Kehilangan daya kelistrikan berskala besar ini adalah satu-satunya kesempatan emas baginya untuk segera melarikan diri tanpa meninggalkan jejak visual apa pun di lokasi kejadian.
Ia melompat turun dari atas papan skuter dengan gerakan tergesa-gesa, mengabaikan rasa perih di telapak kakinya yang tidak beralas sepatu sama sekali sejak awal pelarian.
Langkah kakinya kembali dipacu untuk berlari menyusuri celah-celah mobil patroli yang kini terjebak dalam kelumpuhan mesin total tanpa bisa dihidupkan ulang.
||||
Para petugas masih sibuk berteriak memanggil satu sama lain, berusaha memperbaiki alat komunikasi mereka tanpa memedulikan sosok pemuda bercelana pendek yang menyelinap kabur.
Reno berhasil melewati barikade utama dengan sangat mulus, mengarahkan tujuan pelariannya menuju area perumahan padat penduduk yang tersembunyi tidak jauh dari lokasi razia.
Jalanan aspal yang kasar kembali menyiksa telapak kakinya tanpa ampun, setiap langkah memberikan sensasi seperti menginjak ribuan jarum tumpul secara bersamaan.
Namun, rasa takut akan kejaran komplotan mafia berjas hitam serta ancaman pidana kepolisian membuatnya sama sekali tidak berani memperlambat laju kakinya barang sedetik pun.
{Kalau Radit sampai berani mengunci pintu rumahnya malam ini, aku benar-benar akan menghancurkan koleksi desain grafis kesayangannya besok pagi menggunakan fitur ponsel ini.}
Ia menyusuri gang-gang sempit yang saling terhubung membentuk labirin kota, menghindari area jalan raya utama agar penampilannya yang sangat memalukan tidak mengundang perhatian warga.
Celana boxer stroberi yang dikenakannya kini terasa sedikit longgar di bagian pinggang, memaksanya untuk terus memegangi ujung karet celana itu menggunakan sebelah tangan sambil berlari.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa bagaikan maraton neraka selama lima belas menit penuh, Reno akhirnya tiba di depan sebuah pagar besi setinggi dada orang dewasa.
Pagar besi berwarna biru kusam itu adalah batas luar dari rumah kontrakan sederhana yang dihuni oleh sahabat karibnya sejak tahun pertama mereka masuk perguruan tinggi.
Reno memanjat pagar itu dengan susah payah, mengorbankan sedikit tenaga tersisa di bagian lengannya untuk bisa melompati jeruji tumpul tersebut tanpa menimbulkan suara berisik.
Tubuh kurusnya mendarat kurang sempurna di atas rumput halaman depan, membuat pantatnya kembali berbenturan dengan permukaan tanah yang padat.
Ia segera bangkit berdiri mengabaikan rasa sakit di tulang ekornya, setengah berlari menghampiri pintu kayu utama rumah kontrakan tersebut dengan dada yang bergerak naik turun sangat cepat.
Ketukan bertubi-tubi langsung didaratkan ke permukaan pintu kayu menggunakan kepalan tangannya, menghasilkan irama bising yang cukup mengganggu ketenangan area perumahan di sekitarnya.
"Buka pintunya sekarang juga, Radit, ini masalah keselamatan masa depanku dari kejaran para petugas hukum dan komplotan mafia teknologi!"
Reno meremas jeruji pegangan pintu dengan kuat, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri secara waspada untuk memastikan tidak ada orang mencurigakan yang berhasil mengikuti jejaknya.
||||
Suara langkah kaki yang diseret pelan akhirnya terdengar dari arah dalam rumah, mendekati area ruang tamu dengan ritme yang luar biasa malas dan enggan.
Kunci pintu berputar dua kali melewati slot pengamannya, disusul oleh decitan engsel berkarat yang menandakan bahwa penghuni rumah bersedia membuka akses masuk di tengah malam.
Radit berdiri di ambang pintu dengan wajah bantal yang sangat kentara, kelopak matanya masih setengah tertutup karena baru saja terpaksa bangun dari tidur lelapnya.
Sahabatnya itu mengenakan kaus oblong longgar andalannya, memegang sebuah penggaris besi panjang sebagai senjata pertahanan diri dadakan melawan tamu tak diundang.
"Kamu ini benar-benar tidak punya tata krama, bertamu di jam segini dengan penampilan absurd seperti korban penculikan amatir."
Radit menurunkan penggaris besinya secara perlahan, kelopak matanya membelalak lebar setelah menyadari postur tubuh sahabatnya yang hanya dibalut oleh celana pendek bermotif buah.
Reno sama sekali tidak memiliki niat untuk menjawab sindiran tersebut, ia langsung menerobos masuk melewati tubuh gempal Radit dengan gerakan kasar.
Tangan kanannya segera mendorong daun pintu hingga tertutup rapat, lalu memutar kunci utama dan menambahkan rantai pengaman ekstra dari sisi dalam rumah.
Pemuda kurus itu menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu yang permukaannya sudah sedikit sobek, menyandarkan punggungnya dengan perasaan lega yang teramat sangat.
Seluruh otot kakinya terasa berkedut menahan kelelahan ekstrem tingkat tinggi, merespons aksi pelarian gila yang memaksanya berlari melintasi separuh blok kota tanpa alas kaki.
"Tolong jangan banyak tanya dulu, berikan aku segelas air minum sebelum tenggorokanku mengering di atas sofa berdebu milikmu ini."
Reno menyeka keringat yang membanjiri dahi dan pelipisnya, berusaha keras menurunkan frekuensi detak jantungnya yang sedari tadi hilang kendali.
Radit hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah melihat kelakuan aneh tersebut, berjalan gontai menuju area dapur untuk mengambilkan minuman bagi sahabat karibnya.
{Akhirnya aku bisa menemukan tempat persembunyian yang aman dari jangkauan komplotan mafia gila itu untuk mengistirahatkan persendian tubuhku malam ini.}
Perasaan aman yang semu itu mulai menyelimuti rongga dada Reno, membuat sistem saraf motoriknya perlahan mengendur rileks menikmati empuknya bantalan sofa tua.
Namun, sebuah nada dering bernuansa elektronik tingkat tinggi tiba-tiba memecah keheningan absolut di dalam ruang tamu sederhana yang semula terasa sangat damai tersebut.
Suara peringatan itu bukan berasal dari perangkat televisi atau radio milik Radit, melainkan berpusat langsung dari bodi ponsel hitam misterius yang masih berada di dalam saku kemeja Reno.
Reno merogoh sakunya dengan sebelah tangan yang mendadak kembali bergetar hebat, menarik keluar alat komunikasi canggih itu dengan gerakan patah-patah menahan ketakutan.
Layar ponsel X-Phreak 9000 menampilkan antarmuka yang sangat tajam, memproyeksikan sebuah panggilan video yang dipaksakan masuk melewati seluruh sistem keamanan jaringan telekomunikasi lokal.
Sebuah teks peringatan darurat berwarna merah menyala mendominasi bagian atas layar, sukses membuat seluruh aliran darah di tubuh Reno terasa membeku seketika.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending