Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekolah baru
Tiga bulan setelah robeknya kertas kontrak di balkon griya tawang, suasana pagi di kediaman Vasillo tidak lagi dilingkupi kesunyian yang mencekam. Suara tawa melengking Lulu dan derap langkah lari Leon di koridor marmer kini menjadi alarm alami yang membangunkan seisi rumah.
Di dapur bersih, Alya sedang mengoleskan selai cokelat pada beberapa lembar roti tawar. Ia mengenakan gaun rumah kasual berwarna pastel, tampak jauh lebih segar dan bahagia.
Sret.
Sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma parfum maskulin yang sangat familier langsung memenuhi indra penciumannya, disusul oleh kecupan hangat di tengkuk lehernya.
"Pagi, Sayang," bisik Adrian, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.
Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang suaminya. "Pagi, Adrian. Lepas dulu, aku sedang mengoles selai untuk anak-anak. Nanti tanganmu kotor."
"Biar saja," gumam Adrian manja, justru semakin mengeratkan pelukannya. "Bik Sum kan bisa bantu anak-anak. Aku mau begini dulu lima menit."
"Papa! Mama!"
Suara cempreng Lulu membuyarkan kemanjaan sang CEO. Lulu berlari masuk ke dapur dengan rambut kuncir dua yang bergoyang-goyang, disusul Leon yang berjalan lebih santai di belakangnya sambil menggendong tas sekolah.
"Tuh, anak-anak sudah rapi," goda Alya, menyikut pelan perut Adrian agar melepaskan pelukannya.
Adrian mendesah pasrah, akhirnya melepas pelukannya lalu berbalik menyapa kedua anaknya. "Pagi, jagoan-jagoan Papa. Sudah siap ke sekolah baru?"
"Siap, Pa!" jawab Leon mantap, langsung duduk di kursi meja makan makan. "Hari ini Leon ada kelas menggambar. Leon mau gambar mobil sport Papa yang baru."
"Lulu mau gambar Mama pakai mahkota princess!" timpal Lulu, naik ke kursi di sebelah kakaknya dengan bantuan Alya.
Alya meletakkan piring berisi roti di depan mereka. "Makan yang banyak ya, biar nanti di sekolah konsentrasi."
"Mama ikut antar kan hari ini?" tanya Leon mendongak, matanya menatap Alya penuh harap.
"Tentu saja ikut, Sayang," jawab Alya lembut sambil mengusap kepala Leon. "Mama dan Papa akan antar kalian sampai ke depan kelas."
"Hore!" Lulu bersorak sambil mengunyah rotinya. "Teman-teman Lulu pasti iri karena Lulu punya Mama yang cantik sekali!"
Adrian terkekeh, mengambil secangkir kopi hitam yang baru saja disiapkan oleh Bik Sum. "Papa juga iri pada teman-teman Lulu, karena Papa yang punya Mama tercantik ini setiap hari di rumah."
"Ih, Papa gombal!" seru Lulu yang membuat seisi dapur tertawa, termasuk Bik Sum yang tersenyum lebar di dekat wastafel.
Perjalanan mengantar si kembar ke sekolah dasar internasional yang baru berjalan sangat lancar. Setelah melambaikan tangan pada Leon dan Lulu yang berjalan masuk ke gerbang sekolah dengan riang, Adrian dan Alya kembali ke dalam mobil.
"Sekarang, kita ke mana?" tanya Alya sambil memasang sabuk pengamannya.
"Ke butik?" tanya Adrian balik, mulai melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. "Malik bilang desainer gaun pengantinmu sudah menyiapkan draf desain terakhir untuk fitting minggu depan."
Alya tertegun sejenak, lalu tersenyum manis. "Kita langsung ke rumah sakit dulu saja, boleh? Aku mau jemput Ibu. Hari ini Ibu sudah boleh pulang dan rawat jalan di rumah baru yang kamu siapkan."
Adrian melirik Alya sekilas, lalu menggenggam jemari wanita itu dengan tangan kirinya. "Tentu saja boleh. Apa pun untuk Ibu mertuaku."
Sesampainya di rumah sakit, kondisi Ibu Alya tampak sangat prima. Beliau sudah bisa berdiri sendiri dan berjalan perlahan dengan bantuan tongkat penyangga. Wajahnya yang dulu pucat kini tampak lebih segar dan bercahaya.
"Ibu, semuanya sudah siap," ujar Alya sambil merapikan tas pakaian ibunya. "Adrian sudah menyiapkan rumah halaman belakang yang luas di daerah Jakarta Selatan, dekat dengan rumah kami. Ibu bisa berkebun di sana seperti dulu."
Ibu Alya tersenyum, menatap putrinya lalu beralih pada Adrian yang baru saja masuk setelah menyelesaikan administrasi kepulangan. "Ad... rian... terima... kasih..."
Adrian berjalan mendekat, lalu membungkuk dan menggenggam tangan ibu mertuanya dengan takzim. "Sama-sama, Ibu. Mulai sekarang, Ibu adalah bagian dari keluarga kami. Tugas saya adalah memastikan Ibu dan Alya selalu bahagia dan aman."
Ibu Alya menepuk tangan Adrian dengan lembut, matanya berkaca-kaca karena haru. "Alya... beruntung..."
"Saya yang jauh lebih beruntung mendapatkan putri Ibu," balas Adrian tulus, menatap Alya yang berdiri di seberang ranjang dengan mata yang berkilat penuh cinta.
Sore harinya, setelah mengantar sang ibu ke rumah barunya dan memastikan segala kebutuhan medis serta perawat pribadi stand-by di sana, Adrian dan Alya kembali ke griya tawang.
Saat mereka baru saja melangkah keluar dari lift, mereka dikejutkan oleh kehadiran Malik yang sudah berdiri di depan pintu masuk dengan wajah yang sedikit tegang.
"Tuan Adrian, Nyonya Alya," sapa Malik membungkuk hormat.
"Malik? Ada apa? Kenapa kamu tidak langsung masuk saja?" tanya Adrian, mengernyitkan dahi.
"Ada tamu yang memaksa menunggu di dalam, Tuan," jawab Malik dengan nada sangat berhati-hati. "Saya tidak bisa mengusirnya karena... beliau membawa dokumen resmi dari kepolisian."
Adrian dan Alya saling berpandangan. Ketegangan yang sempat hilang mendadak kembali merayap di dada Alya. Mereka melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama.
Di atas sofa kulit, duduk Tiffany dengan pakaian kasual hitam, ditemani oleh seorang pria paruh baya klimis yang mengenakan setelan jas abu-abu formal—kuasa hukum Anggoro Group. Di atas meja kaca, sudah tersebar beberapa map dokumen berwarna merah.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Tiffany?" tanya Adrian dingin, suaranya langsung berubah menjadi setelan bisnis yang kaku dan mengintimidasi.
Tiffany bangkit dari sofa, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan. "Hai, Adrian. Hai, Nyonya Pajangan. Kami ke sini bukan untuk membuat keributan. Kami hanya ingin mengantarkan surat panggilan resmi dari pengadilan."
Pria berjas abu-abu di sampingnya ikut berdiri dan menyerahkan selembar kertas ber-kop resmi pengadilan kepada Adrian. "Selamat sore, Tuan Vasillo. Saya adalah kuasa hukum dari Tuan Anggoro. Klien kami secara resmi telah mendaftarkan gugatan hak asuh atas anak-anak mendiang Elena Vasillo, yaitu Leon dan Lulu Vasillo."
Alya tersentak, langkahnya maju satu langkah. "Atas dasar apa kalian menggugat?! Anak-anak itu bahagia bersama kami!"
"Bahagia menurutmu, tapi tidak menurut hukum," cibir Tiffany dengan nada sinis. "Kami memiliki bukti baru bahwa kamu, Alya, adalah penyebab tidak langsung dari kecelakaan yang menewaskan Elena empat tahun lalu. Dan Adrian... kamu sengaja menyembunyikan fakta ini demi kepentingan bisnismu. Pengadilan tidak akan membiarkan anak-anak diasuh oleh pasangan yang penuh dengan kebohongan moral!"
Adrian menerima kertas itu, membacanya sekilas dengan ekspresi wajah yang sangat tenang—bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang digugat hak asuh anaknya. Pria itu perlahan melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
"Hanya ini?" tanya Adrian datar.
Kuasa hukum Anggoro tampak agak heran dengan reaksi tenang Adrian. "Tuan Vasillo, tuntutan ini sangat serius. Jika skandal ini sampai ke media—"
"Silakan bawa ke media," potong Adrian dengan senyum dingin yang meremehkan. "Malik, tolong tunjukkan dokumen yang kita terima dari Kejaksaan Agung tadi pagi pada mereka."
Malik maju selangkah, membuka tas kerjanya, dan menyerahkan sebuah map tipis berwarna biru kepada kuasa hukum Anggoro.
"Apa ini?" tanya Tiffany, mengernyitkan dahi curiga.
"Itu adalah surat perintah penyidikan resmi dari Kejaksaan Agung mengenai dugaan manipulasi laporan keuangan dan penggelapan pajak yang dilakukan oleh Anggoro Group selama lima tahun terakhir," jelas Malik dengan nada suara yang sangat profesional dan jernih. "Dan dokumen di halaman kedua adalah bukti transfer ilegal dari rekening pribadi Tuan Anggoro kepada mendiang Elena empat tahun lalu, yang digunakan untuk mendanai rencana rekayasa penjebakan Tuan Adrian."
Wajah Tiffany dan pengacaranya mendadak berubah pucat pasi saat membaca lembar demi lembar dokumen tersebut.
"K-Kamu... bagaimana bisa mendapatkan ini?!" gagap Tiffany, tangannya bergetar hebat.
Adrian melangkah maju, memperkecil jarak dengan Tiffany, menatap wanita itu dengan pandangan yang sanggup membekukan darahnya. "Kamu pikir aku hanya diam saja selama tiga bulan ini, Tiffany? Aku sengaja membiarkan pamanmu merasa di atas angin agar dia terus mengeluarkan aset-asetnya untuk menyerangku, sementara aku perlahan-lahan memotong seluruh pasokan oksigen bisnisnya dari belakang."
Adrian menunjuk pintu keluar dengan jempolnya. "Kalian punya waktu dua puluh empat jam untuk mencabut gugatan konyol ini dari pengadilan. Jika besok siang gugatan itu masih ada di sana, aku pastikan pamandumu akan menghabiskan sisa masa tuanya di dalam sel tahanan korupsi, dan Anggoro Group akan dinyatakan pailit sebelum akhir bulan."
Pengacara Anggoro langsung menutup map birunya dengan panik. Ia menatap Tiffany dengan cemas. "Non Tiffany... kita harus kembali sekarang. Ini... ini sangat berbahaya bagi Tuan Anggoro."
Tiffany menatap Adrian dan Alya dengan pandangan penuh dendam yang bercampur dengan ketakutan yang nyata. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan setengah berlari keluar dari griya tawang, diikuti oleh pengacaranya yang tampak sangat tergesa-gesa.
Setelah pintu lift tertutup rapat membawa kedua tamu tidak diundang itu pergi, Alya langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Tubuhnya terasa lemas hingga ia harus bertumpu pada lengan tegap Adrian.
"Kamu... kamu sudah menyiapkan semua ini sejak awal?" tanya Alya, mendongak menatap suaminya dengan pandangan takjub.
Adrian merengkuh tubuh Alya, mengecup keningnya dengan penuh kelembutan. "Aku sudah bilang padamu di balkon malam itu, Alya. Aku akan melindungi kalian dengan segenap hidupku. Anggoro tidak akan pernah bisa menyentuh anak-anak kita lagi. Tidak akan pernah."
Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian. Badai masa lalu kini telah benar-benar berlalu, menyisakan langit yang cerah dan masa depan yang begitu indah untuk mereka jelajahi bersama sebagai sebuah keluarga yang sesungguhnya.