TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* BAB_32_ SISI LAIN DI BALIK SANGKAR
*TOXIC AND CONTROL*
BAB_32_ SISI LAIN DI BALIK SANGKAR
Jarum jam di dinding basecamp lantai tiga terus bergerak kejam, melewati pukul lima sore. Suasana di dalam ruangan luas itu kian sunyi, hanya menyisakan suara goresan ujung pulpen Kinara Jose yang bergesekan kaku dengan lembar kertas catatan milik Rian Pradifta.
Kinara menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Jari-jari tangannya terasa kaku dan berdentum nyeri akibat menyalin aksara Vietnam yang penuh dengan tanda baca melengkung rumit. Dua salinan penuh sudah berhasil dia selesaikan, dan kini dia sedang berada di pertengahan halaman untuk salinan ketiga.
Rasa kantuk yang teramat berat mulai menyerang kesadaran Kinara. Beban fisik karena kurang tidur menjaga ibunya di rumah sakit pasca-operasi, ditambah kelelahan mental akibat rentetan teror psikologis di sekolah, membuat pertahanannya runtuh. Perlahan, kelopak mata jernih Kinara yang terekspos tanpa kacamata itu terasa meredup sayu. Detik berikutnya, kepala mungilnya terkulai pasrah di atas tumpukan buku, menyandarkan pipi kirinya di atas lengan seragamnya. Kinara tertidur pulas dalam hitungan detik akibat kelelahan yang ekstrem.
Sementara itu, di sudut ruangan dekat meja biliar, Rian sejak tadi tidak benar-benar fokus pada ponsel di genggamannya.
Begitu menyadari suara goresan pulpen yang semula konstan mendadak berhenti total, sepasang mata elang Rian langsung terangkat. Dia menegakkan tubuh jangkungnya yang setinggi 188 sentimeter, lalu melangkah pelan tanpa suara mendekati meja belajar tempat Kinara dihukum.
Rian berhenti tepat di samping kursi Kinara. Rahang tegasnya yang biasa ditekuk kaku sedingin es, perlahan melunak saat netra elangnya mengunci mati profil wajah polos Kinara yang sedang terlelap.
Tanpa bingkai kacamata murah yang biasa menyembunyikan parasnya, wajah jelita Kinara terpapar utuh di bawah temaram lampu ruangan. Rian bisa melihat dengan sangat jelas bulu mata lentik gadis itu yang bergerak halus, serta sisa semburat merah di pipinya akibat kejengkelan siang tadi. Pandangan Rian kemudian turun, menatap sudut bibir ranum Kinara yang luka robeknya kini sudah mengering sempurna.
Dadanya mendadak berhantam dengan kecepatan gila-gilaan. Ada denyut hangat bercampur rasa bersalah yang teramat asing kembali merayap, mencengkeram ulu hatinya. Ego tiraninya yang biasa menuntut kendali mutlak seketika lumpuh total hanya karena menyaksikan kepasrahan tidur gadis di depannya. Rian merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Dia tahu dia keterlaluan karena sengaja memberikan hukuman konyol ini murni hanya karena gengsinya terluka setelah ditolak siang tadi.
Rian perlahan membungkukkan tubuh tegapnya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati, dia menyelipkan jari-jari kekarnya ke bawah helaian rambut hitam halus Kinara yang menutupi kening, menyingkirkannya ke belakang telinga agar tidak mengganggu tidur gadis itu. Sentuhan kulit yang hangat itu mengirimkan sengatan listrik yang kian mengacaukan riak emosi di batin Rian.
Rian membalikkan badannya sejenak, menyambar jaket kulit hitam kesayangannya yang tergeletak di atas sofa. Lalu, dengan gerakan yang teramat hati-hati, Rian membentangkan jaket tebal beraroma parfum maskulin pekat miliknya itu di atas punggung mungil Kinara, menyelimutinya agar tidak kedinginan akibat hembusan AC basecamp.
Rian tidak kembali ke sofa kulitnya. Dia memilih untuk ikut duduk di atas lantai semen yang dingin, menyandarkan punggung tegapnya pada sisi kursi belajar tempat Kinara terlelap. Rian meluruskan satu kakinya yang panjang sembari menopangkan lengannya di atas lutut yang lain. Tangannya bergerak pelan menyusup ke atas meja, lalu dengan gerakan yang teramat hati-hati, dia menggenggam erat telapak tangan kecil Kinara yang mendingin.
Binar obsesi di sepasang mata elang Rian perlahan meredup sayu saat dia menatap genggaman tangan mereka. Rasa lelah yang juga mendera tubuhnya setelah seharian menahan amarah cemburu membuat kelopak mata sang penguasa sekolah perlahan memberat. Rian memiringkan kepalanya, bersandar pasrah pada pinggiran kursi Kinara, hingga akhirnya cowok gila kontrol itu ikut jatuh tertidur di samping gadisnya sembari tetap mengunci pautan jemari mereka dengan erat.
Hampir dua jam berlalu ketika remang cahaya senja di luar jendela kaca besar basecamp mulai digantikan oleh gelapnya malam.
Kinara melenguh pelan. Kesadarannya ditarik kembali secara perlahan seiring rasa hangat yang mendadak mengepung seluruh tubuhnya. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penciumannya adalah aroma wangi maskulin yang teramat pekat dan familiar—sebuah aroma yang sangat dia hafal sebagai milik Rian Pradifta.
Kinara mengerjapkan mata jernihnya berkali-kali, berusaha menyesuaikan diri dengan pencahayaan ruangan yang kian menggelap. Saat dia mencoba menegakkan punggungnya yang pegal, barulah Kinara menyadari ada sesuatu yang tebal dan berat meluncur turun dari bahunya. Dia menoleh ke bawah, mendapati jaket kulit hitam milik Rian terbentang sempurna menyelimuti tubuhnya.
Jantung Kinara seketika berdesir tajam. Namun, kejutan yang sesungguhnya baru saja dimulai saat dia berniat menarik tangan kanannya untuk meraih kacamata di atas meja.
Tangan mungilnya tidak bisa bergerak.
Kinara menunduk, menatap ke arah sisi bawah mejanya. Detik itu juga, seluruh pasokan udara di paru-parunya serasa lenyap tak bersisa. Di sana, tepat di samping kursi belajarnya, Rian Pradifta sedang tertidur pulas sembari duduk bersandar di lantai yang dingin. Wajah tampan sang tuan muda yang biasa ditekuk kaku penuh arogansi, kini tampak begitu damai dan polos tanpa topeng esnya.
Dan yang paling membuat jantung Kinara bertalu gila-gilaan adalah telapak tangan kekar Rian yang berurat tegang itu kini sedang menggenggam erat, mengunci mati jemari mungil Kinara di atas pangkuannya sendiri seolah tidak akan pernah membiarkan gadis itu terlepas atau pergi sejauh seujung kuku pun dari sisinya.
Kinara membeku sepenuhnya di atas kursi, wajah polosnya tanpa kacamata seketika memerah merona hebat hingga ke daun telinga. Rasa jengah, bingung, bercampur getaran manis yang teramat asing dan menakutkan mendadak melebur menjadi satu di dalam hulu hatinya, menatap lekat-lekat ke arah jemari mereka ya.ng bertautan erat di bawah keheningan malam sangkar emas
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk