NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Keiko

Bab 25

Harapan

Suasana di klinik hewan perlahan kembali tenang.

Dokter dan perawat sudah selesai menangani Shiro. Selang infus menggantung di samping kandang rawat inap, sementara perban putih menutupi bahu dan keempat telapak kakinya. Napasnya masih pelan, tetapi kini jauh lebih teratur dibanding saat pertama kali dibawa masuk.

Keiko duduk di kursi yang berada tepat di samping kandang. Sejak tadi ia tidak banyak bergerak. Tatapannya tidak pernah lepas dari tubuh kecil yang terbaring di dalam.

Sesekali matanya berhenti pada telapak kaki Shiro yang dibalut perban. Sulit baginya membayangkan seberapa jauh kucing itu berjalan hingga kondisinya menjadi seperti sekarang.

Renji berdiri tidak jauh dari sana. Ia baru saja kembali dari mesin minuman otomatis sambil membawa dua kaleng kopi hangat.

"Minumlah sedikit," katanya pelan sambil menyodorkan salah satunya.

Keiko menggeleng. "Aku belum ingin."

Renji tidak memaksa. Ia membuka kaleng kopinya sendiri, lalu duduk di kursi sebelah Keiko. Tidak ada lagi yang mereka bicarakan.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Pintu ruang perawatan kembali terbuka. Dokter masuk sambil melihat sekilas ke arah Shiro, kemudian menghampiri mereka.

"Kondisinya stabil untuk malam ini," ujar dokter.

Keiko yang sejak tadi menatap Shiro akhirnya mengangkat wajah. "Benarkah dokter?"

Dokter mengangguk "Obatnya sudah bekerja. Sekarang yang paling dia butuhkan adalah istirahat."

Keiko mengembuskan napas pelan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di klinik, bahunya sedikit mengendur. Dokter tersenyum tipis sebelum melanjutkan. "Karena itu, saya ingin menyarankan sesuatu."

Keiko menatap dokter dengan wajah bingung.

"Sebaiknya Anda pulang dan beristirahat malam ini."

Keiko langsung menggeleng pelan. "Tidak dokter, Aku ingin tetap di sini." Jawabannya datang hampir tanpa berpikir "Aku tidak bisa meninggalkannya."

Dokter memahami perasaannya. Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk di hadapan Keiko agar suaranya tidak terdengar terlalu formal "Saya mengerti."

"Kalau saya ada di posisi anda, saya juga akan berpikir begitu."

Keiko menunduk lagi.

"Tapi..." lanjut dokter, "Malam ini tidak banyak yang bisa Anda lakukan untuknya."

"Shiro akan tetap tidur sampai efek obatnya berkurang. Kami akan memeriksa kondisinya secara berkala...Kalau ada perubahan sekecil apa pun, kami akan langsung menanganinya."

Keiko tidak segera menjawab, Pandangan matanya kembali jatuh pada tubuh kecil di dalam kandang. Shiro tetap tidak bergerak. Renji meletakkan kaleng kopi yang sedari tadi dipegangnya. "Keiko.. Kau juga perlu istirahat."

Perempuan itu menoleh pelan "Aku baik-baik saja renji-san."

"Kau belum makan sejak tadi"

Keiko terdiam. Ia baru menyadari perutnya memang kosong, tetapi rasa lapar sama sekali tidak terasa.

Renji melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. "Kalau besok pagi Shiro sudah membuka mata...apa kau ingin dia melihatmu dalam keadaan seperti ini?"

Keiko tidak langsung menjawab, Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Dokter mengangguk pelan.

"Datanglah besok pagi, Anda boleh langsung menemuinya...Tapi malam ini, biarkan kami yang menjaganya."

Ruangan kembali hening. Keiko memandang Shiro cukup lama.

Kemudian ia menghela napas pelan. "...Baik."

Jawabannya lirih, hampir tidak terdengar "Boleh... aku berpamitan dulu?"

"Tentu." Dokter berdiri sambil memberi ruang.

Renji ikut bangkit dari kursinya, lalu mundur beberapa langkah tanpa berkata apa-apa. Keiko berjalan pelan pelan mendekati kandang rawat inap.

Keiko berhenti di depan kandang rawat inap.

Shiro masih terbaring di atas alas yang sudah diganti dengan yang bersih. Selang infus terpasang di kaki depannya. Dadanya naik turun perlahan mengikuti napasnya.

Keiko berjongkok. Untuk beberapa saat ia hanya memandang wajah Shiro. Bulu abu-abunya masih sedikit kusut meski sudah dibersihkan. Di dekat telinganya masih terlihat bekas darah yang belum sepenuhnya hilang.

Keiko mengulurkan tangan melewati pintu kandang yang terbuka. Dengan hati-hati, ia mengusap bagian belakang telinga Shiro.

Tempat yang selalu membuatnya memejamkan mata setiap kali dielus. Tidak ada reaksi dan Shiro masih tetap tertidur.

Raut wajahnya tampak lebih ringan "Aku pulang dulu."

Suaranya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri "Besok pagi aku datang lagi...Shiro"

Ia mengusap sekali lagi belakang telinga Shiro sebelum menarik tangannya. Sesaat kemudian Keiko membuka tas kecil yang dibawanya.

Ia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih yang sudah lama ia gunakan. Sapu tangan itu dilipat rapi menjadi beberapa bagian.

"Kalau tidak keberatan..." Keiko menoleh kepada dokter "Boleh kutaruh ini di bawah kepalanya?"

Dokter tersenyum dan mengangguk pelan "Tentu."

Dengan sangat hati-hati Keiko mengangkat kepala Shiro sedikit menggunakan kedua tangannya. Ia menyelipkan sapu tangan itu di bawahnya, lalu menurunkannya kembali perlahan agar tidak mengganggu tidurnya.

Setelah memastikan posisi Shiro tetap nyaman, Keiko merapikan sedikit ujung perbannya yang bergeser.

"Terima kasih sudah datang mencariku." Kalimat itu keluar begitu saja. Begitu pelan hingga hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.

Ia mengusap kepala Shiro sekali terakhir, lalu berdiri, Dokter membuka pintu ruang perawatan. Renji sudah menunggu di luar "Ayo," katanya pelan.

Keiko mengangguk. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah kandang, dia masih tertidur dengan tenang. Baru setelah itu Keiko melangkah meninggalkan ruang perawatan.

Keiko dan Renji keluar dari klinik.

Udara malam terasa lebih dingin setelah hujan. Jalanan masih basah, dan sesekali terdengar suara ban mobil melintas di atas genangan air.

Renji membuka payung yang sejak tadi dibawanya, lalu menoleh ke arah Keiko. "Hujannya sudah berhenti."

"Iya."

Meski begitu, ia tetap membuka payung itu. Air masih menetes dari pepohonan di sepanjang trotoar.

Mereka berjalan berdampingan namun Tidak ada yang memulai percakapan. Keiko masih memikirkan Shiro.

Sesekali ia teringat tubuh kecil yang terbaring di ruang perawatan. Setiap kali bayangan itu muncul, langkahnya tanpa sadar melambat.

Renji memperhatikan Keiko sekilas "Kau akan datang lagi besok pagi, kan?" Keiko mengangguk "Pagi-pagi sekali."

"Kalau begitu, malam ini cobalah tidur."

Keiko tersenyum kecil "Aku akan berusaha."

Renji tahu jawaban itu mungkin tidak sepenuhnya benar. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan gedung apartemen Keiko. Lampu teras masih menyala. Renji menutup payungnya "Naiklah..selamat istirahat keiko-san"

Keiko berhenti sejenak sebelum menaiki tangga "Renji-san,,,Terima kasih."

Renji mengangguk singkat, Baru setelah itu keiko menaiki tangga lalu menghilang dari pandangan renji baru lah ia melangkah pulang.

Di dalam Rumah, Ia meletakkan tas di atas meja, melepas sepatunya, lalu duduk di sofa tanpa menyalakan televisi atau lampu ruang tamu.

Keheningan memenuhi ruangan. Keiko menundukkan kepala.

Ia baru menyadari tubuhnya terasa sangat lelah. Namun setiap kali mencoba memejamkan mata, yang terbayang justru telapak kaki Shiro yang dibalut perban.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.

Layar menyala. Nama yang muncul membuat Keiko sedikit terkejut.

-Kyo-

Keiko menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menerima panggilan itu.

"moshi-moshi...(halo) "

Suara di seberang terdengar tenang seperti biasa. "Keiko-san..Apa kau sedang sibuk?"

Keiko menggeleng pelan, meski ia tahu Kyo tidak bisa melihatnya. "Tidak."

Kyo terdiam sejenak. "Sebenarnya... aku ingin menanyakan sesuatu." Keiko menunggu dalam diam

"Shiro ada di sana?"

Pertanyaan itu membuat tenggorokan Keiko terasa tercekat. Sejak tadi ia berusaha menahan perasaannya, namun begitu nama Shiro disebut, air matanya kembali jatuh.

"Keiko?" suara Kyo berubah khawatir. "Ada apa?"

Keiko menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam isak. Butuh beberapa saat sebelum akhirnya ia bisa bersuara. "...Kau benar kyo-san"

"Hm?"

"Shiro... ada disini...aku menemukannya tadi"

Di seberang telepon tidak terdengar jawaban. Keiko menarik napas pendek. "Tapi..Tapi keadaannya sangat kritis.. "

"Dia terluka???"

"Benar...dia sudah hampir tidak bisa berdiri. Kakinya..." Keiko berhenti sejenak, "...semuanya terluka. Dokter bilang dia berjalan sangat jauh. Sekarang dia dirawat di klinik."

Suara Keiko kembali bergetar. "Kenapa dia melakukan itu, Kyo...? Kenapa dia harus datang sejauh ini...?"

Telepon kembali hening.

Kyo tidak langsung menjawab, ia hanya memegang ponselnya dengan erat. Akhirnya, ia mengembuskan napas pelan. "...Begitu."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Keiko mengusap air matanya. "Aku benar-benar tidak mengerti. Dia hanya seekor kucing... tapi dia..."

Kalimat itu tidak selesai. Tangis Keiko lebih dulu pecah. Kyo tetap diam, membiarkan Keiko menangis tanpa menyela sedikit pun.

Setelah beberapa saat, barulah ia kembali bersuara "...Keiko."

"Iya..."

"Sejak kau pergi,, " kyo berhenti sesaat memilah kata yang tepat untuk di ucapkan " shiro... dia hanya diam di tempat yang sama, duduk menatap pintu seolah-olah dia menunggu kau keluar dari sana "

Keiko menutup mulut nya, air mata nya masih menetes ke pipinya " Tetaplah di sisi nya.. " sambung kyo

Keiko mengangguk pelan. "Aku akan datang besok pagi ke klinik "

"semoga besok keadaannya lebih baik, kau istirahat lah, besok kabari aku perkembangan shiro " Keiko memejamkan mata. "...Iya." Beberapa detik kemudian, panggilan itu berakhir.

***

Di Tsukimori, malam sudah larut, Kyo masih berdiri di beranda rumah Keiko. Ponsel di tangannya perlahan turun dari telinga setelah panggilan berakhir.

Untuk beberapa saat ia tetap diam.

Angin malam bertiup pelan melewati halaman. Di tangan kanannya masih ada mangkuk kecil berisi makanan kucing.

Sejak beberapa hari terakhir, setiap malam ia selalu datang ke rumah itu Membawa makanan Lalu menunggu Shiro muncul walaupun kucing itu tidak pernah datang. Malam ini, kebiasaan itu kembali terulang.

Kyo mengalihkan pandangannya ke sudut tempat Shiro biasa duduk. Tempat itu kosong.

Ia berdiri beberapa saat sebelum akhirnya berjongkok.

Mangkuk itu diletakkannya perlahan di lantai kayu beranda.

"Biar saja." gumamnya pelan "Kalau nanti kau pulang..."

Kalimat itu berhenti di tengah jalan. Kyo tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepala "Tidak..."

Ia menatap ke arah jalan yang membentang keluar desa.

"Sepertinya kau memang tidak akan pulang lagi."

Tidak ada nada sedih dalam suaranya Hanya rasa lega. Ia kembali berdiri. Pandangannya terarah ke langit malam yang cerah. "Jaga dirimu baik-baik, Shiro."

Setelah itu Kyo berbalik meninggalkan beranda. Mangkuk kecil itu tetap berada di tempatnya. Kosong.

Sama seperti sudut beranda yang kini tidak lagi ditempati siapa pun.

Namun kali ini...

Kyo tidak lagi merasa khawatir Karena ia tahu...Shiro telah sampai di tempat yang memang ingin ia tuju.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!