NovelToon NovelToon
Sistem Keuntungan Usaha

Sistem Keuntungan Usaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.

Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.

Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Olahraga ringan(1)

​Pukul 08:30 pagi.

​Di saat murid-murid kelas dua B sudah berhamburan keluar kelas menuju lapangan untuk pelajaran olahraga, Arga malah masih asyik tiduran di mejanya.

​"Arga, bangun!" sebuah suara cempreng membangunkannya.

​"Dari tadi dia tidur mulu," sahut siswi yang satunya lagi.

​Arga perlahan membuka mata dan mengerjap-ngerjap.

Di depannya berdiri dua siswi yang lumayan cantik.

Ingatan Arga agak samar, ia bahkan tidak tahu atau lupa nama kedua teman sekelasnya ini.

​"Hah? Ada apa?" tanya Arga serak.

​"Ada kelas penjas, Arga. Cepat ke lapangan."

​Arga mengernyitkan dahi sambil meregangkan tubuhnya yang kaku. "Oh, gitu ya..." Ia perlahan bangkit dari kursi.

​Kedua siswi itu saling pandang dengan heran melihat Arga yang masih memakai seragam putih abu-abu lengkap. "Kamu gak ganti pakaian pakai baju olahraga?"

​Arga berpikir sejenak sambil menepuk dahinya. "Gak bawa, lupa."

​Tanpa ambil pusing, Arga langsung berjalan santai menuju lapangan dengan seragam sekolah biasa.

Sesampainya di sana, teman-teman sekelasnya sudah berkumpul dan sedang melakukan pemanasan mandiri.

​Arga mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Ke mana nih gurunya? Kok gak ada? Jam kosong kali ya?"

​Setelah menunggu beberapa menit tanpa ada tanda-tanda kehadiran guru olahraga, dugaan Arga terbukti benar.

Hari ini kelas mereka bebas tugas. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Dari arah lorong kelas tiga, rombongan murid senior yang dipimpin oleh Devan dan Hendra berjalan angkuh ke arah lapangan sambil membawa bola sepak.

​"Mau ngapain tuh orang-orang gak waras? Sok banget," gumam Arga malas, memperhatikan gerak-gerik merekq..

​Begitu sampai di tengah lapangan, Devan langsung bersedekap dada dan menatap anak-anak kelas dua B dengan pandangan meremehkan. "Karena guru kalian gak ada dan kelas kalian cuma jam kosong, lapangan ini mau kami pakai. Jadi, cepat pergi dari sini!"

​Teman-teman sekelas Arga yang nyalinya ciut tidak berani melawan kakak kelas mereka yang terkenal berkuasa. "T-tapi, Kak..."

​"Gak ada tapi-tapian! Pergi!" bentak Hendra kasar.

​Melihat situasi tersebut, otak Arga langsung berputar cepat. Sebuah ide bisnis mendadak muncul di kepalanya. "Lumayan nih kalau laku," bisik Arga menyeringai.

​Tanpa membuang waktu, Arga langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju kantin sekolah.

Ia menemui para pedagang minuman dingin dan makanan ringan di sana.

​"Bang, Bu, nanti di lapangan bakal ada tontonan seru banget. Pasti banyak yang nonton dan kehausan. Tolong naikkan harga jajanan sama minuman dingin khusus hari ini. Nanti keuntungannya kita bagi hasil dua puluh-delapan puluh. Gimana?" tawar Arga cepat.

​Para pedagang kantin saling pandang, lalu tersenyum lebar menyetujui ide cerdas itu. "Oke, Arga! Mengerti. Gampang itu mah!"

​Setelah urusan bisnisnya beres, Arga kembali ke lapangan dengan langkah santai dan senyum penuh kemenangan.

Kedatangannya langsung menarik perhatian. Bahkan, murid-murid dari kelas lain yang seharusnya sedang belajar di dalam kelas mulai kasak-kusuk mengintip dari balik jendela lantai dua.

​"Woi, lihat ke lapangan deh!"

"Ada apa?"

"Seru nih! ayo ribut, hajar tuh kakakmu itu."

​Devan dan Hendra menoleh serentak. Tatapan mereka seketika menajam saat melihat Arga berjalan mendekat.

​"Mau ngapain lagi kamu ke sini?!" bentak Devan dingin.

​"Orang ini lagi, bangsat!" maki Hendra dalam hati, dadanya masih terasa sesak dan emosi mengingat kejadian kemarin di mana ia berakhir pingsan di dekat tempat sampah akibat tendangan Arga.

​Arga berdiri di depan mereka tanpa rasa takut sedikit pun. "Jangan main usir orang lah. Kalau memang berani, gimana kalau kita tanding sepak bola? Yang kalah... wajib bayar satu juta!"

​Devan dan Hendra saling tatap, lalu tawa mereka pecah seketika di tengah lapangan.

​"Hahaha! Cuma satu juta? Kecil banget! Masa cuma segitu harga diri kamu?" ejek Devan sombong. "Gimana kalau sepuluh atau dua puluh juta sekaligus?"

​Arga mencibir geli. "Walah, walah... Mentang-mentang masih pakai duit orang tua, sok banget gaya kalian. Oke, deal ya! Dua puluh juta! Tapi ada satu syarat lagi... gak ada wasit! Gimana?!" Arga tersenyum tipis, penuh rencana tersembunyi.

​Devan tertawa meremehkan. "Berani juga nih anak. Oke, setuju!"

​Pertandingan pun disetujui.

Arga bermain bersama teman-teman sekelasnya yang terpaksa ikut karena tidak punya pilihan, sementara Devan dan Hendra sudah siap dengan anggota geng kelas tiga mereka yang bertubuh bongsor.

​Saat koin dilempar ke udara dan jatuh, bola pertama berhasil dikuasai oleh tim senior. Hendra langsung menggiring bola dengan percaya diri.

Penonton di jendela lantai atas sekolah semakin ramai berkerumun karena penasaran.

​Saat bola dioper ke arah Devan, tim Arga langsung ciut dan memilih minggir memberi jalan karena takut ditabrak.

Namun tidak dengan Arga. Ia malah berlari kencang menyongsong Devan, lalu sengaja menabrakkan seluruh badannya dengan keras hingga Devan terjatuh berguling di tanah.

​Brak!

​Arga terkekeh puas. Ia langsung merebut bola tersebut. Sementara itu, semua orang yang menonton dari jendela dan pinggir lapangan langsung melotot syok.

​"I-itu... mereka lagi main bola atau SmackDown?!"

"Aneh banget, main bola memangnya seperti itu?"

​Melihat Devan jatuh, Hendra naik pitam. Ia berlari kencang ke arah Arga dan bersiap melakukan tekel keras untuk menjatuhkan kaki Arga.

Namun, dengan refleks, Arga menarik bola ke belakang.

​"Eits, gak kena!" ledek Arga.

1
Raka Ar
sempurna 🌟
Sistem one: Terima kasih banyak😍😍😍👍pantengin terus kak
total 1 replies
Jujun Adnin
lemah
GHEAN RAKHENZA
g seru
Sistem one: Thank you kak👍
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Jujun Adnin
uang nya di buang terus
Sistem one: hehe, nanti di tabung kak/Smile/🙏
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Sistem one: siapp kak🙏
total 1 replies
Jujun Adnin
lagi
Jujun Adnin
ok
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣ngadepin orang kayak mereka emang harus licik🤣🤣🤣🤣
Wega Luna: mantap👍
total 2 replies
Jujun Adnin
up yang banyak
Jujun Adnin
lanjut
Zzzz: 🥳/Coffee/
total 1 replies
Gege
yoklaah Arga... putar balikkan keadaan dengan sistem milikmuuh..🤣🤭 cari Luna di laut siapa tau bikin restoran lagi..😄🤭
Sistem one: gak ada si dugong Luna di sini wkwk😂
total 1 replies
Gege
ada duyungnya engga ini Thor.. itu duyung belom di temukan lagi kah Thor..
Sistem one: sudah tamat kok yang duyung wkwk. sudah ketemu lagi di Bab bonus.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!