Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Alya Cemburu.
Suasana di warung tenda pinggir jalan itu mendadak terasa berbeda setelah Kirei memutuskan untuk menggeser posisi duduknya agar bisa lebih dekat. Tanpa ragu, CEO muda itu mengambil tempat tepat di sebelah Bumi. Kedatangan Kirei yang terlihat sangat tertarik dengan Bumi, baik secara profesional maupun kekaguman personal, langsung membuat perasaan Alya tidak nyaman. Ada riak cemburu yang jelas terlihat dari sorot mata Alya saat memperhatikan bagaimana cara Kirei menatap dan berbicara kepada pemuda di sampingnya itu.
Kirei, dengan segala pesona wanita karier yang anggun dan berkelas, bersikap sangat terbuka tanpa ada jarak sedikit pun. Sementara itu, Bumi sendiri justru kelihatan sangat canggung. Ia beberapa kali berdehem kecil dan menggeser duduknya beberapa sentimeter demi menjaga kesopanan.
"Jujur ya, Bumi," buka Kirei dengan mata berbinar-binar penuh antusias, sama sekali tidak memedulikan tatapan dingin dari Alya yang duduk di seberangnya. "Sampai detik ini, dewan direksi saya masih gak percaya kalau skema penyelamatan kemarin itu dibuat dalam waktu kurang dari lima belas menit. Pemikiran kamu dalam menganalisa pergerakan pasar itu bener-bener di luar nalar. Cara kamu memberi solusi kepada masalah rumit perusahaan saya itu sangat mengagumkan! Kamu belajar dari mana sih sebenernya?"
Bumi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya tampak agak kikuk. "Ah, Mbak Kirei bisa aja. Saya cuma kebetulan sering merhatiin pola grafik saham aja kok di kosan kalau lagi senggang. Gak ada yang istimewa, cuma modal nebak sentimen psikologis bandar aja."
"Gak, itu bukan cuma sekadar nebak!" potong Kirei cepat dengan nada menyanggah. "Itu analisis makro yang presisi. Konsultan keuangan senior saya yang lulusan luar negeri aja kalah cepat mikirnya dibanding kamu. Kamu itu bener-bener jenius yang tersembunyi tahu gak?"
Mendengar pujian demi pujian yang terus mengalir dari mulut Kirei untuk Bumi, Alya merasa semakin tersisih. Ia merasa diabaikan dan dicuekan di dalam lingkaran obrolan mereka berdua. Tidak tahan hanya menjadi penonton bisu, Alya berusaha masuk ke dalam obrolan Bumi dan Kirei demi menarik kembali perhatian yang teralihkan.
"Uhuk... Mas Bumi kan emang dari dulu pinter kalau soal hitung-hitungan, Mbak Kirei," sela Alya dengan nada suara yang sengaja dibuat agak datar, matanya menatap Kirei dengan lekat. "Di pasar induk juga semua pedagang tahu kalau Mas Bumi itu orangnya mandiri dan gak suka berlebihan. Jadi ya, hal-hal kayak gitu udah biasa buat kami yang sering bareng sama Mas Bumi setiap hari."
Kirei, yang memiliki kepekaan sosial tinggi sebagai seorang pemimpin wanita, sepertinya langsung sadar dengan nada bicara dan kecemburuan Alya yang sangat ketara dari caranya memotong pembicaraan. Sebuah senyuman penuh arti terbit di bibir Kirei. Ia memutuskan untuk sedikit memancing keadaan dengan sindiran halus.
"Wah, iya kah? Pantesan ya," sahut Kirei sambil menopang dagunya dengan tangan, melirik Alya lalu beralih menatap Bumi dengan senyuman menggoda. "Kalian berdua kayaknya dekat banget ya dari tadi? Kayak gak bisa dipisahin gitu. Hubungan kalian berdua ini sebenernya apa sih kalau boleh saya tahu? Pacaran ya?"
Mendengar pertanyaan frontal dari Kirei, jantung Alya mendadak berdegup kencang. Wajahnya seketika merona kemerahan antara malu dan penuh harap akan jawaban yang keluar dari mulut pemuda yang dikaguminya itu. Alya menahan napasnya, menunggu reaksi Bumi.
Namun, Bumi yang dasarnya memang memiliki tingkat kepekaan asmara yang sangat rendah alias polos, langsung menjawab pertanyaan itu dengan nada suara yang teramat santai dan polos tanpa beban.
"Oh, hubungan saya sama Alya?" jawab Bumi spontan sambil terkekeh pelan tanpa dosa. "Mbak Kirei salah paham ini, hahaha. Kita ini cuma teman baik kok, Mbak. Alya dan ibunya udah baik banget sama saya sejak pertama kali saya datang ke kota ini. Bagi saya, Alya itu udah kayak saudara sendiri. Iya kan, Al?"
Bumi menoleh ke arah Alya dengan senyuman lebar, berharap gadis itu akan menyetujui kalimatnya. Namun, perkataan Bumi yang menyebutnya hanya sebagai "teman baik" dan "seperti saudara" tentu saja langsung membuat hati Alya terasa seperti tertusuk. Rasa cemburu yang tadinya membakar kini berubah menjadi kemarahan dan kekecewaan yang mendalam atas ketidakpekaan Bumi.
Wajah Alya yang tadinya merona merah langsung berubah menjadi masam dan cemberut total. Ia memukul meja kayu dengan pelan, lalu langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat menyentak.
"Iya! Cuma teman baik kok!" ketus Alya dengan nada suara yang meninggi, matanya menatap tajam ke arah Bumi yang langsung kebingungan. "Mas Bumi kan sibuk terus sama urusan saham dan orang-orang penting kayak Mbak Kirei ini! Ya udah, lagian waktunya kuliah. Aku harus masuk kelas!"
Alya tidak menunggu respons dari Bumi. Dengan gerakan cepat, ia langsung menarik paksa lengan kemeja Dika yang sedang asyik meminum es teh manisnya hingga cowok itu hampir tersedak.
"Eh, eh! Al! Santai dong menariknya, es teh gua belum abis ini!" protes Dika panik sambil mencoba mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
"Gak usah banyak alasan! Ayo ikut masuk sekarang, Dika! Nanti kita telat masuk kelas dosen killer!" perintah Alya galak.
Dika pun langsung ditariknya secara paksa dan terpaksa mengikuti langkah kaki Alya yang berjalan dengan sangat cepat dan menghentak-hentak menuju arah gedung fakultas. Dika hanya bisa menoleh ke belakang ke arah Bumi dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kebingungan dan pasrah. "Mas Bumi! Gua duluan ya! Ini macan pasar lagi ngamuk, gua gak berani ngelawan!" teriak Dika dari kejauhan.
Bumi, yang sama sekali tidak menyadari letak kesalahannya di mana, hanya bisa duduk melongo menatap punggung Alya dan Dika yang semakin menjauh di koridor kampus. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi wajah yang sangat heran.
"Lho... si Alya kenapa sih mendadak ngamuk begitu?" gumam Bumi heran pada diri sendiri. "Padahal kan tadi perasaannya dia baik-baik aja pas kita bahas saham. Kenapa tiba-tiba sensitif banget ya? Aneh bener itu anak."
Kirei yang duduk di samping Bumi menahan tawa melihat kepolosan tingkat akut dari pemuda jenius di sebelahnya ini. Sebagai seorang wanita dewasa, ia sangat sadar dan paham betul bahwa perubahan sikap drastis Alya tadi disebabkan oleh rasa cemburu yang membakar hatinya setelah mendengar jawaban polos dari Bumi.
"Hahaha, Bumi, Bumi... kamu itu bener-bener ya," ucap Kirei sambil geleng-geleng kepala dengan senyuman geli yang menghias wajah cantiknya. "Kamu beneran gak tahu kenapa dia marah?"
Bumi menoleh ke arah Kirei dengan wajah polos yang minta ampun. "Gak tahu, Mbak. Emang salah saya di mana? Kan saya cuma bilang kalau kami teman baik dan kayak saudara. Itu kan kenyataan yang bagus, artinya hubungan kami dekat."
"Aduh, dasar cowok polos," batin Kirei gemas. Namun, di sisi lain, Kirei juga menyadari bahwa posisinya sebagai orang luar yang tiba-tiba datang dan duduk terlalu dekat dengan Bumi telah memicu kesalahpahaman tersebut. Meskipun ia tidak bermaksud seperti itu untuk merusak pertemanan mereka, tetap saja Kirei merasa agak tidak enak hati kepada Bumi atas kekacauan kecil yang baru saja terjadi.
"Ya sudah kalau kamu gak paham, biar nanti waktu yang jelasin ke kamu," kata Kirei sambil merapikan tas tangannya dan berdiri dari kursi. "Tapi jujur, saya ngerasa agak gak enak sama teman kamu itu, Bumi. Kayaknya kedatangan saya bikin dia salah paham."
"Ah, gak apa-apa kok, Mbak Kirei. Nanti kalau di rumah juga biasanya dia udah baik lagi kalau dikasih camilan, hahaha," sahut Bumi santai, mencoba mencairkan suasana.
Kirei tersenyum tipis, lalu mengeluarkan handphone miliknya yang berlogo apel di gigit ngga abis dari dalam tasnya. "Bumi, karena fokus saya dari kemarin teralihkan, sekarang sebelum saya pamit pulang, kita harus bertukar nomor handphone dulu. Jangan sampai saya kehilangan jejak kamu lagi kayak kemarin. Boleh minta nomor kamu?"
"Oh, tentu boleh, Mbak. Ini nomor saya," jawab Bumi sambil menyebutkan deretan angka ponsel barunya dengan lancar.
Kirei mengetik angka tersebut dengan cepat, lalu melakukan panggilan singkat ke nomor Bumi untuk memastikan nomornya tersimpan dengan benar. "Oke, nomor kamu udah saya simpan ya, Bumi. Nanti malam atau besok, saya bakal hubungi kamu lagi. Ada undangan makan malam resmi dari keluarga saya sebagai ucapan terima kasih yang sesungguhnya. Kamu harus datang ya, gak boleh nolak!"
"Waduh, makan malam resmi lagi ya? Siap deh, Mbak Kirei, nanti dikabari aja," jawab Bumi ramah.
Kirei kemudian melambaikan tangannya dengan anggun sebelum berbalik arah menuju mobil mewahnya yang terparkir di seberang jalan, diikuti oleh Roni. Bumi kembali duduk sendirian di meja warung, menatap ponselnya dengan senyuman kecil, bersiap menghadapi dinamika baru yang akan membawa hidupnya melangkah lebih jauh dari sekadar wilayah pasar induk.