Michael suatu hari mengalami kecelakaan saat ia ingin pulang dari tempat dia bekerja. Sewaktu dia sadar, dia bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai dewa yang akan memberinya kesempatan reinkarnasi.
Michael yang tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dewa tadi menentang apa yang dia ucapkan. Hal itu membuat Sang Dewa menjadi muak dengan tingkah laku Michael yang tidak menghormati dirinya.
Karena Sang Dewa kesal dengan perilaku Michael, dia pun memilih skill Michael secara acak. Dia hanya memberi Michael skill auto-revive yang akan mencegahnya untuk mati. Lalu Dewa itu melempar Michael masuk ke portal teleportasi yang dia buka.
Michael yang terdampar di dunia lain itupun memutuskan untuk menjelajahi dunia itu sambil memenuhi hobinya mencoba semua makanan lezat di dunia itu, Areta. Seperti apa petualangan Michael di sana? Penasaran? Saksikan terus kehidupan Michael hanya di Saat Foodie Reinkarnasi!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gideon.Indra., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalo gini gue yang disate kelinci
"Bukan main... Kelincinya lebih nyolot dari bocil-bocil di tempat gue dulu," pikirnya yang teringat masa lalunya.
Menyadari kalau mangsanya masih bertahan hidup, kelinci itu menaikkan frekuensi serangnya. Dengan musuh yang sekarang, dia lebih percaya diri kalau dia bakal jadi sansak pukul. Jangankan bisa pukul atau balas, mau nebak di mana dia aja udah susah banget karena cepatnya dia berlari dari satu tempat ke tempat lainnya.
"Kapan gue pre-order game super hardcore kaya gini dah? Dulu juga gue mentok-mentok main game kaya simulasi hidup gitu dah..," dia komplain seakan-akan dia masih hidup normal sebagai pekerja di swalayan dulu.
Kalau cuma mati aja, dia ga khawatir sama sekali. Yang dia pikirkan hanya gimana cara ia bisa mengakhiri deritanya dipukuli terus-terusan. Kalau sansak bisa protes, gue yakin semua sansak bakal demo dah, khayalnya dalam imajinasinya.
"Kampret lha kalau gini caranya, mau berapa lama gue harus nunggu ampe nih binatang tepar? Bisa-bisa gue kena mental dulu..," keluhnya.
Michael sudah coba pukul balik tapi pukulannya terlalu pelan buat bisa mengimbangi kecepatan musuhnya. Bertahan juga ga tau gimana bisa prediksi arah serangannya kalau dalam kecepatan yang mirip laju mobil sport gitu.
Bukan cuma prediksi arahnya yang jadi masalah, sekali dia kena tanduk juga pasti bakal mati kalau gitu kondisinya. Michael aja juga ga ngerti mau ngapain lagi. Karena depresinya dia dengan kondisi itu, dia bersembunyi dan memakai area pepohonan di sana buat berlindung.
Walau kurang efektif, itu masih lebih baik buat Michael daripada jadi kaya bola sepak ditendang ke sana ke sini. Paling ga jeda waktu tiap dia mati jadi lebih lama.
Kelinci itu melihat mangsanya dengan ketertarikan yang unik ga seperti monster yang pernah dia alami sebelumnya. Memang kesannya aneh tapi Michael merasa kalau kelinci itu dengan sabar menghabisi dia secara perlahan sambil mengamatinya.
Jam demi jam berlalu gitu aja tapi tetap kondisi keduanya ga ada perubahan. Si kelinci juga mulai capek mau meladeni musuhnya yang terus-menerus pulih dengan cepat. Semakin kesal dengan Michael yang ga kunjung kelelahan, kelinci itu kehilangan keinginan melanjutkan pertarungan mereka.
Michael sebenarnya juga udah ga ada kemauan buat lanjut melawan kelinci itu. Dia hanya penasaran kenapa kelinci yang baru dia lawan punya kecerdasan yang tinggi seperti manusia.
Meskipun dia ga bakal mati, tetap saja dia ga mau bertarung dalam waktu lama kalau ujungnya juga ga membuahkan hasil sama sekali. Michael malah langsung kabur sewaktu dia sadar kalau musuhnya juga udah ga tertarik melawannya.
"Masalah gue tetap aja makanan..," Michael melihat ke kejauhan dengan tampang sedih. *GRUK! GRUK! GRUK!* bunyi perutnya.
"Gue harus cari makanan model gimana sih? Yang model aneh banget beracun... Yang normal kaya kelinci dah macam raja iblis aja... Ya masa gue makan diri sesama manusia atau diri gue sendiri sih?" Michael sampai segitu bingungnya karena dia ga nemu ide sama sekali.
"Bah harusnya gue ikut grup apa gitu aja kali... Pasti lebih simpel dari jalan sendiri..," Michael agak menyesal dengan keputusan yang dia ambil.
Dia cuma bisa mengandalkan peta yang dia punya dan juga matahari yang dia pakai sebagai penunjuk arah. Kompas yang dia punya sudah lama rusak setelah berulang kali dia kena hantaman musuhnya. Sejujurnya Michael juga ga tau dia bakal sampai ke kota mana karena selama dia berjalan yang dia lihat hanya pepohonan rindang di sekitarnya.
Beberapa lama sesudah dia berjalan mengikuti instingnya, dia mendengar suara air mengucur yang cukup keras. Michael pun bergerak ke arah suara itu berasal. Dia juga ga lupa mencoba mencari hewan yang bisa dia makan.
Sebetulnya Michael menemukan beberapa serangga yang wajar di makan sewaktu dia di Bumi. Hanya saja dia ga mampu menahan rasa jijiknya saat melihat serangga itu. Dengan terpaksa dia harus mencari opsi yang lain lagi.
Dia juga mulai mengumpulkan ranting yang lumayan panjang dan mencari semacam tumbuhan akar gantung atau semacam itu. Rencana yang dia punya sangat simpel, buat api unggun terus dia buat alat pancing supaya dia bisa nangkap ikan.
Michael juga ga berharap kalau ikannya itu bakal cuma melawan dia kaya di dunianya yang dulu. Dia hanya berpikir paling ga kalau ikannya cuma sekuat slime biasa, itu ga bakal jadi masalah buat dia.
Setibanya dia ke lokasi gemuruh air itu, dia benar-benar kecewa akan apa yang dia temukan. Bukannya sungai atau danau yang dia temui tapi air terjun yang curam sekali. Otomatis dia juga ga ngerti harus mancing gimana di sana. Belum coba pun Michael juga sudah tau kalau akar tanaman yang jadi senar pancingnya ga akan kuat menahan laju air di situ.
Walau dia ga bisa dapat makanan apapun di sana, air yang ada di sungai sebelum aliran air itu terjun ke bawah bisa dia konsumsi. Disebabkan arah yang satu lagi sebuah jurang, dia mengikuti arah air sungai itu berasal. Dengan waspada dia berjalan menuju hilir sungai itu.
"Mungkin gue bisa mancing di sana kalau kecepatan gerak airnya ga sekencang ini," pikir Michael.
Setelah dia menemukan lokasi yang cocok, dia mulai merakit alat pancingnya dari bahan yang dia kumpulkan sebelumnya. Seusai merakit alat pancingnya sendiri, Michael mengambil beberapa berry yang tumbuh dekat sungai itu.
Mungkin ikan di situ bakal makan berry, pikirnya. Tanpa tahu apa-apa dia coba aja mengadu nasib sebelum dia kelaparan. Karena hampir setengah hari dia habiskan berjalan tanpa arah hingga tiba di sungai itu.
Berdasarkan ukuran sungai di depannya, minimal dia bisa dapat ikan yang lumayan besar, paling tidak 50cm atau mungkin lebih. Sungai itu lebarnya bahkan lebih lebar dari sungai Amazon. Dia cuma ragu satu hal tentang tempat itu, binatang buasnya. Kalau apa yang dia pelajari di sekolah dulu itu benar, bisa-bisa kalau lagi ga beruntung dia ketemu anaconda atau buaya yang besar gitu.
Imajinasi Michael benar-benar udah layaknya mood killer buatnya. Michael cuma menunggu dan menunggu. Umpannya ga bergerak sama sekali sejak dia lempar ke sana. Melihat kecilnya harapan dia bisa menangkap sesuatu, dia tancapkan tongkat pancingnya itu ke tanah biar dia bisa mencoba memetik berry yang tumbuh dekat tempat dia memancing.
Karena Michael sudah depresi dengan rasa laparnya, begitu dia sampai di tempat berry itu tumbuh, dia buru-buru memetik berry itu lalu dia makan begitu saja. Ekspektasi buruknya seketika itu langsung saja keluar dengan naturalnya karena emang dia udah biasa dengan nasibnya yang kurang mendukung itu di sana.
"Hmm... Huh? Berry yang baru dia makan kaya rasa stroberi rasanya," kata Michael.
Paling ga sekarang dia udah nemu sesuatu yang bisa dia makan. Walau dia sudah makan banyak stroberi, dia belum merasa kenyang karena mungkin pola dietnya butuh lebih banyak kalori. Yang pasti dia ga tau skill revive bakal bakar kalori berapa banyak sekali dia aktifkan tapi mungkin cuma pakai mana (kekuatan sihir) aja.
Dia ga yakin juga gimana logika pemakaian skill yang berlaku di sini karena dia belum mencoba meneliti sedalam itu. Bagi dia mungkin yang terpenting sekarang ini meneliti makanan apa yang bisa atau ga bisa dia makan.
Sesudah dia membawa cukup banyak tanaman mirip stroberi itu dengan pakaiannya, dia kembali ke sungai untuk mengecek pancingannya. Dari tadi alat pancingnya memang kurang beruntung nampaknya. Jangankan didatangi ikan, arus sungainya aja mungkin terlalu kencang buat ikan berenang santai di sana.
Mulai putus asa dengan kondisi perairan itu, Michael mulai menarik kailnya kembali ke arah dia berada. Mungkin nasib gue ga seburuk itu juga, katanya setelah melihat ada ikan yang cukup besar berenang kencang ke arahnya.
Menyadari kecepatan ikan itu berenang jauh lebih kencang dari apa yang dia harapkan, dia langsung berlari dari tempat itu tanpa berpikir panjang. Untungnya dia ga lupa membawa buntalan bajunya yang berisi beberapa stroberi yang masih utuh.
Ini tempat kayanya bukan tempat yang bagus buat orang normal deh. Kalau orang normal hidup di sini pun, dia kayanya ga bakal lama bisa bertahan. Dia juga ga tahu apa ada buah yang bisa dia makan dari pepohonan di sana makanya dia sama sekali belum berpikir memanjatnya. Satu hal yang pasti dia ga mau coba meskipun dia bisa temukan di sana yaitu telur burung.
Mungkin burung di sini bakal lebih cepat dari jet tempur di masa lalunya? Dia juga ga ada ide soal itu. Mungkin benar mungkin juga salah...
Melihat kondisi sekitar yang sudah mulai gelap, dia mengumpulkan beberapa ranting dan membuat api di lapangan yang cukup datar di sana. Sumber air pun juga ga jauh dari tempat kemahnya.
"Mungkin gue besok harus lanjut berjalan tanpa tujuan lagi," begitu pikirnya dengan agak lesu.
Seandainya dia bisa dapat kelapa mungkin dia bisa gunakan cangkang kelapanya buat masak. Sayangnya di sekitarnya ga ada buah yang mirip kelapa sama sekali. Dia cuma lihat tanaman mirip anggur tapi bulirnya sebesar biar jeruk. Mungkin hanya perasaan dia tapi dia merasa buah itu ga bakal enak rasanya karena bentuknya aneh sekali.
"Besok gue mau ngapain aja ga tahu gue... Kampret-kampret lama-lama bisa jadi kaya Tarzan gue kalau hidup di hutan terus," Michael berusaha memotivasi dirinya sendiri walau hasilnya sama sekali ga positif juga.
Dia hanya bingung karena logika di sini merupakan campuran logika yang ada di bumi dan logika yang bertentangan di Bumi. Karena ga ada pemisah yang pasti, dia juga belum bisa memastikan apa yang bisa dan apa yang ga bisa dia makan di sini. Jangankan hewan yang bisa di buru, tanaman aja yang lazim dimakan malah sebagian besar beracun di sini.
Berburu binatang, kelinci aja OP begitu... kalau dia beruntung bisa-bisa ketemu dinosaurus lagi. Bisa punah dianya dulu sebelum dinosaurus itu yang punah.
"Ah~ semoga besok lebih baik dari hari ini," doanya dalam hati.
masa MC loyo² gitu😕
gila, parah, anak orang lu katain seenak jidat.
^_^
sae aja nih MC